Jumat, 04 Juli 2014

Tentang Ibu

Ibuku perempuan sederhana yang apa adanya. Penampilannya biasa saja, bahkan cenderung tak suka bergaya. Kebiasaan yang kuhapal adalah dia suka menyapa jika bertemu orang-orang yang dikenalnya dengan senyum lebar disertai gurauan. Tubuhnya yang gemuk membuatku nyaman tidur sambil memeluknya meski tak sampai setengah jam kulepas, sesak napas :P. 

Kami suka bermanja padanya, meski sudah dewasa kadang-kadang masih suka tidur dipangkuannya meski ibu tetap membiarkan diiringi keluhan bahwa kami terlalu berat untuk perlakukan seperti anak-anak, keluhan yang tentu tak digubris, dan semakin menyenangkan bermanja sambil mendengar omelannya yang tak sungguh-sungguh itu. Dia lebih suka menyibukkan dirinya dengan bekerja keras, sejak lajang ibuku sudah merantau jauh dari tanah kelahirannya. Budaya minang yang membiasakan laki-laki merantau dipakai pula oleh ibuku, beliau lahir dari salah satu kota di sumatra barat yang mayoritas profesi mereka adalah berdagang dan berjualan makanan. Ibu yang sudah yatim sejak kecil terdidik dengan baik oleh nenek, perempuan yang sama hebatnya; mampu membiayai anaknya, paling rendah tamatan sekolah tinggi. Ibuku saat bangga pada nenek, meski berulang-ulang menceritakan kisah yang sama airmatanya kerap berlinang bila mengenang nenek. Merasakan beberapa penyesalan tak terucapkan karena pernah membuat nenek terluka oleh tindakan nakal kanak-kanaknya. Beliau tetap mengenang kata-kata terakhir nenek saat anak-anaknya memohon maaf jika hati nenek tersakiti “Ambo (saya) tak pernah berkecil hati sama anak-anak, tak ada anak Ambo yang salah” sedih sungguh mengenang itu membuat ibu merasa rindunya tak terbilang pada nenek, meski telah bertahun-tahun sejak sepeninggalnya.
Ibuku sayang adalah pekerja keras sejak muda, ibu sering bilang “mama ini tidak pintar, tapi rajin” kata-kata yang diikuti dengan senyum lebar, bersyukur untuk kelebihannya dan membuatku juga tersenyum bangga padanya. Ibuku sayang, berapa banyak waktu sudah terkorbankan dan jangan ditanya lagi perjuangannya, lebih dari cukup... jika sekali waktu dia kecewa pada kami dia seringkali mengungkapkannya dalam doa-doa berharap anaknya terlindung dari murka Allah dan diberi kelapangan hati untuk memaafkan. Satu keahlian lainnya, beliau pandai benar berhitung, beritahukan padanya modal barang maka dengan cepat dia bisa memberikan pedoman harga jual dengan sekian persen keuntungan-benar-benar pedagang sejati- :p. Yah...begitulah ibuku, memang tak sempurna tapi dia berusaha mempersiapkan rencana-rencana kehidupan yang terbaik bagi kami bahkan untuk modal hidup sekalipun. 
Ibu seringkali memberi nasehat yang sama “jadi perempuan itu harus bijaksana” aku tahu maksudnya, mampukan diri untuk mengambil jalan yang menenangkan semua orang karena menyenangkan semua orang mungkin hal yang mustahil jadi bijaksanalah dalam menentukan langkah. Aku berusaha memahaminya, jelas tidak mudah membagi perhatian pada kami bertiga, anak-anaknya.   Ibu sosok yang gampang iba pada orang lain, sehingga ada yang berkata ibuku mudah dimanfaatkan orang karena gampangnya dia memberi bantuan jika dilihat/ didengarnya cerita-cerita menyedihkan tentang kehidupan orang lain. Dengan hewan pun begitu, kami bahkan pernah memiliki 7 ekor kucing dirumah..setiap yang datang layak mendapat makan dan perlindungan, sehingga sempat kubuat gurauan dengan kakak laki-lakiku “kita buat saja tulisan: semua kucing terlantar dipelihara di toko Simpang Tiga” :p merepotkan sebenarnya karena tak semua anggota keluarga suka tapi ibu bilang “sayangilah makhluk Allah, dibunuhpun mereka tak akan melawan..apa iya kita setega itu?”
Darinya aku belajar kelembutan hati dan ketulusan memberi, belajar menerima dengan kesabaran dan berjuang dengan ketegaran. Ibu bilang dia tidak tahu keahliannya apa tapi dia bisa mengerjakan apa saja, yang penting mau belajar. Pernyataan yang benar adanya. Ibuku bisa berdagang, berkebun, menjahit, menyulam, memasak -meski ini bukan bidang yang menarik perhatiannya- berdasarkan semua itu bisa kusimpulkan bahwa ibuku serba bisa, mungkin itulah keahliannya. Setelah dua kakakku berkeluarga pun ibu masih turut andil “mempertanyakan” kehidupan mereka, bertanya dalam artian yang sesungguhnya, cukupkah kebutuhan sehari-hari, belajarlah menabung, hematlah dalam berbelanja tapi jangan sampai jadi orang pelit, belajarlah berbagi pada saudara. Semuanya..aku tahu ibu ingin semuanya baik-baik saja. Dan semua perhatian itu adalah bentuk cinta yang tak terkira.

Rabu, 04 Juni 2014

Whisper

Jangan berbalik langkah, dengarkan baik-baik bisikannya, kenali dengan seksama musuh sejatimu itu, karena mengenali musuhmu dan mempelajari cara kerjanya akan membuatmu waspada. Terkadang kita merasa melakukan hal yang baik tapi pada kenyataannya itu salah satu cara syetan menggelincirkan kita dari kebenaran, jangan anggap enteng sekecil apapun dosa karena seringkali kita terlalaikan oleh sesuatu yang kita anggap remeh.
"terkadang kita terpeleset hanya karena kerikil kecil" 
kelihatan remeh bukan? jangan jadikan kesalahan yang sama sebagai dosa berkelanjutan. 

Bisa jadi saat engkau sudah berhijab sempurna, syetan berbisik, "kau tidak cukup baik, hijabmu terlalu sempurna untuk hatimu yang penuh dosa"
bisikan-bisikan itu membuatmu merasa malu bertahan pada kebaikan. membuatmu merasa dirimu buruk -tidak percaya diri pada kebenaran, seolah-olah kau merasa dirimu munafik- padahal sejatinya, syetan ingin menggelincirkanmu lebih dalam. Melepaskanmu dari kewajiban berhijab dan memperburuk akhlakmu.
Kenapa tidak dibalik saja, tetap pertahankan hijab syar'i mu dan fokuskan perbaikan pada hati dan akhlakmu. 

Di lain keadaan syetan berbisik: "kau sudah menjadi orang baik beberapa waktu belakangan ini, hal-hal yang wajib sudah kau penuhi jadi jangan terlalu kaku pada dirimu, bersenang-senanglah sedikit"
di saat itulah syetan menjerumuskan kita pada kelalaian :merasa terpuaskan dengan amal soleh yang sudah dilakukan, merasa cukup padahal belum tentu amal kita diterima, menyebabkan riya dengan amalan kita, bisa menimbulkan ujub dsb.

Jika kita memahami diri kita dengan seksama, kita akan merasakan setiap bisikan-bisikan yang selalu bersedia "berkomentar" untuk segala hal yang kita lakukan. Melebihi musuh kasat mata yang selalu mengomentari kita. 
Kenapa kita kurang beristighfar ketika hati kita tergoyah oleh bisikan syetan yang tak henti tak kenal lelah, tapi pada orang yang membenci kita kita bersedia menumpahkan segala ketidakpuasan melalui kata-kata atau tindakan balasan.
Padahal musuh nyata itu dekat dan setiap detik berkenan menemani kita mengarungi hari-hari dengan bujuk rayu untuk menjauhkan diri kita dari mengingat Allah.

Senin, 02 Juni 2014

Misery?

Ketika Iman tidak memberikan efek pada akhlakmu, what's going on? there is something wrong with u..

Ketika kita ditimpa musibah, sesuatu yang menyedihkan perasaan, menyakitkan... kita hanya punya dua pilihan: menjadikan musibah itu jalan untuk semakin mendekatkan diri pada Allah swt atau menjauh dariNya. Padahal segala hal tentang kesedihan ataupun kebahagiaan dua-duanya adalah ujian. Kebahagiaan itu ujian, kesedihan itu ujian. Seluruh kehidupan ini ujian maka kelulusan akan kita raih nanti di hari perhitungan, apakah kita layak menyandang gelar ahli surga atau ahli neraka, itulah hari pengadilan.
Dunia adalah ladang penyemaian bibit-bibit kebaikan dan menuainya nanti di akhirat ditentukan apakah bibit-bibit kebaikan kita ikhlas sehingga berbuah pahala atau rusak karena "hama-hama" riya dsb

Fudhail bin Iyadh berkata: 
“Meninggalkan amal karena orang lain adalah riya, beramal karena orang lain adalah syirik, dan ikhlash adalah apabila Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” (Syu’abul Iman, Al-Baihaqi)

Janganlah kita menyandarkan ketaatan pada kekuatan diri sendiri, melainkan karena rahmat Allah lah kita diberi kekuatan untuk menjadi taat, dan untuk meraih rahmatNya adalah dengan berusaha sekuat tenaga melakukan apa yang diperintahkanNya, melintasi batas suka dan tidak suka dan yakin bahwa Allah tak kan pernah menyia-nyiakan amal kita.

Dan memohonlah pada pemilik hati, pencipta segala makhluk, agar kita
dilindungi dari godaan syetan yang terkutuk.

Memohon hati dilimpahi keikhlasan dalam ketaatan... Aamiin ya Robbal'alamin

Minggu, 01 Juni 2014

Shalawat Nariyah

 Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

Di surau sana terdengar lantunan shalawat..
Suaranya merdu dan nadanya sendu..
Ushollii sholaatan kaamilatan..
Wa usholli salaaman taamman..
'Alaa sayyidina Muhammad..
Alladzii tanhallu bil 'uqodu..
Wa tanfariju bihil kurobu..
Wa tuqdlo bihil hawaiju..
Wa tunaalu bihir Raghaibu..

Hatiku miris..
Lisanku berucap laa ilahaa illallah..
Kesyirikan apa ini..
Katanya Nabi Muhammad bisa memutuskan semua ikatan..
Bisa menghilangkan kesusahan..
Bisa memenuhi kebutuhan..
Dengan beliau bisa meraih yang kita inginkan..

Maha suci Allah..
Tak berhak makhluk disifati dengan sifat ilah..
Setinggi apapun derajatnya..
Seakan firman Allah telah hilang..
قل لا أملك لنفسي نفعا ولا ضرإ إلا ما شاء الله
"Katakan, aku tidak dapat memiliki untuk diriku manfaat dan mudlarat kecuali apa yang Allah kehendaki." (Al A'raf: 188).

Nabi atau wali..
Manusia biasa yang tak dapat memberi manfaat dan mudlarat..
Kita meyakini akan ketinggian derajat mereka..
Kita pun mencintai mereka dengan sepenuh hati..
Namun bukan cinta yang berlebihan..
Dengan menyamakan mereka dengan pencipta alam..
Laa ilaaha illallah..

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengingatkan..
لا تطروني كما أطرت النصارى عيسى بن مريم
"Janganlah berlebihan memujiku..
Seperti kaum Nashrani memuji Isa bin Maryam."

Sabtu, 17 Mei 2014

Maulid oh Maulid

Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc
Di bulan ini banyak orang merayakan maulid..
Katanya sebagai rasa cinta kita kepada Rasulullah..
Padahal hakikat cinta adalah ittiba'..
Cobalah renungkan firman Allah..
قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني
"Katakan, "Jika kalian mencinta Allah, maka ikutilah aku (Rasulullah).. (Ali Imron: 31).

Ittiba' adalah mengikuti jejak kaki Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam..
Bukan mendahuluinya..

Tanyakanlah pada diri kita..
Mampukah Rasulullah merayakan kelahirannya?..
Bukankah para shahabat amat mencintainya?..
Lalu mengapa Rasulullah tidak memerintahkan tidak pula mencontohkan..
Padahal beliau mampu dan pendorong cinta amat kuat..

Tanyakan pada diri kita..
Apakah kita lebih tahu kepada kebaikan..
Ataukah Rasulullah dan generasi yang diutamakan..
Apakah kita lebih cinta kepada Rasulullah..
Ataukah para shahabat yang diridlai oleh Allah..

Bila anda berkata, "Ini hanyalah sarana..
Kita hanya berkata, "Sarana oh sarana..
Seakan engkau menghalalkan segala cara..
Bila itu memang sarana menuju cinta..
Tentu para shahabat, tabi'in dan imam yang empat telah berlomba..

Padahal Rabbuna telah mengabarkan..
اليوم أكملت لكم دينكم
"Pada hari ini aku telah sempurnakan agamamu.." (Al Maidah: 3).
Kabarkan kepadaku..
Apakah islam telah sempurna tanpa perayaan maulid?..
Bila anda berkata, "Ya..
Buat apa kita disibukkan dengan sesuatu yang bukan agama..
Bila anda menjawab, "Tidak..
Sungguh anda telah mengingkari firman pencipta Allam..

Ya Allah berikan petunjuk kepada kami dan mereka.. Amiin

Minggu, 11 Mei 2014

Sabar

Bismillahirrahmanirrahim...

Berbicara tentang keinginan maka banyak sekali hal yang akan disampaikan, dari sesuatu yang bisa dilakukan sampai hal yang mustahil. Begitu panjangnya angan-angan sehingga mendorong manusia melakukan segala hal agar tercapai segala keinginan. Maka berusahalah jangan sekedar berandai-andai, tapi bercita-citalah untuk mencapai apa yang diinginkan dengan segenap niat dan ikhtiar terbaik untuk mewujudkannya, dan sederhanakan keinginan.

Seringkali berandai-andai hanya memanjakan angan pada sesuatu secara berlebihan, nafsu menikmatinya dan syetan membisikkannya dengan kenikmatan semu. Buatlah rencana yang tepat, persiapkan diri, dan ukur kemampuan dengan mempertimbangkan resiko yang ada sehingga diri siap dengan segala ketidakpastian yang akan terjadi di masa depan, siap jika takdir Allah  tidak sesuai dengan harapan dan kerja keras.

terkadang kita harus menerima kenyataan yang mengecewakan namun imbangi kepedihan itu dengan kesadaran dan kesabaran. kekecewaan diharapkan tidak berdampak berlebihan sehingga membunuh semangat berjuang, pun saat kesedihan merenggut kesabaran tak perlu berakhir dengan matinya harapan, cukup tundukan hati sejenak untuk merenungi takdir sebagai tindakan yang lumrah bahwa diri adalah manusia biasa yang bisa kecewa saat godam nyata tak sesuai asa,bahwa setiap hati kita bisa terluka saat kesedihan menghantam jiwa, hanya saja..cukup sejenak. 

Pada saat sesak bisa sedikit berkurang, saat itu berilah ruang hati untuk menghirup udara kesabaran yang menyejukkan sehingga terpompa kembali semangat untuk berjuang.

Never give up until you back to the Lord: Allah subhana wa ta'ala

Sabtu, 10 Mei 2014

Destiny

Kita tak bisa menerima dan berhenti begitu saja
Pada kenyataan yang melingkupi hidup
Benar, menerima dan pasrah pada ketetapanNya adalah bagian keimanan
Namun berusaha menjadi lebih baik adalah keharusan
Bukan menjadikan ucapan ''sudah begini takdir saya"; sebagai kekalahan
tapi bentuk tawakal diri bahwa pengetahuan Ilahi meliputi segala sesuatu
pada yang tampak dan tersembunyi
pada apa yang diniatkan dan dilakukan
pada apa yang diangan-angankan hati
bahkan yang digumamkan lisan
Allah tahu segalanya.
Tak bisa kita berpaling dariNya
Tuhan dengan Pengetahuan dan KebijaksanaanNya
mengajarkan kita tentang keadilan pada apa yang kita terima
Mengolah rasa pada apa-apa yang dicintai dan dibenci
Menjadi hasil terbaik dan sesuai dengan rencanaNya
Bukankah kita hidup untuk menyesuaikan diri dengan kehendak Sang Pencipta
Jika ketaatan dan bakti pada seorang ibu disebut kewajaran
karena kerelaan Bunda mengorbankan segalanya demi anak tercinta
Maka, ketaatan pada perintah Ilahi adalah kewajaran yang sangat normal dilaksanakan
karena Dia yang menciptakan kita
Mematikan kita
Lalu menghidupkan kita lagi untuk di adili
Tiada yang mustahil bagiNya