Sabtu, 05 Juli 2014

Surat Terakhir Kayana - Part 2

Aku tak percaya dengan apa yang ku dengar, jantungku berdegup kencang dengan sedikit gentar ku tatap Kay, dia pun tak kalah terkejutnya melihatku berdiri mematung di hadapannya. 

"apa maksudnya ini?!" aku berharap nada yang keluar dari suaraku adalah kemarahan, meski kenyataannya terdengar parau tercekat ditenggorokan. 
"bukan apa-apa" kay melengos menghindari tatapanku, dan beranjak bersama beberapa temannya. 
"tunggu dulu, kau harus jelaskan.." ku tarik lengan bajunya saat dia berlalu dari hadapanku. "kau...aku nggak nyangka, teman yang kuanggap paling baik bisa berbuat kayak gini, kau..."
aku kehilangan kata-kata. Keterkejutan, sakit hati dan kemarahan bercampur jadi satu. Bel berbunyi nyaring mengejutkan kami. Ku tatap mata Kay tajam, dia balas menatapku meski aku tak bisa membaca apa arti tatapannya 
"merasa bersalahkah dia?" perlahan kulepaskan tanganku dari bajunya, memilih berlalu dengan rasa sakit hati. 
"seharusnya aku memukulnya tadi, sekali-kali dia perlu diberi pelajaran" hatiku berbisik jahat, aku hanya tidak merasakan apa-apa kecuali kepala yang tiba-tiba terasa kosong dan perasaan kebas. sampai pada kesadaran bahwa aku dikhianati sahabatku.

Sejak saat itu hubungan kami menjadi aneh, aku dan Kay seperti dua orang asing, canggung dan kikuk. hal itu sangat terasa bagiku yang terbiasa dengannya. Entah bagaimana dengan Kay karena kelihatannya dia tidak masalah sama sekali. Dia malah asyik bermain-main dengan teman yang lain dan menganggapku seperti angin lalu. Aku menganggap dia tidak punya itikad baik untuk memperbaiki bahkan memberi penjelasan padaku. Hal ini berlangsung beberapa waktu dan aku memaksa diri untuk membiasakan diri, setidaknya aku tidak perlu merasa terganggu dengan kedatangannya yang tiba-tiba dan kesenangannya menyontek tugas-tugasku.
Positifnya: hidupku akan kembali tenang tanpa gangguan, aku berusaha menghibur diri.

Sebulan dua bulan, aku mulai terbiasa menjalani hari-hariku tanpa Kay dengan segala "program acaranya". Aku semakin sibuk dengan aktivitas harian membantu ibu dan jam kerjaku semakin tinggi karena selepas sekolah tak ada lagi aktivitas lain -yang biasanya terpangkas dengan kehadiran Kay- dan tugas sekolah yang biasa. Sekarang aku tak perduli sama sekali tentang Kay. Aku bahkan tak perlu menganggapnya ada. Tingkah kami terlalu kekanak-kanakan memang, tapi biarlah "toh bukan aku yg salah" kujadikan pemikiran ini sebagai pembelaan diri. 
Sampai hari itu, saat keluar kelas kulihat Kay berdiri menunggu dan tersenyum canggung padaku,
"hei.." sapaannya pelan nyaris tak terdengar. aku hanya menatapnya datar, tak sampai 5 detik tiba-tiba dia memanggil seseorang dengan lambaian tangannya dan berlalu dari hadapanku. Aku berdiri bingung.
"anak ini mau main-main denganku" aku pulang dengan perasaan kesal.

"Shin.." sejenak kegiatanku mengambil getah yang sudah membeku terhenti. melihat ibu berlari panik ke arahku, dengan terengah-engah berhenti tepat didepanku. 
 "pulang...cepat pulang! kayana kecelakaan!"
 ibu menarik bajuku, aku tersentak kaget dan berlari kencang pulang. Kay...

Aku tidak ingat sudah berapa lama aku berdiri di sini. Berdiri di depan Kay tanpa sanggup mengatakan apa-apa, hanya memandang barisan namanya dan merasakan harum taburan bunga yang tertinggal, terasa aneh. Dadaku sesak tapi tak ada air mata yang mampu keluar. Keheningan menyelimuti sekelilingku, orang-orang sudah pergi dari tadi; ayah, ibu, saudara, keluarga, teman-temannya. Lalu, "aku siapa? masihkah aku temanmu?" seperti ada suara bergema di kepalaku. Aku menunduk, merasakan angin sore sejuk tapi tak sedikitpun menentramkan hatiku. Kay pergi tanpa sempat meninggalkan pesan apapun padaku, tak ada ucapan maaf, sekedar senyum atau sedikit tanda kalau kami pernah mengenal satu sama lain.

Aku masuk kamar dengan tubuh dan hati yang terasa amat lelah, menyandarkan punggungku di pintu dan menyapu pandangan ke sekeliling kamar yang sangat sederhana ini. Di sana, di atas meja kayuku kulihat selembar kertas terlipat tak rapi. Di atasnya tertulis namaku dengan huruf kapital, tulisan tangan Kay.

"Shin..sahabatku yang baik, 
Seumur hidup aku tak pernah menulis surat kecuali surat pura-pura sakit (hehehe) dan menggelikan menulis surat seperti ini untukmu, apa boleh buat, aku terpaksa :P. 
Shin, maafkan aku soal itu. Kau benar, aku yang salah. Kau tahu kan, terlalu memalukan kalau aku harus minta maaf langsung padamu, ini soal harga diri, teman. waktu itu saat teman-teman mengejekmu sangat kampungan seharusnya aku membelamu tapi aku malah menambahkannya dengan mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. itu g benar tapi aku terlalu pengecut untuk membantah, maaf ya. 
Shin, sekarang pasti kau marah besar dan mungkin kau mau memukulku, tak apa aku terima. jadi temanmu selama 2 tahun ini aku sungguh bersyukur, serius!
Shin, sekarang aku mulai berfikir untuk kuliah dan mulai bermimpi untuk menjadi fotografer, sepertinya aku punya bakat, menurutmu benar g? hehe...
Shin, serius... aku minta maaf. Kalau nanti kau sudah ikhlas memaafkanku beritahu aku ya, pake sms (artinya kau harus beli hp dulu hehe..) sorry bercanda. 
oiya, kau pernah tanya kenapa aku mau jadi temanmu kan? alasan sebenarnya banyak, akan ku sebut satu persatu:
1. kau anak baik (silahkan ge-er) artinya kau tak suka macam-macam dan aneh-aneh karena aku sudah cukup aneh jadi aku harus cari teman yang normal.
2. kau patuh pada ibumu, itu buatku sadar untuk sedikit lebih baik sama ibuku, kasihan ibuku ceramah terus tiap hari :D
3. kau rela tugas-tugasmu dicontek, meski jawabannya banyak yang salah hahaha..
4. kau rajin ==> supaya aku ketularan
5. kau rajin sholat ==> supaya aku juga cepat tobat
6. kau .... apa lagi ya? kalau ku tulis semua kau bisa ge er setengah mati hehehe..
sudahlah ini saja beberapa alasanku, kelak aku tambah lagi ceritanya.
Shin, serius.. maaf ya" 
(diakhiri dengan gambar acungan jari telunjuk dan jari tengah)

Aku terdiam lama. Melorot terduduk bersandar dibawah jendela, pandanganku terasa kabur melihat surat Kay ditanganku. Tidak tahu bagaimana menalar perasaanku sekarang. Di dalam sini -hatiku seperti disiram air es- mungkin sudah terendam. 
Aku tak pernah merasa sesedih ini sebelumnya dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar