Tampilkan postingan dengan label Catatan Akhir Tahun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Akhir Tahun. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Desember 2013

Writing, I'm in Love

Bismilahirrahmanirrahim...

Saya suka menulis, entah sejak kapan saya lupa. Awal mulanya hanya pelampiasan perasaan untuk mengungkapkan hal-hal yang sulit untuk dikatakan karena dulu saya termasuk orang yang sulit mengkomunikasikan keinginan aka pendiam :P. 

Semakin lama saya bisa merasakan nikmatnya menulis, sebagai pelepas kebosanan dan terkadang saat jenuh melanda saya membaca kembali tulisan lama sehingga bisa menciptakan suasana berbeda. Membaca kembali apa yang sudah ditulis mengingatkan diri akan "rasa" saat menuliskannya, saat bahagia, sedih, atau bersemangat. Hal itu seperti membuka lembaran kenangan rasa. :)

Saya tidak punya gaya penulisan tertentu, tergantung mood saja, dan lagi saya tidak pernah belajar sistematika penulisan yang baik, saya otodidaker :P. Saya juga belum menemukan style baku sebagai trend made saya sendiri :). Tapi yang saya pahami dari diri adalah bahwa saya termasuk tipe bunglon, artinya saya mampu mengcopas gaya penulisan seseorang jika menurut saya menarik dan mampu memunculkan mood/ide. Saya tidak punya/belum menemukan kelebihan istimewa dalam diri saya kecuali yang sudah saya ketahui: I'm a copas style. :)

Terkadang ide tulisan bisa muncul begitu saja, tanpa diduga bisa tercetus ide-ide untuk menulis saat bekerja, menyapu, mencuci, bahkan di kamar mandi :P. Sungguh menakjubkannya otak manusia, tak pernah berhenti untuk berfikir. Jadi menulis bagi saya adalah bahasa hati, tidak bisa dipaksakan meski sudah direncanakan. Seperti rencana saya di bulan Desember ini bahwa saya akan memecahkan rekor saya sendiri dengan mencipta 1 tulisan setiap hari. kenyataannya saya hanya berhasil sebanyak ini dan it's a long journey from the master plan :P. Seperti yang sudah saya bilang, mood tak bisa dipaksakan. 


Menulis bagi saya adalah hobi. Hingga kini belum terpikir untuk menjadikan hobi ini sebagai karir, di samping faktor minusnya derajat kepe-dean saya, minus kualitas tulisan dan pengalaman, saya juga tidak mau menjadikan hobi saya ini menjadi tekanan karena harus mengejar deadline. (halah gayanya..) :D

Seriously, faktor utama dan terpenting kenapa menulis masih menjadi hobi adalah: pertanggungjawaban saya atas apa yang saya tulis. Bukan dihadapan manusia saja; karena pro dan kontra itu adalah keadaan yang tak terbantahkan adanya. Tapi pertanggungjawaban tertinggi itu pada Allah subhana wa ta'ala, karena  saya sadar betul masih sedikit sekali tulisan saya yang bisa memberi manfaat, saya khawatir tulisan saya lebih menonjolkan mudharat dibandingkan manfaat, ditambah lagi, bagi saya tulisan adalah lisan kedua. Berapa banyak tulisan yang mampu menyeret opini dan pemikiran orang pada apa yang diinginkan oleh si penulis/golongan tertentu -bagus jika memahami tulisan yang bermanfaat dan memiliki tanggung jawab moral- namun akan jadi bencana jika tulisan itu bertolak belakang dari kebenaran.

Itulah hebatnya Islam, menisbahkan segala perbuatan pada "senang-tidak"nya Allah
subhana wa ta'ala atas setiap tindakan kita, karena tanpa itu kita akan kehilangan arah dan tersesat pada pemikiran manusia yang terus berkembang, tentu akan membunuh "kepribadian" kita jika tanpa filter.

Back to me,  I like writing so I'll keep move on, saya tidak ingin pesimis dan akan terus menulis, paling tidak jika saya sudah tiada akan ada kenangan yang bisa saya tinggalkan bagi keluarga dan teman-teman. Saya memiliki harapan semoga kelak ada yang terinspirasi dengan apa yang saya tulis, bukan apa-apa, saya berharap tulisan saya mampu menjadi amal jariyah kelak meski hanya dengan satu kalimat yang dinilai baik dan manfaat.
InsyaAllah..

Senin, 23 Desember 2013

Diamku Bukan Berarti Cinta

Mereka katakan,
"Cintailah dia dalam diam"
Pada orang yang kau simpatik akan keilmuannya, dan segalanya.
Lalu mereka biarkan dirimu bersyair dengan khayalan,
mengajakmu berfantasi dalam tawa kosong dan tangisan.

Hey, kawan!
Itukah dirimu?
Yang berkamuflase dengan cinta khayalan?
Saat kau yakin pacaran itu haram sebelum menikah,
lalu kau putuskan mencintainya dalam diam.

Aduhai, apa bedanya?!
Kau sama-sama meracuni hatimu dengan cinta yang tak halal.
Apakah kau juga yakin dialah orang yang akan Allah takdirkan untukmu?

Jadilah mereka yang memilih acuh meski mampu mencintai seseorang dalam diam.

Mereka katakan, "Bukankah belum tentu dia yang menjadi pasanganku?

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:

"Cinta adalah yang menggerakkan orang yang mencintai untuk mencari yang dicintainya."

(Ighatsatul Lahfan Min Mashayidisy Syaitan, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, edisi Indonesia: Menyelamatkan Hati Dari Tipu Daya Setan, penerbit Al-Qowam, Solo)

Beliau rahimahullah juga berkata:

"Tidak ada yang boleh diinginkan dan dicintai karena dzatnya kecuali Allah."

(Fawaidul Fawaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Imam Asy-Syafi'i Jakarta)

#copas

Jumat, 20 Desember 2013

Strong Heart (maybe?)

I see the sunrise. Know it's time for me to pack up all the past and find what truly lasts.

If everything has been written down, so why worry?
If life is ever changing, so why worry?

For all I know, I've come this far not knowing why.
So, would it be nice to sit back in silence?

I'm thankful for this moment cause I know that you GROW A DAY OLDER and see how this sentimental heart can be.

I'm thankful for this moment cause I know that I grow a day older to understand what has happening.

If everything has been written down, so why worry?

Blessing, healthy, happiness for you and prosperity with you always.


#copas

Kamis, 12 Desember 2013

Moment to remember


Do you know? The speed at which cherry blossoms fall… 5 centimeters per second. At what speed must I live... to be able to see you again?  
~Tono Tamaki~

Collecting the quote

I'm an ordinary person. I'm not being negative. I'm just being realistic 

raining outside...i'm crying inside 

Time Heals Every Wound (waktu akan menyembuhkan setiap luka) 

Knowing is Nothing, Doing is Everything

"Friends are like Balloons
If you let them go,
you can't get them back
So..I'm gonna TIE you to my HEART
so I will never LOSE you"


"cintai dia dalam diam, dalam kesederhanaan dan keikhlasan"

Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kamu inginkan dan menyayat sedalam yang kamu ijinkan. Yang berat bukan bagaimana caranya menanggulangi kesedihan dan kerinduan itu, tapi bagaimana belajar darinya. 

Kita suka sesuatu yang berbeda, bukan karena manusia g punya pendirian, tapi butuh variasi dalam hidup, sekali waktu tertawa, di lain hari menangis. Hari ini memuji, esok bisa mengeluh. Pagi ini marah dan kesal, sore bisa tertawa. Kalau segala peristiwa di tulis dan menjadi cerita, akan jadi sebuah novel yang indah, penuh rasa, penuh warna dalam nuansa yang berbeda...

romantisme cinta bukan hanya tentang bunga, harta atau ketampanan rupa.
lebih utamakan pada keindahan agama dan akhlaknya
sehingga cinta tetap bersemi di setiap musim.
cinta selalu dibutuhkan seperti udara, meski sesak dada menerimanya
cinta tidak pernah salah.

tapi cara kita mencintai dan memaknainya
yang bisa membuat cinta bisa bernilai surga
insyaallah 


Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yang diberikannya kepada kita.
Namun kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga), khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita mesti berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.
 


sungguh mengherankan...ketika yg tidak tahu mengatakan "ya" untuk apa yg dilakukannya.
sungguh mengherankan...ketika sudah tahu, tetap mengatakan "tidak apa-apa" bagi siapapun membenarkan kesalahannya.
paling mengherankan...ketika paham kebenaran tapi tetap berkutat dengan kesalahan.
sesungguhnya kita adalah makhluk yg paling menakjubkan
penuh keberanian bahkan mengemban amanah kekhalifahan
meski gunung pun menolak karena beratnya amanah
tak ada yang lebih mengherankan dari manusia
saat dia beriman dengan segala ketaatannya
derajatnya bisa lebih mulia dari malaikat yg tak berbuat dosa.
saat dia durhaka
derajatnya bisa lebih hina dari hewan yang tak punya akal.


Setiap kita memiliki tingkatan berbeda dalam memahami ilmu, semakin kita mencari tahu ternyata semakin banyak yg belum kita tahu. bisa jadi sesuatu yg kita anggap benar, ternyata salah, hanya karena ilmu kita saat ini belum sampai pada kebenaran yg hakiki. Mencari ilmu, menelaah dari sumber yg sahih dan bertanya kepada ahlinya, membuat mata hati kita terbuka. Tentu atas izinNya dengan niat llahita'ala, Aamiin

Cintai Allah sepenuhnya, cintai dunia seperlunya.
Ambil yang perlu nikmati yang boleh.
Jangan caramu menyukai dunia membuat cacat Akhiratmu.

Ya Allah, hamba ingin mencintaiMu semampuku, agar lembut hatiku lebur dosaku.

Mengingat....
Ketika mengingat seseorang dengan ketidaksenangan, maka yang teringat adalah kekurangan-kekurangannya, kelemahan-kelemahannya dan segala sesuatu yang menambah kebencian kita padanya.
Ketika mengingat seseorang dengan rasa sayang, mudah untuk mengingatkan kita akan kelebihannya, kebaikannya dan segala sesuatu yang menambah
sayang kita padanya. Memahami banyak orang perlu teknik, menyampaikan sesuatu perlu strategi, yg terpenting semua g melanggar hukum agama, dengan dasar hukum, niat, cara dan untuk tujuan yang baik harusnya bisa menciptakan keadilan, karena memasukan nilai subjektifitas dalam banyak keputusan malah akan lebih membingungkan. Menyadari hal itu harus disertai keikhlasan diri.
ingatan apa yang ingin kamu simpan menjadi taman hati? 


Km diam tp bukan pendiam, lebih sabar or tenang, gak gampang karena km bukan orang yg supel namun bukan org sombong,yg berarti km menunggu disapa ketimbang menyapa terlebih dahulu...km tertutup,dan gak gampang berbagi ceritamu keorang lain....dan km lebih memilih menyimpan semua dukamu sendiri meski jalanmu itu kadang menyiksamu...

Selasa, 10 Desember 2013

CINTA LAKI-LAKI BIASA (True Story) ~ By. Asma Nadia

I find it again...the old story but still... it's left something warm in my heart. Ketulusan... 

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. 
Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. 
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata! 
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka. 
Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda. 
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya. 
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik! 
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan. 
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh? 
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! 
Sebab masa depanmu cerah. 
Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. 
Bakatmu yang lain pun luar biasa. 
Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau! 
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan. 
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa? 
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania! 
Cukup! 
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini? 
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah. 
*** 
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka. 
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. 
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya. 
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses! 
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli. 
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen. 
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu. 
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma. 
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! 
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu. 
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak. 
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang. 
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah. 
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting. 
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak! 
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari. 
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis. 
*** 
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan! 
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. 
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang. 
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. 
Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.
Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. 
Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. 
Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.
Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? 
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal. 
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri. 
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania. 
*** 
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang. 
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli. 
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. 
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.. 
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik. 
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, 
Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan. 
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama. 
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. 
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. 
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. 
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta. 
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? 
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. 
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun. 
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. 

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!
Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam! 
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa? 
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi? 
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. 
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. 
 
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania. 
Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

Kamis, 05 Desember 2013

All about ME - part 2 (kisah masa lalu)

Melanjutkan kisah yang tertunda. Sebenarnya hati agak enggan menulis, akhir-akhir ini perasaanku benar-benar kebas, bosan tengah menyergap. Namun membiarkan kondisi seperti ini berlarut tidak akan merubah keadaan. "Finish what you started" ya... selesaikan apa yang sudah kamu mulai.
Membiarkan jari jemari merangkai kata, semoga ada cerita yang tercipta... 


Mahasiswa itu..
Menjadi mahasiswa adalah proses mandiri dan belajar menyesuaikan diri dalam berbagai hal. Bertanggung jawab pada apa yang diperbuat dan melaksanakan apa yang direncanakan, mengatur keuangan sebaik mungkin dan merencanakan kelulusan agar tepat pada waktunya.

Aku bukan orang yang suka menghabiskan waktu berjalan-jalan untuk window shopping yang butuh waktu berjam-jam di mall atau counter pakaian. Sangat penat dan melelahkan. Saat itu aku paham kenapa teman kos enggan mengajak ku berbelanja, mungkin karena aku tak pandai merespon apa yang menarik dari pilihan mereka, memutari pusat perbelanjaan tanpa tujuan jelas apa yang dibeli semakin membuat kepala berdenyut, pusing. Maaf teman, aku tak tahu apa itu fashion dan tren kekinian. Menurutku sepanjang itu rapi, pantas dan nyaman dikenakan maka tidak jadi masalah. Menurutku cantik itu adalah sederhana yang tetap menjaga etika agama, anggun. Sejak saat itu aku semakin terkagum-kagum pada akhwat yang mampu menjaga auratnya, sempurna. :)

Me and my own self 
Jika ada waktu luang, sendiri ku habiskan waktu berjam-jam mengitari rak buku di Toga Mas -pusat perbelanjaan buku- dan menghabiskan beberapa lembar ratusan ribu hasil penyisihan jatah bulanan, belanja ini lebih bermakna dan tak ada ruginya menurutku, karena dasarnya sudah suka. :)
atau ketika kebosanan melanda dan aku lagi enggan membaca, kuhabiskan waktu menyusuri trotoar  Malioboro -sendirian- mengukur jalan sembari melihat-lihat kesibukan para pedagang, lebih tak punya tujuan. 

Ketika tak ada rencana liburan keluar dan dompet lagi sepi penghuni :P, aku lebih nyaman menghabiskan waktu di kamar kos seharian, bermain komputer, menyewa beberapa keping film dan menyiapkan menu logistik. Lalu terciptalah bioskop pribadi di kamar kos. Itu sudah jadi hiburan yang lebih dari cukup buatku. Atau di akhir pekan, jika kondisi dompet dan alam mendukung, kami -2 saudaraku dan sepupu- berplesir ke berbagai pantai di Jogja, itu sangat menarik buatku. I Love it. I really love scenery.

Berbicara tentang film aku memilih berdasarkan cerita dan tergantung mood saja. Memilih pun berdasarkan menarik atau tidak ceritanya bukan siapa pemerannya. Beberapa daftar film yang kusukai bergenre drama keluarga, psikologi, tema peperangan maupun documenter. Beberapa yang berkesan diantaranya: Saving Private Ryan, 1 litre of Tears, The Cove, Yip Man, The Way Back, Haciko, War Horse, My Way.
Inilah top list film menarik yang pernah kutahu dan ku tonton. Aku menyukai itu semua karena kisahnya yang bermakna, mengharukan dan penuh pembelajaran.

Kalau dipikir lagi, aku termasuk pribadi yang tertutup untuk apa-apa yang kusukai, aku tak tertarik menceritakan masalah pribadi -selagi permasalahan itu masih bisa kutanggung dan mampu mencari solusi akan ku atasi sendiri- aku tak ingin menyusahkan orang lain dengan beban hati tapi aku suka menjadi pendengar bagi teman yang ingin berbagi sehingga beberapa dari teman percaya untuk menceritakan masalah dan rahasia mereka, mungkin menurut mereka orang yang tak banyak bicara tak akan suka menebar berita. Padahal sebenarnya mendengar banyak rahasia itu amanah besar. 

Nilai Keimananku
Aku tak berani katakan aku sudah baik, namun terus berusaha memperbaiki diri karena menjadi hamba yang solehah adalah proses seumur hidup.
"Lakukan apapun dari ilmu yang sudah kamu ketahui, saat ini juga, semampumu." Begitulah aku berusaha mengisi kantong-kantong amalku. Atas nama cinta pada Allah, mengharap ampunan dan ridhoNya untuk mencapai syurgaNya. Sembari terus berusaha dan berdoa.

"Ya Allah... izinkan aku mencintaiMu semampuku
Mentaati perintahMu, melintasi batas suka dan tidak suka"
"Ya Rabb... letakkan dunia ditanganku, jangan di hatiku."


Jelas... masih jauh diri ini dari kesempurnaan. Tapi perbekalan harus selalu dipersiapkan.
Dari buku agama yang pernah kubaca, musik haram, lalu mulailah aku menghapus semua draft lagu dan musik dari komputerku. Hapus..download lagi...hapus lagi. Berat nafsu membujuk rayu ketika masa galau membuatku berpaling pada hiburan yang menyesatkan itu. Try hard to get it out from my system. Alhamdulillah semua sudah berlalu.

Sejatinya tak ada kisah yang sempurna atau bahagia yang tanpa cela. Begitupun kehidupanku. Perjalanan hidup bukanlah jalan mulus tanpa kerikil, bahkan batuan besar pun bisa menghadang. Pasang surut kehidupan memahamkanku pada banyak rasa dan mengajarkanku banyak hal, bahwa air yang nampak tenang dipermukaan pun mampu menciptakan gelombang arus yang terkadang menghanyutkan, berat untuk dihadapi.

Alhamdulillah... semua terlewati meski segala sesuatunya tak kan kembali sama seperti semula. Tetap ada akar-akar duka yang tertinggal yang setiap saat diperjuangkan untuk hilang. Tuntas.

Salah satu sandungan itu adalah kecelakaan yang ku alami pada tahun 2007, patah tulang kaki dan aku harus melewati masa pemulihan selama 2 bulan, berjalan dengan tongkat. Masa yang penuh hikmah. 

Me and my heart
Bertambah usia memunculkan berbagai pertanyaan yang mulai "mengganggu" ketenangan sendiri ku, menyadarkan bahwa aku butuh seseorang, teman seperjalanan, separuh hati untuk menggenapkan separuh agama. Seseorang yang dengannya ku berbagi segalanya.

Dulu, ketika kisah merah jambu terhapus dari kamus hatiku karena tanggung jawab studi, aku tak terlalu memperdulikan hati. Meski rasa itu sempat singgah, aku berusaha memangkasnya karena aku tahu rasaku tak kan bernilai bahagia jika menempuh jalan yang dimurkaiNya. Aku tak ingin mengkhianati hati dan imanku yang baru seujung kuku hanya karena cinta pada waktu yang tak semestinya.
Setelah itu ku lalui waktu dengan prinsip "dengan siapapun aku menikah kelak aku akan menjalaninya dengan baik". Sesederhana itu. Aku mengabaikan soal perasaan dan hatiku. Pada kenyataannya aku hanyalah perempuan biasa, butuh keyakinan hati untuk jalan panjang yang ku tempuh nanti.

Pemahaman yang bertambah membuatku menyadari bahwa optimismeku kebablasan. Dan persoalan satu ini benar-benar tak bisa dipaksakan oleh keadaan karena tak ada yang bisa dipaksakan bagi hati. Setelah itu waktuku berkejaran antara harapan dan pertanyaan tentang siapa, kapan dan dimana. Sejenak masalah ini menggelisahkan hati, kesedihan yang belum pernah kurasakan sebelumnya -sunyi dan ngilu yang menekan ke ulu hati- kesedihan yang berbeda rasa dari kisah cinta yang muncul pada waktu yang tidak semestinya.

Aku tak bisa mengatakan aku sabar menghadapi keadaan ini, dadaku sesak oleh beban yang menghimpit membuat jantungku terkadang terasa sakit. Saat-saat krusial itulah aku merasakan nikmatnya mengadu kepada Allah, berharap pada cintaNya, nikmatnya berserah padaNya. Pengharapan dan kerinduan yang sangat ketika sholat, kerinduan untuk memperoleh ampunan dan ridhoNya. Mengingat segala nikmat yang selalu Allah beri menyadarkan diri ini untuk bersyukur dalam segala situasi, suka tidak suka. Jika ini disebut hidayah maka sungguh karunia besarlah aku bisa memperolehnya. Allahuakbar... "sesungguhnya di setiap kesulitan ada kemudahan"

Seiring perjalanan waktu aku berdamai dengan hati, tak lagi memaksakan diri dan tak lagi tertekan dengan pengharapan yang belum bisa terwujud. Bertambah tenang dengan keyakinan bahwa Allah menetapkan yang terbaik untuk segalanya. Meskipun begitu aku tak pernah lelah berdoa karena putus asa bukanlah jawabannya.

======================================================================== Kisah hidupku mungkin bukan hal yang menarik bagi orang lain, hanya sebuah kisah sederhana dari perjalanan hidup seorang hamba. Namun ini berarti banyak bagiku, memberi hikmah yang luar biasa karena aku yakin tak ada yang sia-sia dari penciptaanNya.
Kelak, 5 atau 10 tahun mendatang jika aku masih hidup, ingin ku "napaktilasi" kisah ini dan melihat bagaimana aku memandang diriku saat itu.
Setelah ini, adakah hikmah lebih besar yang kudapatkan? Wallahu'alam.

Teacher kelas bahasa inggrisku pernah berkata:  you are sincere
Alhamdulillah... 
tapi, masihkah sifat itu kumiliki hingga kini?
atau adakah sebagian yang hilang dari diri ini?

Aku tak bisa menjanjikan yang terbaik 
tapi aku akan melakukan terbaik yang aku bisa.

Rabu, 04 Desember 2013

Kunci Khusyu' dalam Shalat

Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

Banyak orang bertanya..
Bagaimana cara khusyu' dalam shalat?..
Seminar dan kursus pun diadakan..
Agar bisa khusyu' dalam shalat..
Padahal..
Kunci khusyu' itu ada di awalnya..
Ia adalah ucapan: Allahu Akbar..
Allahu Maha besar..

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
"Membuka shalat dengan lafadz ini mempunyai rahasia yang agung..
Seorang hamba ketika berdiri di hadapan Allah..
Ia yakin bahwa tidak ada sesuatupun yang lebih besar dari Allah..
Dan hatinya merasakan dan masuk ke dalam relungnya..
Ia akan malu kepada Allah..
Keagungan dan kebesaranNya..
Menghalangi hatinya memikirkan yang lain..
Siapa yang tidak merasakan makna ini..
Ia akan berdiri dengan jasadnya saja..
Sementara hatinya..
Tenggelam dalam lembah waswas dan pikiran lain..
Kalaulah Allah lebih besar dari segala sesuatu di hatinya..
Tentu ia tidak akan sibuk memikirkan yang lainnya..
(Jami' fiqih ibnul qayyim 2/41).

Tak akan khusyu' hati yang tak membesarkan Allah..
Walau lisan berucap Allahu Akbar..
Walau seribu kursus dihadiri..
karena..
Khusyu' adalah perbuatan hati..
Yang muncul dari rasa takut kepada sang pencipta..
Dan takut itu karena hati membesarkan dan mengagungkan Allah..

Ya Allah..
Beri kami kekhusyu'an..

Tiga Jalan

Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

Ibnu Qayyim rahimahullahu berkata:
Orang yang berakal mengetahui bahwa setan mempunyai tiga jalan untuk menggodanya:

Pertama: Berlebihan dan boros..
Obatnya adalah memberikan jiwa sebatas kebutuhannya berupa gizi, tidur, kelezatan dan istirahat..

Kedua: kelalaian..
Orang yang senantiasa berdzikir..
Ia berada dalam benteng yang kokoh..
Bila ia lalai..
Ia telah membuka sebuah pintu untuk musuh..

Ketiga: membebani diri dengan sesuatu yang bukan urusannya dalam seluruh perkara..

(Al Fawa-id hal 246).

Selasa, 03 Desember 2013

Kutipan novel Birunya Langit Cinta

Novel yang membuatku jatuh cinta pada ceritanya, kata-katanya yang memikat, dan kedalaman makna yang tersirat. Tak pernah bosan membacanya.
Baiklah..aku ingin selalu menyimpan rasa itu, di sudut hati.
  • Selamat jatuh cinta! -sekali lagi- kepada segala yang patut kita cintai. Bersiaplah untuk itu.
  • Oke. Dia mencintaiku. Aku pun sebaliknya. Kami memang mulai jatuh cinta yang sedalam-dalamnya tepat di hari pernikahan kami.
  • Tersandung duka, Bunda. Aku memeluk apa. Aku mereguk apa. Desahku hanya daun-daun yang luruh jatuh. Marahku terbentur pada tulus yang ingin kubendung dengan bola lampu yang terang. Aku ingin nyalakan lampu itu di hatiku yang kini terketuk bencana. Aku ingin sandungku ini tak lain karena ingin memelukNya nanti di sana. Biar aku mereguk nikmat terpetik dari duri yang di baliknya ada sepenuh pahala. Pahala yang berlebih kadarnya agar terkatup jua dosaku.
  • "Sepertinya aku sudah gila. Aku jatuh cinta pada saat yang tidak tepat. Sebenarnya ini sangat memalukan untuk ku katakan padamu . Ingin kutanyakan obatnya, tapi sudah tahu jawabannya. Aku harus banyak berpuasa untuk menahan nafsu dan menambah raka'at sholat malam. Benar kan? Aku sudah melakukannya. Tetapi kenapa aku malah sangat kecewa saat mendengar bahwa dia akan menikah? Tolong, aku sakit."
  • "Kau sudah tahu obatnya, Ukhti. Dan perbanyaklah zikir, agar cintamu makin meluas hanya untukNya. Aku berusaha memahami apa yang kau rasakan. Aku tahu itu sulit. Tapi selama kau memeranginya, maka kau sedang menimbun pahala jihadmu, Dey. Bukankah menahan gejolak yang tidak halal ini berpahala jihad? Dan ingatlah, aku tak pernah beranjak dari sisimu, kita akan selalu saling membantu."
  • "Sekali-kali batu karang raksasa pun mampu pecah karena kemarahan ombak. Maka tak mungkin jika sekerat hati tak pernah retak atau patah, padahal telah banyak badai yang membenturnya."
  • "Seandainya aku sekerat hati, maka ia tak retak atau patah, tapi berdarah. Aku yang memegang pisaunya, aku sendiri yang menyayatnya. Lalu datang satu hati lain yang bersih, dan dia membawa jauh pisauku, tanpa melumuri hatiku terlebih dahulu, dengan ramuan penyembuh luka."
  • Dey, kau pernah bersalah dalam memperlakukan cinta dan hubungan dengan seseorang. Kau pernah terpuruk karena dosa itu. Kau susah payah membenahi dirimu.
  • Ya Allah yang maha membolak-balikkan hati, saya selalu mengira saya sanggup mengakarkan ghaudul bashar di mata, hati, dan pikiran saya. Tapi sejenak saya berpaling karena bisikan neraka, saya sekaligus terjerat di jaring yang bernama ketidakberdayaan. Lalu saya mulai mempercayakan ketakberdayaan itu untuk merusak benteng iman saya: bahwa Kekasih saya hanya Allah saja.
  • Sekarang entah, saya tahu bahwa cinta kepada makhluk dengan cara seperti ini adalah kehinaan, tetapi sekaligus saya hampir mati menolak untuk mengakuinya. Lalu bagaimana?....
  • Dia tiba-tiba datang dan ingin tahu tanggapan saya terhadap embusan angin yang telah beredar. Saya mengatakan padanya untuk bertanyalah pada hati, sebab kita tahu jawabannya ada di sana. Namun beberapa detik setelah saya menjauh, saya bertanya pada hati saya yang telah tertitik noda ini: dan aneh, saya sendiri tidak mengerti jawabannya.
  • Ada sepasang tangan gugup di belakang tubuh, ada kata-kata gemetar, ada sirat di mata yang kelu dan sedih, ada langkah kaki kaku, ada persuaan dengan masa lalu, ada langit biru cinta yang kembali menaungi, ada yang tak terungkap oleh raga dan bahasa. Ah, di mana seorang pendaki gunung yang tersesat? Ia harus kembali, bukan? Benar.
  • Pendaki menyerahkan sepasang tangan gugup itu kepada sang langkah kaki kaku saja. Begitu lebih baik, lebih indah dan bermakna, InsyaAllah. Wassalamualaikum.

Senin, 02 Desember 2013

All about ME

Langit masih biru dan awan masih berarak, terkadang putih namun di lain waktu menghitam kelam, seperti mendung yang kerap hadir di musim penghujan tahun ini.

Ketika kebosanan menulis melanda, teringat nasihat seorang teman yang berkata :
"seorang penulis itu tidak akan pernah kehabisan ide, karena jika ia memandang ke langit luas atau bumi yang membentang, maka banyak hal yang bisa diceritakan..tak kan pernah berkurang, bahkan saat kau melihat dirimu sendiri kau akan tahu..."

Benar..banyak hal yang bisa diungkapkan, selain menulis keadaan di sekelilingku, sekali waktu aku ingin berbagi cerita tentang kehidupanku dan untuk pertama kalinya aku menulis: tentang diriku.

Bismillahirrahmanirrahim...

Seorang teman pernah berkata: "kamu itu seperti celengan"

Sahabat yang lain mengatakan: "kamu itu diam bukan berarti pendiam, kamu lebih memilih menunggu dari pada menyapa terlebih dahulu, kamu lebih suka menyimpan duka mu sendiri, meski terkadang jalan itu  berat dan menyakitkan bagimu..."

Alhamdulillah.. aku bersyukur untuk pemahaman mereka tentangku. Mungkin benar.

Me as al little girl
Banyak hal yang menyenangkan masa itu, aku suka bermain-main seperti anak-anak pada umumnya: suka bermain hujan -menikmati guyurannya dan berlarian sembari menciptakan cipratan air dari sepakan kaki- melihat bintang-bintang di langit malam yang cerah, memelihara kucing dan memetik bunga-bunga. Aku menyukai banyak hal,  memanjat pohon atau berenang meski pada kenyataannya aku tidak benar-benar berenang alias menjadi parasit dipunggung abangku. :P


Bulan Ramadhan pun masa yang penuh kesan bagi ku, saat itu kami sering menghabiskan waktu memanjat pohon rambutan, bermain masak-masakan atau bolak-balik ke dapur mengeluh pada mama bahwa aku sudah kelaparan padahal puasa baru setengah hari berjalan. Mama hanya tertawa sembari menyuruhku bersabar, dan aku membalas dengan memeluk tubuhnya yang gemuk, mengendus apek bau pakaiannya yang menguarkan aroma masakan, nikmat. :P

Suasana malam di bulan Ramadhan juga hal yang menyenangkan, sholat tarawih rutin kulakukan di mushola terdekat kami, namun ibadah ini sering dibarengi dengan berbagai kenakalan membuat kami berulang kali ditegur oleh jama'ah ibu-ibu karena suara berisik yang mengganggu dari cekikikan kami untuk hal-hal yang dibuat lucu. Bagian dari kenakalan anak-anak.

Hal lain yang tak terlupakan adalah menyalakan lilin-lilin kecil di beranda rumah dan memasangnya di sela-sela bunga bougenville yang rindang, membuat pohon itu berkelap-kelip oleh cahaya lilin, termasuk bermain kembang api sembunyi-sembunyi -karena jelas- papa melarang kami. Namun diam-diam kami pergi ke lapangan bola, memuaskan keinginan menyalakan kembang api dan bermain sepuasnya. :D

Setiap akhir pekan kami sekeluarga sering berolahraga, marathon 3km atau lebih. menyenangkan. Atau jika akhir tahun -ketika masih terbawa suasana agama lain- kami menghias dan melilitkan lampu kecil warna-warni di pohon kerdil atau bunga-bunga yang rindang di pelataran rumah, menyalakan dan tersenyum bahagia menikmati indahnya cahaya lampu berwarna yang mempesona untuk dilewatkan.
Segala hal dari masa kecil itu, 90 % membahagiakan.

Me as a cat lover
Aku dan kucing adalah sejarah panjang. Entah sejak kapan aku menyukai makhluk berbulu itu meski begitu aku bukan pecinta kucing-kucing mewah berbiaya mahal, seleraku tetap kucing kampung yang survive dengan makanan dan perawatan seadanya. Cintaku tak berat diongkos :)

Aku bergelut dengan berbagai jenis kucing, ada yang kurus, belang 2, belang 3 (biasanya betina), jelek, gendut, galak, manja...sepertinya banyak karakter kucing sudah ku kenali, tapi satu hal yang paling sulit dihindari adalah tatapan mata mereka, amat lucu. Masa itu, memelihara kucing adalah kontroversi di rumah kami karena sebagian tidak menyukai sedangkan sisi lain terlalu cinta. Dua kubu yang berbeda.. saat itu aku belajar apa artinya cinta berlebihan dan kebencian tak tertanggungkan dari makhluk bernama kucing. Sampai sekarang aku masih suka kucing, tapi tidak terlalu cinta dan anggota keluarga lain juga masih tidak terlalu suka kucing tapi tidak terlalu benci. Cinta dan benci yang sederhana.

Me as a book lover - am I nerd? who knows...
Aku sangat suka membaca dan semua itu bermula sejak kecil. Papa termasuk orang yang suka membaca dan terlihat dari berbagai koleksi buku-bukunya terutama buku-buku agama. Jika kebiasaan diwariskan, maka mungkin aku mewarisi seleranya.

Aku tidak punya bacaan tertentu yang menjadi favorit tapi genre tertentu ya, novel-novel fiksi seperti novel sastra lama tulisan Buya Hamka ataupun hikayat-hikayat dari buku tafsir dan agama adalah hal menarik bagiku, masa itu seringkali aku tidak ingat judul atau siapa penulisnya, sepanjang bacaan itu menarik, maka aku membacanya. Jika diingat masa kecil dulu aku suka menghabiskan waktu di kamar gelap (benar-benar minim cahaya) bersembunyi di ruang buku lalu menyibukkan diri dengan membaca, tak mau diganggu. segala yang menarik kulahap, membaca yang tidak tersistem.

Kesenangan itu berlanjut hingga saat ini aku gemar membeli berbagai buku, utamanya novel-novel islami dan psikologi, buku lokal ataupun saduran. meski tak menggandrungi penulis tertentu tapi pada kenyataannya aku mengoleksi tulisan mereka secara berkala. Hal itu terus berlanjut.. dari kesukaan membaca membuatku memahami berbagai ilmu termasuk tentang syari'at, meski secara otodidak dan pada akhirnya membangkitkan minatku pada nikmatnya menulis. Dulu sikapku terkesan cuek, pemalu, dan kaku -tidak tahu jika sekarang masih- sehingga sering dianggap sombong. Padahal jauh didalam hati, aku merasa hangat dan menyayangi teman-temanku, tulus. Aku sungkan untuk memulai pembicaraan, namun jika bertemu orang yang membuatku nyaman, aku bisa memulai obrolan. Mungkin karena aku tak banyak bicara itu -dan menurutku (lagi) tak penting bicara di tengah orang-orang yang pintar bicara- membuatku hanya mengakrabi satu dua orang teman dari sedikitnya teman-temanku :)


Me as Teenager
Kenyataan ini tidak membuatku berkecil hati atau menutup diri, pada masa-masa remaja saat SMP dan SMA kulalui dengan mengenal berbagai teman, aku tidak membatasi pertemanan dengan siapapun, dari golongan apapun karena aku tidak menyukai "kelas" sosial -dimana membedakan teman hanya berdasarkan latar belakang keluarga, penampilan atau kepintarannya- namun anehnya aku tidak bisa mengakrabi teman laki-laki -untuk itu ku syukuri-

Sejak sekolah menengah pertama, dari berbagai bacaan islam aku memahami bahwa aku harus membatasi pergaulan dengan lelaki, menjaga interaksi. Pada masa itu jatuh cinta adalah hal yang biasa namun menindaklanjuti rasa itu yang perlu perjuangan. Dimana aku menetapkan hati tidak boleh pacaran atau membalas rasa dengan cara yang sama. Lucunya, aku butuh 4 tahun untuk memberi pemahaman diri bahwa pacaran itu dosa dan sia-sia serta  berusaha menjaga rasa agar tak "berkeliaran" tak terjaga. Alhamdulillah usahaku berhasil, karena rahmat Allah dan kekuranganku yang bernama "kekakuan sikap" telah menolongku. :) hal itu juga barangkali yang membuat teman laki-laki tidak berani macam-macam. Meski begitu jilbab baru kuniatkan  di akhir SMP dan diawal SMA aku mulai memakainya, masih barang langka.

Masa SMA kulalui dengan aktivitas biasa, belajar, kegiatan ekstra sekolah dan beberapa kali mendaki gunung. Aku yang tak punya hobi apa-apa berusaha menantang diri, ku kira hidupku terlalu monoton dengan apa yang kulakukan saat itu. Aku mulai menyukai gunung, mendaki beberapa di antaranya. Pada awal ikut mendaki aku sempat menyerapahi diri sendiri dan berfikir "hobi gila macam apa yang kuikuti ini" aku sedikit menyesali diri saat itu. Sebab kepayahan dan kelelahan pendakian pertama.

Tapi.. pendakian itu bermakna dalam. Pendakian pertamaku di gunung Merapi, berlanjut ke Singgalang, ke gunung Kerinci. Semua kepayahan dan kelelahan tetap sama namun... semua itu berakhir nikmat yang sebanding pula: bumi Allah sungguh luar biasa.
sisi positifnya aku mampu memaksa diri melakukan sesuatu yang berat untuk ukuran dan kebiasaanku. Urusan mendaki ini bukan untuk menaklukan gunung tapi untuk melampui diriku sendiri dan melihat luar biasanya ciptaan Allah, gunung yang kokoh dan indah serta pemandangan alam di sekitarnya membuat semua kapayahan terbayar.
sisi negatifnya pun tak kurang pula: aku harus pergi dengan yg bukan mahram :(, ihktilat :(, beberapa sholat terlalaikan kalaupun dilakukan dengan kondisi  pakaian yang kotor, syaratnya jelas terabaikan. Jika diingat sekarang, itu sangat miris dan menyedihkan :( :( ampuni hamba Rabb.. Alhamdulillah kegiatan ini tak pernah ku ikuti lagi di masa kuliah.

Me in College
Masa SMA sudah berlalu tanpa perlu ada kisah merah jambu. Kuliah kulanjutkan di kota Yogyakarta, akhirnya aku menjadi bagian dari anak rantau, itu pikirku saat itu, tertantang dengan kondisi baru membuatku merasa tak berat meninggalkan rumah. Kupikir kadang-kadang aku seperti kurang rasa.. mengingat bagaimana teman sekampung ku menangis ketika melambaikan tangan perpisahan dengan bundanya, menangis menyembunyikan wajahnya di bahuku. sementara aku hanya menatap mamaku lama, tapi aku tidak ingin menangis, aku hanya menatapnya selama yang aku bisa. Aku sangat menyayanginya, tak perlu kata-kata.

Aku tak punya rencana jurusan apa yang ingin kumasuki, saat itu aku hanya menuruti nasihat mama - mengambil jurusan ekonomi supaya kelak bisa wiraswasta. Kuikuti ujian smptn, alhamdulillah aku tidak lulus.. bukan salah siapa-siapa, aku memang sangat kurang persiapan untuk ujian. Terakhir, kami -aku dan kakakku- mengumpulkan brosur-brosur dari berbagai universitas, memelototi berbagai persyaratan dan yang utama, melihat biayanya. Saat itu aku memilih universitas yang terjangkau biayanya, berfikir dan khawatir jika orang tua terbebani -kami bertiga kuliah di Jogja- dan Alhamdulillah aku masuk ke salah satu universitas dengan mudah.

Perkuliahan kuikuti tanpa banyak masalah, cerita membanggakan terjadi pada semester 1, IP ku 4 sempurna. Membuat beberapa dosen mengenali dan teman-teman membanggakan. Sejujurnya itu membanggakanku pula, meski aku tahu IP 4 bukan hal yang istimewa di awal semester. Bagaimana tidak..materinya masih bersifat umum, teman-teman kuliahku -terutama laki-laki- beberapa dari mereka jauh lebih mampu dan kurasa semua teman bisa mencapai target itu, dilihat dari kemampuan yang ada maka kami sama. Tapi yang membuat berbeda adalah semangat...ya, saat itu aku penuh dengan semangat mengemban "amanah" dari orangtua, sejujurnya dilubuk hatiku aku ingin membuat orangtua ku bangga, bahagia dan merasa bahwa anaknya bisa dipercaya. Aku ingin orangtua ku tahu bahwa "kebebasan" yang mereka amanahkan mampu ku jaga. Pembuktian itu adalah dengan belajar sungguh-sungguh. Karena menurutku wujud cinta itu adalah tindakan nyata, itu saja.

To be continue...

Minggu, 01 Desember 2013

Siapakah Temanmu?

Hati-hatilah bergaul dengan orang yang suka bersikap pesimis karena ketika engkau perlihatkan sekuntum bunga yang indah kepadanya maka yang dia lihat hanya duri-durinya, Ketika engkau bawakan segelas air kepadanya, maka yang dia perhatikan hanya kotoran di dalamnya. Demikian juga, ketika engkau memuji kebaikan atau manfaat matahari di hadapannya maka yang ia rasakan hanya panasnya.
Ingatlah, carilah  tiga tipe teman yang harus didekati dan miliki yaitu teman yang membawa kegembiraan, ketenangan dan semangat yang tinggi. Tiga musuh yang engkau harus jauhi, yaitu sifat pesimis, bimbang dan putus asa.
Untuk menjaga hatimu, berhati-hatilah ikut dalam perkumpulan yang bertujuan mengobarkan permusuhan karena di dalamnya ajaran-ajaran agama akan dengan mudah diabaikan dan digadaikan. Selain itu, bergabung di dalamnya akan menghilangkan wibawa, dan menjatuhkan kehormatan. ~Aidh Al Qarni~

Ibnu Mubarok rahimahullah mengatakan dalam syairnya:
jika engkau berteman, bertemanlah dengan orang yang mulia
yang menjaga kesucian, pemalu, dan pemurah
Ia katakan tidak tentang sesuatu jika engkau katakan tidak
jika kau mengatakan ya ia pun mengatakan ya

Dalam penggalan syairnya yang lain, beliau berkata:
Jika engkau berteman dengan kaum yang suka mencintai
jadilah peramah dan penyayang kepada mereka
jangan ambil aib setiap kaum
karena selamanya pasti engkau tidak akan lagi punya teman

Orang yang selalu saja ingin berbeda dengan dasar hawa nafsunya dan tanpa alasan yang benar, maka ia akan selalu dibenci oleh sesamanya.
Orang yang suka menyelisihi yang lain dengan alasan yang benar, maka ia berhak memegang kedudukan dan pendapatnya sendiri.
~Aidh Al-Qorni dalam bukunya Pesona Cinta~

catatanku:
Bertemanlah dengan berbagai tipe orang namun akrabi sebagian saja. Jika teman pergaulanmu melenceng jalan, ingatkan, tunjukkan kebenaran dengan kasih sayang, jika kamu tidak mampu, menjauhlah dari pengaruh buruk yang bisa merusakmu. 
Akrabi sahabat yang menjadi belahan jiwamu, bersedia mengingatkanmu bila tersalah, mendukungmu dalam kebenaran. Santun dalam berkata, dan amanah dalam menjaga rahasiamu, menutupi aib-aibmu sehingga aman ia dari kejahatan tangan dan lisanmu, sehingga tumbuhlah rasa cinta dan kasih sayang di antara kalian atas dasar mengharap ridhoNya. 
Bukankah tidak akan sempurna iman seseorang sebelum dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. artinya kamu menginginkan kebaikan bagi saudaramu sebagaimana kamu menginginkan kebaikan itu bagi dirimu.

Persahabatan yang mengalir dari ketulusan hati tak akan terputus hanya karena penderitaan. Seperti air sungai yang mengalir pada musim semi tak akan membeku pada musim dingin
~NN~


dimana engkau sahabat?
teman pelipur lara pembagi penat
semoga aku mendapati bagian cinta dari hatimu
sebagai penyemangatku
untuk bersua denganmu
bersenda gurau bahagia
tiada kedengkian, kebencian ataupun dusta
pun perselisihan tak mengurangi cinta
ketika kita bertetangga di SyurgaNya
Aamiin...