Jumat, 06 Desember 2013

Cinta, Takut dan Harap Kepada Alloh

Bismillah... waktunya "awakening" kembali pada hakikat penciptaan diri = ibadah

Penulis: Abu Uzair Boris Tanesia
Artikel www.muslim.or.id


Ibadah bukanlah sekedar gerakan jasad yang terlihat oleh mata, namun juga harus menyertakan yang lain. Sebagaimana seseorang yang sedang melaksanakan sholat, ia tidak hanya bergerak untuk melaksanakan setiap rukun dan wajib sholat, tetapi juga harus menghadirkan hati sebagai ruh sholat tersebut. Bahkan jika seseorang menampakkan kekhusyukan badan dan hatinya kosong dan bermain-main maka ia terjatuh dalam kekhusyukan kemunafikan.

Ketahuilah, bahwa ibadah seorang hamba harus dibangun oleh tiga pilar, dan ketiganya harus terkumpul seluruhnya dalam setiap muslim. Ibadah seseorang tidaklah akan benar dan sempurna kecuali dengan adanya pilar-pilar tersebut. Bahkan sebagian ulama mengatakannya sebagai ‘rukun ibadah’. Tiga hal itu adalah “cinta, takut dan harap”. Sehingga seorang salaf berkata, “Barang siapa beribadah kepada Alloh dengan cinta saja maka dia seorang zindiq, barang siapa beribadah hanya dengan khouf (takut) saja maka haruri (khowarij), barang siapa beribadah hanya dengan rasa harap saja maka dia seorang murji’ dan barang siapa yang beribadah dengan cinta, takut dan harap maka dia seorang mukmin.”

Cinta

Cinta adalah rukun ibadah yang terpenting, karena cinta adalah pokok ibadah. Makna cinta tidak terbatas hanya kepada hubungan kasih antara dua insan semata, namun sesungguhnya makna dari cinta itu lebih luas dan dalam. Kecintaan yang paling agung dan mulia di dalam kehidupan kita ini adalah kecintaan kita kepada Alloh. Dimana jika seorang hamba mencintai Alloh, maka dia akan rela untuk melakukan seluruh hal yang diperintahkan dan menjauhi seluruh hal yang dilarang oleh yang dicintainya tersebut. Cinta kepada Alloh juga mengharuskan membenci segala sesuatu yang dibenci oleh Alloh. Sesungguhnya apabila ditanyakan kepada setiap muslim “Apakah anda mencintai Alloh?” maka tentu dia akan menjawab “Tentu saja”.

Namun pernyataan tanpa bukti tidaklah bermanfaat. Alloh tidak membutuhkan pernyataan belaka, Dia menginginkan agar kita membuktikan pernyataan kita “Aku cinta Alloh”. Oleh karena itulah, Alloh menguji setiap muslim dalam firman-Nya, “Katakanlah (wahai muhammad): Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31). Ya, bukti kecintaan kita kepada Alloh adalah dengan mengikuti Rasululloh dalam segala hal. Bahkan kecintaan kita terhadap beliau harus lebih dari kecintaan kita terhadap diri sendiri dan keluarga. Beliaulah teladan baik dalam aqidah, ibadah, akhlak, muamalah dan sebagainya. Alloh berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al Ahzab: 21)

Maka jika kita mencintai Alloh, mari kita buktikan dengan menjadikan Rasululloh sebagai panutan kita, bukan dengan menjadikan orang-orang kafir sebagai panutan, walaupun mereka itu populer dan terkenal seperti artis, selebritis dan semacamnya. Karena sesungguhnya Rosululloh bersabda “Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya (di hari akhirat nanti).” (HR. Muslim). Dimana makna dari hadits ini adalah jika ketika di dunia kita mencintai orang-orang shaleh (seperti para rosul dan nabi) dan menjadikan mereka teladan, maka di akhirat nanti kita akan bersama mereka, dan sebaliknya jika ketika di dunia kita mencintai orang-orang kafir dan menjadikan mereka teladan, maka di akhirat nanti kita pun akan bersama mereka. Bukankah tempat mereka di akherat merupakan seburuk-buruk tempat. Duhai, betapa musibah yang sangat besar!

Takut

Pilar lainnya yang mesti ada dalam ibadah seorang muslim adalah rasa takut. Dimana dengan adanya rasa takut, seorang hamba akan termotivasi untuk rajin mencari ilmu dan beribadah kepada Alloh semata agar bebas dari murka dan adzab-Nya. Selain itu, rasa takut inilah yang juga dapat mencegah keinginan seseorang untuk berbuat maksiat. Alloh berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.” (Al Anbiya: 49)
Rasa takut ada bermacam-macam, namun yang takutnya seorang muslim ialah takut akan pedihnya sakaratul maut, rasa takut akan adzab kubur, rasa takut terhadap siksa neraka, rasa takut akan mati dalam keadaan yang buruk (mati dalam keadaan sedang bermaksiat kepada Alloh), rasa takut akan hilangnya iman dan lain sebagainya. Rasa takut semacam inilah yang harus ada dalam hati seorang hamba.

Harap

Pilar berikutnya yang harus ada dalam ibadah seorang hamba adalah rasa harap. Rasa harap yang dimaksud adalah antara lain harapan akan diterimanya amal kita, harapan akan dimasukkan surga, harapan untuk berjumpa dengan Alloh, harapan akan diampuni dosa, harapan untuk dijauhkan dari neraka, harapan diberikan kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat dan lain sebagainya. Rasa harap inilah yang dapat mendorong seseorang untuk tetap terus berusaha untuk taat, meskipun sesekali dia terjatuh ke dalam kemaksiatan namun dia tidak putus asa untuk terus berusaha sekuat tenaga untuk menjadi hamba yang taat. Karena dia berharap Alloh akan mengampuni dosanya yaitu dengan jalan bertaubat dari kesalahannya tersebut dan memperbanyak melakukan amal kebaikan. Sebagaimana firman Alloh “Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Az Zumar: 53)

Harapan berbeda dengan angan-angan. Sebagai contoh orang yang berharap menjadi orang baik maka ia akan melakukan hal-hal yang merupakan ciri-ciri orang baik, sedangkan orang yang berkeinginan menjadi orang baik namun tidak berusaha untuk melakukan kebaikan maka orang-orang inilah yang tertipu oleh angan-angan dirinya sendiri.

Urgensi Cinta, Takut dan Harap Dalam Ibadah

Ketiga pilar yang telah disebutkan di atas harus terdapat dalam setiap ibadah seorang hamba. Tidaklah benar ibadah seseorang jika satu saja dari ketiga hal tersebut hilang. Seseorang yang memiliki rasa takut yang berlebihan akan menyebabkan dirinya putus asa, sedangkan jika rasa takutnya rendah maka dengan mudahnya dia akan bermaksiat kepada Tuhannya.

Kebalikannya seseorang yang berlebihan rasa harapnya akan menyebabkan dia mudah bermaksiat dan jika rendah rasa harapnya maka dia akan mudah putus asa. Sedangkan kedudukan cinta, maka cinta inilah yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Sehingga diibaratkan bahwa kedudukan ketiga pilar ini dalam ibadah bagaikan kedudukan seekor burung, dimana rasa takut dan harap sebagai kedua sayapnya yang harus seimbang dan rasa cinta sebagai kepalanya yang merupakan pokok kehidupannya.
***

Kamis, 05 Desember 2013

All about ME - part 2 (kisah masa lalu)

Melanjutkan kisah yang tertunda. Sebenarnya hati agak enggan menulis, akhir-akhir ini perasaanku benar-benar kebas, bosan tengah menyergap. Namun membiarkan kondisi seperti ini berlarut tidak akan merubah keadaan. "Finish what you started" ya... selesaikan apa yang sudah kamu mulai.
Membiarkan jari jemari merangkai kata, semoga ada cerita yang tercipta... 


Mahasiswa itu..
Menjadi mahasiswa adalah proses mandiri dan belajar menyesuaikan diri dalam berbagai hal. Bertanggung jawab pada apa yang diperbuat dan melaksanakan apa yang direncanakan, mengatur keuangan sebaik mungkin dan merencanakan kelulusan agar tepat pada waktunya.

Aku bukan orang yang suka menghabiskan waktu berjalan-jalan untuk window shopping yang butuh waktu berjam-jam di mall atau counter pakaian. Sangat penat dan melelahkan. Saat itu aku paham kenapa teman kos enggan mengajak ku berbelanja, mungkin karena aku tak pandai merespon apa yang menarik dari pilihan mereka, memutari pusat perbelanjaan tanpa tujuan jelas apa yang dibeli semakin membuat kepala berdenyut, pusing. Maaf teman, aku tak tahu apa itu fashion dan tren kekinian. Menurutku sepanjang itu rapi, pantas dan nyaman dikenakan maka tidak jadi masalah. Menurutku cantik itu adalah sederhana yang tetap menjaga etika agama, anggun. Sejak saat itu aku semakin terkagum-kagum pada akhwat yang mampu menjaga auratnya, sempurna. :)

Me and my own self 
Jika ada waktu luang, sendiri ku habiskan waktu berjam-jam mengitari rak buku di Toga Mas -pusat perbelanjaan buku- dan menghabiskan beberapa lembar ratusan ribu hasil penyisihan jatah bulanan, belanja ini lebih bermakna dan tak ada ruginya menurutku, karena dasarnya sudah suka. :)
atau ketika kebosanan melanda dan aku lagi enggan membaca, kuhabiskan waktu menyusuri trotoar  Malioboro -sendirian- mengukur jalan sembari melihat-lihat kesibukan para pedagang, lebih tak punya tujuan. 

Ketika tak ada rencana liburan keluar dan dompet lagi sepi penghuni :P, aku lebih nyaman menghabiskan waktu di kamar kos seharian, bermain komputer, menyewa beberapa keping film dan menyiapkan menu logistik. Lalu terciptalah bioskop pribadi di kamar kos. Itu sudah jadi hiburan yang lebih dari cukup buatku. Atau di akhir pekan, jika kondisi dompet dan alam mendukung, kami -2 saudaraku dan sepupu- berplesir ke berbagai pantai di Jogja, itu sangat menarik buatku. I Love it. I really love scenery.

Berbicara tentang film aku memilih berdasarkan cerita dan tergantung mood saja. Memilih pun berdasarkan menarik atau tidak ceritanya bukan siapa pemerannya. Beberapa daftar film yang kusukai bergenre drama keluarga, psikologi, tema peperangan maupun documenter. Beberapa yang berkesan diantaranya: Saving Private Ryan, 1 litre of Tears, The Cove, Yip Man, The Way Back, Haciko, War Horse, My Way.
Inilah top list film menarik yang pernah kutahu dan ku tonton. Aku menyukai itu semua karena kisahnya yang bermakna, mengharukan dan penuh pembelajaran.

Kalau dipikir lagi, aku termasuk pribadi yang tertutup untuk apa-apa yang kusukai, aku tak tertarik menceritakan masalah pribadi -selagi permasalahan itu masih bisa kutanggung dan mampu mencari solusi akan ku atasi sendiri- aku tak ingin menyusahkan orang lain dengan beban hati tapi aku suka menjadi pendengar bagi teman yang ingin berbagi sehingga beberapa dari teman percaya untuk menceritakan masalah dan rahasia mereka, mungkin menurut mereka orang yang tak banyak bicara tak akan suka menebar berita. Padahal sebenarnya mendengar banyak rahasia itu amanah besar. 

Nilai Keimananku
Aku tak berani katakan aku sudah baik, namun terus berusaha memperbaiki diri karena menjadi hamba yang solehah adalah proses seumur hidup.
"Lakukan apapun dari ilmu yang sudah kamu ketahui, saat ini juga, semampumu." Begitulah aku berusaha mengisi kantong-kantong amalku. Atas nama cinta pada Allah, mengharap ampunan dan ridhoNya untuk mencapai syurgaNya. Sembari terus berusaha dan berdoa.

"Ya Allah... izinkan aku mencintaiMu semampuku
Mentaati perintahMu, melintasi batas suka dan tidak suka"
"Ya Rabb... letakkan dunia ditanganku, jangan di hatiku."


Jelas... masih jauh diri ini dari kesempurnaan. Tapi perbekalan harus selalu dipersiapkan.
Dari buku agama yang pernah kubaca, musik haram, lalu mulailah aku menghapus semua draft lagu dan musik dari komputerku. Hapus..download lagi...hapus lagi. Berat nafsu membujuk rayu ketika masa galau membuatku berpaling pada hiburan yang menyesatkan itu. Try hard to get it out from my system. Alhamdulillah semua sudah berlalu.

Sejatinya tak ada kisah yang sempurna atau bahagia yang tanpa cela. Begitupun kehidupanku. Perjalanan hidup bukanlah jalan mulus tanpa kerikil, bahkan batuan besar pun bisa menghadang. Pasang surut kehidupan memahamkanku pada banyak rasa dan mengajarkanku banyak hal, bahwa air yang nampak tenang dipermukaan pun mampu menciptakan gelombang arus yang terkadang menghanyutkan, berat untuk dihadapi.

Alhamdulillah... semua terlewati meski segala sesuatunya tak kan kembali sama seperti semula. Tetap ada akar-akar duka yang tertinggal yang setiap saat diperjuangkan untuk hilang. Tuntas.

Salah satu sandungan itu adalah kecelakaan yang ku alami pada tahun 2007, patah tulang kaki dan aku harus melewati masa pemulihan selama 2 bulan, berjalan dengan tongkat. Masa yang penuh hikmah. 

Me and my heart
Bertambah usia memunculkan berbagai pertanyaan yang mulai "mengganggu" ketenangan sendiri ku, menyadarkan bahwa aku butuh seseorang, teman seperjalanan, separuh hati untuk menggenapkan separuh agama. Seseorang yang dengannya ku berbagi segalanya.

Dulu, ketika kisah merah jambu terhapus dari kamus hatiku karena tanggung jawab studi, aku tak terlalu memperdulikan hati. Meski rasa itu sempat singgah, aku berusaha memangkasnya karena aku tahu rasaku tak kan bernilai bahagia jika menempuh jalan yang dimurkaiNya. Aku tak ingin mengkhianati hati dan imanku yang baru seujung kuku hanya karena cinta pada waktu yang tak semestinya.
Setelah itu ku lalui waktu dengan prinsip "dengan siapapun aku menikah kelak aku akan menjalaninya dengan baik". Sesederhana itu. Aku mengabaikan soal perasaan dan hatiku. Pada kenyataannya aku hanyalah perempuan biasa, butuh keyakinan hati untuk jalan panjang yang ku tempuh nanti.

Pemahaman yang bertambah membuatku menyadari bahwa optimismeku kebablasan. Dan persoalan satu ini benar-benar tak bisa dipaksakan oleh keadaan karena tak ada yang bisa dipaksakan bagi hati. Setelah itu waktuku berkejaran antara harapan dan pertanyaan tentang siapa, kapan dan dimana. Sejenak masalah ini menggelisahkan hati, kesedihan yang belum pernah kurasakan sebelumnya -sunyi dan ngilu yang menekan ke ulu hati- kesedihan yang berbeda rasa dari kisah cinta yang muncul pada waktu yang tidak semestinya.

Aku tak bisa mengatakan aku sabar menghadapi keadaan ini, dadaku sesak oleh beban yang menghimpit membuat jantungku terkadang terasa sakit. Saat-saat krusial itulah aku merasakan nikmatnya mengadu kepada Allah, berharap pada cintaNya, nikmatnya berserah padaNya. Pengharapan dan kerinduan yang sangat ketika sholat, kerinduan untuk memperoleh ampunan dan ridhoNya. Mengingat segala nikmat yang selalu Allah beri menyadarkan diri ini untuk bersyukur dalam segala situasi, suka tidak suka. Jika ini disebut hidayah maka sungguh karunia besarlah aku bisa memperolehnya. Allahuakbar... "sesungguhnya di setiap kesulitan ada kemudahan"

Seiring perjalanan waktu aku berdamai dengan hati, tak lagi memaksakan diri dan tak lagi tertekan dengan pengharapan yang belum bisa terwujud. Bertambah tenang dengan keyakinan bahwa Allah menetapkan yang terbaik untuk segalanya. Meskipun begitu aku tak pernah lelah berdoa karena putus asa bukanlah jawabannya.

======================================================================== Kisah hidupku mungkin bukan hal yang menarik bagi orang lain, hanya sebuah kisah sederhana dari perjalanan hidup seorang hamba. Namun ini berarti banyak bagiku, memberi hikmah yang luar biasa karena aku yakin tak ada yang sia-sia dari penciptaanNya.
Kelak, 5 atau 10 tahun mendatang jika aku masih hidup, ingin ku "napaktilasi" kisah ini dan melihat bagaimana aku memandang diriku saat itu.
Setelah ini, adakah hikmah lebih besar yang kudapatkan? Wallahu'alam.

Teacher kelas bahasa inggrisku pernah berkata:  you are sincere
Alhamdulillah... 
tapi, masihkah sifat itu kumiliki hingga kini?
atau adakah sebagian yang hilang dari diri ini?

Aku tak bisa menjanjikan yang terbaik 
tapi aku akan melakukan terbaik yang aku bisa.

Rabu, 04 Desember 2013

Kunci Khusyu' dalam Shalat

Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

Banyak orang bertanya..
Bagaimana cara khusyu' dalam shalat?..
Seminar dan kursus pun diadakan..
Agar bisa khusyu' dalam shalat..
Padahal..
Kunci khusyu' itu ada di awalnya..
Ia adalah ucapan: Allahu Akbar..
Allahu Maha besar..

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
"Membuka shalat dengan lafadz ini mempunyai rahasia yang agung..
Seorang hamba ketika berdiri di hadapan Allah..
Ia yakin bahwa tidak ada sesuatupun yang lebih besar dari Allah..
Dan hatinya merasakan dan masuk ke dalam relungnya..
Ia akan malu kepada Allah..
Keagungan dan kebesaranNya..
Menghalangi hatinya memikirkan yang lain..
Siapa yang tidak merasakan makna ini..
Ia akan berdiri dengan jasadnya saja..
Sementara hatinya..
Tenggelam dalam lembah waswas dan pikiran lain..
Kalaulah Allah lebih besar dari segala sesuatu di hatinya..
Tentu ia tidak akan sibuk memikirkan yang lainnya..
(Jami' fiqih ibnul qayyim 2/41).

Tak akan khusyu' hati yang tak membesarkan Allah..
Walau lisan berucap Allahu Akbar..
Walau seribu kursus dihadiri..
karena..
Khusyu' adalah perbuatan hati..
Yang muncul dari rasa takut kepada sang pencipta..
Dan takut itu karena hati membesarkan dan mengagungkan Allah..

Ya Allah..
Beri kami kekhusyu'an..

Tiga Jalan

Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

Ibnu Qayyim rahimahullahu berkata:
Orang yang berakal mengetahui bahwa setan mempunyai tiga jalan untuk menggodanya:

Pertama: Berlebihan dan boros..
Obatnya adalah memberikan jiwa sebatas kebutuhannya berupa gizi, tidur, kelezatan dan istirahat..

Kedua: kelalaian..
Orang yang senantiasa berdzikir..
Ia berada dalam benteng yang kokoh..
Bila ia lalai..
Ia telah membuka sebuah pintu untuk musuh..

Ketiga: membebani diri dengan sesuatu yang bukan urusannya dalam seluruh perkara..

(Al Fawa-id hal 246).

Selasa, 03 Desember 2013

Kutipan novel Birunya Langit Cinta

Novel yang membuatku jatuh cinta pada ceritanya, kata-katanya yang memikat, dan kedalaman makna yang tersirat. Tak pernah bosan membacanya.
Baiklah... aku ingin selalu menyimpan rasa itu, di sudut hati.
  • Selamat jatuh cinta! -sekali lagi- kepada segala yang patut kita cintai. Bersiaplah untuk itu.
  • Oke. Dia mencintaiku. Aku pun sebaliknya. Kami memang mulai jatuh cinta yang sedalam-dalamnya tepat di hari pernikahan kami.
  • Tersandung duka, Bunda. Aku memeluk apa. Aku mereguk apa. Desahku hanya daun-daun yang luruh jatuh. Marahku terbentur pada tulus yang ingin kubendung dengan bola lampu yang terang. Aku ingin nyalakan lampu itu di hatiku yang kini terketuk bencana. Aku ingin sandungku ini tak lain karena ingin memelukNya nanti di sana. Biar aku mereguk nikmat terpetik dari duri yang di baliknya ada sepenuh pahala. Pahala yang berlebih kadarnya agar terkatup jua dosaku.
  • "Sepertinya aku sudah gila. Aku jatuh cinta pada saat yang tidak tepat. Sebenarnya ini sangat memalukan untuk ku katakan padamu . Ingin kutanyakan obatnya, tapi sudah tahu jawabannya. Aku harus banyak berpuasa untuk menahan nafsu dan menambah raka'at sholat malam. Benar kan? Aku sudah melakukannya. Tetapi kenapa aku malah sangat kecewa saat mendengar bahwa dia akan menikah? Tolong, aku sakit."
  • "Kau sudah tahu obatnya, Ukhti. Dan perbanyaklah zikir, agar cintamu makin meluas hanya untukNya. Aku berusaha memahami apa yang kau rasakan. Aku tahu itu sulit. Tapi selama kau memeranginya, maka kau sedang menimbun pahala jihadmu, Dey. Bukankah menahan gejolak yang tidak halal ini berpahala jihad? Dan ingatlah, aku tak pernah beranjak dari sisimu, kita akan selalu saling membantu."
  • "Sekali-kali batu karang raksasa pun mampu pecah karena kemarahan ombak. Maka tak mungkin jika sekerat hati tak pernah retak atau patah, padahal telah banyak badai yang membenturnya."
  • "Seandainya aku sekerat hati, maka ia tak retak atau patah, tapi berdarah. Aku yang memegang pisaunya, aku sendiri yang menyayatnya. Lalu datang satu hati lain yang bersih, dan dia membawa jauh pisauku, tanpa melumuri hatiku terlebih dahulu, dengan ramuan penyembuh luka."
  • Dey, kau pernah bersalah dalam memperlakukan cinta dan hubungan dengan seseorang. Kau pernah terpuruk karena dosa itu. Kau susah payah membenahi dirimu.
  • Ya Allah yang maha membolak-balikkan hati, saya selalu mengira saya sanggup mengakarkan ghaudul bashar di mata, hati, dan pikiran saya. Tapi sejenak saya berpaling karena bisikan neraka, saya sekaligus terjerat di jaring yang bernama ketidakberdayaan. Lalu saya mulai mempercayakan ketakberdayaan itu untuk merusak benteng iman saya: bahwa Kekasih saya hanya Allah saja.
  • Sekarang entah, saya tahu bahwa cinta kepada makhluk dengan cara seperti ini adalah kehinaan, tetapi sekaligus saya hampir mati menolak untuk mengakuinya. Lalu bagaimana?....
  • Dia tiba-tiba datang dan ingin tahu tanggapan saya terhadap embusan angin yang telah beredar. Saya mengatakan padanya untuk bertanyalah pada hati, sebab kita tahu jawabannya ada di sana. Namun beberapa detik setelah saya menjauh, saya bertanya pada hati saya yang telah tertitik noda ini: dan aneh, saya sendiri tidak mengerti jawabannya.
  • Ada sepasang tangan gugup di belakang tubuh, ada kata-kata gemetar, ada sirat di mata yang kelu dan sedih, ada langkah kaki kaku, ada persuaan dengan masa lalu, ada langit biru cinta yang kembali menaungi, ada yang tak terungkap oleh raga dan bahasa. Ah, di mana seorang pendaki gunung yang tersesat? Ia harus kembali, bukan? Benar.
  • Pendaki menyerahkan sepasang tangan gugup itu kepada sang langkah kaki kaku saja. Begitu lebih baik, lebih indah dan bermakna, InsyaAllah. Wassalamualaikum.

Senin, 02 Desember 2013

All about ME

Langit masih biru dan awan masih berarak, terkadang putih namun di lain waktu menghitam kelam, seperti mendung yang kerap hadir di musim penghujan tahun ini.

Ketika kebosanan menulis melanda, teringat nasihat seorang teman yang berkata :
"seorang penulis itu tidak akan pernah kehabisan ide, karena jika ia memandang ke langit luas atau bumi yang membentang, maka banyak hal yang bisa diceritakan..tak kan pernah berkurang, bahkan saat kau melihat dirimu sendiri kau akan tahu..."

Benar..banyak hal yang bisa diungkapkan, selain menulis keadaan di sekelilingku, sekali waktu aku ingin berbagi cerita tentang kehidupanku dan untuk pertama kalinya aku menulis: tentang diriku.

Bismillahirrahmanirrahim...

Seorang teman pernah berkata: "kamu itu seperti celengan"

Sahabat yang lain mengatakan: "kamu itu diam bukan berarti pendiam, kamu lebih memilih menunggu dari pada menyapa terlebih dahulu, kamu lebih suka menyimpan duka mu sendiri, meski terkadang jalan itu  berat dan menyakitkan bagimu..."

Alhamdulillah.. aku bersyukur untuk pemahaman mereka tentangku. Mungkin benar.

Me as al little girl
Banyak hal yang menyenangkan masa itu, aku suka bermain-main seperti anak-anak pada umumnya: suka bermain hujan -menikmati guyurannya dan berlarian sembari menciptakan cipratan air dari sepakan kaki- melihat bintang-bintang di langit malam yang cerah, memelihara kucing dan memetik bunga-bunga. Aku menyukai banyak hal,  memanjat pohon atau berenang meski pada kenyataannya aku tidak benar-benar berenang alias menjadi parasit dipunggung abangku. :P


Bulan Ramadhan pun masa yang penuh kesan bagi ku, saat itu kami sering menghabiskan waktu memanjat pohon rambutan, bermain masak-masakan atau bolak-balik ke dapur mengeluh pada mama bahwa aku sudah kelaparan padahal puasa baru setengah hari berjalan. Mama hanya tertawa sembari menyuruhku bersabar, dan aku membalas dengan memeluk tubuhnya yang gemuk, mengendus apek bau pakaiannya yang menguarkan aroma masakan, nikmat. :P

Suasana malam di bulan Ramadhan juga hal yang menyenangkan, sholat tarawih rutin kulakukan di mushola terdekat kami, namun ibadah ini sering dibarengi dengan berbagai kenakalan membuat kami berulang kali ditegur oleh jama'ah ibu-ibu karena suara berisik yang mengganggu dari cekikikan kami untuk hal-hal yang dibuat lucu. Bagian dari kenakalan anak-anak.

Hal lain yang tak terlupakan adalah menyalakan lilin-lilin kecil di beranda rumah dan memasangnya di sela-sela bunga bougenville yang rindang, membuat pohon itu berkelap-kelip oleh cahaya lilin, termasuk bermain kembang api sembunyi-sembunyi -karena jelas- papa melarang kami. Namun diam-diam kami pergi ke lapangan bola, memuaskan keinginan menyalakan kembang api dan bermain sepuasnya. :D

Setiap akhir pekan kami sekeluarga sering berolahraga, marathon 3km atau lebih. menyenangkan. Atau jika akhir tahun -ketika masih terbawa suasana agama lain- kami menghias dan melilitkan lampu kecil warna-warni di pohon kerdil atau bunga-bunga yang rindang di pelataran rumah, menyalakan dan tersenyum bahagia menikmati indahnya cahaya lampu berwarna yang mempesona untuk dilewatkan.
Segala hal dari masa kecil itu, 90 % membahagiakan.

Me as a cat lover
Aku dan kucing adalah sejarah panjang. Entah sejak kapan aku menyukai makhluk berbulu itu meski begitu aku bukan pecinta kucing-kucing mewah berbiaya mahal, seleraku tetap kucing kampung yang survive dengan makanan dan perawatan seadanya. Cintaku tak berat diongkos :)

Aku bergelut dengan berbagai jenis kucing, ada yang kurus, belang 2, belang 3 (biasanya betina), jelek, gendut, galak, manja...sepertinya banyak karakter kucing sudah ku kenali, tapi satu hal yang paling sulit dihindari adalah tatapan mata mereka, amat lucu. Masa itu, memelihara kucing adalah kontroversi di rumah kami karena sebagian tidak menyukai sedangkan sisi lain terlalu cinta. Dua kubu yang berbeda.. saat itu aku belajar apa artinya cinta berlebihan dan kebencian tak tertanggungkan dari makhluk bernama kucing. Sampai sekarang aku masih suka kucing, tapi tidak terlalu cinta dan anggota keluarga lain juga masih tidak terlalu suka kucing tapi tidak terlalu benci. Cinta dan benci yang sederhana.

Me as a book lover - am I nerd? who knows...
Aku sangat suka membaca dan semua itu bermula sejak kecil. Papa termasuk orang yang suka membaca dan terlihat dari berbagai koleksi buku-bukunya terutama buku-buku agama. Jika kebiasaan diwariskan, maka mungkin aku mewarisi seleranya.

Aku tidak punya bacaan tertentu yang menjadi favorit tapi genre tertentu ya, novel-novel fiksi seperti novel sastra lama tulisan Buya Hamka ataupun hikayat-hikayat dari buku tafsir dan agama adalah hal menarik bagiku, masa itu seringkali aku tidak ingat judul atau siapa penulisnya, sepanjang bacaan itu menarik, maka aku membacanya. Jika diingat masa kecil dulu aku suka menghabiskan waktu di kamar gelap (benar-benar minim cahaya) bersembunyi di ruang buku lalu menyibukkan diri dengan membaca, tak mau diganggu. segala yang menarik kulahap, membaca yang tidak tersistem.

Kesenangan itu berlanjut hingga saat ini aku gemar membeli berbagai buku, utamanya novel-novel islami dan psikologi, buku lokal ataupun saduran. meski tak menggandrungi penulis tertentu tapi pada kenyataannya aku mengoleksi tulisan mereka secara berkala. Hal itu terus berlanjut.. dari kesukaan membaca membuatku memahami berbagai ilmu termasuk tentang syari'at, meski secara otodidak dan pada akhirnya membangkitkan minatku pada nikmatnya menulis. Dulu sikapku terkesan cuek, pemalu, dan kaku -tidak tahu jika sekarang masih- sehingga sering dianggap sombong. Padahal jauh didalam hati, aku merasa hangat dan menyayangi teman-temanku, tulus. Aku sungkan untuk memulai pembicaraan, namun jika bertemu orang yang membuatku nyaman, aku bisa memulai obrolan. Mungkin karena aku tak banyak bicara itu -dan menurutku (lagi) tak penting bicara di tengah orang-orang yang pintar bicara- membuatku hanya mengakrabi satu dua orang teman dari sedikitnya teman-temanku :)


Me as Teenager
Kenyataan ini tidak membuatku berkecil hati atau menutup diri, pada masa-masa remaja saat SMP dan SMA kulalui dengan mengenal berbagai teman, aku tidak membatasi pertemanan dengan siapapun, dari golongan apapun karena aku tidak menyukai "kelas" sosial -dimana membedakan teman hanya berdasarkan latar belakang keluarga, penampilan atau kepintarannya- namun anehnya aku tidak bisa mengakrabi teman laki-laki -untuk itu ku syukuri-

Sejak sekolah menengah pertama, dari berbagai bacaan islam aku memahami bahwa aku harus membatasi pergaulan dengan lelaki, menjaga interaksi. Pada masa itu jatuh cinta adalah hal yang biasa namun menindaklanjuti rasa itu yang perlu perjuangan. Dimana aku menetapkan hati tidak boleh pacaran atau membalas rasa dengan cara yang sama. Lucunya, aku butuh 4 tahun untuk memberi pemahaman diri bahwa pacaran itu dosa dan sia-sia serta  berusaha menjaga rasa agar tak "berkeliaran" tak terjaga. Alhamdulillah usahaku berhasil, karena rahmat Allah dan kekuranganku yang bernama "kekakuan sikap" telah menolongku. :) hal itu juga barangkali yang membuat teman laki-laki tidak berani macam-macam. Meski begitu jilbab baru kuniatkan  di akhir SMP dan diawal SMA aku mulai memakainya, masih barang langka.

Masa SMA kulalui dengan aktivitas biasa, belajar, kegiatan ekstra sekolah dan beberapa kali mendaki gunung. Aku yang tak punya hobi apa-apa berusaha menantang diri, ku kira hidupku terlalu monoton dengan apa yang kulakukan saat itu. Aku mulai menyukai gunung, mendaki beberapa di antaranya. Pada awal ikut mendaki aku sempat menyerapahi diri sendiri dan berfikir "hobi gila macam apa yang kuikuti ini" aku sedikit menyesali diri saat itu. Sebab kepayahan dan kelelahan pendakian pertama.

Tapi.. pendakian itu bermakna dalam. Pendakian pertamaku di gunung Merapi, berlanjut ke Singgalang, ke gunung Kerinci. Semua kepayahan dan kelelahan tetap sama namun... semua itu berakhir nikmat yang sebanding pula: bumi Allah sungguh luar biasa.
sisi positifnya aku mampu memaksa diri melakukan sesuatu yang berat untuk ukuran dan kebiasaanku. Urusan mendaki ini bukan untuk menaklukan gunung tapi untuk melampui diriku sendiri dan melihat luar biasanya ciptaan Allah, gunung yang kokoh dan indah serta pemandangan alam di sekitarnya membuat semua kapayahan terbayar.
sisi negatifnya pun tak kurang pula: aku harus pergi dengan yg bukan mahram :(, ihktilat :(, beberapa sholat terlalaikan kalaupun dilakukan dengan kondisi  pakaian yang kotor, syaratnya jelas terabaikan. Jika diingat sekarang, itu sangat miris dan menyedihkan :( :( ampuni hamba Rabb.. Alhamdulillah kegiatan ini tak pernah ku ikuti lagi di masa kuliah.

Me in College
Masa SMA sudah berlalu tanpa perlu ada kisah merah jambu. Kuliah kulanjutkan di kota Yogyakarta, akhirnya aku menjadi bagian dari anak rantau, itu pikirku saat itu, tertantang dengan kondisi baru membuatku merasa tak berat meninggalkan rumah. Kupikir kadang-kadang aku seperti kurang rasa.. mengingat bagaimana teman sekampung ku menangis ketika melambaikan tangan perpisahan dengan bundanya, menangis menyembunyikan wajahnya di bahuku. sementara aku hanya menatap mamaku lama, tapi aku tidak ingin menangis, aku hanya menatapnya selama yang aku bisa. Aku sangat menyayanginya, tak perlu kata-kata.

Aku tak punya rencana jurusan apa yang ingin kumasuki, saat itu aku hanya menuruti nasihat mama - mengambil jurusan ekonomi supaya kelak bisa wiraswasta. Kuikuti ujian smptn, alhamdulillah aku tidak lulus.. bukan salah siapa-siapa, aku memang sangat kurang persiapan untuk ujian. Terakhir, kami -aku dan kakakku- mengumpulkan brosur-brosur dari berbagai universitas, memelototi berbagai persyaratan dan yang utama, melihat biayanya. Saat itu aku memilih universitas yang terjangkau biayanya, berfikir dan khawatir jika orang tua terbebani -kami bertiga kuliah di Jogja- dan Alhamdulillah aku masuk ke salah satu universitas dengan mudah.

Perkuliahan kuikuti tanpa banyak masalah, cerita membanggakan terjadi pada semester 1, IP ku 4 sempurna. Membuat beberapa dosen mengenali dan teman-teman membanggakan. Sejujurnya itu membanggakanku pula, meski aku tahu IP 4 bukan hal yang istimewa di awal semester. Bagaimana tidak..materinya masih bersifat umum, teman-teman kuliahku -terutama laki-laki- beberapa dari mereka jauh lebih mampu dan kurasa semua teman bisa mencapai target itu, dilihat dari kemampuan yang ada maka kami sama. Tapi yang membuat berbeda adalah semangat...ya, saat itu aku penuh dengan semangat mengemban "amanah" dari orangtua, sejujurnya dilubuk hatiku aku ingin membuat orangtua ku bangga, bahagia dan merasa bahwa anaknya bisa dipercaya. Aku ingin orangtua ku tahu bahwa "kebebasan" yang mereka amanahkan mampu ku jaga. Pembuktian itu adalah dengan belajar sungguh-sungguh. Karena menurutku wujud cinta itu adalah tindakan nyata, itu saja.

To be continue...

Minggu, 01 Desember 2013

Siapakah Temanmu?

Hati-hatilah bergaul dengan orang yang suka bersikap pesimis karena ketika engkau perlihatkan sekuntum bunga yang indah kepadanya maka yang dia lihat hanya duri-durinya, Ketika engkau bawakan segelas air kepadanya, maka yang dia perhatikan hanya kotoran di dalamnya. Demikian juga, ketika engkau memuji kebaikan atau manfaat matahari di hadapannya maka yang ia rasakan hanya panasnya.
Ingatlah, carilah  tiga tipe teman yang harus didekati dan miliki yaitu teman yang membawa kegembiraan, ketenangan dan semangat yang tinggi. Tiga musuh yang engkau harus jauhi, yaitu sifat pesimis, bimbang dan putus asa.
Untuk menjaga hatimu, berhati-hatilah ikut dalam perkumpulan yang bertujuan mengobarkan permusuhan karena di dalamnya ajaran-ajaran agama akan dengan mudah diabaikan dan digadaikan. Selain itu, bergabung di dalamnya akan menghilangkan wibawa, dan menjatuhkan kehormatan. ~Aidh Al Qarni~

Ibnu Mubarok rahimahullah mengatakan dalam syairnya:
jika engkau berteman, bertemanlah dengan orang yang mulia
yang menjaga kesucian, pemalu, dan pemurah
Ia katakan tidak tentang sesuatu jika engkau katakan tidak
jika kau mengatakan ya ia pun mengatakan ya

Dalam penggalan syairnya yang lain, beliau berkata:
Jika engkau berteman dengan kaum yang suka mencintai
jadilah peramah dan penyayang kepada mereka
jangan ambil aib setiap kaum
karena selamanya pasti engkau tidak akan lagi punya teman

Orang yang selalu saja ingin berbeda dengan dasar hawa nafsunya dan tanpa alasan yang benar, maka ia akan selalu dibenci oleh sesamanya.
Orang yang suka menyelisihi yang lain dengan alasan yang benar, maka ia berhak memegang kedudukan dan pendapatnya sendiri.
~Aidh Al-Qorni dalam bukunya Pesona Cinta~

catatanku:
Bertemanlah dengan berbagai tipe orang namun akrabi sebagian saja. Jika teman pergaulanmu melenceng jalan, ingatkan, tunjukkan kebenaran dengan kasih sayang, jika kamu tidak mampu, menjauhlah dari pengaruh buruk yang bisa merusakmu. 
Akrabi sahabat yang menjadi belahan jiwamu, bersedia mengingatkanmu bila tersalah, mendukungmu dalam kebenaran. Santun dalam berkata, dan amanah dalam menjaga rahasiamu, menutupi aib-aibmu sehingga aman ia dari kejahatan tangan dan lisanmu, sehingga tumbuhlah rasa cinta dan kasih sayang di antara kalian atas dasar mengharap ridhoNya. 
Bukankah tidak akan sempurna iman seseorang sebelum dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri. artinya kamu menginginkan kebaikan bagi saudaramu sebagaimana kamu menginginkan kebaikan itu bagi dirimu.

Persahabatan yang mengalir dari ketulusan hati tak akan terputus hanya karena penderitaan. Seperti air sungai yang mengalir pada musim semi tak akan membeku pada musim dingin
~NN~


dimana engkau sahabat?
teman pelipur lara pembagi penat
semoga aku mendapati bagian cinta dari hatimu
sebagai penyemangatku
untuk bersua denganmu
bersenda gurau bahagia
tiada kedengkian, kebencian ataupun dusta
pun perselisihan tak mengurangi cinta
ketika kita bertetangga di SyurgaNya
Aamiin...