Sabtu, 01 Desember 2012

"1 Tamparan untuk 3 Pertanyaan"


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, kembali ke tanah air.
Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari  seorang  guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya.  Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang  kiyai.


Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan  saya?
Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab  pertanyaan anda.


Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya.
Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.


Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:
1. Kalau memang Tuhan itu ada,tunjukan wujud Tuhan kepada saya
2. Apakah yang dinamakan takdir
3. Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki  unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?


Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.

Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marah kepada saya?
Kiyai : Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.


Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?


Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.
Kiyai : Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?


Pemuda : Ya!
Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!


Pemuda : Saya tidak bisa.
Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama...kita semua merasakan  kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.


Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
Pemuda : Tidak.


Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari  saya hari ini?
Pemuda : Tidak.


Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.

Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
Pemuda : Kulit.


Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda : Kulit.


Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Sakit.


Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang menyakitkan untuk syaitan.

"Jika sekiranya tulisan ini bermanfaat, sampaikanlah ilmu ini kepada sahabat-sahabat yang lain. Seperti sabda Rasulullah Saw: "sampaikanlah apa yang kamu dapat daripada ku walaupun hanya satu ayat" (HR. Ahmad, Bukhari, Tarmidzi) 

dan sesungguhnya apabila matinya seorang anak Adam itu hanya tiga perkara yang akan dibawanya bersama, yaitu sedekah/amal jariahnya, doa anak-anak yang sholeh, dan ilmu yang bermanfaat yang disampaikannya kepada orang lain" (HR. Ibnu Majah)"
http://rajuhilmansyah.blogspot.com/2012/06/1-tamparan-untuk-3-pertanyaan.html

Kamis, 29 November 2012

Doa

 “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu seluruh kebaikan, yang disegerakan (di dunia) maupun yang diakhirkan (di akhirat), yang saya ketahui maupun yang tidak saya ketahui.

Dan aku berlindung kepada-Mu dari seluruh keburukan, yang disegerakan (di dunia) maupun yang diakhirkan (di akhirat), yang saya ketahui maupun yang tidak saya ketahui. 

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dari kebaikan-kebaikan yang pernah dimintakan oleh hamba-Mu dan nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam kepada-Mu.

Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan-keburukan yang hamba-Mu dan nabi-Mu Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam berlindung kepada-Mu darinya.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan segala hal yang mendekatkan kepadanya, baik berupa ucapan maupun perbuatan.

Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala hal yang mendekatkan kepadanya, baik berupa ucapan maupun perbuatan.

Dan aku memohon kepada-Mu agar menjadikan setiap ketetapan (takdir) yang Engkau tetapkan untukku sebagai (takdir) kebaikan.” 

(HR. Ahmad no. 25019, Ibnu Majah no. 3846, Ibnu Abi Syaibah no. 29345, Ibnu Hibban no. 869, Abu Ya’la no. 4473 dan Ath-Thahawi dalam Syarh Musykil Al-Atsar no. 6026. Hadits shahih)

Selasa, 13 November 2012

Me & My Lovely

Bersamamu...
tak terbilang hari tak terhitung waktu
ada banyak tawa dan senyum
kadangkala kesal pun turut memagut
menambah banyak rasa yang menyentuh.
Bersamamu...
aku memahami diriku
artiku bagi diri sendiri dan orang lain.
Bersamamu...
aku merasa berarti
acuh atau tak diacuhkan
dua rasa boleh berlawanan
tak jadi soal mana yang menang.
Bersamamu...
banyak waktu yang kumaknai dengan penuh syukur
seolah-olah tak ada hari yang lebih baik dari hari ini
berkembang menjadi mimpi dan doa
semoga kau dan aku bersama selamanya.
Bersamamu...
ada banyak cita dan cinta yang ingin ku bagi
juga cerita yang tak ada habisnya
tentang dekapan malam dan segarnya pagi
tentang keringnya aroma debu dan sejuknya hujan
tentang segala hal
termasuk tentang nikmatnya apa yang kumakan.
bersamamu...
ada banyak yang ingin ku beri
tapi aku yakin kau tidak akan mengerti
pengertianmu hanyalah: bahwa kau dicintai
kau butuh makan dan rasa aman
setelah itu cukup menatapku diam-diam, lama...
seolah-olah kau paham segala hal tentangku
just wanna say: I love u so much Sweety...
You said: me too Meooooooong!!! 

 By me & my lovely pet: Sweety ^_^

Minggu, 09 September 2012

KONTRADIKSI

Kosong itu sunyi
tapi kesunyian bukan berarti kosong
Sepi itu menenangkan
tapi kesepian tidaklah menyenangkan
Marah itu menyebalkan
tapi kesal tak meredakan amarah
Gelap itu menyesakkan
tapi sesak tak mudah hilang meski ramai dengan perhatian
Kecewa itu hampa
dan kehampaan itu seperti mati mati rasa
Bohong itu menyakitkan
tapi kejujuran sering diabaikan
Kejujuran itu tidak menyenangkan
tapi berakhir lebih manis dari kebohongan
Menjadi baik itu melelahkan
tapi bergelimang kesalahan lebih mematikan
Senyum itu tanda bahagia
tapi bahagia tak selalu terungkap dengan senyum

Jumat, 03 Februari 2012

Awakening


Kupikir aku akan segera bosan, secepatnya...lalu beralih kembali pada kebenaran yang seharusnya. Biasanya, sesuatu yang dilakukan terus menerus akan terasa membosankan. Tapi kenapa keburukan tidak membuat kita menjadi bosan? semakin dilakukan semakin menyenangkan, membuatku merasa menjadi diri sendiri dan apa adanya.
Padahal semua itu hanya sebuah kebohongan  besar yang diciptakan diri sendiri, sebuah pengakuan hati yang tertutupi nafsu sehingga diri bebas bicara apa saja. Pada akhirnya membiarkan diri menentukan sebuah ketidakbenaran bahwa "beginilah aku adanya" mengaburkan makna fitrah bahwa seharusnya kita terus berbenah, mengabaikan suara hati yang terus berbisik "jangan teruskan, ini salah, seharusnya kau tak begini..." menafikkan suara hati ini setiap hari.
Siapa yang paling merasa bahwa waktunya habis sia-sia? diri sendiri...
Siapa yang paling terluka atas pilihan-pilihan yang salah dalam hidup kita? diri sendiri..
Siapa yang paling menderita atas penyesalan dosa-dosa? diri sendiri...
Selalu, semua berbicara tentang manusia dan apa yang diperbuatnya. Dunia tidak pernah lelah dan berubah menjadi kejam pada manusia kecuali manusia itu sendiri yang membuat kerusakan sehingga menyakiti dirinya sendiri.
Luka yang kita ciptakan, pemikiran-pemikiran yang menyesakkan dada menjadikan hati kita menanggung penderitaan yang menyuburkan rasa kecewa, memberikan izin bagi diri untuk disakiti
Padahal, yang diperlukan adalah semangat untuk bangkit, berbenah memperbaiki diri sembari terus meluruskan niat. Beribadah bukan karena apapun dan siapapun, tapi karena Allah saja. Memurnikan niat perbaikan hanya kepada Yang Maha Baik. Bukan karena sekeping cinta manusia, bukan hanya karena pujian dan penghargaan, dan bukan hanya untuk menjadi pengikut tanpa kesadaran dan pemahaman, tapi karena cinta.
Cinta yang membuat kita merasa lebih baik, tetap bersemangat meski susah, tetap bisa tersenyum meski lelah dan tetap istiqomah meski dengan iman yang kadarnya terus berubah.
Bukankah dunia diciptakan sebagai tiket terusan ke Surga?

Nama

Berfikir lagi, lalu mulai menulis sesuatu yang baru  dan mencari-cari tema apa yang menarik kali ini?  hmm...tentang nama saja, ada beberapa pengalaman yang cukup lucu dan menghibur. Dua orang teman yang ku kenal beberapa waktu lalu, ternyata dua-duanya adalah pria dengan nama yang ku kira wanita. dimulai dengan sapa, icon senyum ramah tamah, dan gaya SKSD ala saya dimulailah perkenalan yang cukup menyenangkan. Si A , masuk dengan salam pembuka dan berlanjut dengan cerita2 yang cukup seru dan ku balas dengan tak kalah errornya, yakin sekali kalau dia seorang akhwat yang humoris dan asyik buat diajak ngobrol. kepercayaan diri saya tiba-tiba runtuh seketika saat menyadari siapa dia sesungguhnya (lebay :P). Tapi ternyata saya sudah kadung menggila, it's oke sajalah meski tahu seharusnya saya lebih bisa menjaga kata-kata (salah lagi..)
Kasus kedua, mengkomen status seorang sister di FB, seperti biasa (kebiasaan yang buruk) saya langsung nyempil tanpa permisi, ikut komen sana-sini dan berakhir dengan salah paham lagi. Kali ini seorang ikhwan bernama M, tanpa ikut membaca kronologis komentar-komentar sebelumnya saya terjatuh pada kesalahan yang sama (semoga dimaafkan). Lagi-lagi masalah nama, orang yang saya kira wanita ternyata pria dan kebanyakan cerita lainnya orang yang dikira pria ternyata wanita. Sekelumit cerita tentang keunikan nama :)
Nama...punya banyak arti dan niat yang tertanam saat orang tua kita memberinya, dengan sepenuh doa dan pengharapan agar anaknya bisa sesuai dengan nama besar yang disandangnya, paling tidak, ada sedikit kemiripan karakter atau kepribadian yang pada umumnya adalah kebaikan.
Jika di barat bilang "apalah arti sebuah nama" maka Rasulullah kita lebih baik menyampaikannya bahwa "nama adalah doa". Saat ini banyak orang tua yang menjadi follower, memberi nama anak-anaknya sesuai nama artis atau sekedar kedengaran keren dan modern. Menjauhkan anak-anak dari pengharapan yang lebih dalam. Bukan salah bunda mengandung, benar, setiap orang tua berhak dan anak pun berhak atas kebaikan dirinya untuk apapun yang menjadi penting dalam hidupnya. Saya tidak akan membicarakan hak dan tanggung jawab orang tua di sini. Nah..cukup sudah OOT saya, back to the topic: "nama".
nama saya sendiri sederhana saja, ayahanda ingin saya jadi anak yang pintar sepintar nama yang diberikannya dari nama seorang teman beliau di masa sekolah, seorang yang pintar, anggun, rendah hati, dan penuh percaya diri (haha....3 poin terakhir adalah karangan saya, semoga menjadi nyata ^_^) pada kenyataannya saya dalam proses belajar menjadi pintar, berakhir sampai batas waktu yang tidak diketahui.
Nama, sebuah keunikan label bagi setiap diri. Saya pernah menonton acara berita kriminalitas yang memiriskan arti nama menjadi tak berarti. Dalam laporan kriminal tersebut diceritakan seorang pria bernama Rahmatullah mencuri dan membunuh, mengejutkan. Bukan kasusnya yang menjadi perbincangan, tapi nama orang tersebut yang membuat orang-orang menggelengkan kepala dan berfikir "nama kok nggak sesuai sama kepribadiannya ya?" lagi-lagi salah nama, padahal label itu diharapkan dapat menciptakan isi yang sesuai sehingga maknanya pas dengan harapan pada akhirnya setiap pribadi dapat menjadi menjadi sebaik-baik insan, karena nama adalah doa.



Kamis, 26 Januari 2012

Do you know?

Aku tahu... bicara denganmu adalah sesuatu yang mengalir, ringan, apa adanya dan terasa nyaman...
Sayang kamu temanku, kalau kamu artis mungkin aku akan jadi fansmu...
tapi setelah difikir-fikir mendalam..
Aku tak mau jadi pemuja
karena aku tak akan bisa memuja tanpa kecewa
karena aku manusia biasa.
Jadi biarkan pemujaan ini hanya pada Tuhan kita saja, Allah yang Maha Segalanya
Aku tahu...menjadi sahabatmu adalah berkah yang selalu ku syukuri
Tanpa perlu berhitung untung rugi
tentang berapa banyak bahagia atau kecewa yang membalut persahabatan kita
tapi, seberapa kuat kita menjadi diri sendiri dan bisa berbagi dengan ketulusan hati
lalu bisa saling mengingatkan kesalahan tanpa membenci
Aku tahu.... dan berharap kamu tahu
Aku ingin tetap jadi sahabat baikmu
meski waktu dan keadaan merubah sebagian dari diri kita
tak ada yang berubah dari persahabatan kita

Kamis, 19 Januari 2012

I have Dreams...


Saya berusaha mensyukuri keberadaan diri dan apa yang saya miliki setiap hari, berusaha menjadi ramah, dan merasa malu atas kesalahan-kesalahan sehingga berupaya melakukan perbaikan. Saya juga berusaha menikmati setiap aktivitas yang dijalani meski kadang rasa bosan datang menyergap, hal yang lumrah. Menjalani hidup saya dengan fikiran-fikiran yang penuh dengan cerita. Impian..
Banyak hal yang menarik setiap kita bicara tentang mimpi, tentang gradasi warnanya, tentang abstrak bentuknya tapi semua bisa menjadi nyata ketika kita sungguh-sungguh menginginkannya. 

Saya suka memimpikan banyak hal-hal yang sulit dalam hidup saya, keinginan yang belum tercapai atau yang akan lakukan. Begitu banyak dan akan terlalu panjang jika diceritakan. 
Sedikit pencerahan di suatu pagi, disela kegiatan rutin menyapu rumah, tiba-tiba terbetik pertanyaan, apa yang bisa membuat orang berbahagia dengan cara yang mudah? lalu saya menjawab sendiri; membagi kesibukan fikiran antara sapu dan jawaban :). hmm..jawabannya adalah: "sederhana", ya menjadi diri yang sederhana dalam keinginan, jawaban yang sederhana sesederhana kita mendapatkannya jika kita mau berusaha. Ternyata itu resep bahagia yang sudah tersimpan dari awalnya, saya tersenyum. betul juga pemikiran ini, tak ada beban ketika kita merasa cukup dengan segala yang terbaik yang sudah kita usahakan. 
Mengukur diri, menimbang keadaan dan mengaplikasikan dalam tindakan adalah cara awal untuk menjalani mimpi sebagai pribadi yang bahagia. 
Kadangkala mimpi di luar perhitungan matematis meski tidak jauh dari analisis resiko, tapi bisa menjadi nyata. karena ada yang berperan di dalamnya yaitu keberadaan Tuhan yang memberi kekuatan saat Allah bilang "kun fayakun" jadi, maka terjadilah. Nothing is impossible. Saat istilah asing mengatakan bahwa faktor x berperan dalam sebuah keberhasilan, maka faktor x kita adalah Allah SWT, yang membalik rasio kegagalan menjadi keberhasilan dengan campur tangan kekuasaanNya yang maha tinggi.

Sebuah impian dan mimpi-mimpi yang lain akan terus berlanjut setiap hari, karena dengan mimpi maka hidup terasa berarti dan dengan mimpi kita bisa berbagi, akankah mimpi kita sama kali ini??
to be continue.....

Ikhlas itu.....

Saya suka hujan, saya suka melihat bintang, saya suka merasakan cerahnya mentari, saya suka apapun yang baik bagi saya. Tapi di atas segalanya saya suka menjadi orang baik dan bisa memberi kebaikan.
Saya tidak sempurna; saya mensyukurinya, saya tidak selalu bahagia tapi saya menikmatinya, saya suka merasa bosan; membuat saya memahami kelemahan saya, saya mengetahui kekurangan saya; mengajarkan saya menguranginya, saya menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak saya sukai; karena saya tahu batasan saya untuk bertahan.
Saya belajar banyak hal setiap hari dari diri saya sendiri. Meskipun semakin banyak saya tahu semakin banyak yang belum saya ketahui. Ini semua tentang diri saya dan mungkin rasa semua orang juga seperti itu, banyak hal yang mereka miliki tanpa mereka ketahui apa saja  itu. Jadi, ketika saya menyadari banyak hal tentang ini semakin memperkuat keyakinan dalam diri saya, betapa Allah telah begitu sempurna atas segala penciptaannya. Saya tidak menunjuk siapapun dengan paksaan untuk menjadi sadar, tapi berusalah melihat diri sendiri meskipun hanya sedikit dengan begitu akan ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dan pelajari.

Sedikit cerita di malam hari, sedikit renungan yang bisa dibagi dalam tulisan tak seberapa ini, tapi setiap kali saya membacanya, saya ingin mengingat bagaimana nuansa perasaan saat menulisnya, bahagia dan syukur. Bahagia itu ternyata sederhana: cukup bersyukur dan ikhlas dalam menerima dan memberi. Selalu, setiap orang akan berkata "ikhlas itu cuma mudah untuk diucapkan" kalau begitu saya juga akan bilang: "memang mudah..tapi akan jauh lebih mudah kalau langsung dipraktekkan" sedikit demi sedikit, sepanjang waktu, sehingga ikhlas bisa menjadi keseharian kita dan menjadi watak kita. Kita sering mengartikan ikhlas hanya untuk menerima sesuatu hal yang besar saja. Tapi bagaimana mungkin? bukankah pohon tak bisa tumbuh besar tanpa proses waktu dan perawatan, kita membibit ikhlas di dalam hati. merawatnya dengan konsistensi, menyiramnya dengan harapan, memupuknya dengan keyakinan bahwa ada yang Maha Menjaganya tumbuh besar bahkan tanpa kita sadari. Seringkali kita hanya ingat bagaimana memulainya; setiap kebaikan; tapi kita dibuat terlena oleh proses waktu dimana Allah berperan begitu besar membuat keinginan kita menjadi kenyataan.
Semuanya dimulai dengan niat, menjadi baik, menjadi ikhlas, menjadi diri sendiri yang kita pahami kekurangan dan kelebihannya dan melalui proses waktu dengan penuh syukur.

Minggu, 15 Januari 2012

Rindu Hujan...

Katakan pada hujan, aku rindu rintiknya
Aku rindu sejuk yg disampaikannya
Aku rindu kesegaran yang ditimbulkannya
Katakan semua....
Agar hujan tahu, bahwa dia berarti..
Meski kadang dia tak mau tahu
Dan aku tak perduli, seberapa banyak aku menanti..
Aku berharap hujan datang lagi musim ini

Minggu, 08 Januari 2012

Ceritakan padaku Cintamu!

Kembali lagi!
Ada rasa yang tiba-tiba singgah tanpa permisi. Siapa yang tahu coba? kapan dia datang dan kapan dia bisa menghilang? sebuah perasaan yang sangat menyenangkan tapi juga membingungkan. Rasa yang membuat fikiran berputar dan logika menjelma menjadi si "dungu". Tidak perlu banyak bicara lagi tentang satu masalah ini, cukup tahu saja dan nikmati! karena tidak ada yang tahu kapan ia berubah haluan menjadi rasa sakit yang menyakitkan. 

Jika bicara tentang cinta (memang tidak ada bosannya) pasti tidak akan lepas dari objeknya. Lengkap dengan semua kriteria dan syarat-syarat yang harus dipenuhi, kurang 1 saja terasa ada yang tidak sempurna dan biasanya sulit menerima cinta dengan segala ke"cacat"annya. Cinta yang terlalu sempurna. Entah manusia yang sesempurna apa yang layak untuk cinta yang penuh syarat rukunnya. 
Aku juga bertanya pada diri sendiri, seberapa sempurna cinta yang ingin kumiliki nanti? saat itu juga aku tertawa, dan menyadari bahwa banyak hal yang harus diperbaiki, belajar bagaimana membagi waktu yang tepat untuk mandiri dan memanjakan diri. Berbagi kapan menjadi diri sendiri dan saat menyesuaikan diri. Terlalu banyak hal yang harus dipenuhi. Untuk sebuah cinta yang sempurna ternyata cukup sederhana.. meskipun belum menemukan rumusnya, cukup temukan objek yang memiliki prinsip yang sama, hati yang siap menerima, dan bersedia memenuhinya dengan rasa syukur penerimaan. Maka, jalani saja..dengan segala konsekuensinya, dengan segala hingar-bingar bahagia atau carut-marut luka, rasakan dan jalani saja.. karena waktu bisa memutus episodenya kapan saja. 
Berhenti menikmati, mengambil jeda, dan menghabiskan waktu menyia-nyiakannya adalah tindakan yang terlalu sia-sia.

Cerita tentang cinta sudah usai, bukan berarti rasanya pun terhenti, hanya episode hidup tak harus melulu tentang cinta karena hidup tak cukup hanya cinta. that's it.

Malam mulai turun merayap, senyap dan merambat gelap.

Ceritakan padaku Imanmu!


Azan sudah sudah berkumandang sejak tadi tapi rasanya masih tertinggal di hati. 
Rasa yang menyejukkan dan menentramkan, membebaskan diri dari keruwetan dunia, sejenak men'charge' lagi jiwa yang sudah kehilangan dayanya karena urusan dunia yang tak pernah ada habisnya. Menyemangati jiwa-jiwa yang lelah dalam pengharapan.
Kalau mengingat ini, segala sesuatu yang berkaitan dengan iman memang hal yang paling menyenangkan untuk dibahas, untuk dibicarakan tapi butuh tekad dan usaha kuat untuk dilakukan, amat sangat kuat, konsistensi tingkat tinggi dan keteguhan hati, karena nikmat iman tidak akan didapat tanpa usaha, intinya: tidak ada yang gratis di dunia ini, apapun ada ganjarannya. 
Membahas iman dan kebutuhan tidak akan ada habisnya, bagian dari hidup, bagian dari tarikan nafas, jadi ingat sebuah lagu "...walaupun seribu godaan..tak akan mampu..." (aku bahkan tidak ingat ini lagu siapa) dan dalam kenyataannya pun belum mampu menjalankannya. seribu godaan? terlalu..itu terlalu tinggi, satu demi satu godaan menyapa setiap hari, dan amat sangat sulit ditepiskan dan dilewati, kalau saja tidak ada sedikit iman yang dititipkan Allah ini (semoga Ia tetap meneguhkannya di hati) maka aku tidak tahu akan berubah menjadi manusia seperti apa, alangkah sombongnya berfikir aku punya segalanya kalau pada kenyataannya aku tak punya apapun, aku selalu meminta dan meminta, dan Allah selalu memberi dan memberi semua kebutuhanku bahkan yang tidak kuketahui sekalipun, apalagi yang bisa kuminta. 
Menyedihkannya diri ini. kalau mengingat masalah meminta, seringkali diri berubah menjadi seperti anak-anak yang kurang akal, kurang sabar dan sempit pemikiran, suka memaksa dan manja, tapi.... kepada siapa lagi memohon kalau tidak kepadaNya?
dengan segala rupa bentuk fisik dan iman manusia, siapapun itu..dia tidak akan bisa mengelakkan arti kata "membutuhkan".
Pada kenyataannya, aku dan makhluk manapun, butuh... yang selalu memberi, yang selalu mendengar, yang selalu menjaga, yang selalu mencintai, yang selalu mengawasi dan yang-yang lainnya.... memberi segala yang dibutuhkan, tak pandang waktu dan suasana, dalam segala musim dan cuaca. pada kenyataannya, dihadapanNya... kita sangat..sangat...sangat.. membutuhkanNya. 
Bolehlah siapapun mengelakkannya dengan berbagai cara, tapi bertanyalah pada hati, dengan kejujuran yang penuh, bahwa...aku bukan apa-apa dan tak akan menjadi apapun tanpaNya...subhanallah.
Kalau membahas iman tidak akan ada habisnya, karena aplikasinya akan berlangsung seumur hidup kita, jadi kita jalani proses yang kita pilih dan lihat hasilnya.
berganti lagi cerita kita...disambung lagi nanti...

Ceritakan padaku Ceritamu!

Siang hari panas terik, menjelang zhuhur. Tak banyak aktivitas yang ingin
dilakukan. Akhir-akhir ini aku hanya merasa sedikit jenuh, membuang-
buang waktu memikirkan hal yang tak perlu ternyata cukup menguras
energiku. Aku kehabisan ide untuk melakukan sesuatu, hanya berfikir
bahwa banyak hal-hal menarik akan terlewati begitu saja, sangat
disayangkan. Tidak ada cerita spesial tentang hidupku, aku benci
berfikir sebagai seorang yang tidak bersyukur. Terkadang di sela-sela
kebosanan ada hal-hal lucu dan menarik, sedikit tersenyum lalu kembali
lagi menjadi pribadi yang biasanya, sedikit kaku dan banyak ragu.
Kehidupan sempurna itu rasanya terlalu tidak mungkin bagiku, karena
ketidakmungkinan itukah makanya aku menjadi orang yang penuh angan-
angan? apa yang tidak bisa kucapai dapat kuhayalkan menjadi dunia
nyata dalam alam mayaku.
Aku pernah berharap sebuah cerita berubah menjadi kenyataan...
Dibandingkan keadaan sebenarnya ternyata aku harus melihat lebih jelas
siapa aku, melihat dengan cahaya yang paling terang; meski
kedengarannya aku kehilangan jati diri; melelahkan menjadi orang yang
penuh pesimisme, sebuah paham tentang hidup :yang selalu merasa susah dari
sudut apapun, seperti sebuah hasil foto, tak pernah bisa mengambil
"angle" terbaik karena fokusnya memang tidak pernah baik.
Aku berfikir tentang apa yang kufikirkan dan apa yang bisa kuhasilkan.
Apakah ini masih kedengaran seperti jiwa yang penuh keragu-raguan dan
kesusahan?
Baiklah...aku berfikir tentang apa yang bisa kulakukan, sebuah bentuk
tanggung jawab yang bisa menghasilkan tindakan nyata. 
Aku bisa melakukan apa? berputar lagi... dunia masih tetap berputar di
tempatnya, semua orang bergerak ke pusarannya masing-masing. tidak ada
yang diam, kecuali kematian. salah! kematianpun bergerak menjemput
setiap orang yang terjadwal dalam ketentuanNya.
Hari ini aku ingin menulis apa yang bisa terlontar dari fikiranku, tak perduli seberapa banyak atau anehnya itu, hanya ingin mencatat yang bisa..karena disadari sepenuhnya, aku tidak bisa melakukan segalanya.
Lihat anak kecil itu, mereka akan melakukan petualangan baru, di dunia
yang penuh tantangan yang katanya penuh dengan heroisme, 
dan "pria banget gitu lho kak..." salah satu jawaban ketika kutanya apa
alasannya memilih bermain game tersebut. 
Sejenak aku tertawa, hal seperti ini lucu juga ternyata, tak bisa disalahkan sepenuhnya... 
toh dunianya masih terlalu sederhana dan naif tentang keruwetan yang
beredar disekelilingnya. Mereka (anak-anak) ini tidak perlu sibuk
berfikir sesuatu yang berat dan rumit; itu bagian orang dewasa; "dunia
kami cukuplah untuk bermain-main saja" mungkin begitu fikir mereka.
Lalu apa yang kufikirkan selanjutnya.. benar, orang dewasa terlalu
banyak berfikir, sesuatu yang rumit bisa menjadi semakin rumit, mereka
bahkan bisa menyalahkan apa saja, debu yang berterbangan, hujan yang
mendadak turun, panas yang terlalu menyengat, inikah hasil karya
pemikiran manusia dewasa?
ah...fikiranku beralih lagi, kali ini tentang emosi yang disebut
kemarahan. aku tidak akan membicarakan definisinya, cukuplah bagi tiap
pribadi pernah merasakannya, sensasinya, gejolak tak beraturan yang
membuat kita berani menghadapi apapun, detak jantung yang sangat cepat
dengan nafas yang terasa sesak. sensasi rasa yang sama sekali tidak
nikmat tapi sering senang untuk dinikmati. Memang aneh...
menjadi marah seolah memegang kendali, menunjukkan kekecewaan dengan
cara-cara ekstrim yang pada akhirnya berakhir dengan fikiran yang lelah.
Marah memberikan rasa puas sekaligus penyesalan. Menyesal karena
menjadikan egoisme sebagai harga diri. Puas karena sudah melepaskan
beban yang mengganjal dengan bebas.