Baiklah... aku ingin selalu menyimpan rasa itu, di sudut hati.
- Selamat jatuh cinta! -sekali lagi- kepada segala yang patut kita cintai. Bersiaplah untuk itu.
- Oke. Dia mencintaiku. Aku pun sebaliknya. Kami memang mulai jatuh cinta yang sedalam-dalamnya tepat di hari pernikahan kami.
- Tersandung duka, Bunda. Aku memeluk apa. Aku mereguk apa. Desahku hanya daun-daun yang luruh jatuh. Marahku terbentur pada tulus yang ingin kubendung dengan bola lampu yang terang. Aku ingin nyalakan lampu itu di hatiku yang kini terketuk bencana. Aku ingin sandungku ini tak lain karena ingin memelukNya nanti di sana. Biar aku mereguk nikmat terpetik dari duri yang di baliknya ada sepenuh pahala. Pahala yang berlebih kadarnya agar terkatup jua dosaku.
- "Sepertinya aku sudah gila. Aku jatuh cinta pada saat yang tidak tepat. Sebenarnya ini sangat memalukan untuk ku katakan padamu . Ingin kutanyakan obatnya, tapi sudah tahu jawabannya. Aku harus banyak berpuasa untuk menahan nafsu dan menambah raka'at sholat malam. Benar kan? Aku sudah melakukannya. Tetapi kenapa aku malah sangat kecewa saat mendengar bahwa dia akan menikah? Tolong, aku sakit."
- "Kau sudah tahu obatnya, Ukhti. Dan perbanyaklah zikir, agar cintamu makin meluas hanya untukNya. Aku berusaha memahami apa yang kau rasakan. Aku tahu itu sulit. Tapi selama kau memeranginya, maka kau sedang menimbun pahala jihadmu, Dey. Bukankah menahan gejolak yang tidak halal ini berpahala jihad? Dan ingatlah, aku tak pernah beranjak dari sisimu, kita akan selalu saling membantu."
- "Sekali-kali batu karang raksasa pun mampu pecah karena kemarahan ombak. Maka tak mungkin jika sekerat hati tak pernah retak atau patah, padahal telah banyak badai yang membenturnya."
- "Seandainya aku sekerat hati, maka ia tak retak atau patah, tapi berdarah. Aku yang memegang pisaunya, aku sendiri yang menyayatnya. Lalu datang satu hati lain yang bersih, dan dia membawa jauh pisauku, tanpa melumuri hatiku terlebih dahulu, dengan ramuan penyembuh luka."
- Dey, kau pernah bersalah dalam memperlakukan cinta dan hubungan dengan seseorang. Kau pernah terpuruk karena dosa itu. Kau susah payah membenahi dirimu.
- Ya Allah yang maha membolak-balikkan hati, saya selalu mengira saya sanggup mengakarkan ghaudul bashar di mata, hati, dan pikiran saya. Tapi sejenak saya berpaling karena bisikan neraka, saya sekaligus terjerat di jaring yang bernama ketidakberdayaan. Lalu saya mulai mempercayakan ketakberdayaan itu untuk merusak benteng iman saya: bahwa Kekasih saya hanya Allah saja.
- Sekarang entah, saya tahu bahwa cinta kepada makhluk dengan cara seperti ini adalah kehinaan, tetapi sekaligus saya hampir mati menolak untuk mengakuinya. Lalu bagaimana?....
- Dia tiba-tiba datang dan ingin tahu tanggapan saya terhadap embusan angin yang telah beredar. Saya mengatakan padanya untuk bertanyalah pada hati, sebab kita tahu jawabannya ada di sana. Namun beberapa detik setelah saya menjauh, saya bertanya pada hati saya yang telah tertitik noda ini: dan aneh, saya sendiri tidak mengerti jawabannya.
- Ada sepasang tangan gugup di belakang tubuh, ada kata-kata gemetar, ada sirat di mata yang kelu dan sedih, ada langkah kaki kaku, ada persuaan dengan masa lalu, ada langit biru cinta yang kembali menaungi, ada yang tak terungkap oleh raga dan bahasa. Ah, di mana seorang pendaki gunung yang tersesat? Ia harus kembali, bukan? Benar.
- Pendaki menyerahkan sepasang tangan gugup itu kepada sang langkah kaki kaku saja. Begitu lebih baik, lebih indah dan bermakna, InsyaAllah. Wassalamualaikum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar