Aku
tak percaya dengan apa yang ku dengar, jantungku berdegup kencang
dengan sedikit gentar ku tatap Kay, dia pun tak kalah terkejutnya
melihatku berdiri mematung di hadapannya.
"apa maksudnya ini?!" aku
berharap nada yang keluar dari suaraku adalah kemarahan, meski
kenyataannya terdengar parau tercekat ditenggorokan.
"bukan apa-apa" kay
melengos menghindari tatapanku, dan beranjak bersama beberapa temannya.
"tunggu dulu, kau harus jelaskan.." ku tarik lengan bajunya saat dia
berlalu dari hadapanku. "kau...aku nggak nyangka, teman yang kuanggap
paling baik bisa berbuat kayak gini, kau..."
aku kehilangan kata-kata. Keterkejutan, sakit hati dan kemarahan bercampur jadi satu. Bel berbunyi
nyaring mengejutkan kami. Ku tatap mata Kay tajam, dia balas menatapku
meski aku tak bisa membaca apa arti tatapannya
"merasa bersalahkah dia?"
perlahan kulepaskan tanganku dari bajunya, memilih berlalu dengan rasa
sakit hati.
"seharusnya aku memukulnya tadi, sekali-kali dia perlu
diberi pelajaran" hatiku berbisik jahat, aku hanya tidak merasakan
apa-apa kecuali kepala yang tiba-tiba terasa kosong dan perasaan kebas.
sampai pada kesadaran bahwa aku dikhianati sahabatku.
Sejak
saat itu hubungan kami menjadi aneh, aku dan Kay seperti dua orang
asing, canggung dan kikuk. hal itu sangat terasa bagiku yang terbiasa
dengannya. Entah bagaimana dengan Kay karena kelihatannya dia tidak
masalah sama sekali. Dia malah asyik bermain-main dengan teman yang lain
dan menganggapku seperti angin lalu. Aku menganggap dia tidak punya
itikad baik untuk memperbaiki bahkan memberi penjelasan padaku. Hal ini
berlangsung beberapa waktu dan aku memaksa diri untuk membiasakan diri,
setidaknya aku tidak perlu merasa terganggu dengan kedatangannya yang
tiba-tiba dan kesenangannya menyontek tugas-tugasku.
Positifnya: hidupku akan
kembali tenang tanpa gangguan, aku berusaha menghibur diri.
Sebulan
dua bulan, aku mulai terbiasa menjalani hari-hariku tanpa Kay dengan segala
"program acaranya". Aku semakin sibuk dengan aktivitas harian membantu
ibu dan jam kerjaku semakin tinggi karena selepas sekolah tak ada lagi
aktivitas lain -yang biasanya terpangkas dengan kehadiran Kay- dan tugas
sekolah yang biasa. Sekarang aku tak perduli sama sekali tentang Kay.
Aku bahkan tak perlu menganggapnya ada. Tingkah kami terlalu
kekanak-kanakan memang, tapi biarlah "toh bukan aku yg salah" kujadikan
pemikiran ini sebagai pembelaan diri.
Sampai hari itu, saat keluar kelas
kulihat Kay berdiri menunggu dan tersenyum canggung padaku,
"hei.." sapaannya pelan nyaris tak terdengar. aku hanya menatapnya datar, tak
sampai 5 detik tiba-tiba dia memanggil seseorang dengan lambaian tangannya
dan berlalu dari hadapanku. Aku berdiri bingung.
"anak ini mau main-main
denganku" aku pulang dengan perasaan kesal.
"Shin.."
sejenak kegiatanku mengambil getah yang sudah membeku terhenti. melihat
ibu berlari panik ke arahku, dengan terengah-engah berhenti tepat didepanku.
"pulang...cepat pulang! kayana kecelakaan!"
ibu menarik bajuku, aku
tersentak kaget dan berlari kencang pulang. Kay...
Aku
tidak ingat sudah berapa lama aku berdiri di sini. Berdiri di depan Kay
tanpa sanggup mengatakan apa-apa, hanya memandang barisan namanya dan
merasakan harum taburan bunga yang tertinggal, terasa aneh. Dadaku sesak
tapi tak ada air mata yang mampu keluar. Keheningan menyelimuti
sekelilingku, orang-orang sudah pergi dari tadi; ayah, ibu, saudara,
keluarga, teman-temannya. Lalu, "aku siapa? masihkah aku temanmu?" seperti ada
suara bergema di kepalaku. Aku menunduk, merasakan angin sore sejuk tapi
tak sedikitpun menentramkan hatiku. Kay pergi tanpa sempat meninggalkan
pesan apapun padaku, tak ada ucapan maaf, sekedar senyum atau sedikit
tanda kalau kami pernah mengenal satu sama lain.
Aku masuk
kamar dengan tubuh dan hati yang terasa amat lelah, menyandarkan punggungku di pintu dan menyapu pandangan ke sekeliling kamar yang sangat sederhana ini. Di sana, di atas meja kayuku kulihat selembar
kertas terlipat tak rapi. Di atasnya tertulis namaku dengan huruf
kapital, tulisan tangan Kay.
"Shin..sahabatku yang baik,
Seumur hidup aku tak pernah menulis surat kecuali surat pura-pura sakit
(hehehe) dan menggelikan menulis surat seperti ini untukmu, apa boleh
buat, aku terpaksa :P.
Shin, maafkan aku soal itu. Kau benar, aku yang salah. Kau tahu
kan, terlalu memalukan kalau aku harus minta maaf langsung padamu, ini
soal harga diri, teman. waktu itu saat teman-teman mengejekmu sangat kampungan
seharusnya aku membelamu tapi aku malah menambahkannya dengan
mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. itu g benar tapi aku terlalu
pengecut untuk membantah, maaf ya.
Shin, sekarang pasti kau marah besar
dan mungkin kau mau memukulku, tak apa aku terima. jadi temanmu selama 2 tahun
ini aku sungguh bersyukur, serius!
Shin, sekarang aku mulai berfikir
untuk kuliah dan mulai bermimpi untuk menjadi fotografer, sepertinya aku
punya bakat, menurutmu benar g? hehe...
Shin, serius... aku minta
maaf. Kalau nanti kau sudah ikhlas memaafkanku beritahu aku ya, pake sms
(artinya kau harus beli hp dulu hehe..) sorry bercanda.
oiya, kau
pernah tanya kenapa aku mau jadi temanmu kan? alasan sebenarnya
banyak, akan ku sebut satu persatu:
1. kau anak baik (silahkan
ge-er) artinya kau tak suka macam-macam dan aneh-aneh karena aku sudah cukup
aneh jadi aku harus cari teman yang normal.
2. kau patuh pada ibumu, itu buatku sadar untuk sedikit lebih baik sama ibuku, kasihan ibuku ceramah terus tiap hari :D
3. kau rela tugas-tugasmu dicontek, meski jawabannya banyak yang salah hahaha..
4. kau rajin ==> supaya aku ketularan
5. kau rajin sholat ==> supaya aku juga cepat tobat
6. kau .... apa lagi ya? kalau ku tulis semua kau bisa ge er setengah mati hehehe..
sudahlah ini saja beberapa alasanku, kelak aku tambah lagi ceritanya.
Shin, serius.. maaf ya"
(diakhiri dengan gambar acungan jari telunjuk dan jari tengah)
Aku
terdiam lama. Melorot terduduk bersandar dibawah jendela, pandanganku
terasa kabur melihat surat Kay ditanganku. Tidak tahu bagaimana menalar
perasaanku sekarang. Di dalam sini -hatiku seperti disiram air es-
mungkin sudah terendam.
Aku tak pernah merasa sesedih ini sebelumnya dan
untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar