by. Imar Dalilah
www.sekolahpernikahan.ning.com
Nikah, kata yang mungkin bisa bikin yang masih single mati gaya, apalagi kalo ditanya kapan nikah? :D
Atau juga bikin perasaan ga karuan gimana gitu :D
Kenyataannya
kalo si single ditanya mau nikah apa ga, jawabannya pasti mau. Tapi
kalo ditanya siap apa ga, wah belum tentu banyak yang jawab siap. Saya
sendiri merasakan sih :D
Nah beda hal kalo ada orang yang sering
bahas NIKAH. Pasti deh di cap NGEBET nikah. Padahal belum tentu. Itu
yang saya rasain sekarang. Dua tahun belakangan ini saya sering banget
bahas nikah pada teman-teman saya. Wah awal-awal tuh beneran di cap
GENIT, CENTIL, kecil-kecil ko omongannya nikah mulu (saat itu usia saya
sekitar 20 tahun). Agak ‘panas’ juga ya. Honestly, saya bukan ngebet
nikah tapi saya pengen orang di lingkungan saya itu AWARE soal
pernikahan. Kenapa?
Saya ceritakan, berawal dari adik kelas saya
selalu menyarankan saya untuk sesegera mungkin menikah setelah lulus
kuliah. Dalam frame saya, nikah itu bukan yang mesti di segerakan. Saya
sudah punya rencana untuk melanjutkan kuliah S2 lalu berkarier setelah
itu baru menikah. Yaaa mindset kebanyakan wanita yang masih belum paham
ilmunya.
Sering sekali adik kelas saya bilang kayak gitu. Sampai
akhirnya saya mulai paham WHY-nya, dan semakin bertambah ilmu setelah
ketemu akun twitter ustadz Felix, Tweet nikah, juga buku MUB-nya pak
Noveldy. Dari situ mulai lah saya menyebar virus nikah :D Tujuannya
bukan ngomporin orang untuk cepetan nikah tapi lebih kepada PERSIAPAN.
Menikah
itu bukan sekedar menyatukan dua orang yang saling cinta tapi gerbang
membangun satu generasi, suatu peradaban yang lebih baik lagi. Kebayang
ga kalo kita nikah tanpa ilmu? Tanpa pengetahuan? Tanpa keterampilan?
Waduh, kayak lagi di kamar eh terus mati listrik. Bisa ke jedot sana
sini.
Saya tambah yakin dan semangat untuk menyebarkan virus
tersebut, di dukung oleh latar belakang pendidikan (kuliah) dan juga
bisnis yang saya jalankan (bimbingan belajar) serta ditambah realitas
kehidupan anak-anak zaman sekarang.
Menikah tanpa ilmu, bisa jadi
tujuan kita cuma karena kita ga tau lagi mesti melewati fase kehidupan
seperti apa, bukan untuk beribadah, bukan untuk menghasilkan generasi
yang lebih baik dibanding kita (orang tuanya nanti). Bisa jadi karena
tanpa ilmu, cara-cara yang kita lakukan pra nikah (mendapatkan pasangan)
bukan cara yang Allah tetapkan, bukan cara yang Rasulullah ajarkan.
Yups, PACARAN (PAke CARA Nikah), KEBABLASAAAAN ! Ga cuma itu, masih
banyak juga yang pake MODUS buat deketin lawan jenisnya. Padahal sama
aja.
Kalo kita menuju pernikahan pake cara-cara seperti itu ibarat
kita dapat buah mangga tapi boleh nyolong. Mangga-nya halal, tapi
caranya? HARAM ! Terus kalo dimakan, tubuh kita mengandung hal yang
haram juga bukan? Tegakah kita terhadap calon anak kita nanti?
Sayangilah anak kita dari sebelum ia lahir, dengan cara apa? Yaa tadi,
pakelah cara-cara yang sudah Rasulullah tetapkan. Sungguh, pernikahan
bukan sekedar Romantic Love tapi lebih dari itu, salah satunya membangun
satu generasi penerus bangsa, yang akan mengubah dunia ini jadi lebih
baik.
Berpikirlah yang luas, bukan soal perasaan kita terhadap si
calon pasangan kita saja. Bagaimana mungkin kita mendidik anak tapi kita
ga punya ilmunya? Persiapkan juga diri kita menjadi orang tua yang
memang pantas Allah berikan anak yang soleh/ah. Kalo kita mendidik anak
dengan ilmu atau cara yang orang tua ajarkan pada kita apakah tepat?
Kita
tidak hanya mewariskan harta pada anak tapi juga ilmu, termasuk cara
kita mendidik anak kita yang nanti dia pun menerapkan cara tersebut
kepada anaknya kelak. Lalu cucu kita menggunakan cara yang sama dalam
mendidik anaknya. Terus begitu, tak terhingga. Kebayang kita sudah bikin
suatu peradaban kan? Kalo kita mendidik anak dengan cara yang salah,
bukankah kita dimintai pertanggung jawabannya kelak?
Saya memang
belum menikah, insya Allah saya bukan sok tau. Ilmu ini saya dapatkan
dari orang-orang sekitar, dari buku-buku, dari guru, dan yang pasti dari
pengalaman orang lain. Kata Allah, apa-apa yang terjadi adalah tanda
kekuasaan Allah bagi orang yang berpikir. Nah makanya saya berpikir
tentang kejadian-kejadian rumah tangga di sekitar saya, ga Cuma itu sih,
turunnya moral anak-anak sekarang juga jadi pemikiran saya.
Semoga
tulisan ini bermanfaat dan semoga para pendakwah yang masih single,
yang banyak membahas nikah tidak lagi di cap ngebet nikah karena nikah
itu bukan perlombaan. Kalo ngebet itu terkesan buru-buru. Beda dengan
menyegerakan, itu ada persiapan.
Baik wanita maupun pria,
persiapkanlah diri kita sebaik mungkin. Tidak sekedar memikirkan pesta
pernikahannya tapi setelah pesta pernikahan usai. Fokus pada perbaikan
diri bukan fokus pada siapa jodoh kita nantinya. Siapa itu tergantung
ada apa dalam diri kita :D
Akhir kata saya kutip dari sebuah buku :
Tumbuhan yang tumbuh di semaian tidak seperti tumbuhan yang tumbuh di
tanah kering. Wajarkah bila anak-anak diharapkan sempurna, sedang ia
disusui oleh susu ibu yang banyak kekurangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar