Berfikir lagi, lalu mulai menulis sesuatu yang baru dan mencari-cari tema apa yang menarik kali ini? hmm...tentang nama saja, ada beberapa pengalaman yang cukup lucu dan menghibur. Dua orang teman yang ku kenal beberapa waktu lalu, ternyata dua-duanya adalah pria dengan nama yang ku kira wanita. dimulai dengan sapa, icon senyum ramah tamah, dan gaya SKSD ala saya dimulailah perkenalan yang cukup menyenangkan. Si A , masuk dengan salam pembuka dan berlanjut dengan cerita2 yang cukup seru dan ku balas dengan tak kalah errornya, yakin sekali kalau dia seorang akhwat yang humoris dan asyik buat diajak ngobrol. kepercayaan diri saya tiba-tiba runtuh seketika saat menyadari siapa dia sesungguhnya (lebay :P). Tapi ternyata saya sudah kadung menggila, it's oke sajalah meski tahu seharusnya saya lebih bisa menjaga kata-kata (salah lagi..)
Kasus kedua, mengkomen status seorang sister di FB, seperti biasa (kebiasaan yang buruk) saya langsung nyempil tanpa permisi, ikut komen sana-sini dan berakhir dengan salah paham lagi. Kali ini seorang ikhwan bernama M, tanpa ikut membaca kronologis komentar-komentar sebelumnya saya terjatuh pada kesalahan yang sama (semoga dimaafkan). Lagi-lagi masalah nama, orang yang saya kira wanita ternyata pria dan kebanyakan cerita lainnya orang yang dikira pria ternyata wanita. Sekelumit cerita tentang keunikan nama :)
Nama...punya banyak arti dan niat yang tertanam saat orang tua kita memberinya, dengan sepenuh doa dan pengharapan agar anaknya bisa sesuai dengan nama besar yang disandangnya, paling tidak, ada sedikit kemiripan karakter atau kepribadian yang pada umumnya adalah kebaikan.
Jika di barat bilang "apalah arti sebuah nama" maka Rasulullah kita lebih baik menyampaikannya bahwa "nama adalah doa". Saat ini banyak orang tua yang menjadi follower, memberi nama anak-anaknya sesuai nama artis atau sekedar kedengaran keren dan modern. Menjauhkan anak-anak dari pengharapan yang lebih dalam. Bukan salah bunda mengandung, benar, setiap orang tua berhak dan anak pun berhak atas kebaikan dirinya untuk apapun yang menjadi penting dalam hidupnya. Saya tidak akan membicarakan hak dan tanggung jawab orang tua di sini. Nah..cukup sudah OOT saya, back to the topic: "nama".
nama saya sendiri sederhana saja, ayahanda ingin saya jadi anak yang pintar sepintar nama yang diberikannya dari nama seorang teman beliau di masa sekolah, seorang yang pintar, anggun, rendah hati, dan penuh percaya diri (haha....3 poin terakhir adalah karangan saya, semoga menjadi nyata ^_^) pada kenyataannya saya dalam proses belajar menjadi pintar, berakhir sampai batas waktu yang tidak diketahui.
Nama, sebuah keunikan label bagi setiap diri. Saya pernah menonton acara berita kriminalitas yang memiriskan arti nama menjadi tak berarti. Dalam laporan kriminal tersebut diceritakan seorang pria bernama Rahmatullah mencuri dan membunuh, mengejutkan. Bukan kasusnya yang menjadi perbincangan, tapi nama orang tersebut yang membuat orang-orang menggelengkan kepala dan berfikir "nama kok nggak sesuai sama kepribadiannya ya?" lagi-lagi salah nama, padahal label itu diharapkan dapat menciptakan isi yang sesuai sehingga maknanya pas dengan harapan pada akhirnya setiap pribadi dapat menjadi menjadi sebaik-baik insan, karena nama adalah doa.
Kasus kedua, mengkomen status seorang sister di FB, seperti biasa (kebiasaan yang buruk) saya langsung nyempil tanpa permisi, ikut komen sana-sini dan berakhir dengan salah paham lagi. Kali ini seorang ikhwan bernama M, tanpa ikut membaca kronologis komentar-komentar sebelumnya saya terjatuh pada kesalahan yang sama (semoga dimaafkan). Lagi-lagi masalah nama, orang yang saya kira wanita ternyata pria dan kebanyakan cerita lainnya orang yang dikira pria ternyata wanita. Sekelumit cerita tentang keunikan nama :)
Nama...punya banyak arti dan niat yang tertanam saat orang tua kita memberinya, dengan sepenuh doa dan pengharapan agar anaknya bisa sesuai dengan nama besar yang disandangnya, paling tidak, ada sedikit kemiripan karakter atau kepribadian yang pada umumnya adalah kebaikan.
Jika di barat bilang "apalah arti sebuah nama" maka Rasulullah kita lebih baik menyampaikannya bahwa "nama adalah doa". Saat ini banyak orang tua yang menjadi follower, memberi nama anak-anaknya sesuai nama artis atau sekedar kedengaran keren dan modern. Menjauhkan anak-anak dari pengharapan yang lebih dalam. Bukan salah bunda mengandung, benar, setiap orang tua berhak dan anak pun berhak atas kebaikan dirinya untuk apapun yang menjadi penting dalam hidupnya. Saya tidak akan membicarakan hak dan tanggung jawab orang tua di sini. Nah..cukup sudah OOT saya, back to the topic: "nama".
nama saya sendiri sederhana saja, ayahanda ingin saya jadi anak yang pintar sepintar nama yang diberikannya dari nama seorang teman beliau di masa sekolah, seorang yang pintar, anggun, rendah hati, dan penuh percaya diri (haha....3 poin terakhir adalah karangan saya, semoga menjadi nyata ^_^) pada kenyataannya saya dalam proses belajar menjadi pintar, berakhir sampai batas waktu yang tidak diketahui.
Nama, sebuah keunikan label bagi setiap diri. Saya pernah menonton acara berita kriminalitas yang memiriskan arti nama menjadi tak berarti. Dalam laporan kriminal tersebut diceritakan seorang pria bernama Rahmatullah mencuri dan membunuh, mengejutkan. Bukan kasusnya yang menjadi perbincangan, tapi nama orang tersebut yang membuat orang-orang menggelengkan kepala dan berfikir "nama kok nggak sesuai sama kepribadiannya ya?" lagi-lagi salah nama, padahal label itu diharapkan dapat menciptakan isi yang sesuai sehingga maknanya pas dengan harapan pada akhirnya setiap pribadi dapat menjadi menjadi sebaik-baik insan, karena nama adalah doa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar