Jumat, 24 Desember 2010

NN 2

Kabar duka itu tiba pada akhirnya
Sampai karena tak tertahan rasa
Kecewa pada banyak hal tapi tak bertemu akhir
Lalu aku? Aku adalah bagian dalam episode kehidupan
Dimasukkan dengan paksa menjadi bagian penyebab derita
Jika tertawa adalah hal yang pantas dan jika tak ingin disebut gila
Aku ingin tertawa keras, menertawakan pikiran bodohnya
Dan panasnya hatiku yang tidak pada tempatnya
Aku berfikir
Seharusnya aku lebih cerdas melihat
Bahwa terkadang kebaikan datang bukan tanpa sebab
Agar aku lebih peka merasa bahwa duka tak bisa ditanggung dengan sendirinya
Dia akan mencari muara dan bagian-bagian yang mungkin bisa dibawa serta
Dan jika nafsu bebas kuajak serta, aku ingin memakinya
Menyampaikan bahwa derita tak hanya miliknya
Bahwa pengorbanan bukan hanya bagiannya
Setiap orang di dunia tetap ambil bagian dalam setiap penderitaan
Sakit, teraniaya, luka, apapun kosakatanya
Setiap kita pernah merasakan
Yang berbeda hanyalah berapa bagian yang bisa kita diambil atau dibuang
Itu tetap menjadi pilihan

NN

Kau bisa membenciku sepuasmu
Tapi aku tak akan membalas kebencian dengan kebencian yang sama
Kau bisa mencintaiku sesukamu
Tapi aku hanya bisa mencintaimu semampuku
Kau bisa membuatku tampak jelek, tak pantas bagi kehidupanmu
Tapi aku akan menjadi orang yang paling pantas bagi diriku sendiri
Kau bebas berfikir, berkata, dan bertindak semaumu
Tapi ingat, kebebasanmu akan ada pertanggungjawabannya nanti
Akan ada masanya, kebaikan itu akan bersinar
Lebih terang daripada cahaya
Ada waktunya, kebenaran berhembus
Bagai udara yang selalu kau hirup
Tak tampak tapi amat terasa, bahkan dinginnya akan menyesap ke tulangmu
Hingga saat itu tiba, aku akan menunggu dengan sabar
Dengan senyum yang sama
Dengan kesadaran yang sama
Bahwa janjiNya tak kan ingkar

Selasa, 21 Desember 2010

Risallah 2 hati (Part-2)

Hanya ingin mengingatkan bahwa kita punya "risallah 2 hati"

Sacre: risallah kita masih berlanjut jadi apa?

Able: jadi tak kutemukan apa-apa

Sacre: hanya curahan tanpa makna?

Able: Terlalu dalam kumaknai, hingga aku terhanyut olehnya, lalu kutanya pembuat rangkain kata itu, tapi tak kutemukan hati yang sama.

Sacre: saat tanya tak berbalas kata, diam mungkin jawaban yang sempurna, dengannya hening mampu membeningkan rasa.  Hatimu, tetapkah sama? aku rindu senyum yang kukenal, dulu..jauh sebelum keterasingan membawamu pergi. Hati kita banyak bicara, tapi..akankah senyum tetap menggariskan keakraban yang sama saat kita berjumpa? itu ragu yang berdenting dikepalaku

Able: Lama aku berpikir dan bertanya pada hatiku, apakah ia sama seperti yang dulu atau telah berubah. Namun senyum hanya jawabnya. Tak perlu pula kau ragu, saat raga tak sempat bicara pada nyata yang tak terpercaya, karena hati tahu segala. Jika aku terlihat berbeda, namun hatiku tetap setia. Pada mimpi yang terangkai bersama, dalam hening aku terluka, namun aku tetap setia. Aku masih serupa laksana pohon randu, meski kapuk-kapuknya telah berterbangan aku tetap berdiri ditempatku....

Sacre: lama kumaknai rangkaian kata yg terbias rindu di dalamnya, aq tersenyum. Ragu yang mendinginkan hati telah pergi, mungkin tak apa jika bisu tetap menyapa saat raga bersua. Kita hanya perlu memandang bagai bercermin, saat kau atau aku memulai semua dengan senyum, maka kita bisa mencairkan suasana, menjadikan hangat melingkupi hati.


Able: Terpaku aku pada sendu yang hangatkan jiwaku, pada sedan yang coba kutahan di kerongkongan. Aku tersenyum dalam haru, dalam dingin yang penuh kehangatan.





Sacre: ceria menyergap tiba-tiba, dan lihatlah..kini aku tertawa!! suka dan duka memang bagian dari diri kita, bisa datang dan pergi tiba-tiba semudah kita memilihnya. 


Able:  Sesaat kupejamkan mata, untuk menemukan tawa yang kupunya, lalu kulihat simpul penuh makna tergaris di ujung bibirku,,,lalu kusadari bahwa mengingat tawamu mampu membuatku tertawa. Andai akasia itu bisa bicara dia akan merindukan kita berdua saat duduk dibawahnya merangkai impian bersama meski hanya mata yang bicara dan diam mewakili segalanya....

Sacre: tahukah engkau, aku adalah dirimu...kebahagiaan itu berpilin, terbang, menyatu di udara, bahagia yang tak tergenggam tapi bisa dirasa seperti udara.  

Risallah 2 hati (Part-1)

Bukan kah kegilaan akan semakin bermakna dengan kebersamaan.....

secret :
Badai seperti apa yang menghampirimu

able :
Badai apa lagi yang melandaku???
jika badai sesungguhnya telah lama tinggal dan berkecamuk dalam hatiku.
tidakkah itu sudah cukup memporakporandakan semuanya?

secret :
Berdirilah dengan tenang ketika badai telah reda, sehingga kau bisa melihat dengan jelas dan menyusun puing-puing yang tersisa. meski tak ada yang sama, paling tidak kau bisa membangun impian yang baru.

able :
Aku sendiri, hingga aku tak yakin, kadang keyakinankupun mulai runtuh, dia yang tak setia atau aku yang tak lagi percaya??
saat runtuh terkecap, apa makna semuanya?
Rasanya tak hanya ingin berdiri, bahkan aku ingin berlari meninggalkan semua puing2, dan coba memulai kembali dari awal namun serpihan-serpihan luka seolah membuiku.

secret :
Biarkan luka membuatmu dewasa dan melihat banyak warna, bahwa hidup tak hanya hitam ,putih atau jingga, tapi kelabu pun bisa tampak indahnya. Biarkan ketulusan hati menyembuhkan luka, karna dengan begitu kau belajar bahwa cinta memiliki banyak rasa, pahit, manis, asin dan menyebar aroma yang tak selalu harum.
Tersenyum itu mudah tapi kenapa cinta sering membuat patah??

able :
Sekiranya senyum itu memang mudah, namun ia sering terlalu sulit untuk dilakukan, jika pun mudah dilakukan apa tersirat makna didalamnya?
semua jadi terasa sulit saat berkompromi dengan keadaan dan saat keinginan justru tak jadi kenyataan, serta impian terlalu sukar direalisasikan, lalu apa warna hidup sebenarnya??

secret :
Warna hidup adalah pilihan, saat kau celupkan kuas kesedihan pada putihnya warna keikhlasan akan melukiskan kelembutan pada kanvas kehidupanmu, bukankah hidup adalah pilihan? saat mimpi tak seiring sejalan dengan kenyataan akankah tersingkirkan takdir bahwa duka berteman bahagia? setiap bagian hidup memiliki pasangannya sehingga ketika cinta kuat melanda maka benci menyeimbangkan kadarnya agar tak retak cawan hati yang menampungnya.

able :
Aku bahkan tak yakin untuk menentukan pilihan saat duka merampas paksa bahagia lalu luka membuat jadi tak berdaya, bukankah tak ada pilihan didalamnya??
semua terpaksa diterima pasrah yang kadang tak terkecap keikhlasan didalamnya? hingga kau bahkan tak tahu,luka mana yang harus disembuhkan dan duka apa yang harus dikubur dalam-dalam.
Semua seolah bagai sketsa yang membentuk kemauannya sendiri. Tak ada ingin didalamnya namun harus dijalankan. lalu dimana letak pilihan itu?

secret :
Pilihan itu tetap bisa kau tentukan, membiarkan hatimu mati dalam penderitaan atau bangkit meski perlahan walaupun sakitnya tak tertanggungkan. hidup akan harus terus berjalan. Berhenti artinya mati,terinjak-injak waktu dan kenangan. Tak apa jika engkau diam sejenak, menenangkan isakmu dan meneguhkan hatimu,lalu melangkahlah dalam perih itu, sahabat akan bersedia mendampingimu, merapatkan hati tuk saling menguatkan saat jalan kebahagian penuh kerikil tajam tanpa harus menghindarinya.

able :
Saat telah kutemukan kuncinya, aku tak perlu takut lagi terkurung didalamnya.
menapak dengan penuh kesadaran,meski langkah tak lagi tegap, dan dunia seolah tak bersahabat namun hidup tetap harus berjalan,meski kerikil tajam coba untuk hentikan tapi langkah tak boleh gontai,sebab jalan tak lagi sendirian.

secret :
Berteman duka kau akan sengsara,berteman cinta kau juga akan terluka dan berduka tapi kau akan mengecap nikmatanya bahagia...
I wanna be with you.....

Senandung Rasa

Beberapa waktu yang lalu aku larut dalam rasa yang sama bersamaan. aku memandangmu di musim penghujan yang dingin, melihat kau masih bisa tersenyum meski bosan dan malas menjemput. Aku merasakan keteguhan usahamu untuk membahagiakan diri sendiri. Kadang sungkan dan canggung meliputi hatimu saat sepi menyapa. tapi keceriaan dan bahagia bisa menyergap tiba-tiba seperti gerimis yang turun saat mentari bersinar cerah pagi itu. Terkadang kau bersenandung kecil saat menapak jalan-jalan terjal mendaki meski sesekali mengaduh nyeri saat kau tergelincir karena tak hati-hati. Di lain hari aku melihatmu meluncur berlari dijalanan menurun dengan sedikit tawa tertahan dan rasa takut yang membias diwajahmu, tapi diakhiri dengan tawa suka cita saat kau sampai di tempat tujuan tanpa terluka. Itulah dirimu, segala warna dan rasa bisa menyergapmu sekaligus. Terkadang kau enggan berbuat apa-apa dan hanya duduk termangu melepas imajinasi dan hayalan tingkat tinggimu-meski terkantuk-kantuk. kau bisa merasa sangat bosan atau begitu senang, silih berganti rasa seperti warna-warni kembang api tahun baru.

Minggu, 12 Desember 2010

Fog...


kabut kelabu membungkus pagi
menyamarkan pandangan dari cahaya
kabut tipis yang enggan disibakkan cahaya mentari
terlalu angkuh untuk pergi
kabut yang tetap bertahan meski senja turun
saat mentari memberikan singgasananya pada bulan
kabut yang tetap enggan untuk pergi
berkeras hati dengan diri sendiri
terlalu bangga dengan kekakuan diri
terlalu...untuk segala hal

Senin, 11 Oktober 2010

Story part-2

Aku ingin menjadi apa adanya di depanmu, tersenyum dengan hati yang tulus tanpa memaki di dalam hati, memberitahukan apa yg benar dan menerima kemarahan tanpa menjadi marah. Saat engkau tersenyum aku ingin membalasnya lebih baik, saat kau marah aku akan berusaha memahami apa inti kemarahanmu tanpa harus merasa tersakiti.
Kesadaran ini kenapa baru datang sekarang? Apa aku terlambat beberapa tahun? Aku merayakan kebahagiaan saat kau merasakannya, aku ingin menangkap inti masalahmu saat kau kesal pada sesuatu-tanpa aku perlu larut dalam kekesalan. Aku ingin mencintaimu dengan tulus tanpa takut tersakiti, karena meskipun cinta itu menyakitiku, aku tidak akan pernah menyesal telah melatih hatiku untuk baik pada diri sendiri-memberikan kebaikan dengan tulus- karena ini tidak tentang siapa yang dicintai tapi bagaimana mencintai, sehingga kelak aku tidak perlu membencimu, bukankah tidak suka bukan berarti harus menyakiti? Aku ingin mengingatmu dengan kenangan yang baik, menjadikan kenangan sebagai harta karun yang tak akan hilang.
Semua ini tentang bagaimana memahami (untuk orang2 tersayang, semoga selalu dekat dihati)

Minggu, 05 September 2010

Ulang Tahun

Ulang tahun
Apakah sekedar perayaan tiup lilin, nyanyian happy b'day, dan acara potong kue?
Atau jalan2 menghabiskan waktu bersama teman, menikmati acara kumpul dan makan2?
Sehingga, jadikan perayaan ini perbaikan gizi dan senang2
Ulang tahun tahun ini
Apakah sekedar mengulang tahun2 sebelumnya dan menghitung pertambahan usia
Dengan tumpukan kado2 doa yang tak akan berarti apa2 jika tak ada usaha
Atau senyum sumringah, sinar mata bahagia, lalu semua berlalu begitu saja
Tahun-tahun yang sama
Atau ada yang berbeda?
Tak bisa diucapkan selamat berbahagia
Karena tak ada yang tahu apa yang tersembunyi
Selamat ulang tahun
Selamat bagimu yang menjemputnya dengan perbaikan diri
Selamat bagimu yang bersedia merenungi lintasan waktu yang berlalu, usia yang bertambah, dan impian yang akan diraih
Selamat bagimu yang menetapkan Allah sebagai satu-satunya sandaran tempat segala harapan, doa, dan usaha tercurahkan
Maka, selamat menjemput kebahagiaan dengan cinta-Nya!

Jumat, 09 Juli 2010

Sunyi

Mendadak sunyi menyergap hati Lalu kesadaran muncul saat kenyataan menyingkap kebenaran
Ada hati yang terbasuh noda kebencian
Ingin kubantu hapus secepat ia datang
Tapi nafsu membakarnya dengan prasangka
Yang tersisa, hanya hati yg porak-poranda oleh badai duka
Bagaimana kutenangkan sementara hatiku pun sama muramnya?
Akhirnya aku hanya berdiri diantara sunyi dan badai yg mereda
Berusaha memaknai segalanya sebagai pelajaran
Meski sunyi masih menyapa, tetap sama...

Jumat, 21 Mei 2010

Tentang Nurani

Limbung langkah tersandung luka
Itu langkahmu, tertatih perlahan-lahan menjauh
Apa yang sudah kau lakukan sehingga duka berhak singgah dihatimu?
Kemarilah, mari kita bicara
Dan tepis kabut perasangka diantara kita
Agar bening mata melihat bersih hati menilai
Jujur, pahit kebenaran itu diungkapkan
Tapi itulah pilihan
Kebenaran yang tak perduli penghormatan dan sanjungan
Atau hinaan sepanjang dia dipilihkan
Disandang dalam hati menjadi keteguhan, sandaran dan pelipur kesedihan
Memang benar telah sunyi jalan kebenaran
Saat orang telah beramai-ramai menjadikan gegap gempita malam atau hiburan
Sebagai pilihan melepas kejenuhan dan kesedihan
Lalu pulang tersandung-sandung dengan beban yang masih sama
Bahkan semakin bertambah beratnya
Itukah pilihan?
Berlari dariku karena kita sudah tak lagi sejalan dengan kebenaran
Kau abaikan aku dan biarkan aku tersuruk di ruang gelap hatimu
Membisu, tak mampu mengucap kebeningan sepatahpun
Karena telah kau bungkam Aku
Dengan minuman keras, pergaulan bebas dan kebahagiaan semu
Lalu setelah puas dosa menyergapmu, telah lelah jiwa ragamu
Kau datang padaku
Berbisik sendu dan malu-malu
Ingin kembali ke pangkuan nurani, mereguk ketenangan hati dari muara cinta-Nya yang tak bertepi
Kenapa begitu?
Hidup bukanlah permainan bongkar pasang yang selalu bisa kau sesuaikan dengan keinginan
Tak perduli kebenaran, hukum, atau segalanya
Manusia telah buta mata hati
Tak akan perduli nuraninya mati, tersia-sia
Maka menyesallah dan berduka sampai segalanya kembali berguna

Selasa, 23 Maret 2010

Memahamimu

Aku ingin mengerti engkau saudariku
Memahami seluk beluk perasaanmu dan apa yang tersembunyi di palung hatimu
Engkau tahu? Aku sedang berusaha meski kaku, meski ragu
Ataupun terselip malu
Tapi aku sungguh ingin memahamimu
Agar kita tak hanya saling pandang dengan senyum kelu
Atau tatapan cinta malu-malu
Agar dapat ku rengkuh bahumu, kupeluk tubuhmu
Dan kita bisa berbagi cerita tentang apa saja
Seperti halnya wanita biasa
Aku tersenyum membayangkannya
Merasa bangga dengan apa yang kuminta
Dan berujung semu dengan apa yang sudah kuupayakan
Ternyata belum apa-apa, belum cukup bermakna untuk membuatmu mengerti
Segala tanda-tanda cinta yang ku kirim
Atau aku harus mendekat padamu?
Mengetuk pintu hatimu, dan memanggil mesra namamu
Tapi mendadak aku malu, ternyata aku masih malu
Kadang aku geram pada diriku
Pasrah pada akhirnya dan ingin engkau saja yang lebih memahamiku
Harapan yang bertabur mimpi yang selalu kusemai dalam setiap doa
Aku ingin mencintaimu semampuku
Ingin kau tahu bahwa saat-saat diamku
Atau rengut masam mukaku, bukan untuk membencimu
Tapi inginku yang tak sampai padamu
Ingin kau menjadi baik dalam pengetahuan agamaku yang baru seujung kuku
Ingin kau lebih menjaga auratmu agar terjaga kehormatanmu
Ingin kau lebih santun dalam sapa mesra pada cinta orang tua
Begitu banyak inginku
Ah..aku jadi malu tapi tak akan pernah berhenti
Untuk menghadirkan banyak mimpi setiap hari
Sebelum pertanyaan itu ku ajukan padamu
Mungkin sebaiknya inginku adalah untukku dulu
Agar cinta berwujud perbuatan tiada henti
Untuk bisa memahamimu sekali lagi

Tentang Sahabat


Sahabat, berhenti sejenak
Mari kita renungi perjalanan kita
Menelusuri jalan-jalan yang pernah kita lalui
Menyesapi setiap ruang dan waktu yang kita isi dengan canda, tawa, ataupun berbagi duka cita
Aku berbahagia pernah menjadi bagian dalam episode kehidupan
Memberikan kenangan yang ceritanya tak kan usang
Sahabat, terkadang kesal dan marah menjadi warna dalam keseharian kita
Bukan berarti menghentikan kepedulianku atas apa yang menjadi inginmu
Hanya saja ingin kita terbentur oleh dinding perbedaan
Dalam pemahaman, keputusan, dan tujuan
Lalu, tiba-tiba kita berhenti bicara
Seolah-olah kita adalah dua orang asing yang bersua tanpa sengaja
Saling mengalihkan pandang atau menyapa ragu-ragu jika tak dapat mengelakkan diri saat bertemu
Jujur aku tak ingin begitu, menjadi orang yang tak berarti apa-apa bagimu
Mengabaikan semua seolah tak terjadi sesuatu
Namun biarkan hening menyapa kita sejenak
Dengan diam bisa memberi kita waktu untuk lebih sabar dan dewasa
Aku tahu maksud baikmu, tapi berilah kepercayaan padaku
Beri kesempatan untuk menunjukkan apa yang baik menurutku
Sungguh...
Jika masih banyak kekurangan dan kesalahan
Maka kau orang pertama yang kan kutanya
Meminta kejujuran dan nasihat perbaikan
Agar aku lega karena ada tempat bersandar
Dan aku berbahagia menyadari dibalik marahmu ada ketulusan dan kasih sayang
Maafkan maksudku, maafkan lisanku
Aku hanya ingin tetap jadi sahabat baikmu

Cinta Ayah Bunda

Waktu kecil, aku selalu minta pakaian baru dan mainan yang sama dengan teman2ku
Jika kau bilang nanti, aku menangis
Jika kau bilang uang tak ada, aku bermuram durja dan tak mau bicara
Dan ketika akhirnya engkau belikan juga, aku bersorak riang gembira sambil berteriak “aku cinta ayah bunda!”
Meski tanpa ku tahu, mainan baruku adalah hasil tumpukan hutang baru
Saat remaja saat engkau minta waktuku untuk membantu pekerjaan rumah yang menumpuk
Kubilang tugas ku banyak
Atau aku ada acara lain
Dan yang paling santun, kudiamkan sampai engkau harus berteriak marah
Aku tak perduli, kubilang kau harusnya memahami
Pikirku saat itu adalah masa mencari jati diri
Maka pikirku lagi, seharusnya engkau lebih mengerti
Tapi waktu engkau bilang, kita butuh pergi berlibur bersama
Dengan senyum mengembang, tatapan suka cita dan anggukan kepala kukatakan “aku cinta ayah bunda”
Tanpa kusadari engkau harus mengambil cuti diantara pekerjaan yang harus diselesaikan nanti
Ketika dewasa saat kau minta aku tinggal di rumah tuk sementara
Karena telah lama tak berjumpa, ada inginmu merajut cinta yang hanya bisa terbaca melalui sms atau telpon cepat singkat
Ingin aku disisimu mendengar ceritamu tentang kenangan2 masa lalu
Tentang kebanggaanmu dan betapa telah dewasa aku
Tapi dengan enggan ku sela anganmu
Aku sibuk..jawabku, aku harus mengejar waku membereskan ini itu
Lain kali saja ya?
Kuabaikan gurat luka di matamu
Meski terbesit rasa bersalah di hati kuyakinkan diri ini bisa kuperbaiki nanti
Lalu waktu beranjak pergi
Jika kelak kurajut mimpi dan memiliki keluarga sendiri
Akankah kusadari waktu yang terlewat bersamamu
Ayah bunda, cinta yang tak pernah padam
Meskipun aku masih datang dengan celoteh pertengkaran
Berharap didengarkan berharap penghiburan
Padahal ayah bunda telah lelah meski tak pernah gundah
Akhirnya dengan malu aku menunduk menunjuk diri
Apakah cukup hanya ucapan “aku cinta Ayah Bunda?”

Sabtu, 20 Februari 2010

Pemahaman Baru

Menapak jejak-jejak waktu membuatku berhenti pada satu pertanyaan dalam diriku. Mau kemanakah ku bawa hidupku? Mengenal banyak orang dan belajar memahami, kupikir bisa membangun jalan yang lebih baik ke depannya. Namun terkadang aku kecewa pada pernyataan yang tetap muncul dari orang2 maupun dari diri sendiri. Aku belum sekuat itu, aku belum punya kendali yang cukup atas diriku sendiri dan pada akhirnya aku hanya menuntut terlalu banyak atau bahkan kehilangan banyak kesempatan itu sendiri. Imajinasi tak selamanya membantu menemukan diri dan mewujudkan rasa. terkadang aku kecewa pada diriku, pada orang2 dan pada kesempatan yang tidak bisa kuambil dengan cepat. Terlebih dari semua itu terkadang timbul sebuah pertanyaan, apa sebenarnya yang diharapkan orang lain dariku? Aku kecewa pada orang2 atas rendahnya penilaian mereka atasku, barangkali begitu. Entah apa acuannya. Kenapa setiap orang harus sibuk memikirkan masalah orang lain, apa ada jenis kepuasaan tertentu dari semua itu?
Penghormatan, menghargai, mencintai, kesopanan, keramahan, dan segala hal tersebut membentuk manusia menjadi benar2 manusiawi yang sungguh dirindukan oleh semua orang. Kadang ada keinginan mengabaikan apa yang orang2 inginkan, tapi untuk mengenal se2orang kita perlu bersinggungan dengan orang tersebut. Ada pertengkarangan, ketidakcocokan, bahkan tingginya harga diri untuk mengakui kebenaran menjadi masalah berartinya sebuah hubungan. Kadang perlu juga penegasan bahwa "Hidupku adalah milikku", aku tidak ingin ada seorangpun yang mengatur kehidupanku sehingga semua harus berjalan “sebagaimana seharusnya” menurut mereka. Padahal setiap tanggung jawab dan resiko yang akan dihadapi harus ditanggung sendiri. Pada ti2k tertentu dalam setiap kehidupan se2orang, mereka bisa merasa bosan/jenuh, tapi pada prinsip tertentu dengan tingkat keangkuhan yang tinggi be2rapa orang enggan untuk mengakuinya, dengan beranggapan mereka punya kendali besar dalam hidupnya, atau sebenarnya mereka punya kepercayaan diri yang tinggi? who knows....

Kamis, 18 Februari 2010

Hujan sore hari

Gerimis halus turun, suasana yang menyenangkan, terasa nyaman. Cuma manusia yang sibuk sendiri menghindari hujan, mungkin mengeluhkan keadaan atau bahkan menyalahkan. Tapi bagiku ini suasana yang indah, jejak2 kesejukan yang tertinggal di dedaunan, menyegarkan rumput dan melembabkan jalan2 yang berdebu. Hembusan angin lembut menggoyang pepohonan seakan mengajaknya menari menciptakan keindahan tersendiri. Bagiku ini termasuk nuansa romantis yang indah, du2k diam sambil memandang keadaan di sekitar, sekedar membaca buku atau menyesap pemandangan, menyegarkan perasaan. Atau coba rasakan melihat langit cerah di malam hari, saat bintang2 dan bulan dengan cahaya keemasaannya memberikan lukisan langit yang paling indah. Rasi bintang terbentuk, menjadi peta perjalanan bagi orang2 nun jauh di suatu tempat. Segala disekeli2ngmu terasa indah jika kau bisa melihat dari sudut yang berbeda. Kebahagiaan itu tidak selalu dengan sesuatu yang megah dan mewah, tapi dari hal2 yang sederhana dan bermakna akan memberikan nilai bahagia yang lebih mendalam. Pernah mendaki gunung? Dari atas sana kau bisa melihat seluruh alam terbentang, terlihat sangat kecil dan rapuh, tertu2p awan tebal yang menaunginya membuatmu seolah berada di tempat tertinggi, melihat seluruh kepadatan dari sudut yang tertinggi membuat segalanya menjadi sederhana, sederhana yang indah dan membahagiakan.

Cerita masa lalu

Apa yang Ku rasa saat ini mungkin dapat terangkum dlm ungkapan sederhana berikut ini:) "Jalan itu Sulit, Kadang Terasa Berat dan Mendaki, Aq Cuma Ingin Kembali dan Mengingat Semua yang Indah, tapi Aq Tak Punya Banyak Waktu Kalau Hanya untuk Bermain-main dengan Waktu, karena Aq Sendiri Sudah Menjadi Sisa2 yg Sia2, Lalu Harus Bagaimana? Waktu Bertanya tapi Kebohongan yang Berbicara, Hatiku Buta atau Mata yang Tak Lagi Bercahaya? Sepertinya Kebalik Ya? Hati yang Tak Lagi Bercahaya Sehingga Membutakan Mata, Tadi Banyak Hal yg Indah Terlihat, Hanya Saja Aq Tidak Punya Kesanggupan Menahan Hati Menjaga Diri, Lalu Sepi Menyapa dan Nafsu yang Bekerja, Banyak Dosa yang Sudah Terbuat, Sepi itu Indah, Terkadang Menjadi Terasing adalah Kebahagiaan, namun Aq Terlalu Takut Menghadapinya, lalu Dimana Sunyi yang Dulu Ingin ku lepaskan Diri Darinya? Sekarang Rindu Menyapa tapi Sepertinya Sudah Tak Bermakna, Aq Lupa pd Dunia yg Dulu Ingin ku Tinggalkan, Dulu Aq Pernah Merasa Terasing dan Menyingkirkan Indah yang Mungkin Tercipta, Aq Tak Pernah Puas Barangkali itu Saja Jawabannya, Lupa, Luka, dan Dusta, Sepertinya Dengan itu Banyak ku Lalui Waktu, Lalu Aq Harus Bagamana? Saat Itu Ada Sesuatu yang Menyapa Diam Saja, Ada Ragu Bertanya, Benarkah Rasa ini Pantas Singgah, atw Sudah Waktunya? Lama Waktu ku Paksa Hati Berkata, Berdialog Dalam Banyak Rasa, Ternyata Ini Bkn Cinta, Hanya Keterburuan Emosi untuk Memaknainya, Barangkali...."