Siang hari panas terik, menjelang zhuhur. Tak banyak aktivitas yang ingin
dilakukan. Akhir-akhir ini aku hanya merasa sedikit jenuh, membuang-
buang waktu memikirkan hal yang tak perlu ternyata cukup menguras
energiku. Aku kehabisan ide untuk melakukan sesuatu, hanya berfikir
bahwa banyak hal-hal menarik akan terlewati begitu saja, sangat
disayangkan. Tidak ada cerita spesial tentang hidupku, aku benci
berfikir sebagai seorang yang tidak bersyukur. Terkadang di sela-sela
kebosanan ada hal-hal lucu dan menarik, sedikit tersenyum lalu kembali
lagi menjadi pribadi yang biasanya, sedikit kaku dan banyak ragu.
Kehidupan sempurna itu rasanya terlalu tidak mungkin bagiku, karena
ketidakmungkinan itukah makanya aku menjadi orang yang penuh angan-
angan? apa yang tidak bisa kucapai dapat kuhayalkan menjadi dunia
nyata dalam alam mayaku.
Aku pernah berharap sebuah cerita berubah menjadi kenyataan...
Dibandingkan keadaan sebenarnya ternyata aku harus melihat lebih jelas
siapa aku, melihat dengan cahaya yang paling terang; meski
kedengarannya aku kehilangan jati diri; melelahkan menjadi orang yang
penuh pesimisme, sebuah paham tentang hidup :yang selalu merasa susah dari
sudut apapun, seperti sebuah hasil foto, tak pernah bisa mengambil
"angle" terbaik karena fokusnya memang tidak pernah baik.
Aku berfikir tentang apa yang kufikirkan dan apa yang bisa kuhasilkan.
Apakah ini masih kedengaran seperti jiwa yang penuh keragu-raguan dan
kesusahan?
Baiklah...aku berfikir tentang apa yang bisa kulakukan, sebuah bentuk
tanggung jawab yang bisa menghasilkan tindakan nyata.
Aku bisa melakukan apa? berputar lagi... dunia masih tetap berputar di
tempatnya, semua orang bergerak ke pusarannya masing-masing. tidak ada
yang diam, kecuali kematian. salah! kematianpun bergerak menjemput
setiap orang yang terjadwal dalam ketentuanNya.
Hari ini aku ingin menulis apa yang bisa terlontar dari fikiranku, tak perduli seberapa banyak atau anehnya itu, hanya ingin mencatat yang bisa..karena disadari sepenuhnya, aku tidak bisa melakukan segalanya.
Lihat anak kecil itu, mereka akan melakukan petualangan baru, di dunia
yang penuh tantangan yang katanya penuh dengan heroisme,
dan "pria banget gitu lho kak..." salah satu jawaban ketika kutanya apa
alasannya memilih bermain game tersebut.
Sejenak aku tertawa, hal seperti ini lucu juga ternyata, tak bisa disalahkan sepenuhnya...
toh dunianya masih terlalu sederhana dan naif tentang keruwetan yang
beredar disekelilingnya. Mereka (anak-anak) ini tidak perlu sibuk
berfikir sesuatu yang berat dan rumit; itu bagian orang dewasa; "dunia
kami cukuplah untuk bermain-main saja" mungkin begitu fikir mereka.
Lalu apa yang kufikirkan selanjutnya.. benar, orang dewasa terlalu
banyak berfikir, sesuatu yang rumit bisa menjadi semakin rumit, mereka
bahkan bisa menyalahkan apa saja, debu yang berterbangan, hujan yang
mendadak turun, panas yang terlalu menyengat, inikah hasil karya
pemikiran manusia dewasa?
dilakukan. Akhir-akhir ini aku hanya merasa sedikit jenuh, membuang-
buang waktu memikirkan hal yang tak perlu ternyata cukup menguras
energiku. Aku kehabisan ide untuk melakukan sesuatu, hanya berfikir
bahwa banyak hal-hal menarik akan terlewati begitu saja, sangat
disayangkan. Tidak ada cerita spesial tentang hidupku, aku benci
berfikir sebagai seorang yang tidak bersyukur. Terkadang di sela-sela
kebosanan ada hal-hal lucu dan menarik, sedikit tersenyum lalu kembali
lagi menjadi pribadi yang biasanya, sedikit kaku dan banyak ragu.
Kehidupan sempurna itu rasanya terlalu tidak mungkin bagiku, karena
ketidakmungkinan itukah makanya aku menjadi orang yang penuh angan-
angan? apa yang tidak bisa kucapai dapat kuhayalkan menjadi dunia
nyata dalam alam mayaku.
Aku pernah berharap sebuah cerita berubah menjadi kenyataan...
Dibandingkan keadaan sebenarnya ternyata aku harus melihat lebih jelas
siapa aku, melihat dengan cahaya yang paling terang; meski
kedengarannya aku kehilangan jati diri; melelahkan menjadi orang yang
penuh pesimisme, sebuah paham tentang hidup :yang selalu merasa susah dari
sudut apapun, seperti sebuah hasil foto, tak pernah bisa mengambil
"angle" terbaik karena fokusnya memang tidak pernah baik.
Aku berfikir tentang apa yang kufikirkan dan apa yang bisa kuhasilkan.
Apakah ini masih kedengaran seperti jiwa yang penuh keragu-raguan dan
kesusahan?
Baiklah...aku berfikir tentang apa yang bisa kulakukan, sebuah bentuk
tanggung jawab yang bisa menghasilkan tindakan nyata.
Aku bisa melakukan apa? berputar lagi... dunia masih tetap berputar di
tempatnya, semua orang bergerak ke pusarannya masing-masing. tidak ada
yang diam, kecuali kematian. salah! kematianpun bergerak menjemput
setiap orang yang terjadwal dalam ketentuanNya.
Hari ini aku ingin menulis apa yang bisa terlontar dari fikiranku, tak perduli seberapa banyak atau anehnya itu, hanya ingin mencatat yang bisa..karena disadari sepenuhnya, aku tidak bisa melakukan segalanya.
Lihat anak kecil itu, mereka akan melakukan petualangan baru, di dunia
yang penuh tantangan yang katanya penuh dengan heroisme,
dan "pria banget gitu lho kak..." salah satu jawaban ketika kutanya apa
alasannya memilih bermain game tersebut.
Sejenak aku tertawa, hal seperti ini lucu juga ternyata, tak bisa disalahkan sepenuhnya...
toh dunianya masih terlalu sederhana dan naif tentang keruwetan yang
beredar disekelilingnya. Mereka (anak-anak) ini tidak perlu sibuk
berfikir sesuatu yang berat dan rumit; itu bagian orang dewasa; "dunia
kami cukuplah untuk bermain-main saja" mungkin begitu fikir mereka.
Lalu apa yang kufikirkan selanjutnya.. benar, orang dewasa terlalu
banyak berfikir, sesuatu yang rumit bisa menjadi semakin rumit, mereka
bahkan bisa menyalahkan apa saja, debu yang berterbangan, hujan yang
mendadak turun, panas yang terlalu menyengat, inikah hasil karya
pemikiran manusia dewasa?
ah...fikiranku beralih lagi, kali ini tentang emosi yang disebut
kemarahan. aku tidak akan membicarakan definisinya, cukuplah bagi tiap
pribadi pernah merasakannya, sensasinya, gejolak tak beraturan yang
membuat kita berani menghadapi apapun, detak jantung yang sangat cepat
dengan nafas yang terasa sesak. sensasi rasa yang sama sekali tidak
nikmat tapi sering senang untuk dinikmati. Memang aneh...
menjadi marah seolah memegang kendali, menunjukkan kekecewaan dengan
cara-cara ekstrim yang pada akhirnya berakhir dengan fikiran yang lelah.
Marah memberikan rasa puas sekaligus penyesalan. Menyesal karena
menjadikan egoisme sebagai harga diri. Puas karena sudah melepaskan
beban yang mengganjal dengan bebas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar