Saya suka hujan, saya suka melihat bintang, saya suka merasakan cerahnya mentari, saya suka apapun yang baik bagi saya. Tapi di atas segalanya saya suka menjadi orang baik dan bisa memberi kebaikan.
Saya tidak sempurna; saya mensyukurinya, saya tidak selalu bahagia tapi saya menikmatinya, saya suka merasa bosan; membuat saya memahami kelemahan saya, saya mengetahui kekurangan saya; mengajarkan saya menguranginya, saya menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak saya sukai; karena saya tahu batasan saya untuk bertahan.
Saya tidak sempurna; saya mensyukurinya, saya tidak selalu bahagia tapi saya menikmatinya, saya suka merasa bosan; membuat saya memahami kelemahan saya, saya mengetahui kekurangan saya; mengajarkan saya menguranginya, saya menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak saya sukai; karena saya tahu batasan saya untuk bertahan.
Saya belajar banyak hal setiap hari dari diri saya sendiri. Meskipun semakin banyak saya tahu semakin banyak yang belum saya ketahui. Ini semua tentang diri saya dan mungkin rasa semua orang juga seperti itu, banyak hal yang mereka miliki tanpa mereka ketahui apa saja itu. Jadi, ketika saya menyadari banyak hal tentang ini semakin memperkuat keyakinan dalam diri saya, betapa Allah telah begitu sempurna atas segala penciptaannya. Saya tidak menunjuk siapapun dengan paksaan untuk menjadi sadar, tapi berusalah melihat diri sendiri meskipun hanya sedikit dengan begitu akan ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dan pelajari.
Sedikit cerita di malam hari, sedikit renungan yang bisa dibagi dalam tulisan tak seberapa ini, tapi setiap kali saya membacanya, saya ingin mengingat bagaimana nuansa perasaan saat menulisnya, bahagia dan syukur. Bahagia itu ternyata sederhana: cukup bersyukur dan ikhlas dalam menerima dan memberi. Selalu, setiap orang akan berkata "ikhlas itu cuma mudah untuk diucapkan" kalau begitu saya juga akan bilang: "memang mudah..tapi akan jauh lebih mudah kalau langsung dipraktekkan" sedikit demi sedikit, sepanjang waktu, sehingga ikhlas bisa menjadi keseharian kita dan menjadi watak kita. Kita sering mengartikan ikhlas hanya untuk menerima sesuatu hal yang besar saja. Tapi bagaimana mungkin? bukankah pohon tak bisa tumbuh besar tanpa proses waktu dan perawatan, kita membibit ikhlas di dalam hati. merawatnya dengan konsistensi, menyiramnya dengan harapan, memupuknya dengan keyakinan bahwa ada yang Maha Menjaganya tumbuh besar bahkan tanpa kita sadari. Seringkali kita hanya ingat bagaimana memulainya; setiap kebaikan; tapi kita dibuat terlena oleh proses waktu dimana Allah berperan begitu besar membuat keinginan kita menjadi kenyataan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar