Minggu, 29 Desember 2013

Writing, I'm in Love

Bismilahirrahmanirrahim...

Saya suka menulis, entah sejak kapan saya lupa. Awal mulanya hanya pelampiasan perasaan untuk mengungkapkan hal-hal yang sulit untuk dikatakan karena dulu saya termasuk orang yang sulit mengkomunikasikan keinginan aka pendiam :P. 

Semakin lama saya bisa merasakan nikmatnya menulis, sebagai pelepas kebosanan dan terkadang saat jenuh melanda saya membaca kembali tulisan lama sehingga bisa menciptakan suasana berbeda. Membaca kembali apa yang sudah ditulis mengingatkan diri akan "rasa" saat menuliskannya, saat bahagia, sedih, atau bersemangat. Hal itu seperti membuka lembaran kenangan rasa. :)

Saya tidak punya gaya penulisan tertentu, tergantung mood saja, dan lagi saya tidak pernah belajar sistematika penulisan yang baik, saya otodidaker :P. Saya juga belum menemukan style baku sebagai trend made saya sendiri :). Tapi yang saya pahami dari diri adalah bahwa saya termasuk tipe bunglon, artinya saya mampu mengcopas gaya penulisan seseorang jika menurut saya menarik dan mampu memunculkan mood/ide. Saya tidak punya/belum menemukan kelebihan istimewa dalam diri saya kecuali yang sudah saya ketahui: I'm a copas style. :)

Terkadang ide tulisan bisa muncul begitu saja, tanpa diduga bisa tercetus ide-ide untuk menulis saat bekerja, menyapu, mencuci, bahkan di kamar mandi :P. Sungguh menakjubkannya otak manusia, tak pernah berhenti untuk berfikir. Jadi menulis bagi saya adalah bahasa hati, tidak bisa dipaksakan meski sudah direncanakan. Seperti rencana saya di bulan Desember ini bahwa saya akan memecahkan rekor saya sendiri dengan mencipta 1 tulisan setiap hari. kenyataannya saya hanya berhasil sebanyak ini dan it's a long journey from the master plan :P. Seperti yang sudah saya bilang, mood tak bisa dipaksakan. 


Menulis bagi saya adalah hobi. Hingga kini belum terpikir untuk menjadikan hobi ini sebagai karir, di samping faktor minusnya derajat kepe-dean saya, minus kualitas tulisan dan pengalaman, saya juga tidak mau menjadikan hobi saya ini menjadi tekanan karena harus mengejar deadline. (halah gayanya..) :D

Seriously, faktor utama dan terpenting kenapa menulis masih menjadi hobi adalah: pertanggungjawaban saya atas apa yang saya tulis. Bukan dihadapan manusia saja; karena pro dan kontra itu adalah keadaan yang tak terbantahkan adanya. Tapi pertanggungjawaban tertinggi itu pada Allah subhana wa ta'ala, karena  saya sadar betul masih sedikit sekali tulisan saya yang bisa memberi manfaat, saya khawatir tulisan saya lebih menonjolkan mudharat dibandingkan manfaat, ditambah lagi, bagi saya tulisan adalah lisan kedua. Berapa banyak tulisan yang mampu menyeret opini dan pemikiran orang pada apa yang diinginkan oleh si penulis/golongan tertentu -bagus jika memahami tulisan yang bermanfaat dan memiliki tanggung jawab moral- namun akan jadi bencana jika tulisan itu bertolak belakang dari kebenaran.

Itulah hebatnya Islam, menisbahkan segala perbuatan pada "senang-tidak"nya Allah
subhana wa ta'ala atas setiap tindakan kita, karena tanpa itu kita akan kehilangan arah dan tersesat pada pemikiran manusia yang terus berkembang, tentu akan membunuh "kepribadian" kita jika tanpa filter.

Back to me,  I like writing so I'll keep move on, saya tidak ingin pesimis dan akan terus menulis, paling tidak jika saya sudah tiada akan ada kenangan yang bisa saya tinggalkan bagi keluarga dan teman-teman. Saya memiliki harapan semoga kelak ada yang terinspirasi dengan apa yang saya tulis, bukan apa-apa, saya berharap tulisan saya mampu menjadi amal jariyah kelak meski hanya dengan satu kalimat yang dinilai baik dan manfaat.
InsyaAllah..

Jumat, 27 Desember 2013

Berbalaskah rasa?

Terkadang, kebaikan mampu melambungkan angan-angan
pada hati yang tengah di puncak harapan.
maka, sampaikanlah dengan terang perihal: "penolakan" atau "penerimaan"
sehingga tak ada hati yang terhempas oleh kenyataan
bahwa mimpinya tak bertuan.

Jangan jadikan harapan seseorang sebagai ladangmu
menabur mimpi-mimpi semu
lalu membuatnya menuai rindu

sehingga larut dalam rasa yang tak tentu.

Jika kau katakan "itu hatinya, salahnya berharap banyak"
sudahkah hatimu seputih salju?
atau sebening telaga rindu?
sehingga mampu menghapus dahaga cinta

jika benar salahnya karena memperpanjang rasa
bukankah salahmu juga menabur asa

Dan engkau wahai pemilik hati
janganlah banyak bermimpi
menyiksa hati merusak diri
biarkan waktu menjadi saksi

pada siapa hati berhak bertemu janji

Jangan pula salahkan cinta
karena ia tak pernah salah
salahkan hati yang tak pada waktunya mengangankan
sementara tak ada semangat untuk memperjuangkan

salahkan tindakan yang tak pada tempatnya berbuat
berani bersikap tapi tak bertanggung jawab

sedangkan kita tahu bahwa "panjang angan-angan adalah tipuan syetan"

Lambungkan saja harapmu padaNya
Allah subhana wata'ala
Sang penjawab segala pinta

Senin, 23 Desember 2013

Diamku Bukan Berarti Cinta

Mereka katakan,
"Cintailah dia dalam diam"
Pada orang yang kau simpatik akan keilmuannya, dan segalanya.
Lalu mereka biarkan dirimu bersyair dengan khayalan,
mengajakmu berfantasi dalam tawa kosong dan tangisan.

Hey, kawan!
Itukah dirimu?
Yang berkamuflase dengan cinta khayalan?
Saat kau yakin pacaran itu haram sebelum menikah,
lalu kau putuskan mencintainya dalam diam.

Aduhai, apa bedanya?!
Kau sama-sama meracuni hatimu dengan cinta yang tak halal.
Apakah kau juga yakin dialah orang yang akan Allah takdirkan untukmu?

Jadilah mereka yang memilih acuh meski mampu mencintai seseorang dalam diam.

Mereka katakan, "Bukankah belum tentu dia yang menjadi pasanganku?

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:

"Cinta adalah yang menggerakkan orang yang mencintai untuk mencari yang dicintainya."

(Ighatsatul Lahfan Min Mashayidisy Syaitan, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, edisi Indonesia: Menyelamatkan Hati Dari Tipu Daya Setan, penerbit Al-Qowam, Solo)

Beliau rahimahullah juga berkata:

"Tidak ada yang boleh diinginkan dan dicintai karena dzatnya kecuali Allah."

(Fawaidul Fawaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Imam Asy-Syafi'i Jakarta)

#copas

Jumat, 20 Desember 2013

Strong Heart (maybe?)

I see the sunrise. Know it's time for me to pack up all the past and find what truly lasts.

If everything has been written down, so why worry?
If life is ever changing, so why worry?

For all I know, I've come this far not knowing why.
So, would it be nice to sit back in silence?

I'm thankful for this moment cause I know that you GROW A DAY OLDER and see how this sentimental heart can be.

I'm thankful for this moment cause I know that I grow a day older to understand what has happening.

If everything has been written down, so why worry?

Blessing, healthy, happiness for you and prosperity with you always.


#copas

Kamis, 19 Desember 2013

Keajaiban Waktu

Waktu memberi banyak pelajaran
tentang bahagia yang terlewati
kesedihan yang telah berlalu
atau cinta dikuncup rindu

Lingkaran waktu mempertemukan banyak kemungkinan
banyak kisah yang terbagi
banyak hati yang asing saling mengenali
sebagian bertemu dalam pemahaman
sebagian lain sekedar singgah lewat perkenalan

Waktu tak meleburkan semua hal
ada kumpulan kenangan yang mencipta rindu
dari bayangan masa lalu
ada penderitaan menjadi pembelajaran
atau harapan yang mengembunkan angan-angan

Masa mempertemukan setiap jiwa dalam kuasa takdirNya
melalui pilihan dari setiap detik yang ditawarkan
menjadi kesempatan atau kehilangan
bergiliran
hingga waktu memutus segala harapan
menghadapNya 
segalanya berpulang

Bidadari Tanpa Sayap

Dia mungkin sederhana
berpenampilan biasa
berbicara dengan gaya biasa
dengan aktivitas yang biasa

Dia mungkin tak mengenal banyak hal
ketakpahaman dihadapi dengan ketenangan
kesulitan dihadapi dengan kesabaran
airmata tersimpan dibalik senyuman

Dia mungkin tersembunyi
seperti mutiara di dasar lautan
tak kenal kilau pesona ketenaran
tak mampu lambungkan diri seperti bintang-bintang
hanya berlindung dibalik genggam sang Tiram

Butuh kesabaran menggapainya
butuh perjuangan mengindahkannya
butuh keindahan hati untuk menilainya

Sang bidadari tanpa sayap
tak terbang kemana pun
hanya menggenggam cahaya iman di hati
sembari memperindah akhlak diri
meski dunia tak mengenali

Kamis, 12 Desember 2013

Moment to remember


Do you know? The speed at which cherry blossoms fall… 5 centimeters per second. At what speed must I live... to be able to see you again?  
~Tono Tamaki~

Collecting the quote

I'm an ordinary person. I'm not being negative. I'm just being realistic 

raining outside...i'm crying inside 

Time Heals Every Wound (waktu akan menyembuhkan setiap luka) 

Knowing is Nothing, Doing is Everything

"Friends are like Balloons
If you let them go,
you can't get them back
So..I'm gonna TIE you to my HEART
so I will never LOSE you"


"cintai dia dalam diam, dalam kesederhanaan dan keikhlasan"

Kesedihan dan kerinduan hanya terasa selama yang kamu inginkan dan menyayat sedalam yang kamu ijinkan. Yang berat bukan bagaimana caranya menanggulangi kesedihan dan kerinduan itu, tapi bagaimana belajar darinya. 

Kita suka sesuatu yang berbeda, bukan karena manusia g punya pendirian, tapi butuh variasi dalam hidup, sekali waktu tertawa, di lain hari menangis. Hari ini memuji, esok bisa mengeluh. Pagi ini marah dan kesal, sore bisa tertawa. Kalau segala peristiwa di tulis dan menjadi cerita, akan jadi sebuah novel yang indah, penuh rasa, penuh warna dalam nuansa yang berbeda...

romantisme cinta bukan hanya tentang bunga, harta atau ketampanan rupa.
lebih utamakan pada keindahan agama dan akhlaknya
sehingga cinta tetap bersemi di setiap musim.
cinta selalu dibutuhkan seperti udara, meski sesak dada menerimanya
cinta tidak pernah salah.

tapi cara kita mencintai dan memaknainya
yang bisa membuat cinta bisa bernilai surga
insyaallah 


Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yang diberikannya kepada kita.
Namun kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga), khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita mesti berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.
 


sungguh mengherankan...ketika yg tidak tahu mengatakan "ya" untuk apa yg dilakukannya.
sungguh mengherankan...ketika sudah tahu, tetap mengatakan "tidak apa-apa" bagi siapapun membenarkan kesalahannya.
paling mengherankan...ketika paham kebenaran tapi tetap berkutat dengan kesalahan.
sesungguhnya kita adalah makhluk yg paling menakjubkan
penuh keberanian bahkan mengemban amanah kekhalifahan
meski gunung pun menolak karena beratnya amanah
tak ada yang lebih mengherankan dari manusia
saat dia beriman dengan segala ketaatannya
derajatnya bisa lebih mulia dari malaikat yg tak berbuat dosa.
saat dia durhaka
derajatnya bisa lebih hina dari hewan yang tak punya akal.


Setiap kita memiliki tingkatan berbeda dalam memahami ilmu, semakin kita mencari tahu ternyata semakin banyak yg belum kita tahu. bisa jadi sesuatu yg kita anggap benar, ternyata salah, hanya karena ilmu kita saat ini belum sampai pada kebenaran yg hakiki. Mencari ilmu, menelaah dari sumber yg sahih dan bertanya kepada ahlinya, membuat mata hati kita terbuka. Tentu atas izinNya dengan niat llahita'ala, Aamiin

Cintai Allah sepenuhnya, cintai dunia seperlunya.
Ambil yang perlu nikmati yang boleh.
Jangan caramu menyukai dunia membuat cacat Akhiratmu.

Ya Allah, hamba ingin mencintaiMu semampuku, agar lembut hatiku lebur dosaku.

Mengingat....
Ketika mengingat seseorang dengan ketidaksenangan, maka yang teringat adalah kekurangan-kekurangannya, kelemahan-kelemahannya dan segala sesuatu yang menambah kebencian kita padanya.
Ketika mengingat seseorang dengan rasa sayang, mudah untuk mengingatkan kita akan kelebihannya, kebaikannya dan segala sesuatu yang menambah
sayang kita padanya. Memahami banyak orang perlu teknik, menyampaikan sesuatu perlu strategi, yg terpenting semua g melanggar hukum agama, dengan dasar hukum, niat, cara dan untuk tujuan yang baik harusnya bisa menciptakan keadilan, karena memasukan nilai subjektifitas dalam banyak keputusan malah akan lebih membingungkan. Menyadari hal itu harus disertai keikhlasan diri.
ingatan apa yang ingin kamu simpan menjadi taman hati? 


Km diam tp bukan pendiam, lebih sabar or tenang, gak gampang karena km bukan orang yg supel namun bukan org sombong,yg berarti km menunggu disapa ketimbang menyapa terlebih dahulu...km tertutup,dan gak gampang berbagi ceritamu keorang lain....dan km lebih memilih menyimpan semua dukamu sendiri meski jalanmu itu kadang menyiksamu...

Selasa, 10 Desember 2013

CINTA LAKI-LAKI BIASA (True Story) ~ By. Asma Nadia

I find it again...the old story but still... it's left something warm in my heart. Ketulusan... 

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. 
Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.
Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. 
Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata! 
Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka. 
Kamu pasti bercanda!
Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda. 
Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!
Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya. 
Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik! 
Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan. 
Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh? 
Nania terkesima.
Kenapa?
Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.
Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! 
Sebab masa depanmu cerah. 
Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. 
Bakatmu yang lain pun luar biasa. 
Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau! 
Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan. 
Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.
Tapi kenapa? 
Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.
Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.
Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania! 
Cukup! 
Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini? 
Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.
Mereka akhirnya menikah. 
*** 
Setahun pernikahan.
Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka. 
Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. 
Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.
Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.
Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya. 
Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses! 
Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli. 
Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen. 
Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?
Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.
Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu. 
Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma. 
Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! 
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu. 
Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak. 
Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang. 
Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..
Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah. 
Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!
Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting. 
Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak! 
Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.
Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!
Tak imbang!
Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari. 
Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis. 
*** 
Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.
Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan! 
Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. 
Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang. 
Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. 
Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.
Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.
Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. 
Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.
Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. 
Dokter?
Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.
Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? 
Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal. 
Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri. 
Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.
Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
Pendarahan hebat!
Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.
Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.
Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.
Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania. 
*** 
Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang. 
Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli. 
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. 
Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.. 
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik. 
Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, 
Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.
Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan. 
Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama. 
Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. 
Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. 
Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. 
Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta. 
Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? 
Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. 
Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun. 
Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. 

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.
Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!
Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.
Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam! 
Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.
Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa? 
Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi? 
Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. 
Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. 
 
Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania. 
Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

Hope on The Clouds


Teguh itu ku ingin hatiku
menjulang menggapai awan-awan pengharapan
beratnya mendaki mimpi
namun tiada yang mustahil
dingin, lelah, payah
tapi ada nikmat yang terpetik setelahnya
memandang keindahan kecil dari "surga" dunia
terhampar luas bak samudera.


Kokoh itu ku harap imanku
menjejak puncak menggapai cintaNya

menjejak bumi merendahkan diri
berharap rahmatNya meliputi hati

Ya Allah... indahnya tak terkata

maka biarkan hati mengecap nikmatMu
meski pengharapan itu masih terus mendaki
menggapai cita cinta.


Ya Rabb... limpahi hati dengan keikhlasan
jika tak di dunia...
izinkan nanti sebuah pertemuan di surga
nikmatnya bertemu cinta
dan lezatnya memandang wajahMu
penuh rindu.

Senin, 09 Desember 2013

Nasehat Rasulullah SAW kepada Putrinya

Bismillahirrahmanirrahim...

Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra, sesungguhnya dia berkata: 
Pada suatu hari Rasulullah saw datang kepada puterinya, Fathimatuz Zahra’. Beliau dapati Fathimah sedang menumbuk gandum di atas lumping  (batu/kayu penggiling), sambil menangis. 

Kemudian Rasul berkata kepadanya:
“Apakah yang membuatmu menangis wahai Fathimah?  
Allah tiada membuat matamu menangis.

Fathimah kemudian  menjawab: 
” Wahai ayahanda, aku menangis karena batu penggiling ini dan  kesibukanku dalam rumah”.

Kemudian Nabi duduk di sampingnya. 
Dan Fathimah berkata lagi:
“Wahai ayahanda, atas keutamaan engkau, mintalah kepada Ali agar dia membelikan bujang untukku supaya dapat membantuku menumbuk gandum dan  menyelesaikan urusan rumah.

Kemudian Nabi berkata kepada puterinya:
“Kalau Allah menghendaki wahai Fathimah, tentu lumpang itu akan menggilingkan gandum  untukmu. Akan tetapi Allah menghendaki agar ditulis beberapa kebaikan untukmu, menghapuskan keburukan-keburukan  serta hendak mengangkat  derajatmu.

Wahai Fathimah, barangsiapa orang perempuan yang menumbukkan  (gandum) untuk suami dan anak-anaknya, pasti Allah akan menuliskan  untuknya setiap satu biji, satu kebaikan serta menghapuskan darinya  setiap satu biji satu keburukan. 
Dan bahkan Allah akan   mengangkat  derajatnya.

Wahai Fathimah, barang siapa orang perempuan berkeringat manakala menumbuk (gandum)  untuk suamiya. Tentu Allah akan menjadikan  antara dia dan neraka tujuh khonadiq  (lubang yang panjang).

Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan mau meminyaki kemudian menyisir  anak-anaknya serta memandikan mereka, maka Allah akan  menuliskan pahala untuknya dari   memberi makan seribu orang lapar dan  memberi pakaian seribu orang yang telanjang.

Wahai Fathimah, bilamana seorang perempuan menghalangi (tidak mau membantu) hajat tetangganya, maka Allah akan menghalanginya minum  dari telaga “Kautsar” kelak di hari  Kiamat.

Wahai Fathimah, lebih utama dari itu adalah kerelaan suami terhadap istrinya. Kalau saja suamimu tidak rela terhadap engkau, maka  aku tidak mau berdo’a untukmu. Apakah engkau belum mengerti wahai  Fathimah, sesungguhnya kerelaan suami adalah perlambang kerelaan Allah  sedang kemarahannya pertanda kemurkaan-Nya.

Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan mengandung janin dalam perutnya, maka sesungguhnya malaikat-malaikat telah memohonkan  ampun untuknya, dan Allah menuliskan  untuknya setiap hari seribu  kebaikan serta menghapuskan darinya seribu keburukan.  

Manakala dia menyambutnya dengan senyum, maka Allah akan  menuliskan untuknya pahala  para pejuang. Dan ketika dia telah  melahirkan kandungannya, maka berarti dia ke luar dari dosanya bagaikan  di hari dia lahir dari perut ibunya.

Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan berbakti kepada suaminya dengan niat yang  tulus murni, maka dia telah keluar dari dosa-dosanya bagaikan di hari ketika dia lahir dari perut ibunya, tidak  akan keluar dari dunia dengan membawa dosa, serta dia dapati kuburnya sebagai taman diantara taman-taman surga.Bahkan dia hendak diberi pahala seribu orang haji dan seribu orang umrah dan seribu malaikat memohonkan ampun untuknya sampai hari kiamat. 
Dan barangsiapa orang perempuan  berbakti kepada suaminya sehari semalam dengan hati lega dan penuh ikhlas serta niat lurus, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan kepadanya pakaian hijau (dari surga) kelak di hari Kiamat, serta menuliskan untuknya setiap sehelai rambut pada badannya seribu  kebaikan, dan Allah akan memberinya (pahala) seratus haji dan umrah.

Wahai Fathimah, manakala seorang perempuan bermuka manis di depan suaminya, tentu Allah akan memandanginya dengan pandangan’rahmat’.

Wahai Fathimah, bilamana seorang perempuan menyelimuti suaminya dengan hati yang lega,  maka ada Pemanggil dari langit memanggilnya ”mohonlah agar diterima amalmu. Sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu maupun yang  belum lewat”.  

Wahai Fathimah, setiap perempuan yang mau meminyaki rambut dan jenggot suaminya,  mencukur kumis dan memotongi kukunya, maka Allah akan  meminuminya dari ‘rahiqil  makhtum dan sungai surga, memudahkannya ketika mengalami sakaratil maut, juga dia hendak mendapati kuburnya bagaikan taman dari pertamanan surga, serta Allah menulisnya bebas dari neraka serta lulus melewati shirat”.

By. Aisyah M Yusuf

Puisi Putih ~ By: Asma Nadia

 
Maybe, in another time…
You might hear me
Above the din of crowd’s approval
The tiny little song beneath the roar

Perhaps, in some other place…
You may see me
Out there beyond the glaring footlights
Shining bright and true

Here I am.. just me… myself…
Nothing to hide, no games to play
Perhaps if I knew the rules…
The dance…the script…

Someday in a warmer space…
You will feel me
As others clamor to touch your robe
I’ll be in the wings…

Waiting.

Minggu, 08 Desember 2013

Sedih yang Indah

Kesedihan..
Bukan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah..
Tidak juga diperintahkan oleh RasulNya..
Karena kesedihan tidak akan memberi solusi kehidupan..
Namun hati bersedih ketika musibah menyapa..
Sebagaimana dahulu Nabi shallallahu'alaihi wasallam berlinang air matanya..
Ketika memangku anaknya yang bernama Ibrahim yang sedang menuju kematian..
Ia adalah air mata kasih sayang..

Air mata perpisahan.. Namun lisan tetap berucap kebaikan..
Nun di sana..
Ada kesedihan yang lebih indah..
Kesedihan yang memberikan keimanan.. Ketawadlu'an..
Dan ketaqwaan hati..
Ia adalah Sedih akan dosa dan kesalahan..
Sedih ketika terluput dari ketaatan..
Demi Allah..!!
Hanya seorang mukmin yang merasakan kesedihan ini..
Sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi yang mulia..
Sabdanya, "Siapa yang merasa gembira dengan amal kebaikannya dan merasa bersedih dari amal keburukannya maka ia seorang mukmin."
Itulah sedih yang indah..
Sedih yang membawa kepada kenikmatan yang abadi..
Dan keamanan di negeri akhirat..
Ya Rabb..
Berikan kami rahmat-Mu..


(Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc)

Jumat, 06 Desember 2013

Cinta, Takut dan Harap Kepada Alloh

Bismillah... waktunya "awakening" kembali pada hakikat penciptaan diri = ibadah

Penulis: Abu Uzair Boris Tanesia
Artikel www.muslim.or.id


Ibadah bukanlah sekedar gerakan jasad yang terlihat oleh mata, namun juga harus menyertakan yang lain. Sebagaimana seseorang yang sedang melaksanakan sholat, ia tidak hanya bergerak untuk melaksanakan setiap rukun dan wajib sholat, tetapi juga harus menghadirkan hati sebagai ruh sholat tersebut. Bahkan jika seseorang menampakkan kekhusyukan badan dan hatinya kosong dan bermain-main maka ia terjatuh dalam kekhusyukan kemunafikan.

Ketahuilah, bahwa ibadah seorang hamba harus dibangun oleh tiga pilar, dan ketiganya harus terkumpul seluruhnya dalam setiap muslim. Ibadah seseorang tidaklah akan benar dan sempurna kecuali dengan adanya pilar-pilar tersebut. Bahkan sebagian ulama mengatakannya sebagai ‘rukun ibadah’. Tiga hal itu adalah “cinta, takut dan harap”. Sehingga seorang salaf berkata, “Barang siapa beribadah kepada Alloh dengan cinta saja maka dia seorang zindiq, barang siapa beribadah hanya dengan khouf (takut) saja maka haruri (khowarij), barang siapa beribadah hanya dengan rasa harap saja maka dia seorang murji’ dan barang siapa yang beribadah dengan cinta, takut dan harap maka dia seorang mukmin.”

Cinta

Cinta adalah rukun ibadah yang terpenting, karena cinta adalah pokok ibadah. Makna cinta tidak terbatas hanya kepada hubungan kasih antara dua insan semata, namun sesungguhnya makna dari cinta itu lebih luas dan dalam. Kecintaan yang paling agung dan mulia di dalam kehidupan kita ini adalah kecintaan kita kepada Alloh. Dimana jika seorang hamba mencintai Alloh, maka dia akan rela untuk melakukan seluruh hal yang diperintahkan dan menjauhi seluruh hal yang dilarang oleh yang dicintainya tersebut. Cinta kepada Alloh juga mengharuskan membenci segala sesuatu yang dibenci oleh Alloh. Sesungguhnya apabila ditanyakan kepada setiap muslim “Apakah anda mencintai Alloh?” maka tentu dia akan menjawab “Tentu saja”.

Namun pernyataan tanpa bukti tidaklah bermanfaat. Alloh tidak membutuhkan pernyataan belaka, Dia menginginkan agar kita membuktikan pernyataan kita “Aku cinta Alloh”. Oleh karena itulah, Alloh menguji setiap muslim dalam firman-Nya, “Katakanlah (wahai muhammad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31). Ya, bukti kecintaan kita kepada Alloh adalah dengan mengikuti Rasululloh dalam segala hal. Bahkan kecintaan kita terhadap beliau harus lebih dari kecintaan kita terhadap diri sendiri dan keluarga. Beliaulah teladan baik dalam aqidah, ibadah, akhlak, muamalah dan sebagainya. Alloh berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab: 21)

Maka jika kita mencintai Alloh, mari kita buktikan dengan menjadikan Rasululloh sebagai panutan kita, bukan dengan menjadikan orang-orang kafir sebagai panutan, walaupun mereka itu populer dan terkenal seperti artis, selebritis dan semacamnya. Karena sesungguhnya Rosululloh bersabda “Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya (di hari akhirat nanti).” (HR. Muslim). Dimana makna dari hadits ini adalah jika ketika di dunia kita mencintai orang-orang shaleh (seperti para rosul dan nabi) dan menjadikan mereka teladan, maka di akhirat nanti kita akan bersama mereka, dan sebaliknya jika ketika di dunia kita mencintai orang-orang kafir dan menjadikan mereka teladan, maka di akhirat nanti kita pun akan bersama mereka. Bukankah tempat mereka di akherat merupakan seburuk-buruk tempat. Duhai, betapa musibah yang sangat besar!

Takut

Pilar lainnya yang mesti ada dalam ibadah seorang muslim adalah rasa takut. Dimana dengan adanya rasa takut, seorang hamba akan termotivasi untuk rajin mencari ilmu dan beribadah kepada Alloh semata agar bebas dari murka dan adzab-Nya. Selain itu, rasa takut inilah yang juga dapat mencegah keinginan seseorang untuk berbuat maksiat. Alloh berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.” (Al Anbiya: 49)
Rasa takut ada bermacam-macam, namun yang takutnya seorang muslim ialah takut akan pedihnya sakaratul maut, rasa takut akan adzab kubur, rasa takut terhadap siksa neraka, rasa takut akan mati dalam keadaan yang buruk (mati dalam keadaan sedang bermaksiat kepada Alloh), rasa takut akan hilangnya iman dan lain sebagainya. Rasa takut semacam inilah yang harus ada dalam hati seorang hamba.

Harap

Pilar berikutnya yang harus ada dalam ibadah seorang hamba adalah rasa harap. Rasa harap yang dimaksud adalah antara lain harapan akan diterimanya amal kita, harapan akan dimasukkan surga, harapan untuk berjumpa dengan Alloh, harapan akan diampuni dosa, harapan untuk dijauhkan dari neraka, harapan diberikan kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat dan lain sebagainya. Rasa harap inilah yang dapat mendorong seseorang untuk tetap terus berusaha untuk taat, meskipun sesekali dia terjatuh ke dalam kemaksiatan namun dia tidak putus asa untuk terus berusaha sekuat tenaga untuk menjadi hamba yang taat. Karena dia berharap Alloh akan mengampuni dosanya yaitu dengan jalan bertaubat dari kesalahannya tersebut dan memperbanyak melakukan amal kebaikan. Sebagaimana firman Alloh “Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az Zumar: 53)

Harapan berbeda dengan angan-angan. Sebagai contoh orang yang berharap menjadi orang baik maka ia akan melakukan hal-hal yang merupakan ciri-ciri orang baik, sedangkan orang yang berkeinginan menjadi orang baik namun tidak berusaha untuk melakukan kebaikan maka orang-orang inilah yang tertipu oleh angan-angan dirinya sendiri.

Urgensi Cinta, Takut dan Harap Dalam Ibadah

Ketiga pilar yang telah disebutkan di atas harus terdapat dalam setiap ibadah seorang hamba. Tidaklah benar ibadah seseorang jika satu saja dari ketiga hal tersebut hilang. Seseorang yang memiliki rasa takut yang berlebihan akan menyebabkan dirinya putus asa, sedangkan jika rasa takutnya rendah maka dengan mudahnya dia akan bermaksiat kepada Tuhannya.

Kebalikannya seseorang yang berlebihan rasa harapnya akan menyebabkan dia mudah bermaksiat dan jika rendah rasa harapnya maka dia akan mudah putus asa. Sedangkan kedudukan cinta, maka cinta inilah yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Sehingga diibaratkan bahwa kedudukan ketiga pilar ini dalam ibadah bagaikan kedudukan seekor burung, dimana rasa takut dan harap sebagai kedua sayapnya yang harus seimbang dan rasa cinta sebagai kepalanya yang merupakan pokok kehidupannya.
***

Kamis, 05 Desember 2013

All about ME - part 2 (kisah masa lalu)

Melanjutkan kisah yang tertunda. Sebenarnya hati agak enggan menulis, akhir-akhir ini perasaanku benar-benar kebas, bosan tengah menyergap. Namun membiarkan kondisi seperti ini berlarut tidak akan merubah keadaan. "Finish what you started" ya... selesaikan apa yang sudah kamu mulai.
Membiarkan jari jemari merangkai kata, semoga ada cerita yang tercipta... 


Mahasiswa itu..
Menjadi mahasiswa adalah proses mandiri dan belajar menyesuaikan diri dalam berbagai hal. Bertanggung jawab pada apa yang diperbuat dan melaksanakan apa yang direncanakan, mengatur keuangan sebaik mungkin dan merencanakan kelulusan agar tepat pada waktunya.

Aku bukan orang yang suka menghabiskan waktu berjalan-jalan untuk window shopping yang butuh waktu berjam-jam di mall atau counter pakaian. Sangat penat dan melelahkan. Saat itu aku paham kenapa teman kos enggan mengajak ku berbelanja, mungkin karena aku tak pandai merespon apa yang menarik dari pilihan mereka, memutari pusat perbelanjaan tanpa tujuan jelas apa yang dibeli semakin membuat kepala berdenyut, pusing. Maaf teman, aku tak tahu apa itu fashion dan tren kekinian. Menurutku sepanjang itu rapi, pantas dan nyaman dikenakan maka tidak jadi masalah. Menurutku cantik itu adalah sederhana yang tetap menjaga etika agama, anggun. Sejak saat itu aku semakin terkagum-kagum pada akhwat yang mampu menjaga auratnya, sempurna. :)

Me and my own self 
Jika ada waktu luang, sendiri ku habiskan waktu berjam-jam mengitari rak buku di Toga Mas -pusat perbelanjaan buku- dan menghabiskan beberapa lembar ratusan ribu hasil penyisihan jatah bulanan, belanja ini lebih bermakna dan tak ada ruginya menurutku, karena dasarnya sudah suka. :)
atau ketika kebosanan melanda dan aku lagi enggan membaca, kuhabiskan waktu menyusuri trotoar  Malioboro -sendirian- mengukur jalan sembari melihat-lihat kesibukan para pedagang, lebih tak punya tujuan. 

Ketika tak ada rencana liburan keluar dan dompet lagi sepi penghuni :P, aku lebih nyaman menghabiskan waktu di kamar kos seharian, bermain komputer, menyewa beberapa keping film dan menyiapkan menu logistik. Lalu terciptalah bioskop pribadi di kamar kos. Itu sudah jadi hiburan yang lebih dari cukup buatku. Atau di akhir pekan, jika kondisi dompet dan alam mendukung, kami -2 saudaraku dan sepupu- berplesir ke berbagai pantai di Jogja, itu sangat menarik buatku. I Love it. I really love scenery.

Berbicara tentang film aku memilih berdasarkan cerita dan tergantung mood saja. Memilih pun berdasarkan menarik atau tidak ceritanya bukan siapa pemerannya. Beberapa daftar film yang kusukai bergenre drama keluarga, psikologi, tema peperangan maupun documenter. Beberapa yang berkesan diantaranya: Saving Private Ryan, 1 litre of Tears, The Cove, Yip Man, The Way Back, Haciko, War Horse, My Way.
Inilah top list film menarik yang pernah kutahu dan ku tonton. Aku menyukai itu semua karena kisahnya yang bermakna, mengharukan dan penuh pembelajaran.

Kalau dipikir lagi, aku termasuk pribadi yang tertutup untuk apa-apa yang kusukai, aku tak tertarik menceritakan masalah pribadi -selagi permasalahan itu masih bisa kutanggung dan mampu mencari solusi akan ku atasi sendiri- aku tak ingin menyusahkan orang lain dengan beban hati tapi aku suka menjadi pendengar bagi teman yang ingin berbagi sehingga beberapa dari teman percaya untuk menceritakan masalah dan rahasia mereka, mungkin menurut mereka orang yang tak banyak bicara tak akan suka menebar berita. Padahal sebenarnya mendengar banyak rahasia itu amanah besar. 

Nilai Keimananku
Aku tak berani katakan aku sudah baik, namun terus berusaha memperbaiki diri karena menjadi hamba yang solehah adalah proses seumur hidup.
"Lakukan apapun dari ilmu yang sudah kamu ketahui, saat ini juga, semampumu." Begitulah aku berusaha mengisi kantong-kantong amalku. Atas nama cinta pada Allah, mengharap ampunan dan ridhoNya untuk mencapai syurgaNya. Sembari terus berusaha dan berdoa.

"Ya Allah... izinkan aku mencintaiMu semampuku
Mentaati perintahMu, melintasi batas suka dan tidak suka"
"Ya Rabb... letakkan dunia ditanganku, jangan di hatiku."


Jelas... masih jauh diri ini dari kesempurnaan. Tapi perbekalan harus selalu dipersiapkan.
Dari buku agama yang pernah kubaca, musik haram, lalu mulailah aku menghapus semua draft lagu dan musik dari komputerku. Hapus..download lagi...hapus lagi. Berat nafsu membujuk rayu ketika masa galau membuatku berpaling pada hiburan yang menyesatkan itu. Try hard to get it out from my system. Alhamdulillah semua sudah berlalu.

Sejatinya tak ada kisah yang sempurna atau bahagia yang tanpa cela. Begitupun kehidupanku. Perjalanan hidup bukanlah jalan mulus tanpa kerikil, bahkan batuan besar pun bisa menghadang. Pasang surut kehidupan memahamkanku pada banyak rasa dan mengajarkanku banyak hal, bahwa air yang nampak tenang dipermukaan pun mampu menciptakan gelombang arus yang terkadang menghanyutkan, berat untuk dihadapi.

Alhamdulillah... semua terlewati meski segala sesuatunya tak kan kembali sama seperti semula. Tetap ada akar-akar duka yang tertinggal yang setiap saat diperjuangkan untuk hilang. Tuntas.

Salah satu sandungan itu adalah kecelakaan yang ku alami pada tahun 2007, patah tulang kaki dan aku harus melewati masa pemulihan selama 2 bulan, berjalan dengan tongkat. Masa yang penuh hikmah. 

Me and my heart
Bertambah usia memunculkan berbagai pertanyaan yang mulai "mengganggu" ketenangan sendiri ku, menyadarkan bahwa aku butuh seseorang, teman seperjalanan, separuh hati untuk menggenapkan separuh agama. Seseorang yang dengannya ku berbagi segalanya.

Dulu, ketika kisah merah jambu terhapus dari kamus hatiku karena tanggung jawab studi, aku tak terlalu memperdulikan hati. Meski rasa itu sempat singgah, aku berusaha memangkasnya karena aku tahu rasaku tak kan bernilai bahagia jika menempuh jalan yang dimurkaiNya. Aku tak ingin mengkhianati hati dan imanku yang baru seujung kuku hanya karena cinta pada waktu yang tak semestinya.
Setelah itu ku lalui waktu dengan prinsip "dengan siapapun aku menikah kelak aku akan menjalaninya dengan baik". Sesederhana itu. Aku mengabaikan soal perasaan dan hatiku. Pada kenyataannya aku hanyalah perempuan biasa, butuh keyakinan hati untuk jalan panjang yang ku tempuh nanti.

Pemahaman yang bertambah membuatku menyadari bahwa optimismeku kebablasan. Dan persoalan satu ini benar-benar tak bisa dipaksakan oleh keadaan karena tak ada yang bisa dipaksakan bagi hati. Setelah itu waktuku berkejaran antara harapan dan pertanyaan tentang siapa, kapan dan dimana. Sejenak masalah ini menggelisahkan hati, kesedihan yang belum pernah kurasakan sebelumnya -sunyi dan ngilu yang menekan ke ulu hati- kesedihan yang berbeda rasa dari kisah cinta yang muncul pada waktu yang tidak semestinya.

Aku tak bisa mengatakan aku sabar menghadapi keadaan ini, dadaku sesak oleh beban yang menghimpit membuat jantungku terkadang terasa sakit. Saat-saat krusial itulah aku merasakan nikmatnya mengadu kepada Allah, berharap pada cintaNya, nikmatnya berserah padaNya. Pengharapan dan kerinduan yang sangat ketika sholat, kerinduan untuk memperoleh ampunan dan ridhoNya. Mengingat segala nikmat yang selalu Allah beri menyadarkan diri ini untuk bersyukur dalam segala situasi, suka tidak suka. Jika ini disebut hidayah maka sungguh karunia besarlah aku bisa memperolehnya. Allahuakbar... "sesungguhnya di setiap kesulitan ada kemudahan"

Seiring perjalanan waktu aku berdamai dengan hati, tak lagi memaksakan diri dan tak lagi tertekan dengan pengharapan yang belum bisa terwujud. Bertambah tenang dengan keyakinan bahwa Allah menetapkan yang terbaik untuk segalanya. Meskipun begitu aku tak pernah lelah berdoa karena putus asa bukanlah jawabannya.

======================================================================== Kisah hidupku mungkin bukan hal yang menarik bagi orang lain, hanya sebuah kisah sederhana dari perjalanan hidup seorang hamba. Namun ini berarti banyak bagiku, memberi hikmah yang luar biasa karena aku yakin tak ada yang sia-sia dari penciptaanNya.
Kelak, 5 atau 10 tahun mendatang jika aku masih hidup, ingin ku "napaktilasi" kisah ini dan melihat bagaimana aku memandang diriku saat itu.
Setelah ini, adakah hikmah lebih besar yang kudapatkan? Wallahu'alam.

Teacher kelas bahasa inggrisku pernah berkata:  you are sincere
Alhamdulillah... 
tapi, masihkah sifat itu kumiliki hingga kini?
atau adakah sebagian yang hilang dari diri ini?

Aku tak bisa menjanjikan yang terbaik 
tapi aku akan melakukan terbaik yang aku bisa.