Jangan berbalik langkah, dengarkan baik-baik bisikannya, kenali dengan seksama musuh sejatimu itu, karena mengenali musuhmu dan mempelajari cara kerjanya akan membuatmu waspada. Terkadang kita merasa melakukan hal yang baik tapi pada kenyataannya itu salah satu cara syetan menggelincirkan kita dari kebenaran, jangan anggap enteng sekecil apapun dosa karena seringkali kita terlalaikan oleh sesuatu yang kita anggap remeh.
"terkadang kita terpeleset hanya karena kerikil kecil"
kelihatan remeh bukan? jangan jadikan kesalahan yang sama sebagai dosa berkelanjutan.
Bisa jadi saat engkau sudah berhijab sempurna, syetan berbisik, "kau tidak cukup baik, hijabmu terlalu sempurna untuk hatimu yang penuh dosa"
bisikan-bisikan itu membuatmu merasa malu bertahan pada kebaikan. membuatmu merasa dirimu buruk -tidak percaya diri pada kebenaran, seolah-olah kau merasa dirimu munafik- padahal sejatinya, syetan ingin menggelincirkanmu lebih dalam. Melepaskanmu dari kewajiban berhijab dan memperburuk akhlakmu.
Kenapa tidak dibalik saja, tetap pertahankan hijab syar'i mu dan fokuskan perbaikan pada hati dan akhlakmu.
Di lain keadaan syetan berbisik: "kau sudah menjadi orang baik beberapa waktu belakangan ini, hal-hal yang wajib sudah kau penuhi jadi jangan terlalu kaku pada dirimu, bersenang-senanglah sedikit"
di saat itulah syetan menjerumuskan kita pada kelalaian :merasa terpuaskan dengan amal soleh yang sudah dilakukan, merasa cukup padahal belum tentu amal kita diterima, menyebabkan riya dengan amalan kita, bisa menimbulkan ujub dsb.
Jika kita memahami diri kita dengan seksama, kita akan merasakan setiap bisikan-bisikan yang selalu bersedia "berkomentar" untuk segala hal yang kita lakukan. Melebihi musuh kasat mata yang selalu mengomentari kita.
Kenapa kita kurang beristighfar ketika hati kita tergoyah oleh bisikan syetan yang tak henti tak kenal lelah, tapi pada orang yang membenci kita kita bersedia menumpahkan segala ketidakpuasan melalui kata-kata atau tindakan balasan.
Padahal musuh nyata itu dekat dan setiap detik berkenan menemani kita mengarungi hari-hari dengan bujuk rayu untuk menjauhkan diri kita dari mengingat Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar