Posted by. Ikhsanun Kamil - Foezi Citra
www. sekolahpernikahan.ning.com
Banyak
orang yang bertanya pada saya, kenapa saya bersedia menikah dengan
suami saya. Katanya, kenapa saya yang tidak pernah pacaran sama sekali
mau menikah dengan orang yang pernah pacaran berkali-kali seperti
beliau. Katanya, mengecewakan sekali saya yang bisa menjaga diri dari
hal yang Allah larang itu, namun mau menikah dengan orang yang justru
pernah melakukan hal tersebut. Katanya inilah, itulah. Mereka bertanya
kenapa rasanya tidak sekufu atau apalah pandangannya.
Saya hanya tersenyum menanggapinya, kemudian hanya akan berkomentar
bahwa saya tak pernah merasa salah menikah dengannya, menikah dengan
lelaki paling baik yang pernah saya temui. Rasanya sombong sekali bila
menyesalinya, karena hal ini sudah menjadi takdir dan kehendak Allah
SWT.
Bagi saya, masa lalu setiap orang tak pernah menjadi patokan yang
utama. Setiap orang berhak untuk memiliki masa lalu yang buruk, namun
setiap orang juga berhak memiliki kesempatan untuk memperbaikinya.
Setiap orang berhak memiliki masa kini yang lebih baik dan masa
depan yang lebih baik lagi, dibanding masa lalunya, karena memang itu
adalah suatu keharusan.
Dari dulu saya paling tidak suka judgemental pada orang,
apalagi bila saya belum mengenalnya. Maka meskipun dari dulu prinsip
saya tidak mau pacaran, saya tidak mau untuk merendahkan orang-orang
yang memang berprinsip seperti itu. Bahkan saya dekat dengan mereka,
banyak teman saya yang pacaran namun justru sering curhat sama saya
perihal hubungan mereka. Lucu memang, orang yang tidak pernah pacaran
sama sekali sering jadi tempat curahan hati banyak orang perihal seperti
itu.
Bagi saya, hanya ada satu Dzat yang berhak menghakimi apakah
seseorang shaleh/shalehah, apakah dia lebih baik atau tidak satu sama
lain, yaitu Allah SWT. Saya tidak boleh merasa diri saya lebih baik dari
orang lain sedikitpun, padahal boleh jadi dosa-dosa saya jauh lebih
besar dibanding mereka yang dianggap tidak shaleh/shaleha.
Rasanya predikat shaleh/shaleha yang dicap manusia itu justru
menjadikan suatu beban, karena toh predikat itu sebenarnya didapat saat
kelak di akhirat, saat kita bisa bertemu dengan Allah dan Rasul kita.
So, jangan salahkan orang yang pacaran bila kita sendiri hanya berdiam
diri, jangan merasa lebih baik dari mereka, karena boleh jadi amalan
wajib dan sunnah kita tak pernah lebih baik dari mereka. Boleh jadi kita
memiliki banyak lumbung dosa yang lain dibanding mereka. Teman seperti
itu perlu dirangkul, bukan untuk dihakimi, karena boleh jadi mereka
masih melakukan hal tersebut karena mereka tak tahu, ya karena mereka
tak tahu, dan tugas kita sebagai orang terdekat yang mengingatkan.
Menikah itu bukan mempermasalahkan seberapa buruk masa lalu
seseorang, namun seberapa banyak ia belajar dari masa lalunya, mengambil
hikmah dari masa lalunya, yang menjadikan pribadi masa kini yang lebih
baik. Menikah itu masalah seberapa kuat dan yakin seseorang untuk
mengukir masa depan yang lebih baik, bersama pasangan yang Allah
takdirkan untuknya.
Dulu sebelum menikah, suami saya seringkali merasa tak pantas dengan saya, katanya : “Kalau dosa beraroma, maka kau tak akan mau menikah denganku.” Kemudian saya juga jawab : “Dan kalau memang dosa beraroma, maka kamu pun lebih tak mau menikah denganku.” Saat itu ia kemudian menitikkan air matanya.
No! saya tidak mau merasa bahwa diri saya begitu suci dengan tidak
pernah pacaran, bahwa saya harus menikah dengan orang yang tidak pacaran
juga. Sungguh terlalu dangkal apabila pemahaman keadilan manusia yang
jadi patokan, karena terkadang keadilan Allah itu bahkan tak bisa
dicapai nalar manusia, bahkan keadilan Allah seringkali dianggap suatu
ketidakadilan bagi manusia. Nah, boleh jadi mungkin suami saya memiliki
dosanya yang pernah pacaran, namun itu telah terhapus dengan segala
amalan baiknya, taubat nasuha yang beliau lakukan. Boleh jadi juga,
meskipun tak pacaran namun dosa saya berlumur dari ranah-ranah lain,
yang terkesan tak terlihat, karena hanya diri saya sendiri dan Allah
yang mengetahuinya.
Ah, saya hanya terlihat begitu baik karena kebaikan Allah yang telah
menutupi aib-aib saya. Allah yang Maha Baik yang masih menjaga
kehormatan dan harga diri saya di depan orang lain. Bila Allah berkenan,
sangat mudah baginya untuk membongkar seluruh aib dan dosa saya selama
ini. Saya menikah dengan seorang Ikhsanun Kamil Pratama, karena Allah
yang memantaskan kami untuk saling menjadi cermin, saling melengkapi
untuk memperbaiki diri. Bagi saya, masa lalu dan dosa suami saya adalah
urusan ia dengan Allah. Saya tak perlu mempermasalahkan masa lalunya,
karena yang penting ia yang sekarang dan di masa depan, yang jauh lebih
baik lagi.
Maka, untukmu yang akan menyempurnakan separuh agama, menikahlah
bukan karena masa lalu yang jadi patokan utama, namun menikahlah dengan
ia yang mampu mengambil hikmah untuk memantaskan diri di hadapan-Nya,
menjadi pribadi yang lebih baik, di saat ini dan seterusnya. Menikahlah
dengan ia yang mau bergerak bersama menuju perbaikan tanpa henti, hanya
demi ridha Illahi rabbi.
Masa lalu adalah suatu pembelajaran, masa kini adalah kehidupan,
dan masa depan adalah harapan. Nikmati dan syukuri setiap prosesnya. Wallahualam :)
Menikahlah bukan karena masa lalu, namun menikahlah karena Allah Sang pemilik masa :)
Menikahlah bukan karena masa lalu, namun menikahlah karena Allah Sang pemilik masa :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar