Kamis, 03 April 2014

Membeningkan Sunyi

Untaian kata-kata itu sudah lama terdiam, tak terdengar kicaunya seperti rindu yang tak berhak dirasakan. Bagaimana pula ungkapan ini?

Menoleh ke belakang, perjalanan hidup sudah terlalu panjang terlewati, yang belum diketahui hanya ujungnya, akhir dari semua ini. Menapak waktu banyak rasa yang terbias dari kehidupan yang biasa. Kehidupan yang tenang, lempeng namun beriak tak terlihat ibarat sungai yang tenang namun di bawahnya memiliki gejolak arus yang mampu menghanyutkan. Begitulah... setiap hati melalui perjalanan panjangnya. Sesekali bosan menghampiri, dan tak perlu dusta untuk mengatakan "aku baik-baik saja" karena saat kesulitan datang, menenangkan diri dengan sunyi lebih bermakna daripada terlalu banyak suara dan terlalu banyak cerita lalu menjadi terlalu banyak duka yang bisa menyisakan sesal jika kata terlanjur terlontar.

Menyusuri celah hati, terkadang manusia bisa tak mengenali dirinya sendiri kecuali sedikit pemahaman atas apa-apa yang telah Allah berikan dari anugerahNya yang luar biasa tak terhingga. Sungguh sangat sombong jika kita tak tahu bersyukur.

Kehidupan biasa nan sederhana mampu membuat kita merangkai keinginan, mencipta mimpi, sampai pada titik dimana kita tak ingin melangkah lebih jauh lagi. Jenuh.
Terkadang saat kesulitan menerpa, akankah kita menyerah begitu saja? tidak, berputus asa bukanlah sikap yang Allah suka, haram jadinya. 
Jika hidup terlalu melelahkan, ciptakanlah jeda dan biarkan hatimu menyibukkan diri dengan mencintaiNya saja. Meski terkadang disela-sela sunyi itu ada rindu yang rajin menelisik qalbu, mencipta sedih meski setitik.
Tapi tak apa, toh sepanjang perjalanan waktu sesudahnya, kita akan kembali baik-baik saja, sejenak lupa, sejenak tertawa, hanya sekali waktu mengingat sedih yang pernah menyapa, dan sunyi.

kehidupan kita adalah sebuah perjalanan panjang yang belum bertemu akhir. setiap orang tentu tak ingin akhir yang sia-sia, menginginkan akhir terbaik.

Jika catatan ini adalah sebuah ke"galau"an tanpa makna, maafkan saja... 
Mata bisa pedih karena banyak membaca, tangan bisa lelah karena bekerja lalu bagaimana hati tak bisa lelah karena banyak rasa yang ditanggungnya?

Maafkan hamba ya Allah... mengeluh itu tak membawa apa-apa, engkau melihat apa yang tampak dan tersembunyi, maka ampuni hamba, sepanjang perjalanan hidup ini. Aamiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar