By. Maskelar jodoh
www.sekolahpernikahan.ning.com
“Apa boleh mengedepankan idealisme ketika mau nikah?” tanya seseorang dalam sebuah forum seminar. Lalu saya jawab “boleh aja, setiap orang berhak mengajukan kriteria ideal untuk calon pasangannya”. Dia melanjutkan pertanyaannya “meski untuk mendapatkan yang sesuai dengan kriteria itu, kita harus sering gagal dalam ta’aruf (perkenalan) dengan calon kita?”. “Ya, bisa jadi begitu”. Itu jawaban saya kepadanya.
www.sekolahpernikahan.ning.com
“Apa boleh mengedepankan idealisme ketika mau nikah?” tanya seseorang dalam sebuah forum seminar. Lalu saya jawab “boleh aja, setiap orang berhak mengajukan kriteria ideal untuk calon pasangannya”. Dia melanjutkan pertanyaannya “meski untuk mendapatkan yang sesuai dengan kriteria itu, kita harus sering gagal dalam ta’aruf (perkenalan) dengan calon kita?”. “Ya, bisa jadi begitu”. Itu jawaban saya kepadanya.
Sahabatku, satu sisi kita mungkin mendamba jodoh
yang pas dengan kriteria atau idealisme kita, di sisi yang lain
kadangkala kita masih berpikir “apa iya ini jodoh saya?”. Sebagai
deskripsi awal, saya ingin sampaikan bahwa jodoh adalah misteri, sesuatu
yang kita nggak dikasih tahu oleh Allah. Seperti halnya soal rizki dan
kematian. Sementara yang bisa kita lakukan selaku mahluk-Nya adalah
berikhtiar alias berusaha. Dari ikhtiar dan usaha kita itulah Allah akan
menilainya. Maksud dari, ‘Allah akan menilai ikhtiar kita’ adalah, tentang “jalan” yang kita pakai untuk meraih “tujuan” berupa jodoh itu.
Sebagai
bentuk ikhtiar kita mungkin mencoba untuk mencari belahan jiwa dengan
beberapa alternatif. Ada yang hunting sendiri, ada yang dijodohkan ortu,
ada yang minta dicarikn. Nah, masalah, muncul ketika hunting sendiri
nggak dapet-dapat, dijodohin teman, eh.. nggak pernah cocok, atau
mungkin ta’aruf sering gagal.
Sahabatku, cobalah instropeksi,
ketika jodoh tak kunjung datang. Mungkin masalahnya bukan pada para
calon yang menolak atau kita tolak, atau mungkin yang belum kita
dapatkan. Tapi masalahnya ada pada diri kita, cobalah fokus pada diri
kita sendiri, bukan pada calon kita. Jika kita bisa berfokus pada diri,
ternyata masalahnya berkutat pada 2 kategori.
Pertama: kita punya kriteria tentang calon kita, dan calon-calon yang selama ini ditawarkan nggak sesuai kriteria kita.
Kedua: Allah sedang menguji keimanan yang kaitannya dengan kesabaran kita memilih jodoh yang tepat.
Pertama: kita punya kriteria tentang calon kita, dan calon-calon yang selama ini ditawarkan nggak sesuai kriteria kita.
Kedua: Allah sedang menguji keimanan yang kaitannya dengan kesabaran kita memilih jodoh yang tepat.
Ada
sedikit kisah yang ingin saya bagi. Ada seorang cewek usia 21 tahun, dia
sudah memiliki talenta, skill yang memadai bahkan berpenghasilan yang
bisa dikatakan lebih dari cukup. Kemudian si cewek bermaksd untuk
mencari pendamping hidup dengan minta tolong teman-temannya untuk
dicarikan calon suami sesuai kriteria yang diajukan si cewek. Satu per
satu mulai dari foto dan biodata berbagai tipe cowok dengan karakter
yang berbeda-beda disuguhkan kepadanya, tapi nggak ada yang nyangkut
juga di hati si cewek. Seiring perjalanan waktu, akhirnya ada satu calon
yang nyaris sesuai dengan kriteria yang diajukan dan si cewek tersebut
mengiyakan untuk berkenalan. Kriteria-kriteri pun sudah terpenuhi dari
diri cowok tersebut. Ganteng dapat, kerja udah, tajir iya, pinter
apalagi, bahkan punya satu impian yang sama dengan si cewek.
Tapi
apa yang terjadi? Dalam perjalanan perkenalan, cewek itu menolak cowok
yang sudah dengan susah payah didapatkan teman-temannya. Alasan
penolakan itu cuman satu, yakni karena si cowok berusia 31 tahun
sementara ceweknya 21 tahun, meskipun sebenarnya tanpa dipungkiri,
kriteria sudah banyak terpenuhi. Wanita tersebut menegaskan penolakannya
“Usia dia gak setara dengan saya. Dan saya masih terlalu muda, masih
banyak impian yang belum saya raih”. Gubraksss!
Hak “memilih”
pasangan hidup itu ada pada siapa saja, termasuk di pihak si perempuan.
Bagi siapa aja yang ingin mengajukn kriteria, adakalanya kita harus
melapangkan diri untuk menerima calon pasangan kita yang nggak 100 %
sesuai kriteria. Idealis boleh, nggak ada yang melarang, tapi saat satu
kaki melangkah ke idealis, satu kaki yang lain tetap harus berpijak pada
kenyataan yang ada. Siapa saja boleh bermimpi untuk mendapatkan
pendamping hidup yang didambakan, tapi apakah kita juga sudah siap jadi
calon pendamping hidup yang ia dambakan? Rasulullah Saw berpesan dalam
satu haditsnya: Janganlah seseorang mukmin laki-laki membenci mukmin
perempuan. Bila dia membencinya dari satu sisi, tapi akan menyayang dari
sisi lain.” [@LukyRouf]
NB: Ilmu hari ini :) setiap hari adalah pembelajaran dan proses memperbaiki diri, harus lebih baik dari kemarin. Bismillah... mudahkan urusan hamba ya Allah...Aamiin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar