January 11, 2012 at 3:33pm
Cerita yang terbengkalai, tersimpan lama.. terlalu lama untuk diselesaikan.
Aku
menguap lagi, ini untuk kesekian kalinya..beberapa hari ini benar-benar
cukup melelahkan bagiku. Menghadapi berbagai tugas sekolah dan
pekerjaan di rumah ternyata menghabiskan banyak energi sehingga lelahnya
semakin terasa pada jam sekolah. sebenarnya aku cukup memaksa diri saat
memilih untuk bekerja sampingan sambil sekolah, tapi mau bagaimana
lagi, sudah menjadi pilihan diantara tidak adanya pilihan. Cerita yang terbengkalai, tersimpan lama.. terlalu lama untuk diselesaikan.
aku mengeluh..memandang keluar melalui jendela sekolah, berusaha merasakan nikmatnya angin siang yang berhembus, membuatku tambah mengantuk. kuedarkan pandangan ke sekeliling kelas, 1, 2, 3 aku mulai berhitung..sepertinya hampir semua teman juga merasa bosan dan mengantuk. pelajaran di siang hari memang selalu membosankan untuk dilanjutkan. Tak berapa lama bel pulang berbunyi nyaring dan suara-suara penuh kelegaan bergaung di kelas kami, mata-mata sayu yang mengantuk tiba-tiba terbuka lebar penuh semangat..biasa, semua rasa lelah dan kantuk bisa menghilang begitu saja. siswa-siswa yang terpenjara oleh ilmunya merasakan kebebasan. aku tertawa sendiri...
"Shin...tunggu!
Kay berlari kecil ke arahku, oya lupa kuberitahu, dia teman sekelasku, cukup dekat atau lebih tepatnya akrab.
"aq g akan ikut acara kalian..pekerjaan sudah menunggu, sayang membiarkan uang melayang, benar kan??"
aku menatapnya sekilas saat dia sudah berjalan bersisian denganku.
"kerja lagi? apa lagi sekarang?" nada suaranya terdengar mengeluh.
aku tertawa kecil menanggapi "biasa...jam terbangku tinggi, orang sibuk jangan diganggu.." dia menyikut bahuku membuatku mengaduh sakit. perjalanan pulang dengannya selalu seru, kami bercerita banyak hal, dari yang lucu, serius sampai tidak penting sama sekali. kayana..itu nama yang ku kenal sejak 2 tahun lalu, nama yang unik dari kebanyakan nama karena itu juga dia dikenal. dia selalu punya banyak hal yang enak untuk diceritakan, seolah-olah dia tv berjalan. ada masa program hiburan, berita, olahraga, atau bahkan gosip terbaru. kesimpulanku: nama yang unik untuk kepribadian yang unik.
Namaku pun tak kalah antiknya "SHIN" nama itu pemberian ibu, salah satu huruf hijaiyah yang ada diawal surat dan tidak bisa diartikan, aku sendiri bingung kenapa ibu memberi nama seperti itu. ibu cuma bilang "berbeda tapi enak didengar, sebuah huruf yg mengandung arti misterius tapi dipakai, hanya Allah yang tahu.." aku hanya mengangguk menanggapi. yah.. biarlah Allah saja yang tahu, ada-ada saja. sejak itu aku tidak pernah bertanya lagi, tepatnya malas menanyakan.
Menjelang senja saat matahari mulai turun dimusim panas yang cerah membuat lukisan langit yang indah, sayangnya aku yang baru pulang dari kebun sudah terlalu lelah untuk menikmati pemandangan yang menarik itu. kay datang, dengan kamera yang bergantung di lehernya, wajahnya sumringah saat muncul dihadapanku.
"Shin..lihat, aku baru saja motret beberapa objek menarik, terutama langit sore ini"
dia menyodorkan kameranya padaku. aku hanya mengangkat alis dengan bingung.
"sejak kapan kau motret, perasaan aku g pernah lihat kau bawa kamera, lagian ini kamera siapa?"
tanganku terjulur melihat benda itu, tak tahu bagaimana memakainya.
"ye.. dapet minjem dari kakak sepupuku, dia jago motret, lihat hasil karyanya keren-keren.. jadi aku punya hobi baru sekarang.."
Kay menjelaskan panjang lebar dan aku hanya manggut-manggut mendengarnya
"seru ternyata.. kau mau jadi objekku g? judulnya: si kucel dari kebun karet" kay tergelak dengan leluconnya sendiri.
"dasar gila..."aku mengumpat sambil menyodorkan kembali kamera yang tak kuketahui jenis atau mereknya itu.
"udahlah, aku mau mandi dulu bentar lagi maghrib, waktunya sholat jadi jangan jalan-jalan sembarangan Kay" aku berbisik menakut-nakuti
"lw maghrib syetan suka keliaran goda manusia, jangan-jangan kau malah memfoto penampakan" aku terkekeh geli melihat muka Kay terlihat aneh.
"kau nih..." Kay hampir mengumpat sebelum ku balas cepat
"jaga bicara...mau maghrib ini" ucapanku sedikit serius, sebenarnya tidak enak juga kalau sampai ibu dengar, beliau tidak suka mendengar anak-anak suka bicara kotor atau mengumpat.
"iyalah..." kay berlalu dari hadapanku sambil mengucap salam.
Pulang sekolah, aktivitas biasa yang kulakukan adalah makan, sholat dan dan bersiap ke kebun. hari ini aku dapat kerja menyemprot kebun tetangga. lumayan untuk menambah uang belanja ibu dan sedikit tabunganku. berpisah dengan ayah adalah keputusan paling sulit bagi ibu, tapi itu yang terbaik bagi kami. aku menerimanya dan memutuskan berusaha membantu ibu.
Siang ini aku ada janji dengan Kay, kami punya tugas kelompok untuk pelajaran Biologi. dibandingkan belajar, dia lebih senang melihat hasil fotonya dan membiarkanku sibuk sendiri mengerjakan tugas.
Aku mengeluh, mengantuk lagi dan kali ini menguap lebih lebar lalu bergumam
"Kay..aku mau pulang dan tidur sekarang" kututup buku dan beranjak dari kamarnya "oke...besok kau kasih lihat tugasnya ya!" dia berseru tanpa mengalihkan pandangan dari kesibukannya.
Aku hanya mendengus dan berlalu.
Kayana, nama yang unik dari pribadi yang tak asing bagiku. Menjadi teman baikku selama 2 tahun terakhir ini. Kupikir aku tidak cukup punya waktu untuk bermain dan jalan-jalan seperti anak-anak gaul, tapi anehnya Kay tetap jadi temanku meski frekuensi kami bertemu cuma di sekolah dan perjalanan pulang. Terkadang kalau sedang kesal padanya membuatku berfikiran buruk.
"jangan2 kay hanya memanfaatkanku? membuatku mengerjakan tugas ini itu atau dia cuma kasihan jadi mau berteman denganku?"
saat aku benar2 suntuk pernah kutanyakan padanya "kenapa sih kau mau jadi temanku?" pertanyaan yang tiba-tiba. Kay terdiam sejenak, sambil matanya tak lepas memandang keramaian gerbang sekolah siang itu.
"kenapa ya? hmm...mungkin karena kau lebih kasihan kalau g punya teman, makanya ku temani" jawaban konyol yg membuatku tertawa.
"sialan..." umpatan sepertinya sering jadi kebiasaanku untuk merespon jawaban-jawabannya.
Pulang ke rumah, bertemu ibu yang sedang sibuk membersihkan getah-getah yang lengket di jari-jemarinya. Beliau baru pulang dari kebun, hari ini jadwal mengambil getah setelah 2 hari disadap, dengan cuaca yang baik di musim ini getah pun banyak mengalir dan di sinilah sumber rejeki kami.
"baru pulang? ibu menatapku sekilas,
"hari ini lumayan banyak shin...rejeki dari Allah memang tak pernah putus, asal kita mau berusaha"
ibu tersenyum sambil terus melanjutkan kesibukannya. Aku cuma mengiyakan dan beranjak ke kamar mandi, selalu ada syukur dalam setiap kata-kata ibu.
Malam merayap, dikamarku yang remang aku sibuk dengan pe-er yang menumpuk, sejujurnya aku bukan anak yang rajin dalam hal sekolah, tapi juga bukan anak yang suka membuat masalah -memikirkan ibu susah payah kerja rasanya terlalu jahat jika menyia-nyiakan sekolahku-. tidak ada ceritanya punya hp atau sekedar jalan-jalan dan berkumpul bersama teman seusiaku, sejujurnya aku juga tidak suka hal-hal hingar bingar dunia remaja, meski tetap butuh teman untuk berbagi cerita. Jam setengah sembilan malam..rumah kami yg sepi tanpa tv terasa semakin sunyi, aku menggeliatkan tubuh, berusaha meluruskan punggung yang mulai terasa pegal.
"Shin...Shin... udah tidur?" ketukan di jendela kamar sedikit mengagetkanku.
"belum, ngapa Kay?" aku menjawab dengan malas. apa lagi anak ini, malam pun tak segan mengganggu orang.
"buka dulu.." suaranya terdengar kesal.
Aku mendesah, membuka jendela kamar dan dia langsung melompat masuk
"sudah mirip...tinggal beraksi aja" aku terkekeh geli, mulai iseng menertawai Kay.
"kau kira aku maling heh..." dia membalas dengan seringai.
Seperti biasa, Kay suka datang ke kamarku malam-malam, bukan lewat pintu..untuknya itu terlalu sopan, jendela sudah jadi jalan masuknya.
"pe er lagi.., kapanlah kita selesai sekolah, bosan aku dengan pe er ini.." Kay menggerutu sambil menarik buku tugasku. Nah..bagaimana aku tidak berfikiran buruk tentangnya dan menyadari hubungan kami bukan simbiosis mutualisme. Membuatku berfikir kalau dia sebenarnya teman sekaligus penjajah, pencontek sejati.
Pelajaran olah raga sudah selesai 15 menit yang lalu tapi aku belum melihat sosok Kay dari tadi. "kemana anak ini?" aku kesal dan penasaran, aku butuh bertemu dengannya segera karena bukuku belum dikembalikan.
"Coba saja kalau dia berani bilang..." langkahku terhenti, suara Toni terdengar marah.
mengintip di sela kaca nako ruang labor kulihat beberapa anak dari kelas sebelah sedang berkumpul, di sana ada Kay.
"dia anak kampungan..tak akan berani bicara macam-macam..tenang saja" Kay membalas tegas.
Urung kulangkahkan kaki, bukan hendak ikut campur, tapi belum pernah Kay terlibat masalah lalu kenapa dia harus berkumpul bersama siswa yang terkenal bermasalah di sekolahku, geng Toni.
to be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar