Jumat, 18 Oktober 2013

Kagum

Ada sebuah cerita tentang seseorang yang saya kenal, perubahan yang sudah dilaluinya, mengagumkan sekaligus membuat iri. Tentunya perubahan yang baik.. dia berubah jauh lebih baik, Alhamdulillah.. 

Dalam perjalanan hidupnya dia bertemu orang-orang yang mengagumkan dan membuat saya semakin terkagum-kagum padanya, betapa beruntungnya; begitulah saya berfikir. Tapi bukan berarti menjadikan rasa kagum ini sebagai perbandingan yang membuat saya lupa bersyukur, hanya membuat saya merenung dan bertanya pada diri sendiri: apa hal terbaik yang sudah saya lakukan? sudahkah itu membuat saya bangga pada diri saya? singkatnya "what is the masterpiece in whole of my life?"
Mungkin belum apa-apa dan belum memberikan hasil yang memuaskan. Kembali lagi, saya tidak ingin terlibat dengan urusan "galau" yang sedang fenomenal saat ini, hanya ingin bertanya pada hati lebih dalam lagi. 

Seseorang yang saya kenal itu terlihat sumringah bahagia saat berfoto bersama seorang penulis yang juga saya kagumi,yang diuploadnya di FB. Saya juga ikut bahagia dan senang dengan perubahannya, dengan pencapaiannya dan dengan segala kebahagiaan yang melingkupi keluarga kecilnya. 

Tapi tiba-tiba saya termenung, sedikit menelisik hati saat membayangkan sesuatu yang lebih tinggi dari itu. Jika bertemu Rasulullah, betapa menakjubkannya... akankah semua pandangan manusia penuh rasa iri, untuk keberhasilan besar ini, saya berandai-andai. Mencoba membayangkan kebanggaan yang dirasakan orang lain saat mereka bertemu idolanya dan mencoba membayangkan hal yang sama jika bertemu Rasulullah yang mulia. Amazing...
 
Atau mencoba membayangkan jika ada orang yang saya anggap biasa-biasa saja di dunia ini tiba-tiba melejit menjadi luar biasa, bertemu muka dengan Rasulullah. 

Di kehidupan nanti itu, akan banyak kenyataan yang terungkap tentang ketulusan-ketulusan yang tersembunyi, tentang kebenaran yang terbukti, dan tentang orang-orang yang tidak "terlihat" tapi memiliki kekayaan jiwa yang luar biasa yang disalurkannya melalui benang ketulusan sehingga kasat mata bagi "hati" yang tak perduli atau abai menyadari keberadaannya, mengingatkan saya pada sebuah kisah Uwais al Qorni-pemuda biasa yang luar biasa karena taat pada ibunya dan taatnya beribadah- yang terasing tak dikenali tapi dikenal jelas oleh penghuni langit, ketulusan cintanya untuk bertemu muka dengan Rasulullah dan kesolehannya yang luar biasa, sehingga Rasulullah mengatakan bahwa dia bagian dari penghuni langit.

Atau kisah berbeda dari sang Ghuroba' Abu Dzar Al Ghifary; sosok pemberani yang mengumumkan keislamannya tak perduli meski dipukuli dan lantang mengkritisi para penguasa meski ia sendirian. Kecintaannya pada Rasulullah pun tak diragukan sehingga Rasulullah berkata "Engkau datang sendirian, engkau hidup sendirian, dan engkau akan meninggal dalam kesendirian. Tapi serombongan orang dari Irak yang saleh kelak akan mengurus pemakamanmu." Abu Dzar Al Ghifary, sahabat setia Rasulullah itu, mengabdikan sepanjang hidupnya untuk Islam.

Selalu mengagumkan dan menakjubkan, setiap pilihan dan perjuangan hidup dari insan-insan yang mengagumkan itu. Terukir menjadi sejarah sebagai pembelajaran dan panutan bagi para pejuang kebenaran. sekalipun yang berjihad menahan diri dari kejahatan hawa nafsu dan godaan syetan. Sesungguhnya perjuangan melawan nafsu dalam diri itu yang terberat, tersembunyi namun tak pernah berhenti.

Maka pertanyaannya, hanya untuk sebuah kebanggaankah kita hidup? saya rasa tidak, tidak cukup untuk berbangga atas apa yg kita miliki dari dunia ini, lebih dari itu. Bangga berhak disandang jika iman dan amal hanya bergerak kepadaNya-mengharap cintaNya- bukankah segala sesuatu bermuara dariNya? maka tentu akan kembali padaNya pula. 
Ya Allah...ampuni diri ini atas kesalahan setiap jejak perjalanan dari kehidupan panjang yang sudah terlalui, dan mohon perlindunganMu ya Allah.. dalam menapak langkah masa depan yang asing dari pengetahuan akal yang terbatas ini. Hamba berlindung dari keburukan nafsu yang menjerumuskan pada kemaksiatan, dari kejahatan makhlukMu ya Allah.. dan dari godaan syetan yang terkutuk.

Di atas segalanya, terus memperbaharui niat bahwa segala ibadah dilakukan hanya untuk mencapai keridhoan Allah dan memperbaiki amal dengan cara-cara yang Allah tetapkan melalui sunnah Rasulullah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar