Ibuku perempuan
sederhana yang apa adanya. Penampilannya biasa saja, bahkan cenderung
tak suka bergaya. Kebiasaan yang kuhapal adalah dia suka menyapa jika
bertemu orang-orang yang dikenalnya dengan senyum lebar disertai
gurauan. Tubuhnya yang gemuk membuatku nyaman tidur sambil memeluknya
meski tak sampai setengah jam kulepas, sesak napas :P.
Kami suka
bermanja padanya, meski sudah dewasa kadang-kadang masih suka tidur
dipangkuannya meski ibu tetap membiarkan diiringi keluhan bahwa kami
terlalu berat untuk perlakukan seperti anak-anak, keluhan yang tentu
tak digubris, dan semakin menyenangkan bermanja sambil mendengar
omelannya yang tak sungguh-sungguh itu. Dia lebih suka menyibukkan
dirinya dengan bekerja keras, sejak lajang ibuku sudah merantau jauh
dari tanah kelahirannya. Budaya minang yang membiasakan laki-laki
merantau dipakai pula oleh ibuku, beliau lahir dari salah satu kota
di sumatra barat yang mayoritas profesi mereka adalah berdagang dan
berjualan makanan. Ibu yang sudah yatim sejak kecil terdidik dengan
baik oleh nenek, perempuan yang sama hebatnya; mampu membiayai
anaknya, paling rendah tamatan sekolah tinggi. Ibuku saat bangga pada
nenek, meski berulang-ulang menceritakan kisah yang sama airmatanya
kerap berlinang bila mengenang nenek. Merasakan beberapa penyesalan
tak terucapkan karena pernah membuat nenek terluka oleh tindakan
nakal kanak-kanaknya. Beliau tetap mengenang kata-kata terakhir nenek
saat anak-anaknya memohon maaf jika hati nenek tersakiti “Ambo
(saya) tak pernah berkecil hati sama anak-anak, tak ada anak Ambo
yang salah” sedih sungguh mengenang itu membuat ibu merasa
rindunya tak terbilang pada nenek, meski telah bertahun-tahun sejak
sepeninggalnya.
Ibuku sayang adalah
pekerja keras sejak muda, ibu sering bilang “mama ini tidak pintar,
tapi rajin” kata-kata yang diikuti dengan senyum lebar, bersyukur
untuk kelebihannya dan membuatku juga tersenyum bangga padanya. Ibuku
sayang, berapa banyak waktu sudah terkorbankan dan jangan ditanya
lagi perjuangannya, lebih dari cukup... jika sekali waktu dia kecewa
pada kami dia seringkali mengungkapkannya dalam doa-doa berharap
anaknya terlindung dari murka Allah dan diberi kelapangan hati untuk
memaafkan. Satu keahlian lainnya, beliau pandai benar berhitung,
beritahukan padanya modal barang maka dengan cepat dia bisa
memberikan pedoman harga jual dengan sekian persen
keuntungan-benar-benar pedagang sejati- :p. Yah...begitulah ibuku,
memang tak sempurna tapi dia berusaha mempersiapkan rencana-rencana
kehidupan yang terbaik bagi kami bahkan untuk modal hidup sekalipun.
Ibu seringkali memberi nasehat yang sama “jadi perempuan itu harus
bijaksana” aku tahu maksudnya, mampukan diri untuk mengambil jalan
yang menenangkan semua orang karena menyenangkan semua orang mungkin
hal yang mustahil jadi bijaksanalah dalam menentukan langkah. Aku
berusaha memahaminya, jelas tidak mudah membagi perhatian pada kami
bertiga, anak-anaknya. Ibu sosok yang
gampang iba pada orang lain, sehingga ada yang berkata ibuku mudah
dimanfaatkan orang karena gampangnya dia memberi bantuan jika
dilihat/ didengarnya cerita-cerita menyedihkan tentang kehidupan
orang lain. Dengan hewan pun begitu, kami bahkan pernah memiliki 7
ekor kucing dirumah..setiap yang datang layak mendapat makan dan
perlindungan, sehingga sempat kubuat gurauan dengan kakak laki-lakiku
“kita buat saja tulisan: semua kucing terlantar dipelihara di toko
Simpang Tiga” :p merepotkan sebenarnya karena tak semua anggota
keluarga suka tapi ibu bilang “sayangilah makhluk Allah, dibunuhpun
mereka tak akan melawan..apa iya kita setega itu?”
Darinya aku belajar
kelembutan hati dan ketulusan memberi, belajar menerima dengan
kesabaran dan berjuang dengan ketegaran. Ibu bilang dia tidak tahu
keahliannya apa tapi dia bisa mengerjakan apa saja, yang penting mau
belajar. Pernyataan yang benar adanya. Ibuku bisa berdagang,
berkebun, menjahit, menyulam, memasak -meski ini bukan bidang yang
menarik perhatiannya- berdasarkan semua itu bisa kusimpulkan bahwa
ibuku serba bisa, mungkin itulah keahliannya. Setelah dua kakakku
berkeluarga pun ibu masih turut andil “mempertanyakan” kehidupan
mereka, bertanya dalam artian yang sesungguhnya, cukupkah kebutuhan
sehari-hari, belajarlah menabung, hematlah dalam berbelanja tapi
jangan sampai jadi orang pelit, belajarlah berbagi pada saudara.
Semuanya..aku tahu ibu ingin semuanya baik-baik saja. Dan semua
perhatian itu adalah bentuk cinta yang tak terkira.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar