Langit masih biru dan awan masih berarak, terkadang putih namun di lain waktu menghitam kelam, seperti mendung yang kerap hadir di musim penghujan tahun ini.
Ketika kebosanan menulis melanda, teringat nasihat seorang teman yang berkata :
"seorang penulis itu tidak akan pernah kehabisan ide, karena jika ia memandang ke langit luas atau bumi yang membentang, maka banyak hal yang bisa diceritakan..tak kan pernah berkurang, bahkan saat kau melihat dirimu sendiri kau akan tahu..."
Benar..banyak hal yang bisa diungkapkan, selain menulis keadaan di sekelilingku, sekali waktu aku ingin berbagi cerita tentang kehidupanku dan untuk pertama kalinya aku menulis: tentang diriku.
Bismillahirrahmanirrahim...
Seorang teman pernah berkata: "kamu itu seperti celengan"
Sahabat yang lain mengatakan: "kamu itu diam bukan berarti pendiam, kamu lebih memilih menunggu dari pada menyapa terlebih dahulu, kamu lebih suka menyimpan duka mu sendiri, meski terkadang jalan itu berat dan menyakitkan bagimu..."
Alhamdulillah.. aku bersyukur untuk pemahaman mereka tentangku. Mungkin benar.
Me as al little girl
Banyak hal yang menyenangkan masa itu, aku suka bermain-main seperti anak-anak pada umumnya: suka bermain hujan -menikmati guyurannya dan berlarian sembari menciptakan cipratan air dari sepakan kaki- melihat bintang-bintang di langit malam yang cerah, memelihara kucing dan memetik bunga-bunga. Aku menyukai banyak hal, memanjat pohon atau berenang meski pada kenyataannya aku tidak benar-benar berenang alias menjadi parasit dipunggung abangku. :P
Bulan Ramadhan pun masa yang penuh kesan bagi ku, saat itu kami sering menghabiskan waktu memanjat pohon rambutan, bermain masak-masakan atau bolak-balik ke dapur mengeluh pada mama bahwa aku sudah kelaparan padahal puasa baru setengah hari berjalan. Mama hanya tertawa sembari menyuruhku bersabar, dan aku membalas dengan memeluk tubuhnya yang gemuk, mengendus apek bau pakaiannya yang menguarkan aroma masakan, nikmat. :P
Suasana malam di bulan Ramadhan juga hal yang menyenangkan, sholat tarawih rutin kulakukan di mushola terdekat kami, namun ibadah ini sering dibarengi dengan berbagai kenakalan membuat kami berulang kali ditegur oleh jama'ah ibu-ibu karena suara berisik yang mengganggu dari cekikikan kami untuk hal-hal yang dibuat lucu. Bagian dari kenakalan anak-anak.
Hal lain yang tak terlupakan adalah menyalakan lilin-lilin kecil di beranda rumah dan memasangnya di sela-sela bunga bougenville yang rindang, membuat pohon itu berkelap-kelip oleh cahaya lilin, termasuk bermain kembang api sembunyi-sembunyi -karena jelas- papa melarang kami. Namun diam-diam kami pergi ke lapangan bola, memuaskan keinginan menyalakan kembang api dan bermain sepuasnya. :D
Setiap akhir pekan kami sekeluarga sering berolahraga, marathon 3km atau lebih. menyenangkan. Atau jika akhir tahun -ketika masih terbawa suasana agama lain- kami menghias dan melilitkan lampu kecil warna-warni di pohon kerdil atau bunga-bunga yang rindang di pelataran rumah, menyalakan dan tersenyum bahagia menikmati indahnya cahaya lampu berwarna yang mempesona untuk dilewatkan.
Segala hal dari masa kecil itu, 90 % membahagiakan.
Me as a cat lover
Aku dan kucing adalah sejarah panjang. Entah sejak kapan aku menyukai makhluk berbulu itu meski begitu aku bukan pecinta kucing-kucing mewah berbiaya mahal, seleraku tetap kucing kampung yang survive dengan makanan dan perawatan seadanya. Cintaku tak berat diongkos :)
Aku bergelut dengan berbagai jenis kucing, ada yang kurus, belang 2, belang 3 (biasanya betina), jelek, gendut, galak, manja...sepertinya banyak karakter kucing sudah ku kenali, tapi satu hal yang paling sulit dihindari adalah tatapan mata mereka, amat lucu. Masa itu, memelihara kucing adalah kontroversi di rumah kami karena sebagian tidak menyukai sedangkan sisi lain terlalu cinta. Dua kubu yang berbeda.. saat itu aku belajar apa artinya cinta berlebihan dan kebencian tak tertanggungkan dari makhluk bernama kucing. Sampai sekarang aku masih suka kucing, tapi tidak terlalu cinta dan anggota keluarga lain juga masih tidak terlalu suka kucing tapi tidak terlalu benci. Cinta dan benci yang sederhana.
Me as a book lover - am I nerd? who knows...
Aku sangat suka membaca dan semua itu bermula sejak kecil. Papa termasuk orang yang suka membaca dan terlihat dari berbagai koleksi buku-bukunya terutama buku-buku agama. Jika kebiasaan diwariskan, maka mungkin aku mewarisi seleranya.
Aku tidak punya bacaan tertentu yang menjadi favorit tapi genre tertentu ya, novel-novel fiksi seperti novel sastra lama tulisan Buya Hamka ataupun hikayat-hikayat dari buku tafsir dan agama adalah hal menarik bagiku, masa itu seringkali aku tidak ingat judul atau siapa penulisnya, sepanjang bacaan itu menarik, maka aku membacanya. Jika diingat masa kecil dulu aku suka menghabiskan waktu di kamar gelap (benar-benar minim cahaya) bersembunyi di ruang buku lalu menyibukkan diri dengan membaca, tak mau diganggu. segala yang menarik kulahap, membaca yang tidak tersistem.
Kesenangan itu berlanjut hingga saat ini aku gemar membeli berbagai buku, utamanya novel-novel islami dan psikologi, buku lokal ataupun saduran. meski tak menggandrungi penulis tertentu tapi pada kenyataannya aku mengoleksi tulisan mereka secara berkala. Hal itu terus berlanjut.. dari kesukaan membaca membuatku memahami berbagai ilmu termasuk tentang syari'at, meski secara otodidak dan pada akhirnya membangkitkan minatku pada nikmatnya menulis. Dulu sikapku terkesan cuek, pemalu, dan kaku -tidak tahu jika sekarang masih- sehingga sering dianggap sombong. Padahal jauh didalam hati, aku merasa hangat dan menyayangi teman-temanku, tulus. Aku sungkan untuk memulai pembicaraan, namun jika bertemu orang yang membuatku nyaman, aku bisa memulai obrolan. Mungkin karena aku tak banyak bicara itu -dan menurutku (lagi) tak penting bicara di tengah orang-orang yang pintar bicara- membuatku hanya mengakrabi satu dua orang teman dari sedikitnya teman-temanku :)
Me as Teenager
Kenyataan ini tidak membuatku berkecil hati atau menutup diri, pada masa-masa remaja saat SMP dan SMA kulalui dengan mengenal berbagai teman, aku tidak membatasi pertemanan dengan siapapun, dari golongan apapun karena aku tidak menyukai "kelas" sosial -dimana membedakan teman hanya berdasarkan latar belakang keluarga, penampilan atau kepintarannya- namun anehnya aku tidak bisa mengakrabi teman laki-laki -untuk itu ku syukuri-
Sejak sekolah menengah pertama, dari berbagai bacaan islam aku memahami bahwa aku harus membatasi pergaulan dengan lelaki, menjaga interaksi. Pada masa itu jatuh cinta adalah hal yang biasa namun menindaklanjuti rasa itu yang perlu perjuangan. Dimana aku menetapkan hati tidak boleh pacaran atau membalas rasa dengan cara yang sama. Lucunya, aku butuh 4 tahun untuk memberi pemahaman diri bahwa pacaran itu dosa dan sia-sia serta berusaha menjaga rasa agar tak "berkeliaran" tak terjaga. Alhamdulillah usahaku berhasil, karena rahmat Allah dan kekuranganku yang bernama "kekakuan sikap" telah menolongku. :) hal itu juga barangkali yang membuat teman laki-laki tidak berani macam-macam. Meski begitu jilbab baru kuniatkan di akhir SMP dan diawal SMA aku mulai memakainya, masih barang langka.
Masa SMA kulalui dengan aktivitas biasa, belajar, kegiatan ekstra sekolah dan beberapa kali mendaki gunung. Aku yang tak punya hobi apa-apa berusaha menantang diri, ku kira hidupku terlalu monoton dengan apa yang kulakukan saat itu. Aku mulai menyukai gunung, mendaki beberapa di antaranya. Pada awal ikut mendaki aku sempat menyerapahi diri sendiri dan berfikir "hobi gila macam apa yang kuikuti ini" aku sedikit menyesali diri saat itu. Sebab kepayahan dan kelelahan pendakian pertama.
Tapi.. pendakian itu bermakna dalam. Pendakian pertamaku di gunung Merapi, berlanjut ke Singgalang, ke gunung Kerinci. Semua kepayahan dan kelelahan tetap sama namun... semua itu berakhir nikmat yang sebanding pula: bumi Allah sungguh luar biasa.
sisi positifnya aku mampu memaksa diri melakukan sesuatu yang berat untuk ukuran dan kebiasaanku. Urusan mendaki ini bukan untuk menaklukan gunung tapi untuk melampui diriku sendiri dan melihat luar biasanya ciptaan Allah, gunung yang kokoh dan indah serta pemandangan alam di sekitarnya membuat semua kapayahan terbayar.
sisi negatifnya pun tak kurang pula: aku harus pergi dengan yg bukan mahram :(, ihktilat :(, beberapa sholat terlalaikan kalaupun dilakukan dengan kondisi pakaian yang kotor, syaratnya jelas terabaikan. Jika diingat sekarang, itu sangat miris dan menyedihkan :( :( ampuni hamba Rabb.. Alhamdulillah kegiatan ini tak pernah ku ikuti lagi di masa kuliah.
Me in College
Masa SMA sudah berlalu tanpa perlu ada kisah merah jambu. Kuliah kulanjutkan di kota Yogyakarta, akhirnya aku menjadi bagian dari anak rantau, itu pikirku saat itu, tertantang dengan kondisi baru membuatku merasa tak berat meninggalkan rumah. Kupikir kadang-kadang aku seperti kurang rasa.. mengingat bagaimana teman sekampung ku menangis ketika melambaikan tangan perpisahan dengan bundanya, menangis menyembunyikan wajahnya di bahuku. sementara aku hanya menatap mamaku lama, tapi aku tidak ingin menangis, aku hanya menatapnya selama yang aku bisa. Aku sangat menyayanginya, tak perlu kata-kata.
Aku tak punya rencana jurusan apa yang ingin kumasuki, saat itu aku hanya menuruti nasihat mama - mengambil jurusan ekonomi supaya kelak bisa wiraswasta. Kuikuti ujian smptn, alhamdulillah aku tidak lulus.. bukan salah siapa-siapa, aku memang sangat kurang persiapan untuk ujian. Terakhir, kami -aku dan kakakku- mengumpulkan brosur-brosur dari berbagai universitas, memelototi berbagai persyaratan dan yang utama, melihat biayanya. Saat itu aku memilih universitas yang terjangkau biayanya, berfikir dan khawatir jika orang tua terbebani -kami bertiga kuliah di Jogja- dan Alhamdulillah aku masuk ke salah satu universitas dengan mudah.
Perkuliahan kuikuti tanpa banyak masalah, cerita membanggakan terjadi pada semester 1, IP ku 4 sempurna. Membuat beberapa dosen mengenali dan teman-teman membanggakan. Sejujurnya itu membanggakanku pula, meski aku tahu IP 4 bukan hal yang istimewa di awal semester. Bagaimana tidak..materinya masih bersifat umum, teman-teman kuliahku -terutama laki-laki- beberapa dari mereka jauh lebih mampu dan kurasa semua teman bisa mencapai target itu, dilihat dari kemampuan yang ada maka kami sama. Tapi yang membuat berbeda adalah semangat...ya, saat itu aku penuh dengan semangat mengemban "amanah" dari orangtua, sejujurnya dilubuk hatiku aku ingin membuat orangtua ku bangga, bahagia dan merasa bahwa anaknya bisa dipercaya. Aku ingin orangtua ku tahu bahwa "kebebasan" yang mereka amanahkan mampu ku jaga. Pembuktian itu adalah dengan belajar sungguh-sungguh. Karena menurutku wujud cinta itu adalah tindakan nyata, itu saja.
To be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar