Waktu kecil, aku selalu minta pakaian baru dan mainan yang sama dengan teman2ku
Jika kau bilang nanti, aku menangis
Jika kau bilang uang tak ada, aku bermuram durja dan tak mau bicara
Dan ketika akhirnya engkau belikan juga, aku bersorak riang gembira sambil berteriak “aku cinta ayah bunda!”
Meski tanpa ku tahu, mainan baruku adalah hasil tumpukan hutang baru
Saat remaja saat engkau minta waktuku untuk membantu pekerjaan rumah yang menumpuk
Kubilang tugas ku banyak
Atau aku ada acara lain
Dan yang paling santun, kudiamkan sampai engkau harus berteriak marah
Aku tak perduli, kubilang kau harusnya memahami
Pikirku saat itu adalah masa mencari jati diri
Maka pikirku lagi, seharusnya engkau lebih mengerti
Tapi waktu engkau bilang, kita butuh pergi berlibur bersama
Dengan senyum mengembang, tatapan suka cita dan anggukan kepala kukatakan “aku cinta ayah bunda”
Tanpa kusadari engkau harus mengambil cuti diantara pekerjaan yang harus diselesaikan nanti
Ketika dewasa saat kau minta aku tinggal di rumah tuk sementara
Karena telah lama tak berjumpa, ada inginmu merajut cinta yang hanya bisa terbaca melalui sms atau telpon cepat singkat
Ingin aku disisimu mendengar ceritamu tentang kenangan2 masa lalu
Tentang kebanggaanmu dan betapa telah dewasa aku
Tapi dengan enggan ku sela anganmu
Aku sibuk..jawabku, aku harus mengejar waku membereskan ini itu
Lain kali saja ya?
Kuabaikan gurat luka di matamu
Meski terbesit rasa bersalah di hati kuyakinkan diri ini bisa kuperbaiki nanti
Lalu waktu beranjak pergi
Jika kelak kurajut mimpi dan memiliki keluarga sendiri
Akankah kusadari waktu yang terlewat bersamamu
Ayah bunda, cinta yang tak pernah padam
Meskipun aku masih datang dengan celoteh pertengkaran
Berharap didengarkan berharap penghiburan
Padahal ayah bunda telah lelah meski tak pernah gundah
Akhirnya dengan malu aku menunduk menunjuk diri
Apakah cukup hanya ucapan “aku cinta Ayah Bunda?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar