Rabu, 30 Oktober 2013

Mengapa Aku Harus Menikahimu?

Pernikahan berdasarkan:
  • Ilmu, bukan hanya penampilan (kecantikan) 
  • Amal, bukan hanya berceramah atau bukan hanya membaca
  • Mudah memaafkan, tidak mudah marah 
  • Ketaatan/ketundukan/keshalihan, bukan sekedar nafsu
 Dan memilih pasangan yang seharusnya:
  • Mencintai Allah lebih dari segalanya
  • Mencintai Rasulullah (shalallahu ‘alai wa sallam) melebihi manusia manapun
  • Memiliki ilmu Islam, dan beramal/berbuat sesuai itu.
  • Dapat mengontrol kemarahan
  • Dan mudah diajak bermusyawarah, dan semua hal yang sesuai dengan ketentuan Syari’at Islam.
Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Wanita dinikahi karena empat hal, [pertama] karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Carilah yang agamanya baik, jika tidak maka kamu akan tersungkur fakir”.
(HR. Bukhori no. 5090, Muslim no. 1466)

sumber. www.arrahmah.com 

Selasa, 29 Oktober 2013

Lower Ur Gaze!

Aku malu bertemu pandangan yang tak boleh ku lihat
seharusnya panah syetan itu kupatahkan
namun seberapa sering kuturutkan
menjadi kebiasaan
sehingga nafsu membenarkan

Tundukan pandanganmu, jaga hatimu...
1001 insan beriman tahu itu
namun sesak nafsu membujuk rayu
sekilas saja tak apa.. 
toh tak kan jadi candu

Kebohongan besar itu...
aku tahu, kamu juga tahu, mereka semua tahu
hanya saja kita sering berpura-pura tidak tahu
alpa “menampar” hati bahwa Allah tahu yang tersembunyi
berpura- pura tak perduli berharap bisa memperbaiki diri nanti

Jangan tunda lagi, wahai diri...
tidakkah kau merasa malu pada Tuhanmu
terjaga segala keburukanmu
ditutupiNya aib-aibmu
dianugerahkanNya kau rasa malu
untuk menjaga Izzah mu
tapi... kau langkahi itu

Allahu Akbar.. Subhanallah
Allah mengetahui kadarmu maka mengujimu
sesederhana itu pun kau tak mampu?
tidakkah ingin “naik kelas” Imanmu?
jangan sampai berpanas peluh mengeluh nasib
saat niat perbaikan terlindas waktu yang sempit
tak sempat lagi...
sehingga menyesal pun sudah tak berarti

Talk to My Hand?

Tanganku kasar bukan hanya karena gurat kerja membekas
saat ku sentuh tanganku, terenyuh hatiku
melintas bayang-bayang kata yang salah dari jejak jemari
pernahkah ada hati yang tersakiti?
terzalimi dari tangan yang menjadi lisan keduaku ini?
Atau hak-hak yang pernah terambil tanpa permisi
aku takut di pengadilan nanti berat bagi tangan ini diadili
sebab banyak sekali dosanya

Tanganku kasar mencipta kebas di hati
karena amalkah? 
atau kata-kata tak pantaskah yang pernah diukir jemari?

Tanganku kasar, aku tak perduli
jika ia ditanya nanti aku berharap hati bisa menjadi saksi
ketulusankah atau nafsu yang kunikmati?

Tanganku kasar sebab begitu adanya
di Padang Mahsyar nanti, ketika lisan terkunci
apa jawaban tangan yang kasar ini?

Selalu Dirimu

Ibu... maafku atas nama cinta
yang tak mampu terurai dalam kata
namun selalu mengembunkan air mata

Ibu... senyumku atas nama rindu
yang tak tentu waktu
namun selalu lekat dalam ingatanku

Ibu... sedihku atas nama duka
dari hidup yang tak sebening kaca
meski retak pun tak mengapa

Ibu... pergiku atas nama dusta
memaksa hati berpaling darimu
mengukir mimpi yang tak tentu

Ibu... ceritaku adalah bagian hidupmu
diterima meski menyesakkan dada
didekap penuh cinta

Namun, jika kau tiada...
aku luka.

Kamis, 24 Oktober 2013

Pesan Cinta*

Bismilahirrahmanirrahim...

Nak...
jadilah orang yang lebih baik dari orang tuamu.
bukan sekedar baik...
jadilah orang yang lebih baik pemahaman agamamu
lebih baik akhlakmu
lebih baik ilmumu
lebih baik pilihan hidupmu
lebih baik dalam ketaatan dan ketakwaan
jadilah orang yang patuh dan ikhlas dalam kebaikan
bukan untuk berbangga-bangga soal harta
bukan untuk berbangga-bangga kamu keturunan siapa
bukan untuk berbangga-bangga kamu lulusan mana
bukan untuk berbangga-bangga kamu kerja apa
jika pun kehidupan orang tuamu sempurna,
sejatinya bukanlah kebanggaanmu
kejayaan masa silam telah berlalu
karena itu prestasi mereka, bukan milikmu

Nak...
jadilah orang yang lebih baik dari orang tuamu.
tentukan pilihan hidupmu sebagai hambaNya
siap mematuhi dan belajar ikhlas menjalani
kita terlahir, hidup, dan mati sama seperti yang lainnya
tapi kita terlahir, hidup, dan mati untuk tujuan yang berbeda
sebagai khalifah penyampai risalah
jangan sampai berpikir alangkah susah
namun lakukan saja terbaik yang kamu bisa
karena bicara tentang drama kehidupan, dimana-mana sama saja
hanya episodenya yang berbeda
ada masa air mata, bahagia, derita, suka cita
semua sama merasa, hanya bergiliran rasa.
ambil hikmah setiap peristiwa dan maknai sebagai pembelajaran nyata
sehingga bijak mengambil langkah selanjutnya
ciptakan prestasi hebatmu sebagai hamba
dan banyaklah bersyukur, dengan begitu kamu berbahagia

  *tersirat banyak makna dari pesan orang tua "kelak jadi anak soleh ya.."
hanya saja orang tua sering terbatas kemampuan untuk mewujudkan asa.
Jadi, mari lanjutkan mimpi mereka agar "investasi" akhirat dijelang dari "berkah anak soleh".

Kosong

siang panas menyengat
lengang menatap dinding bisu
membuka lembaran-lembaran waktu
mencari sesuatu yang bisa dibagi,
lewat jejak jemari.
mengintip bilik hati yang setenang mentari,
tak perduli.
bisu...tak terdengar sesuatu
kosong...jadi tak ku temukan apa-apa?
kemana perginya cerita?
canggung kusapu pandangan luas
menepi ke jalanan
sunyi... tak bertemu yang dicari
hanya telinga sibuk habiskan waktu
menikmati lantunan Al-Qur'an menenangkan
berteman semilir angin siang
di antara kesibukan jalanan
menepis kantuk
mencari sesuatu
belum juga bertemu.

Rabu, 23 Oktober 2013

Merah Saga ~ Shoutul Harokah ~

Saat langit berwarna merah saga
Dan kerikil perkasa berlarian
Meluncur laksana puluhan peluru
Terbang bersama teriakan takbir

Semua menjadi saksi
Atas langkah keberanianmu
Kita juga menjadi saksi
Atas keteguhanmu

Ketika yahudi-yahudi membantaimu
Merah berkesimbah di tanah airmu
Mewangi harum genangan darahmu
Membebaskan bumi jihad Palestina

Perjuangan telah kau bayar dengan jiwa
Syahid dalam cinta-Nya 


 #the true heroes! Mujahidin "never die"

Selasa, 22 Oktober 2013

Bismilahirrahmanirrahim

Jangan menggantungkan ketaatan pada makhluk
Sekalipun cintamu menggunung padanya
Sekalipun setiamu menyertai setiap inginnya
Sekalipun bahagiamu selalu berbunga saat bersamanya
Jangan hanya karena dia, tapi karenaNya saja
Benar, kita manusia ingin dicinta dan mencintai
Begitulah fitrahnya..
Tapi cukupkah hanya cinta?
Tidak.. jangan sederhanakan cinta hanya sebatas dia
Tapi tinggikan cinta menjadi ketaatan kepadaNya
Jangan menjadi lemah dan kuat karenanya
Tapi melemahlah jika Allah tak memperdulikan hati
Menangislah jika Allah yang Maha Pemberi tak sudi menyayangi
Karena sekedar diberi tidaklah berarti jika tak dicintai
Dan menguatlah ketika hati selalu mengingatNya
Menggenapkan segala daya upaya untuk mentaatiNya
Menyempurnakan lafaz "LAILAHAILALLAH" 
Menjadi nilai tertinggi
Allahu Akbar...

Jangan bersama jika menyesatkan
Jangan pula menyendiri jika melalaikan
Bersama atau sendiri untuk mengingatNya
Zikir hati dan lisan lebih bermakna

Membersamai hamba-hamba yang soleh adalah keharusan
Bersama mereka lingkaran ketaatan menguat,
Menjadi pengingat di saat lemah,
Menjadi penasihat ketika tersalah,
Saling mengingatkan dengan cinta.

Cinta Allah..
MerindukanNya mampu membulirkan air mata
Alangkah banyak yang sudah diberi, tak terkira
Tapi amat sedikit hati menyadarinya
"Nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Aneh

Rindu itu seperti embun menanti mentari
Lalu diam-diam menguap pergi
Mungkin "rinduku bertepuk sebelah hati"
Anehnya kenapa tetap berbunyi?
Rindu itu ternyata penuh misteri
Takut kehilangan padahal tak pernah memiliki.

Atau perasaanku saja?

Senin, 21 Oktober 2013

ReCheck

# Jika tersenyum itu mudah
   Kenapa cinta sering membuat patah?
=================================================================================
# Jika Iman itu hidayah
   kenapa taat hanya sering di lisan saja?
=================================================================================
# Selalu, mari cek hati kita setiap hari
   Apa kabar hati? 
   Masihkah ia sebening semula?
   Menjadi tempat yang layak untuk bercermin.
   Mungkinkah riya dan sum'ah sudah bernanah?
   Ataukah sombong, ujub, takabur sudah merajalela?
   Amalan yang "terasa" banyak itu jangan jadi tak bernilai apa-apa
   Jangan pula sampai terlempar di muka kita
   Sehingga segala keletihan ibadah menjadi sia-sia
   Hamba yang soleh selalu teruji bisikan syetan 
   yang tak pernah lalai menyusupkan keburukan
   Nyaris tak terasa sehingga terabaikan
   Riya itu: "Seperti semut hitam di atas batu hitam di malam yang kelam".
   Ketika hati berbelok pada ketidaklurusan
   Mari kita kembali kepada ketentuan
   Beramalah dengan ikhlas dan cara yang benar
   Ikhlas itu karena Allah saja, bukan mengharap kedudukan di hati manusia
   Benar itu sesuai tuntunan Rasulullah
 
   Jangan ditambah lagi yang sudah jelas sempurnanya
   Jangan membuat aturan sendiri karena jelas tidak diterima
   Menjalani yang ada saja belum terkerjakan semua
   Apalagi hendak ditambah dengan yang mengada-ada

   Sebelum mengajak, periksa dan bersihkan hati
   Sebelum menolak, pelajari dan cari kebenarannya 
   Sebelum menerima, pahami asal-usul ilmunya
   Jika salah diperbaiki, benar diikuti, berbeda ditoleransi
=================================================================================
   Iman <==> Ikhlas <==> Ibadah
   Muslim <==> Islam <==> Rahmatan lil'alamin
===============================================================
# berpikir, berpikir, berpikir   

Minggu, 20 Oktober 2013

Speak Up!

Berbicara memang mudah jadi celah syetan
Mulanya biasa saja tapi lama-lama bisa bikin "panas" telinga
Apalagi jika pembicaraan bercabang karena perbedaan. 
Masalahnya bukan berbeda topik pembicaraan
Seringkali karena salah cara penyampaian.
Ada yang "bertaring", "bertanduk" bahkan bisa tersebut nama-nama hewan 
Membuat yang mendengar seperti bertandang ke kebun binatang :)
Jadi perlulah sekali waktu kita sekolah "etika berbahasa"
Supaya kita tahu memilah kata,
Agar manfaat di telinga, sejuk di dada
Karena jika tubuh kita diadili maka lisan yang paling utama terpenjara
Sebab tajamnya bisa membunuh lawan 
Namun santunnya mampu menyebarkan kebaikan
Tentu, yang bicara ini bukanlah sang penyabar nan baik hati :p
Hanya penulis sederhana yang mengungkap realita
Ketika kita tidak pada posisi "penyerang" atau "bertahan"
Mudah kita menilai yang sedang berseberangan bersikap "berlebihan".
Kenapa pembicaraan kebaikan sering salah penyampaian?
Tidak bisakah kita belajar dari para "gossiper" ?
Setia bergosip sambung-menyambung menjadi satu kesatuan
Berbeda menjadi kenikmatan,
Keliru penyampaian menjadi candaan.
Seringnya kita lupa
Pembicaraan baik itu syetan tidak suka
Berbisik di hati dan telinga untuk mencela
ah... jangan perpanjang keliru yang ada
Jika tak sabar hati saat ini, bolehlah kita bicara lagi esok hari
Jangan sampai benci di simpan hari ini untuk di sambung lain hari

#jaga hati jaga lisan

Sabtu, 19 Oktober 2013

Make a Wish

Bismilahirrahmanirrahim...

Teruntuk calon imamku nanti:
Apakah kau mencintai Allah dan Rasulullah?
Apa bukti kecintaanmu?
Jika ilmu kita baru seujung kuku, dan pernikahan ini bernilai ibadah bagiku dan dirimu
Maukah engkau belajar bersamaku?
Bisa jadi engkau guru dan aku sang penerima ilmu
Atau sebaliknya, aku gurumu dan engkau sang penerima ilmu
Menurutku dua-duanya bukan hal yang tercela
Asalkan kita saling memahami kedudukan diri yang telah ditetapkan Ilahi.
Bukankah kita harus saling berlomba-lomba
Dalam menuntut ilmu dan menyampaikannya
Lalu bersama-sama mewujudkannya dalam amalan nyata.
Itulah kebahagiaan sejati yang kucari
Karena cinta kita dibawah naungan Ilahi
KeridhoanNya adalah hal utama yang dinanti

Jika kita berumah tangga nanti
Maukah kau membimbingku untuk berbakti?
Saling mengingatkan dalam ketaatan
Meski melalui doa yang hanya terucap dalam hati

Bagaimana rumah tangga yang ingin engkau bina nanti?
Jika kau tanya inginku, aku ingin di dalamnya ada saling mengerti dan menghormati
Ada cinta, canda tawa dan senyum dari guyonan sederhana
Dan yang paling utama, ada sunnah-sunnah Rasulullah yang mulia
Yang kita amalkan dengan cinta sebagai kompas kebahagiaan kita
Meskipun kebahagiaan kita tak kan selalu sempurna
Karena akan ada kesulitan hidup yang mencipta duka, air mata, kecewa
Dan egoisme saat emosi merajai jiwa
Asalkan jangan disertai cemburu buta :p
Mari kita persiapkan semua dengan doa dan ilmu yang berguna
Agar Allah selalu melapangkan dada kita
Dan memudahkan segala urusan kita
Sehingga kita tegar berdiri di antara ombak prahara dunia
Untuk menjemput kebahagiaan kekal di akhirat sana.

Harapan ku bukanlah hal yang mudah, aku tahu
karena kebersamaan ini adalah perjuangan panjang
Saling memahami adalah pembelajaran seumur hidup
Bagi dirimu dan  diriku
Tapi jangan takut, bukankah Allah sudah menjaminkan kita
Bahwa siapa yang memelihara hukum-hukumNya maka Allah yang akan melindunginya
Dan Allah lah sebaik-baik penjaga.

Pintaku sungguh berat bukan?
Aku tidak meminta dunia dan seluruh isinya :)
Cukup sesuai kebutuhan kita saja
Lalu hiduplah dengan sederhana
Jika pun ada, bisa kita bagi untuk sesama, berbagi cinta

Bisakah inginku menjadi inginmu juga?
Lalu bersama menjadi cita-cita kita
Penuh kerja keras untuk menggapainya
Berat memang, dan sungguh sulit
Tapi setiap kali kita berbelok dari kebenaran
Atau terlarut dalam kemarahan dan pertengkaran
Sudikah kita menahan diri sejenak
Melihat kembali 
Agar kau dan aku tahu..
Dari sini cinta kita bermula.

#repeat again, please! :)

8:05 pm
Sejuk udara selepas hujan, membuka catatan yang tersimpan
Membuka harapan
Semoga Allah perkenankan...Aamiin

Jumat, 18 Oktober 2013

Wasiat Rasulullah dan Sahabat

Wasiat Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam kepada Ibnu Abbâs radhiyallâhu'anhu (anak paman beliau):

Jagalah Allâh, niscaya Allâh Ta’ala akan menjagamu;
Jagalah Allâh, pasti kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu.
Kenalilah Allâh di saat lapang, niscaya Dia akan mengenalimu ketika sempit.
Jika kamu memohon, maka memohonlah kepada Allâh.

Jika kamu meminta pertolongan, maka mintalah kepada Allâh. 
Ketahuilah bahwa sekiranya semua makhluk berkumpul untuk memberikan suatu manfaat kepadamu,niscaya mereka tidak akan bisa memberikan kamu manfaat kecuali apabila hal itu telah ditakdirkan kepadamu.

Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.
Maka, apa saja yang ditakdirkan menimpamu, pasti tidak akan luput darimu dan apa saja yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.

Ketahuilah, sesungguhnya bersama kesabaran ada kemenangan
dan bersama musibah ada jalan keluar dan setelah kesulitan ada kemudahan.

“Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati” (Fathir:38)

Khalifah Umar bin Khattab: "Hisablah dirimu sebelum dihisab oleh Allah”." 

kebaikan yang tidak terorganisasi dapat dikalahkan dengan kejahatan yang terorganisasi (Ali bin Abi Thalib).

Kagum

Ada sebuah cerita tentang seseorang yang saya kenal, perubahan yang sudah dilaluinya, mengagumkan sekaligus membuat iri. Tentunya perubahan yang baik.. dia berubah jauh lebih baik, Alhamdulillah.. 

Dalam perjalanan hidupnya dia bertemu orang-orang yang mengagumkan dan membuat saya semakin terkagum-kagum padanya, betapa beruntungnya; begitulah saya berfikir. Tapi bukan berarti menjadikan rasa kagum ini sebagai perbandingan yang membuat saya lupa bersyukur, hanya membuat saya merenung dan bertanya pada diri sendiri: apa hal terbaik yang sudah saya lakukan? sudahkah itu membuat saya bangga pada diri saya? singkatnya "what is the masterpiece in whole of my life?"
Mungkin belum apa-apa dan belum memberikan hasil yang memuaskan. Kembali lagi, saya tidak ingin terlibat dengan urusan "galau" yang sedang fenomenal saat ini, hanya ingin bertanya pada hati lebih dalam lagi. 

Seseorang yang saya kenal itu terlihat sumringah bahagia saat berfoto bersama seorang penulis yang juga saya kagumi,yang diuploadnya di FB. Saya juga ikut bahagia dan senang dengan perubahannya, dengan pencapaiannya dan dengan segala kebahagiaan yang melingkupi keluarga kecilnya. 

Tapi tiba-tiba saya termenung, sedikit menelisik hati saat membayangkan sesuatu yang lebih tinggi dari itu. Jika bertemu Rasulullah, betapa menakjubkannya... akankah semua pandangan manusia penuh rasa iri, untuk keberhasilan besar ini, saya berandai-andai. Mencoba membayangkan kebanggaan yang dirasakan orang lain saat mereka bertemu idolanya dan mencoba membayangkan hal yang sama jika bertemu Rasulullah yang mulia. Amazing...
 
Atau mencoba membayangkan jika ada orang yang saya anggap biasa-biasa saja di dunia ini tiba-tiba melejit menjadi luar biasa, bertemu muka dengan Rasulullah. 

Di kehidupan nanti itu, akan banyak kenyataan yang terungkap tentang ketulusan-ketulusan yang tersembunyi, tentang kebenaran yang terbukti, dan tentang orang-orang yang tidak "terlihat" tapi memiliki kekayaan jiwa yang luar biasa yang disalurkannya melalui benang ketulusan sehingga kasat mata bagi "hati" yang tak perduli atau abai menyadari keberadaannya, mengingatkan saya pada sebuah kisah Uwais al Qorni-pemuda biasa yang luar biasa karena taat pada ibunya dan taatnya beribadah- yang terasing tak dikenali tapi dikenal jelas oleh penghuni langit, ketulusan cintanya untuk bertemu muka dengan Rasulullah dan kesolehannya yang luar biasa, sehingga Rasulullah mengatakan bahwa dia bagian dari penghuni langit.

Atau kisah berbeda dari sang Ghuroba' Abu Dzar Al Ghifary; sosok pemberani yang mengumumkan keislamannya tak perduli meski dipukuli dan lantang mengkritisi para penguasa meski ia sendirian. Kecintaannya pada Rasulullah pun tak diragukan sehingga Rasulullah berkata "Engkau datang sendirian, engkau hidup sendirian, dan engkau akan meninggal dalam kesendirian. Tapi serombongan orang dari Irak yang saleh kelak akan mengurus pemakamanmu." Abu Dzar Al Ghifary, sahabat setia Rasulullah itu, mengabdikan sepanjang hidupnya untuk Islam.

Selalu mengagumkan dan menakjubkan, setiap pilihan dan perjuangan hidup dari insan-insan yang mengagumkan itu. Terukir menjadi sejarah sebagai pembelajaran dan panutan bagi para pejuang kebenaran. sekalipun yang berjihad menahan diri dari kejahatan hawa nafsu dan godaan syetan. Sesungguhnya perjuangan melawan nafsu dalam diri itu yang terberat, tersembunyi namun tak pernah berhenti.

Maka pertanyaannya, hanya untuk sebuah kebanggaankah kita hidup? saya rasa tidak, tidak cukup untuk berbangga atas apa yg kita miliki dari dunia ini, lebih dari itu. Bangga berhak disandang jika iman dan amal hanya bergerak kepadaNya-mengharap cintaNya- bukankah segala sesuatu bermuara dariNya? maka tentu akan kembali padaNya pula. 
Ya Allah...ampuni diri ini atas kesalahan setiap jejak perjalanan dari kehidupan panjang yang sudah terlalui, dan mohon perlindunganMu ya Allah.. dalam menapak langkah masa depan yang asing dari pengetahuan akal yang terbatas ini. Hamba berlindung dari keburukan nafsu yang menjerumuskan pada kemaksiatan, dari kejahatan makhlukMu ya Allah.. dan dari godaan syetan yang terkutuk.

Di atas segalanya, terus memperbaharui niat bahwa segala ibadah dilakukan hanya untuk mencapai keridhoan Allah dan memperbaiki amal dengan cara-cara yang Allah tetapkan melalui sunnah Rasulullah.

Flat

Just because you want something..
It doesn't mean you're going to easily get it.
Just because you like someone...
It doesn't mean you'll get your affection returned.
You Know?

Gagal Berjodoh? Cobalah Instropeksi

By. Maskelar jodoh 
www.sekolahpernikahan.ning.com

“Apa boleh mengedepankan idealisme ketika mau nikah?” tanya seseorang dalam sebuah forum seminar. Lalu saya jawab “boleh aja, setiap orang berhak mengajukan kriteria ideal untuk calon pasangannya”. Dia melanjutkan pertanyaannya “meski untuk mendapatkan yang sesuai dengan kriteria itu, kita harus sering gagal dalam ta’aruf (perkenalan) dengan calon kita?”.  “Ya, bisa jadi begitu”. Itu jawaban saya kepadanya.

Sahabatku, satu sisi kita mungkin mendamba jodoh yang pas dengan kriteria atau idealisme kita, di sisi yang lain kadangkala kita masih berpikir “apa iya ini jodoh saya?”. Sebagai deskripsi awal, saya ingin sampaikan bahwa jodoh adalah misteri, sesuatu yang kita nggak dikasih tahu oleh Allah. Seperti halnya soal rizki dan kematian. Sementara yang bisa kita lakukan selaku mahluk-Nya adalah berikhtiar alias berusaha. Dari ikhtiar dan usaha kita itulah Allah akan menilainya. Maksud dari, ‘Allah akan menilai ikhtiar kita’ adalah, tentang “jalan” yang kita pakai untuk meraih “tujuan” berupa jodoh itu.

Sebagai bentuk ikhtiar kita mungkin mencoba untuk mencari belahan jiwa dengan beberapa alternatif. Ada yang hunting sendiri, ada yang dijodohkan ortu, ada yang minta dicarikn. Nah, masalah, muncul ketika hunting sendiri nggak dapet-dapat, dijodohin teman, eh.. nggak pernah cocok, atau mungkin ta’aruf sering gagal.

Sahabatku, cobalah instropeksi, ketika jodoh tak kunjung datang. Mungkin masalahnya bukan pada para calon yang menolak atau kita tolak, atau mungkin yang belum kita dapatkan. Tapi masalahnya ada pada diri kita, cobalah fokus pada diri kita sendiri, bukan pada calon kita. Jika kita bisa berfokus pada diri, ternyata masalahnya berkutat pada 2 kategori. 
Pertama: kita punya kriteria tentang calon kita, dan calon-calon yang selama ini ditawarkan nggak sesuai kriteria kita. 
Kedua: Allah sedang menguji keimanan yang kaitannya dengan kesabaran kita memilih jodoh yang tepat.

Ada sedikit kisah yang ingin saya bagi. Ada seorang cewek usia 21 tahun, dia sudah memiliki talenta, skill yang memadai bahkan berpenghasilan yang bisa dikatakan lebih dari cukup. Kemudian si cewek bermaksd untuk mencari pendamping hidup dengan minta tolong teman-temannya untuk dicarikan calon suami sesuai kriteria yang diajukan si cewek. Satu per satu mulai dari foto dan biodata berbagai tipe cowok dengan karakter yang berbeda-beda disuguhkan kepadanya, tapi nggak ada yang nyangkut juga di hati si cewek. Seiring perjalanan waktu, akhirnya ada satu calon yang nyaris sesuai dengan kriteria yang diajukan dan si cewek tersebut mengiyakan untuk berkenalan. Kriteria-kriteri pun sudah terpenuhi dari diri cowok tersebut. Ganteng dapat, kerja udah, tajir iya, pinter apalagi, bahkan punya satu impian yang sama dengan si cewek.
Tapi apa yang terjadi? Dalam perjalanan perkenalan, cewek itu menolak cowok yang sudah dengan susah payah didapatkan teman-temannya. Alasan penolakan itu cuman satu, yakni karena si cowok berusia 31 tahun sementara ceweknya 21 tahun, meskipun sebenarnya tanpa dipungkiri, kriteria sudah banyak terpenuhi. Wanita tersebut menegaskan penolakannya “Usia dia gak setara dengan saya. Dan saya masih terlalu muda, masih banyak impian yang belum saya raih”. Gubraksss!

Hak “memilih” pasangan hidup itu ada pada siapa saja, termasuk di pihak si perempuan. Bagi siapa aja yang ingin mengajukn kriteria, adakalanya kita harus melapangkan diri untuk menerima calon pasangan kita yang nggak 100 % sesuai kriteria. Idealis boleh, nggak ada yang melarang, tapi saat satu kaki melangkah ke idealis, satu kaki yang lain tetap harus berpijak pada kenyataan yang ada. Siapa saja boleh bermimpi untuk mendapatkan pendamping hidup yang didambakan, tapi apakah kita juga sudah siap jadi calon pendamping hidup yang ia dambakan? Rasulullah Saw berpesan dalam satu haditsnya: Janganlah seseorang mukmin laki-laki membenci mukmin perempuan. Bila dia membencinya dari satu sisi, tapi akan menyayang dari sisi lain.” [@LukyRouf]

NB: Ilmu hari ini :) setiap hari adalah pembelajaran dan proses memperbaiki diri, harus lebih baik dari kemarin. Bismillah... mudahkan urusan hamba ya Allah...Aamiin

Kamis, 17 Oktober 2013

"Love" Letter


Setelah mengubek-ubek beberapa file catatan lama. akhirnya kutemukan sebuah surat "cinta" yang nyaris terlupakan karena tak tersampaikan, sejujurnya aku juga tak berniat untuk menyampaikan, karena aku bisa membayangkan bagaimana senyum jahilmu mengembang dan kepalamu penuh pertanyaan menggelikan dan engkau akan bilang "apa!!....Lina bilang cinta to Me!?") :p..

No...don't dream too high Masbro, I'll never tell u in the real life! :P
Aku hanya ingin me"museum"kan surat ini serta mengenang rasa saat aku menulisnya :)

Menjelang pernikahan...
Kakanda tercinta,
Tak terasa penghujung waktu hampir tiba. Dimana ini saatnya kau akan memiliki dan dimiliki seseorang. Tempat berbagi, separuh jiwa tuk melengkapi separuh agama. 
Kadang-kadang tergelitik tanya, bagaimana rasanya? Saat masa itu akan tiba. Mungkin semua rasa akan berbaur jadi satu. Mungkin juga terbesit sedikit ragu tentang masa depan, kondisi finansial, atau paling tidak kecocokan antara kalian berdua. Tapi aku hanya ingin menatapnya dengan tenang, seperti caramu melihat masa depan. Jangan ragu tuk melangkah karena aku yakin kau punya jalan dan arah yang ingin kau tuju sendiri, tak perduli begitu banyak saran dan nasihat. Anggap itu sebagai tabungan perhatian dari orang-orang yang menyayangimu.
Menjelang masa-masa perpisahan, mengapa aku menyimpulkan demikian? Karena aku tahu kita sudah dewasa dan akan memilih jalan yang berbeda, tapi setidaknya kita tak perlu saling membuang pandang atau tersimpan ketidaksenangan di dalam hati karena ketidakpuasan diri. 
Kelak mungkin kita masih bisa menertawakan hal-hal lucu dan menggelikan dari masa lalu. 

Orang suci
Menjaga kesuciannya dengan pernikahan,
Dan Menjaga pernikahannya dengan kesucian



Ukhuwah

Kita menjejak tangga mendaki
Saling berkejaran
Berlomba mencapai puncak
Lupa menoleh ke belakang
Ada langkah-langkah yang tertinggal
Mungkin lelah mengatur napas
Menghela penat dengan diam
Berhenti sejenak pun berkelanjutan
Ada langkah yang tertahan
Ada yang berhenti
Sebagian lagi telah jauh berlari
Ada yang lupa memberikan tangan
Jemari yang kuat untuk digenggam
Untuk menyatukan hati
Menyalakan semangat
Mengeratkan ikatan
Jangan tinggalkan, teman
Sendiri itu melemahkan
Sedangkan Jama'ah itu kekuatan

Minggu, 13 Oktober 2013

Loving You, Ummi


Ibu, maaf.. lidahku sering kaku berucap rindu
Bertambah kelu jika aku berkata cinta
Bukan... bukan karena aku kurang rasa
Aku hanya tak terlalu mampu mengekspresikannya
Apa engkau tahu ibu?
Aku mencintaimu..sangat,tak pernah lupa dalam doaku
Melihatmu meneteskan airmata saja sudah meluluhkan hatiku
Membuat sesak di dada, mengaburkan pandangan mata
Lalu hilang semua perbendarahaan kata

Tapi Ibu, sekali lagi..dari sekian ribu pengertianmu
Engkau selalu berusaha memahamiku
Engkau menerima kekuranganku
Dengan penuh kesabaran memaafkanku
Aku tahu sepenuhnya, tak ada kasih yang lebih tulus dari cintamu

Ibu, maaf... jika aku bermuka masam atau berkata yang menyakitkan
Bukan niatku bukan inginku
Hanya saja saat emosi membungkam Iman, maka nafsu mencari jalan pembenaran
Namun engkau selalu bilang "ibu selalu memaafkan kesalahan anaknya, karena ibu tak ingin Allah murka.. Ibu mana yang tega"
Ibu, sungguh... kesederhanaanmu mengajarkanku apa adanya
Ketulusanmu berbagi mengajarkanku untuk memberi
Jika engkau bercanda dan berkata "kenapa tak cari ibu lain yang lebih cantik saja?"
Engkau tahu? aku benci dengan kata-kata itu
Aku tak butuh Ibu yang lain, tak perlu yang cantik dan menarik
Hanya sosok yang tulus mencintaiku itu sudah lebih dari cukup bagiku
Siapa yang mampu mencintaiku setulus Ibu?
Meski kelak pasangan hidupku sekalipun, kurasa dia tak akan mampu
Karena dimensi cinta yang berbeda
Cinta kita mengakar dari awal kehadiranku di rahimmu
Bagaimana hendak ku elakkan rasa yang tumbuh menjadi bakti
Sebagai bukti ketaatan dan cintaku pada Allah yang Maha Esa

Ibu... banyak kata yang tak bisa mengungkap rasa
Seperti luasnya cinta yang tak mampu terucap dalam bahasa
Ibu, maaf... ada masa dimana ingin kita tak bertemu
Tapi itu bukan inginku untuk menyakitimu
Hanya saja saat hati memilih jalannya sendiri
Aku ingin ridho mu tetap menyertai
Agar kemana pun aku pergi
Dalam keramaian atau pun sunyi yang melingkupi
Aku tetap dicintai.