Melanjutkan kisah yang tertunda. Sebenarnya hati agak enggan menulis, akhir-akhir ini perasaanku benar-benar kebas, bosan tengah menyergap. Namun membiarkan kondisi seperti ini berlarut tidak akan merubah keadaan. "Finish what you started" ya... selesaikan apa yang sudah kamu mulai.
Membiarkan jari jemari merangkai kata, semoga ada cerita yang tercipta...
Mahasiswa itu..
Menjadi mahasiswa adalah proses mandiri dan belajar menyesuaikan diri dalam berbagai hal. Bertanggung jawab pada apa yang diperbuat dan melaksanakan apa yang direncanakan, mengatur keuangan sebaik mungkin dan merencanakan kelulusan agar tepat pada waktunya.
Aku bukan orang yang suka menghabiskan waktu berjalan-jalan untuk window shopping yang butuh waktu berjam-jam di mall atau counter pakaian. Sangat penat dan melelahkan. Saat itu aku paham kenapa teman kos enggan mengajak ku berbelanja, mungkin karena aku tak pandai merespon apa yang menarik dari pilihan mereka, memutari pusat perbelanjaan tanpa tujuan jelas apa yang dibeli semakin membuat kepala berdenyut, pusing. Maaf teman, aku tak tahu apa itu fashion dan tren kekinian. Menurutku sepanjang itu rapi, pantas dan nyaman dikenakan maka tidak jadi masalah. Menurutku cantik itu adalah sederhana yang tetap menjaga etika agama, anggun. Sejak saat itu aku semakin terkagum-kagum pada akhwat yang mampu menjaga auratnya, sempurna. :)
Me and my own self
Jika ada waktu luang, sendiri ku habiskan waktu berjam-jam mengitari rak buku di Toga Mas -pusat perbelanjaan buku- dan menghabiskan beberapa lembar ratusan ribu hasil penyisihan jatah bulanan, belanja ini lebih bermakna dan tak ada ruginya menurutku, karena dasarnya sudah suka. :)
atau ketika kebosanan melanda dan aku lagi enggan membaca, kuhabiskan
waktu menyusuri trotoar Malioboro -sendirian- mengukur jalan sembari
melihat-lihat kesibukan para pedagang, lebih tak punya tujuan.
Ketika tak ada rencana liburan keluar
dan dompet lagi sepi penghuni :P, aku lebih nyaman menghabiskan waktu di
kamar kos seharian, bermain komputer, menyewa beberapa keping film dan
menyiapkan menu logistik. Lalu terciptalah bioskop pribadi di kamar kos.
Itu sudah jadi hiburan yang lebih dari cukup buatku. Atau di akhir
pekan, jika kondisi dompet dan alam mendukung, kami -2 saudaraku dan
sepupu- berplesir ke berbagai pantai di Jogja, itu sangat menarik buatku. I Love it. I really love scenery.
Berbicara
tentang film aku memilih berdasarkan cerita dan tergantung mood saja.
Memilih pun berdasarkan menarik atau tidak ceritanya bukan siapa
pemerannya. Beberapa daftar film yang kusukai bergenre drama keluarga,
psikologi, tema peperangan maupun documenter. Beberapa yang
berkesan diantaranya: Saving Private Ryan, 1 litre of Tears, The Cove,
Yip Man, The Way Back, Haciko, War Horse, My Way.
Inilah top list film menarik yang pernah kutahu dan ku tonton. Aku menyukai itu semua karena kisahnya yang bermakna, mengharukan dan penuh pembelajaran.
Kalau dipikir lagi, aku termasuk pribadi yang tertutup untuk apa-apa yang kusukai, aku tak tertarik menceritakan masalah pribadi -selagi permasalahan itu masih bisa kutanggung dan mampu mencari solusi akan ku atasi sendiri- aku tak ingin menyusahkan orang lain dengan beban hati tapi aku suka menjadi pendengar bagi teman yang ingin berbagi sehingga beberapa dari teman percaya untuk menceritakan masalah dan rahasia mereka, mungkin menurut mereka orang yang tak banyak bicara tak akan suka menebar berita. Padahal sebenarnya mendengar banyak rahasia itu amanah besar.
Nilai Keimananku
Aku tak berani katakan aku sudah baik, namun terus berusaha memperbaiki diri karena menjadi hamba yang solehah adalah proses seumur hidup.
"Lakukan apapun dari ilmu yang sudah kamu ketahui, saat ini juga, semampumu." Begitulah aku berusaha mengisi kantong-kantong amalku. Atas nama cinta pada Allah, mengharap ampunan dan ridhoNya untuk mencapai syurgaNya. Sembari terus berusaha dan berdoa.
"Ya Allah... izinkan aku mencintaiMu semampuku
Mentaati perintahMu, melintasi batas suka dan tidak suka"
"Ya Rabb... letakkan dunia ditanganku, jangan di hatiku."
Jelas... masih jauh diri ini dari kesempurnaan. Tapi perbekalan harus selalu dipersiapkan.
Dari buku agama yang pernah kubaca, musik haram, lalu mulailah aku menghapus semua draft lagu dan musik dari komputerku. Hapus..download lagi...hapus lagi. Berat nafsu membujuk rayu ketika masa galau membuatku berpaling pada hiburan yang menyesatkan itu. Try hard to get it out from my system. Alhamdulillah semua sudah berlalu.
Sejatinya tak ada kisah yang sempurna atau bahagia yang tanpa cela. Begitupun kehidupanku. Perjalanan hidup bukanlah jalan mulus tanpa kerikil, bahkan batuan besar pun bisa menghadang. Pasang surut kehidupan memahamkanku pada banyak rasa dan mengajarkanku banyak hal, bahwa air yang nampak tenang dipermukaan pun mampu menciptakan gelombang arus yang terkadang menghanyutkan, berat untuk dihadapi.
Alhamdulillah... semua terlewati meski segala sesuatunya tak kan kembali sama seperti semula. Tetap ada akar-akar duka yang tertinggal yang setiap saat diperjuangkan untuk hilang. Tuntas.
Salah satu sandungan itu adalah kecelakaan yang ku alami pada tahun 2007, patah tulang kaki dan aku harus melewati masa pemulihan selama 2 bulan, berjalan dengan tongkat. Masa yang penuh hikmah.
Me and my heart
Bertambah usia memunculkan berbagai pertanyaan yang mulai "mengganggu" ketenangan sendiri ku, menyadarkan bahwa aku butuh seseorang, teman seperjalanan, separuh hati untuk menggenapkan separuh agama. Seseorang yang dengannya ku berbagi segalanya.
Dulu, ketika kisah merah jambu terhapus dari kamus hatiku karena tanggung jawab studi, aku tak terlalu memperdulikan hati. Meski rasa itu sempat singgah, aku berusaha memangkasnya karena aku tahu rasaku tak kan bernilai bahagia jika menempuh jalan yang dimurkaiNya. Aku tak ingin mengkhianati hati dan imanku yang baru seujung kuku hanya karena cinta pada waktu yang tak semestinya.
Setelah itu ku lalui waktu dengan prinsip "dengan siapapun aku menikah kelak aku akan menjalaninya dengan baik". Sesederhana itu. Aku mengabaikan soal perasaan dan hatiku. Pada kenyataannya aku hanyalah perempuan biasa, butuh keyakinan hati untuk jalan panjang yang ku tempuh nanti.
Pemahaman yang bertambah membuatku menyadari bahwa optimismeku kebablasan. Dan persoalan satu ini benar-benar tak bisa dipaksakan oleh keadaan karena tak ada yang bisa dipaksakan bagi hati. Setelah itu waktuku berkejaran antara harapan dan pertanyaan tentang siapa, kapan dan dimana. Sejenak masalah ini menggelisahkan hati, kesedihan yang belum pernah kurasakan sebelumnya -sunyi dan ngilu yang menekan ke ulu hati- kesedihan yang berbeda rasa dari kisah cinta yang muncul pada waktu yang tidak semestinya.
Aku tak bisa mengatakan aku sabar menghadapi keadaan ini, dadaku sesak oleh beban yang menghimpit membuat jantungku terkadang terasa sakit. Saat-saat krusial itulah aku merasakan nikmatnya mengadu kepada Allah, berharap pada cintaNya, nikmatnya berserah padaNya. Pengharapan dan kerinduan yang sangat ketika sholat, kerinduan untuk memperoleh ampunan dan ridhoNya. Mengingat segala nikmat yang selalu Allah beri menyadarkan diri ini untuk bersyukur dalam segala situasi, suka tidak suka. Jika ini disebut hidayah maka sungguh karunia besarlah aku bisa memperolehnya. Allahuakbar... "sesungguhnya di setiap kesulitan ada kemudahan"
Seiring perjalanan waktu aku berdamai dengan hati, tak lagi memaksakan diri dan tak lagi tertekan dengan pengharapan yang belum bisa terwujud. Bertambah tenang dengan keyakinan bahwa Allah menetapkan yang terbaik untuk segalanya. Meskipun begitu aku tak pernah lelah berdoa karena putus asa bukanlah jawabannya.
========================================================================
Kisah hidupku mungkin bukan hal yang menarik bagi orang lain, hanya sebuah
kisah sederhana dari perjalanan hidup seorang hamba. Namun ini berarti
banyak bagiku, memberi hikmah yang luar biasa karena aku yakin tak ada
yang sia-sia dari penciptaanNya.
Kelak, 5 atau 10 tahun mendatang jika aku masih hidup, ingin ku "napaktilasi" kisah ini dan melihat bagaimana aku memandang diriku saat itu.
Setelah ini, adakah hikmah lebih besar yang kudapatkan? Wallahu'alam.
Teacher kelas bahasa inggrisku pernah berkata: you are sincere
Alhamdulillah...
tapi, masihkah sifat itu kumiliki hingga kini?
atau adakah sebagian yang hilang dari diri ini?
Aku tak bisa menjanjikan yang terbaik
tapi aku akan melakukan terbaik yang aku bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar