Rabu, 01 Januari 2014

Surat Terakhir Kayana-Part 1

January 11, 2012 at 3:33pm
Cerita yang terbengkalai, tersimpan lama.. terlalu lama untuk diselesaikan.

Aku menguap lagi, ini untuk kesekian kalinya..beberapa hari ini benar-benar cukup melelahkan bagiku. Menghadapi berbagai tugas sekolah dan pekerjaan di rumah ternyata menghabiskan banyak energi sehingga lelahnya semakin terasa pada jam sekolah. sebenarnya aku cukup memaksa diri saat memilih untuk bekerja sampingan sambil sekolah, tapi mau bagaimana lagi, sudah menjadi pilihan diantara tidak adanya pilihan. 
aku mengeluh..memandang keluar melalui jendela sekolah, berusaha merasakan nikmatnya angin siang yang berhembus, membuatku tambah mengantuk. kuedarkan pandangan ke sekeliling kelas, 1, 2, 3 aku mulai berhitung..sepertinya hampir semua teman juga merasa bosan dan mengantuk. pelajaran di siang hari memang selalu membosankan untuk dilanjutkan. Tak berapa lama bel pulang berbunyi nyaring dan suara-suara penuh kelegaan bergaung di kelas kami, mata-mata sayu yang mengantuk tiba-tiba terbuka lebar penuh semangat..biasa, semua rasa lelah dan kantuk bisa menghilang begitu saja. siswa-siswa yang terpenjara oleh ilmunya merasakan kebebasan. aku tertawa sendiri...

"Shin...tunggu!
Kay berlari kecil ke arahku, oya lupa kuberitahu, dia teman sekelasku, cukup dekat atau lebih tepatnya akrab.
"aq g akan ikut acara kalian..pekerjaan sudah menunggu, sayang membiarkan uang melayang, benar kan??"
aku menatapnya sekilas saat dia sudah berjalan bersisian denganku.
"kerja lagi? apa lagi sekarang?" nada suaranya terdengar mengeluh. 
aku tertawa kecil menanggapi "biasa...jam terbangku tinggi, orang sibuk jangan diganggu.." dia menyikut bahuku membuatku mengaduh sakit. perjalanan pulang dengannya selalu seru, kami bercerita banyak hal, dari yang lucu, serius sampai tidak penting sama sekali. kayana..itu nama yang ku kenal sejak 2 tahun lalu, nama yang unik dari kebanyakan nama karena itu juga dia dikenal. dia selalu punya banyak hal yang enak untuk diceritakan, seolah-olah dia tv berjalan. ada masa program hiburan, berita, olahraga, atau bahkan gosip terbaru. kesimpulanku: nama yang unik untuk kepribadian yang unik.

Namaku pun tak kalah antiknya "SHIN" nama itu pemberian ibu, salah satu huruf hijaiyah yang ada diawal surat dan tidak bisa diartikan, aku sendiri bingung kenapa ibu memberi nama seperti itu. ibu cuma bilang "berbeda tapi enak didengar, sebuah huruf yg mengandung arti misterius tapi dipakai, hanya Allah yang tahu.." aku hanya mengangguk menanggapi. yah.. biarlah Allah saja yang tahu, ada-ada saja. sejak itu aku tidak pernah bertanya lagi, tepatnya malas menanyakan.

Menjelang senja saat matahari mulai turun dimusim panas yang cerah membuat lukisan langit yang indah, sayangnya aku yang baru pulang dari kebun sudah terlalu lelah untuk menikmati pemandangan yang menarik itu. kay datang, dengan kamera yang bergantung di lehernya, wajahnya sumringah saat muncul dihadapanku. 

"Shin..lihat, aku baru saja motret beberapa objek menarik, terutama langit sore ini" 
dia menyodorkan kameranya padaku. aku hanya mengangkat alis dengan bingung.
"sejak kapan kau motret, perasaan aku g pernah lihat kau bawa kamera, lagian ini kamera siapa?"
tanganku terjulur melihat benda itu, tak tahu bagaimana memakainya.
"ye.. dapet minjem dari kakak sepupuku, dia jago motret, lihat hasil karyanya keren-keren.. jadi aku punya hobi baru sekarang.." 
Kay menjelaskan panjang lebar dan aku hanya manggut-manggut mendengarnya
"seru ternyata.. kau mau jadi objekku g? judulnya: si kucel dari kebun karet" kay tergelak dengan leluconnya sendiri. 
"dasar gila..."aku mengumpat sambil menyodorkan kembali kamera yang tak kuketahui jenis atau mereknya itu.
"udahlah, aku mau mandi dulu bentar lagi maghrib, waktunya sholat jadi jangan jalan-jalan sembarangan Kay" aku berbisik menakut-nakuti
"lw maghrib syetan suka keliaran goda manusia, jangan-jangan kau malah memfoto penampakan" aku terkekeh geli melihat muka Kay terlihat aneh.
"kau nih..." Kay hampir mengumpat sebelum ku balas cepat 
"jaga bicara...mau maghrib ini" ucapanku sedikit serius, sebenarnya tidak enak juga kalau sampai ibu dengar, beliau tidak suka mendengar anak-anak suka bicara kotor atau mengumpat. 
"iyalah..." kay berlalu dari hadapanku sambil mengucap salam.

Pulang sekolah, aktivitas biasa yang kulakukan adalah makan, sholat dan dan bersiap ke kebun. hari ini aku dapat kerja menyemprot kebun tetangga. lumayan untuk menambah uang belanja ibu dan sedikit tabunganku. berpisah dengan ayah adalah keputusan paling sulit bagi ibu, tapi itu yang terbaik bagi kami. aku menerimanya dan memutuskan  berusaha membantu ibu.

Siang ini aku ada janji dengan Kay, kami punya tugas kelompok untuk pelajaran Biologi. dibandingkan belajar, dia lebih senang melihat hasil fotonya dan membiarkanku sibuk sendiri mengerjakan tugas.
Aku mengeluh, mengantuk lagi dan kali ini menguap lebih lebar lalu bergumam
"Kay..aku mau pulang dan tidur sekarang" kututup buku dan beranjak dari kamarnya "oke...besok kau kasih lihat tugasnya ya!" dia berseru tanpa mengalihkan pandangan dari kesibukannya. 
Aku hanya mendengus dan berlalu.

Kayana, nama yang unik dari pribadi yang tak asing bagiku. Menjadi teman baikku selama 2 tahun terakhir ini. Kupikir aku tidak cukup punya waktu untuk bermain dan jalan-jalan seperti anak-anak gaul, tapi anehnya Kay tetap jadi temanku meski frekuensi kami bertemu cuma di sekolah dan perjalanan pulang. Terkadang kalau sedang kesal padanya membuatku berfikiran buruk.
"jangan2 kay hanya memanfaatkanku? membuatku mengerjakan tugas ini itu atau dia cuma kasihan jadi mau berteman denganku?"
saat aku benar2 suntuk pernah kutanyakan padanya "kenapa sih kau mau jadi temanku?" pertanyaan yang tiba-tiba. Kay terdiam sejenak, sambil matanya tak lepas memandang keramaian gerbang sekolah siang itu. 
"kenapa ya? hmm...mungkin karena kau lebih kasihan kalau g punya teman, makanya ku temani" jawaban konyol yg membuatku tertawa. 
"sialan..." umpatan sepertinya sering jadi kebiasaanku untuk merespon jawaban-jawabannya.

Pulang ke rumah, bertemu ibu yang sedang sibuk membersihkan getah-getah yang lengket di jari-jemarinya. Beliau baru pulang dari kebun, hari ini jadwal mengambil getah setelah 2 hari disadap, dengan cuaca yang baik di musim ini getah pun banyak mengalir dan di sinilah sumber rejeki kami. 
"baru pulang? ibu menatapku sekilas, 
"hari ini lumayan banyak shin...rejeki dari Allah memang tak pernah putus, asal kita mau berusaha"
ibu tersenyum sambil terus melanjutkan kesibukannya. Aku cuma mengiyakan dan beranjak ke kamar mandi, selalu ada syukur dalam setiap kata-kata ibu.

Malam merayap, dikamarku yang remang aku sibuk dengan pe-er yang menumpuk, sejujurnya aku bukan anak yang rajin dalam hal sekolah, tapi juga bukan anak yang suka membuat masalah -memikirkan ibu susah payah kerja rasanya terlalu jahat jika menyia-nyiakan sekolahku-. tidak ada ceritanya punya hp atau sekedar jalan-jalan dan berkumpul bersama teman seusiaku, sejujurnya aku juga tidak suka hal-hal hingar bingar dunia remaja, meski tetap butuh teman untuk berbagi cerita. Jam setengah sembilan malam..rumah kami yg sepi tanpa tv terasa semakin  sunyi, aku menggeliatkan tubuh, berusaha meluruskan punggung yang mulai terasa pegal.

"Shin...Shin... udah tidur?" ketukan di jendela kamar sedikit mengagetkanku. 
"belum, ngapa Kay?" aku menjawab dengan malas. apa lagi anak ini, malam pun tak segan mengganggu orang. 
"buka dulu.." suaranya terdengar kesal. 
Aku mendesah, membuka jendela kamar dan dia langsung melompat masuk 
"sudah mirip...tinggal beraksi aja" aku terkekeh geli, mulai iseng menertawai Kay.
"kau kira aku maling heh..." dia membalas dengan seringai. 
Seperti biasa, Kay suka datang ke kamarku malam-malam, bukan lewat pintu..untuknya itu terlalu sopan, jendela sudah jadi jalan masuknya.
"pe er lagi.., kapanlah kita selesai sekolah, bosan aku dengan pe er ini.." Kay menggerutu sambil menarik buku tugasku. Nah..bagaimana aku tidak berfikiran buruk tentangnya dan menyadari hubungan kami bukan simbiosis mutualisme. Membuatku berfikir kalau dia sebenarnya teman sekaligus penjajah, pencontek sejati.

Pelajaran olah raga sudah selesai 15 menit yang lalu tapi aku belum melihat sosok Kay dari tadi. "kemana anak ini?" aku kesal dan penasaran, aku butuh bertemu dengannya segera karena bukuku belum dikembalikan.
"Coba saja kalau dia berani bilang..." langkahku terhenti, suara Toni terdengar marah.
mengintip di sela kaca nako ruang labor kulihat beberapa anak dari kelas sebelah sedang berkumpul, di sana  ada Kay.

"dia anak kampungan..tak akan berani bicara macam-macam..tenang saja" Kay membalas tegas.
Urung kulangkahkan kaki, bukan hendak ikut campur, tapi belum pernah Kay terlibat masalah lalu kenapa dia harus berkumpul bersama siswa yang terkenal bermasalah di sekolahku, geng Toni.

to be continue...

Minggu, 29 Desember 2013

Writing, I'm in Love

Bismilahirrahmanirrahim...

Saya suka menulis, entah sejak kapan saya lupa. Awal mulanya hanya pelampiasan perasaan untuk mengungkapkan hal-hal yang sulit untuk dikatakan karena dulu saya termasuk orang yang sulit mengkomunikasikan keinginan aka pendiam :P. 

Semakin lama saya bisa merasakan nikmatnya menulis, sebagai pelepas kebosanan dan terkadang saat jenuh melanda saya membaca kembali tulisan lama sehingga bisa menciptakan suasana berbeda. Membaca kembali apa yang sudah ditulis mengingatkan diri akan "rasa" saat menuliskannya, saat bahagia, sedih, atau bersemangat. Hal itu seperti membuka lembaran kenangan rasa. :)

Saya tidak punya gaya penulisan tertentu, tergantung mood saja, dan lagi saya tidak pernah belajar sistematika penulisan yang baik, saya otodidaker :P. Saya juga belum menemukan style baku sebagai trend made saya sendiri :). Tapi yang saya pahami dari diri adalah bahwa saya termasuk tipe bunglon, artinya saya mampu mengcopas gaya penulisan seseorang jika menurut saya menarik dan mampu memunculkan mood/ide. Saya tidak punya/belum menemukan kelebihan istimewa dalam diri saya kecuali yang sudah saya ketahui: I'm a copas style. :)

Terkadang ide tulisan bisa muncul begitu saja, tanpa diduga bisa tercetus ide-ide untuk menulis saat bekerja, menyapu, mencuci, bahkan di kamar mandi :P. Sungguh menakjubkannya otak manusia, tak pernah berhenti untuk berfikir. Jadi menulis bagi saya adalah bahasa hati, tidak bisa dipaksakan meski sudah direncanakan. Seperti rencana saya di bulan Desember ini bahwa saya akan memecahkan rekor saya sendiri dengan mencipta 1 tulisan setiap hari. kenyataannya saya hanya berhasil sebanyak ini dan it's a long journey from the master plan :P. Seperti yang sudah saya bilang, mood tak bisa dipaksakan. 


Menulis bagi saya adalah hobi. Hingga kini belum terpikir untuk menjadikan hobi ini sebagai karir, di samping faktor minusnya derajat kepe-dean saya, minus kualitas tulisan dan pengalaman, saya juga tidak mau menjadikan hobi saya ini menjadi tekanan karena harus mengejar deadline. (halah gayanya..) :D

Seriously, faktor utama dan terpenting kenapa menulis masih menjadi hobi adalah: pertanggungjawaban saya atas apa yang saya tulis. Bukan dihadapan manusia saja; karena pro dan kontra itu adalah keadaan yang tak terbantahkan adanya. Tapi pertanggungjawaban tertinggi itu pada Allah subhana wa ta'ala, karena  saya sadar betul masih sedikit sekali tulisan saya yang bisa memberi manfaat, saya khawatir tulisan saya lebih menonjolkan mudharat dibandingkan manfaat, ditambah lagi, bagi saya tulisan adalah lisan kedua. Berapa banyak tulisan yang mampu menyeret opini dan pemikiran orang pada apa yang diinginkan oleh si penulis/golongan tertentu -bagus jika memahami tulisan yang bermanfaat dan memiliki tanggung jawab moral- namun akan jadi bencana jika tulisan itu bertolak belakang dari kebenaran.

Itulah hebatnya Islam, menisbahkan segala perbuatan pada "senang-tidak"nya Allah
subhana wa ta'ala atas setiap tindakan kita, karena tanpa itu kita akan kehilangan arah dan tersesat pada pemikiran manusia yang terus berkembang, tentu akan membunuh "kepribadian" kita jika tanpa filter.

Back to me,  I like writing so I'll keep move on, saya tidak ingin pesimis dan akan terus menulis, paling tidak jika saya sudah tiada akan ada kenangan yang bisa saya tinggalkan bagi keluarga dan teman-teman. Saya memiliki harapan semoga kelak ada yang terinspirasi dengan apa yang saya tulis, bukan apa-apa, saya berharap tulisan saya mampu menjadi amal jariyah kelak meski hanya dengan satu kalimat yang dinilai baik dan manfaat.
InsyaAllah..

Jumat, 27 Desember 2013

Berbalaskah rasa?

Terkadang, kebaikan mampu melambungkan angan-angan
pada hati yang tengah di puncak harapan.
maka, sampaikanlah dengan terang perihal: "penolakan" atau "penerimaan"
sehingga tak ada hati yang terhempas oleh kenyataan
bahwa mimpinya tak bertuan.

Jangan jadikan harapan seseorang sebagai ladangmu
menabur mimpi-mimpi semu
lalu membuatnya menuai rindu

sehingga larut dalam rasa yang tak tentu.

Jika kau katakan "itu hatinya, salahnya berharap banyak"
sudahkah hatimu seputih salju?
atau sebening telaga rindu?
sehingga mampu menghapus dahaga cinta

jika benar salahnya karena memperpanjang rasa
bukankah salahmu juga menabur asa

Dan engkau wahai pemilik hati
janganlah banyak bermimpi
menyiksa hati merusak diri
biarkan waktu menjadi saksi

pada siapa hati berhak bertemu janji

Jangan pula salahkan cinta
karena ia tak pernah salah
salahkan hati yang tak pada waktunya mengangankan
sementara tak ada semangat untuk memperjuangkan

salahkan tindakan yang tak pada tempatnya berbuat
berani bersikap tapi tak bertanggung jawab

sedangkan kita tahu bahwa "panjang angan-angan adalah tipuan syetan"

Lambungkan saja harapmu padaNya
Allah subhana wata'ala
Sang penjawab segala pinta

Senin, 23 Desember 2013

Diamku Bukan Berarti Cinta

Mereka katakan,
"Cintailah dia dalam diam"
Pada orang yang kau simpatik akan keilmuannya, dan segalanya.
Lalu mereka biarkan dirimu bersyair dengan khayalan,
mengajakmu berfantasi dalam tawa kosong dan tangisan.

Hey, kawan!
Itukah dirimu?
Yang berkamuflase dengan cinta khayalan?
Saat kau yakin pacaran itu haram sebelum menikah,
lalu kau putuskan mencintainya dalam diam.

Aduhai, apa bedanya?!
Kau sama-sama meracuni hatimu dengan cinta yang tak halal.
Apakah kau juga yakin dialah orang yang akan Allah takdirkan untukmu?

Jadilah mereka yang memilih acuh meski mampu mencintai seseorang dalam diam.

Mereka katakan, "Bukankah belum tentu dia yang menjadi pasanganku?

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata:

"Cinta adalah yang menggerakkan orang yang mencintai untuk mencari yang dicintainya."

(Ighatsatul Lahfan Min Mashayidisy Syaitan, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, edisi Indonesia: Menyelamatkan Hati Dari Tipu Daya Setan, penerbit Al-Qowam, Solo)

Beliau rahimahullah juga berkata:

"Tidak ada yang boleh diinginkan dan dicintai karena dzatnya kecuali Allah."

(Fawaidul Fawaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Pustaka Imam Asy-Syafi'i Jakarta)

#copas

Jumat, 20 Desember 2013

Strong Heart (maybe?)

I see the sunrise. Know it's time for me to pack up all the past and find what truly lasts.

If everything has been written down, so why worry?
If life is ever changing, so why worry?

For all I know, I've come this far not knowing why.
So, would it be nice to sit back in silence?

I'm thankful for this moment cause I know that you GROW A DAY OLDER and see how this sentimental heart can be.

I'm thankful for this moment cause I know that I grow a day older to understand what has happening.

If everything has been written down, so why worry?

Blessing, healthy, happiness for you and prosperity with you always.


#copas

Kamis, 19 Desember 2013

Keajaiban Waktu

Waktu memberi banyak pelajaran
tentang bahagia yang terlewati
kesedihan yang telah berlalu
atau cinta dikuncup rindu

Lingkaran waktu mempertemukan banyak kemungkinan
banyak kisah yang terbagi
banyak hati yang asing saling mengenali
sebagian bertemu dalam pemahaman
sebagian lain sekedar singgah lewat perkenalan

Waktu tak meleburkan semua hal
ada kumpulan kenangan yang mencipta rindu
dari bayangan masa lalu
ada penderitaan menjadi pembelajaran
atau harapan yang mengembunkan angan-angan

Masa mempertemukan setiap jiwa dalam kuasa takdirNya
melalui pilihan dari setiap detik yang ditawarkan
menjadi kesempatan atau kehilangan
bergiliran
hingga waktu memutus segala harapan
menghadapNya 
segalanya berpulang

Bidadari Tanpa Sayap

Dia mungkin sederhana
berpenampilan biasa
berbicara dengan gaya biasa
dengan aktivitas yang biasa

Dia mungkin tak mengenal banyak hal
ketakpahaman dihadapi dengan ketenangan
kesulitan dihadapi dengan kesabaran
airmata tersimpan dibalik senyuman

Dia mungkin tersembunyi
seperti mutiara di dasar lautan
tak kenal kilau pesona ketenaran
tak mampu lambungkan diri seperti bintang-bintang
hanya berlindung dibalik genggam sang Tiram

Butuh kesabaran menggapainya
butuh perjuangan mengindahkannya
butuh keindahan hati untuk menilainya

Sang bidadari tanpa sayap
tak terbang kemana pun
hanya menggenggam cahaya iman di hati
sembari memperindah akhlak diri
meski dunia tak mengenali