Sabtu, 17 Mei 2014

Maulid oh Maulid

Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc
Di bulan ini banyak orang merayakan maulid..
Katanya sebagai rasa cinta kita kepada Rasulullah..
Padahal hakikat cinta adalah ittiba'..
Cobalah renungkan firman Allah..
قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني
"Katakan, "Jika kalian mencinta Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah).. (Ali Imron: 31).

Ittiba' adalah mengikuti jejak kaki Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam..
Bukan mendahuluinya..

Tanyakanlah pada diri kita..
Mampukah Rasulullah merayakan kelahirannya?..
Bukankah para shahabat amat mencintainya?..
Lalu mengapa Rasulullah tidak memerintahkan tidak pula mencontohkan..
Padahal beliau mampu dan pendorong cinta amat kuat..

Tanyakan pada diri kita..
Apakah kita lebih tahu kepada kebaikan..
Ataukah Rasulullah dan generasi yang diutamakan..
Apakah kita lebih cinta kepada Rasulullah..
Ataukah para shahabat yang diridlai oleh Allah..

Bila anda berkata, "Ini hanyalah sarana..
Kita hanya berkata, "Sarana oh sarana..
Seakan engkau menghalalkan segala cara..
Bila itu memang sarana menuju cinta..
Tentu para shahabat, tabi'in dan imam yang empat telah berlomba..

Padahal Rabbuna telah mengabarkan..
اليوم أكملت لكم دينكم
"Pada hari ini aku telah sempurnakan agamamu.." (Al Maidah: 3).
Kabarkan kepadaku..
Apakah islam telah sempurna tanpa perayaan maulid?..
Bila anda berkata, "Ya..
Buat apa kita disibukkan dengan sesuatu yang bukan agama..
Bila anda menjawab, "Tidak..
Sungguh anda telah mengingkari firman pencipta Allam..

Ya Allah berikan petunjuk kepada kami dan mereka.. Amiin

Minggu, 11 Mei 2014

Sabar

Bismillahirrahmanirrahim...

Berbicara tentang keinginan maka banyak sekali hal yang akan disampaikan, dari sesuatu yang bisa dilakukan sampai hal yang mustahil. Begitu panjangnya angan-angan sehingga mendorong manusia melakukan segala hal agar tercapai segala keinginan. Maka berusahalah jangan sekedar berandai-andai, tapi bercita-citalah untuk mencapai apa yang diinginkan dengan segenap niat dan ikhtiar terbaik untuk mewujudkannya, dan sederhanakan keinginan.

Seringkali berandai-andai hanya memanjakan angan pada sesuatu secara berlebihan, nafsu menikmatinya dan syetan membisikkannya dengan kenikmatan semu. Buatlah rencana yang tepat, persiapkan diri, dan ukur kemampuan dengan mempertimbangkan resiko yang ada sehingga diri siap dengan segala ketidakpastian yang akan terjadi di masa depan, siap jika takdir Allah  tidak sesuai dengan harapan dan kerja keras.

terkadang kita harus menerima kenyataan yang mengecewakan namun imbangi kepedihan itu dengan kesadaran dan kesabaran. kekecewaan diharapkan tidak berdampak berlebihan sehingga membunuh semangat berjuang, pun saat kesedihan merenggut kesabaran tak perlu berakhir dengan matinya harapan, cukup tundukan hati sejenak untuk merenungi takdir sebagai tindakan yang lumrah bahwa diri adalah manusia biasa yang bisa kecewa saat godam nyata tak sesuai asa,bahwa setiap hati kita bisa terluka saat kesedihan menghantam jiwa, hanya saja..cukup sejenak. 

Pada saat sesak bisa sedikit berkurang, saat itu berilah ruang hati untuk menghirup udara kesabaran yang menyejukkan sehingga terpompa kembali semangat untuk berjuang.

Never give up until you back to the Lord: Allah subhana wa ta'ala

Sabtu, 10 Mei 2014

Destiny

Kita tak bisa menerima dan berhenti begitu saja
Pada kenyataan yang melingkupi hidup
Benar, menerima dan pasrah pada ketetapanNya adalah bagian keimanan
Namun berusaha menjadi lebih baik adalah keharusan
Bukan menjadikan ucapan ''sudah begini takdir saya"; sebagai kekalahan
tapi bentuk tawakal diri bahwa pengetahuan Ilahi meliputi segala sesuatu
pada yang tampak dan tersembunyi
pada apa yang diniatkan dan dilakukan
pada apa yang diangan-angankan hati
bahkan yang digumamkan lisan
Allah tahu segalanya.
Tak bisa kita berpaling dariNya
Tuhan dengan Pengetahuan dan KebijaksanaanNya
mengajarkan kita tentang keadilan pada apa yang kita terima
Mengolah rasa pada apa-apa yang dicintai dan dibenci
Menjadi hasil terbaik dan sesuai dengan rencanaNya
Bukankah kita hidup untuk menyesuaikan diri dengan kehendak Sang Pencipta
Jika ketaatan dan bakti pada seorang ibu disebut kewajaran
karena kerelaan Bunda mengorbankan segalanya demi anak tercinta
Maka, ketaatan pada perintah Ilahi adalah kewajaran yang sangat normal dilaksanakan
karena Dia yang menciptakan kita
Mematikan kita
Lalu menghidupkan kita lagi untuk di adili
Tiada yang mustahil bagiNya

Kamis, 10 April 2014

6 Kekuatan Dahsyat dalam Diri Manusia

1. Kekuatan Impian (The Power of Dreams) 

Untuk memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupan ini, setiap kita harus memiliki impian dan tujuan hidup yang jelas. Setiap kita harus berani memimpikan hal-hal terindah dan terbaik yang kita inginkan bagi kehidupan kita dan kehidupan orang-orang yang kita cintai. 

Tanpa impian, kehidupan kita akan berjalan tanpa arah dan akhirnya kita tidak menyadari dan tidak mampu mengendalikan ke mana sesungguhnya kehidupan kita akan menuju.

2. Kekuatan dari Fokus (The Power of Focus) 

Fokus adalah daya (power) untuk melihat sesuatu termasuk masa depan, impian, sasaran atau hal-hal lain seperti kekuatan dan kelemahan dalam diri, peluang di sekitar kita, sehingga lebih jelas dan mengambil langkah untuk mencapainya. 

Seperti sebuah kacamata yang membantu seorang untuk melihat lebih jelas, kekuatan fokus membantu kita melihat impian, sasaran, dan kekuatan kita dengan lebih jelas, sehingga kita tidak ragu-ragu dalam melangkah untuk mewujudkannya.

3. Kekuatan Disiplin Diri (The Power of Self Discipline) 

Pengulangan adalah kekuatan yang dahsyat untuk mencapai keunggulan. Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Menurut filsuf Aristoteles, keunggulan adalah sebuah kebiasaan. 

Kebiasaan terbangun dari kedisiplinan diri yang secara konsisten dan terus-menerus melakukan sesuatu tindakan yang membawa pada puncak prestasi seseorang. Kebiasaan kita akan menentukan masa depan kita. 

Untuk membangun kebiasaan tersebut, diperlukan disiplin diri yang kokoh. Sedangkan kedisiplinan adalah bagaimana kita mengalahkan diri kita dan mengendalikannya untuk mencapai impian dan hal-hal terbaik dalam kehidupan ini.

4. Kekuatan Perjuangan (The Power of Survival) 

Setiap manusia diberikan kekuatan untuk menghadapi kesulitan dan penderitaan. Justru melalui berbagai kesulitan itulah kita dibentuk menjadi ciptaan Tuhan yang tegar dalam menghadapi berbagai kesulitan dan kegagalan. 

Seringkali kita lupa untuk belajar bagaimana caranya menghadapi kegagalan dan kesulitan hidup, karena justru kegagalan itu sendiri merupakan unsur atau bahan yang utama dalam mencapai keberhasilan atau kehidupan yang berkelimpahan.

5. Kekuatan Pembelajaran (The Power of Learning) 

Salah satu kekuatan manusia adalah kemampuannya untuk belajar. Dengan belajar kita dapat menghadapi dan menciptakan perubahan dalam kehidupan kita. Dengan belajar kita dapat bertumbuh hari demi hari menjadi manusia yang lebih baik. Belajar adalah proses seumur hidup. Sehingga dengan senantiasa belajar dalam kehidupan ini, kita dapat terus meningkatkan taraf kehidupan kita pada aras yang lebih tinggi.

6. Kekuatan Pikiran (The Power of Mind) 

Pikiran adalah anugerah Tuhan yang paling besar dan paling terindah. Dengan memahami cara bekerja dan mengetahui bagaimana cara mendayagunakan kekuatan pikiran, kita dapat menciptakan hal-hal terbaik bagi kehidupan kita. 

Dengan melatih dan mengembangkan kekuatan pikiran, selain kecerdasan intelektual dan kecerdasan kreatif kita meningkat, juga secara bertahap kecerdasan emosional dan bahkan kecerdasan spiritual kita akan bertumbuh dan berkembang ke tataran yang lebih tinggi. 

Semua dari kita berhak dan memiliki kekuatan untuk mencapai kehidupan yang berkelimpahan dan memperoleh hal-hal terbaik dalam kehidupannya. 

Semuanya ini adalah produk dari pilihan sadar kita, berdasarkan keyakinan kita, dan bukan dari produk kondisi keberadaan kita di masa lalu dan saat ini. 

Sebagaimana dikatakan oleh Jack Canfield dalam bukunya The Power of Focus, bahwa kehidupan tidak terjadi begitu saja kepada kita. Kehidupan adalah serangkaian pilihan dan bagaimana kita merespons setiap situasi yang terjadi pada kita.

http://rajuhilmansyah.blogspot.com/2012/06/6-kekuatan-dahsyat-dalam-diri-manusia.html

Minggu, 06 April 2014

Menjaga Lisan

Diriwayatkan dari sahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ketika beliau bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang dapat memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang rukun iman dan beberapa pintu-pintu kebaikan, kemudian berkata kepadanya: “Maukah kujelaskan kepadamu tentang hal yang menjaga itu semua?” 
kemudian beliau memegang lisannya dan berkata: “Jagalah ini” maka aku (Mu’adz) tanyakan: “Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa dengan sebab perkataan kita?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Semoga ibumu kehilanganmu! (sebuah ungkapan agar perkataan selanjutnya diperhatikan). Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah mereka atau di atas hidung mereka melainkan dengan sebab lisan mereka.” 
(HR. At-Tirmidzi)

Bahaya laten yang bisa saja dihadapi oleh seorang hamba dalam kehidupan dunia bersumber dari lisannya, untuk itulah, para ulama mengatakan bahwa sembilan dari sepuluh dosa adalah berasal dari dosa dosa lisan. 
Rasul pun setiap kali mengingatkan seorang hamba yang melakukan dosa, agar berhati hati dengan lisannya, karena sesungguhnya lisan itu yang paling cepat melakukan dosa dan kekeliruan.
Lisan berbicara tanpa perhitungan dan kata-kata yang keluar dari anda tanpa disadari, seperti bergunjing, membuka aib, mengadu domba, menghina serta mengeluarkan kata-kata kotor dan kata-kata batil yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka selama 70 tahun.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka katakanlah perkataan yang baik atau jika tidak maka diamlah.”(Muttafaqun ‘alaihi)

“Barangsiapa yang mampu menjamin untukku apa yang ada di antara kedua rahangnya (lisan) dan apa yang ada di antara kedua kakinya (kemaluan) aku akan menjamin baginya surga.” (HR. Bukhari)

 “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36)

Jumat, 04 April 2014

Blinded by Grief

melangkah pelan
merasakan perlahan
memperhatikan ucapan.
mengusahakan senyum terkembang
berusaha mengerti.

terakhir kali aku melihat bintang berkilau di matamu
dan aku terlupa kapan cahayanya meredup.

apa kamu ragu?
menjangkau rindu mencapai waktu pertemuan
atau kamu kehilangan pegangan?...
waktunya menghentak harap dengan detak rindu yang lebih kencang.
kapan kamu ingat terakhir kali menatap wajah di cermin?
mengoreksi salah yang dikecap raga dari kelalaian alpa ataupun sengaja
melihat ke dinding kamar yang telah kusam sebab jejak debu yang tertinggal.

kamu tergelincir lagi.
salahkah kaki yang tak hati-hati?
atau memang jalan yang tak mulus untuk dilalui?

berhenti mengeluh
istirahatkan hati sejenak
atur tenaga, pompa semangat, kembali bergerak
dan pahami,
semua yang dipinjam akan kembali pada pemiliknya.
lalu kenapa berduka?
semua nikmat mampir sebentar
sekerlip mata, 
maka...jangan terluka oleh dunia.

Kamis, 03 April 2014

Membeningkan Sunyi

Untaian kata-kata itu sudah lama terdiam, tak terdengar kicaunya seperti rindu yang tak berhak dirasakan. Bagaimana pula ungkapan ini?

Menoleh ke belakang, perjalanan hidup sudah terlalu panjang terlewati, yang belum diketahui hanya ujungnya, akhir dari semua ini. Menapak waktu banyak rasa yang terbias dari kehidupan yang biasa. Kehidupan yang tenang, lempeng namun beriak tak terlihat ibarat sungai yang tenang namun di bawahnya memiliki gejolak arus yang mampu menghanyutkan. Begitulah... setiap hati melalui perjalanan panjangnya. Sesekali bosan menghampiri, dan tak perlu dusta untuk mengatakan "aku baik-baik saja" karena saat kesulitan datang, menenangkan diri dengan sunyi lebih bermakna daripada terlalu banyak suara dan terlalu banyak cerita lalu menjadi terlalu banyak duka yang bisa menyisakan sesal jika kata terlanjur terlontar.

Menyusuri celah hati, terkadang manusia bisa tak mengenali dirinya sendiri kecuali sedikit pemahaman atas apa-apa yang telah Allah berikan dari anugerahNya yang luar biasa tak terhingga. Sungguh sangat sombong jika kita tak tahu bersyukur.

Kehidupan biasa nan sederhana mampu membuat kita merangkai keinginan, mencipta mimpi, sampai pada titik dimana kita tak ingin melangkah lebih jauh lagi. Jenuh.
Terkadang saat kesulitan menerpa, akankah kita menyerah begitu saja? tidak, berputus asa bukanlah sikap yang Allah suka, haram jadinya. 
Jika hidup terlalu melelahkan, ciptakanlah jeda dan biarkan hatimu menyibukkan diri dengan mencintaiNya saja. Meski terkadang disela-sela sunyi itu ada rindu yang rajin menelisik qalbu, mencipta sedih meski setitik.
Tapi tak apa, toh sepanjang perjalanan waktu sesudahnya, kita akan kembali baik-baik saja, sejenak lupa, sejenak tertawa, hanya sekali waktu mengingat sedih yang pernah menyapa, dan sunyi.

kehidupan kita adalah sebuah perjalanan panjang yang belum bertemu akhir. setiap orang tentu tak ingin akhir yang sia-sia, menginginkan akhir terbaik.

Jika catatan ini adalah sebuah ke"galau"an tanpa makna, maafkan saja... 
Mata bisa pedih karena banyak membaca, tangan bisa lelah karena bekerja lalu bagaimana hati tak bisa lelah karena banyak rasa yang ditanggungnya?

Maafkan hamba ya Allah... mengeluh itu tak membawa apa-apa, engkau melihat apa yang tampak dan tersembunyi, maka ampuni hamba, sepanjang perjalanan hidup ini. Aamiin...