Kosong itu sunyi
tapi kesunyian bukan berarti kosong
Sepi itu menenangkan
tapi kesepian tidaklah menyenangkan
Marah itu menyebalkan
tapi kesal tak meredakan amarah
Gelap itu menyesakkan
tapi sesak tak mudah hilang meski ramai dengan perhatian
Kecewa itu hampa
dan kehampaan itu seperti mati mati rasa
Bohong itu menyakitkan
tapi kejujuran sering diabaikan
Kejujuran itu tidak menyenangkan
tapi berakhir lebih manis dari kebohongan
Menjadi baik itu melelahkan
tapi bergelimang kesalahan lebih mematikan
Senyum itu tanda bahagia
tapi bahagia tak selalu terungkap dengan senyum
"Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihat" "Alhamdulillah 'ala kulli hal" ~Catatan dari Sudut Hati~
Minggu, 09 September 2012
Rabu, 15 Agustus 2012
Jumat, 03 Februari 2012
Awakening
Kupikir aku akan segera bosan, secepatnya...lalu beralih kembali pada kebenaran yang seharusnya. Biasanya, sesuatu yang dilakukan terus menerus akan terasa membosankan. Tapi kenapa keburukan tidak membuat kita menjadi bosan? semakin dilakukan semakin menyenangkan, membuatku merasa menjadi diri sendiri dan apa adanya.
Padahal semua itu hanya sebuah kebohongan besar yang diciptakan diri sendiri, sebuah pengakuan hati yang tertutupi nafsu sehingga diri bebas bicara apa saja. Pada akhirnya membiarkan diri menentukan sebuah ketidakbenaran bahwa "beginilah aku adanya" mengaburkan makna fitrah bahwa seharusnya kita terus berbenah, mengabaikan suara hati yang terus berbisik "jangan teruskan, ini salah, seharusnya kau tak begini..." menafikkan suara hati ini setiap hari.
Siapa yang paling merasa bahwa waktunya habis sia-sia? diri sendiri...
Siapa yang paling terluka atas pilihan-pilihan yang salah dalam hidup kita? diri sendiri..
Siapa yang paling menderita atas penyesalan dosa-dosa? diri sendiri...
Selalu,
semua berbicara tentang manusia dan apa yang diperbuatnya. Dunia tidak
pernah lelah dan berubah menjadi kejam pada manusia kecuali manusia itu sendiri yang membuat kerusakan sehingga menyakiti dirinya sendiri.
Luka yang kita ciptakan, pemikiran-pemikiran yang menyesakkan dada menjadikan hati kita menanggung penderitaan yang menyuburkan rasa kecewa, memberikan izin bagi diri untuk disakitiPadahal, yang diperlukan adalah semangat untuk bangkit, berbenah memperbaiki diri sembari terus meluruskan niat. Beribadah bukan karena apapun dan siapapun, tapi karena Allah saja. Memurnikan niat perbaikan hanya kepada Yang Maha Baik. Bukan karena sekeping cinta manusia, bukan hanya karena pujian dan penghargaan, dan bukan hanya untuk menjadi pengikut tanpa kesadaran dan pemahaman, tapi karena cinta.
Cinta yang membuat kita merasa lebih baik, tetap bersemangat meski susah, tetap bisa tersenyum meski lelah dan tetap istiqomah meski dengan iman yang kadarnya terus berubah.
Bukankah dunia diciptakan sebagai tiket terusan ke Surga?
Nama
Berfikir lagi, lalu mulai menulis sesuatu yang baru dan mencari-cari tema apa yang menarik kali ini? hmm...tentang nama saja, ada beberapa pengalaman yang cukup lucu dan menghibur. Dua orang teman yang ku kenal beberapa waktu lalu, ternyata dua-duanya adalah pria dengan nama yang ku kira wanita. dimulai dengan sapa, icon senyum ramah tamah, dan gaya SKSD ala saya dimulailah perkenalan yang cukup menyenangkan. Si A , masuk dengan salam pembuka dan berlanjut dengan cerita2 yang cukup seru dan ku balas dengan tak kalah errornya, yakin sekali kalau dia seorang akhwat yang humoris dan asyik buat diajak ngobrol. kepercayaan diri saya tiba-tiba runtuh seketika saat menyadari siapa dia sesungguhnya (lebay :P). Tapi ternyata saya sudah kadung menggila, it's oke sajalah meski tahu seharusnya saya lebih bisa menjaga kata-kata (salah lagi..)
Kasus kedua, mengkomen status seorang sister di FB, seperti biasa (kebiasaan yang buruk) saya langsung nyempil tanpa permisi, ikut komen sana-sini dan berakhir dengan salah paham lagi. Kali ini seorang ikhwan bernama M, tanpa ikut membaca kronologis komentar-komentar sebelumnya saya terjatuh pada kesalahan yang sama (semoga dimaafkan). Lagi-lagi masalah nama, orang yang saya kira wanita ternyata pria dan kebanyakan cerita lainnya orang yang dikira pria ternyata wanita. Sekelumit cerita tentang keunikan nama :)
Nama...punya banyak arti dan niat yang tertanam saat orang tua kita memberinya, dengan sepenuh doa dan pengharapan agar anaknya bisa sesuai dengan nama besar yang disandangnya, paling tidak, ada sedikit kemiripan karakter atau kepribadian yang pada umumnya adalah kebaikan.
Jika di barat bilang "apalah arti sebuah nama" maka Rasulullah kita lebih baik menyampaikannya bahwa "nama adalah doa". Saat ini banyak orang tua yang menjadi follower, memberi nama anak-anaknya sesuai nama artis atau sekedar kedengaran keren dan modern. Menjauhkan anak-anak dari pengharapan yang lebih dalam. Bukan salah bunda mengandung, benar, setiap orang tua berhak dan anak pun berhak atas kebaikan dirinya untuk apapun yang menjadi penting dalam hidupnya. Saya tidak akan membicarakan hak dan tanggung jawab orang tua di sini. Nah..cukup sudah OOT saya, back to the topic: "nama".
nama saya sendiri sederhana saja, ayahanda ingin saya jadi anak yang pintar sepintar nama yang diberikannya dari nama seorang teman beliau di masa sekolah, seorang yang pintar, anggun, rendah hati, dan penuh percaya diri (haha....3 poin terakhir adalah karangan saya, semoga menjadi nyata ^_^) pada kenyataannya saya dalam proses belajar menjadi pintar, berakhir sampai batas waktu yang tidak diketahui.
Nama, sebuah keunikan label bagi setiap diri. Saya pernah menonton acara berita kriminalitas yang memiriskan arti nama menjadi tak berarti. Dalam laporan kriminal tersebut diceritakan seorang pria bernama Rahmatullah mencuri dan membunuh, mengejutkan. Bukan kasusnya yang menjadi perbincangan, tapi nama orang tersebut yang membuat orang-orang menggelengkan kepala dan berfikir "nama kok nggak sesuai sama kepribadiannya ya?" lagi-lagi salah nama, padahal label itu diharapkan dapat menciptakan isi yang sesuai sehingga maknanya pas dengan harapan pada akhirnya setiap pribadi dapat menjadi menjadi sebaik-baik insan, karena nama adalah doa.
Kasus kedua, mengkomen status seorang sister di FB, seperti biasa (kebiasaan yang buruk) saya langsung nyempil tanpa permisi, ikut komen sana-sini dan berakhir dengan salah paham lagi. Kali ini seorang ikhwan bernama M, tanpa ikut membaca kronologis komentar-komentar sebelumnya saya terjatuh pada kesalahan yang sama (semoga dimaafkan). Lagi-lagi masalah nama, orang yang saya kira wanita ternyata pria dan kebanyakan cerita lainnya orang yang dikira pria ternyata wanita. Sekelumit cerita tentang keunikan nama :)
Nama...punya banyak arti dan niat yang tertanam saat orang tua kita memberinya, dengan sepenuh doa dan pengharapan agar anaknya bisa sesuai dengan nama besar yang disandangnya, paling tidak, ada sedikit kemiripan karakter atau kepribadian yang pada umumnya adalah kebaikan.
Jika di barat bilang "apalah arti sebuah nama" maka Rasulullah kita lebih baik menyampaikannya bahwa "nama adalah doa". Saat ini banyak orang tua yang menjadi follower, memberi nama anak-anaknya sesuai nama artis atau sekedar kedengaran keren dan modern. Menjauhkan anak-anak dari pengharapan yang lebih dalam. Bukan salah bunda mengandung, benar, setiap orang tua berhak dan anak pun berhak atas kebaikan dirinya untuk apapun yang menjadi penting dalam hidupnya. Saya tidak akan membicarakan hak dan tanggung jawab orang tua di sini. Nah..cukup sudah OOT saya, back to the topic: "nama".
nama saya sendiri sederhana saja, ayahanda ingin saya jadi anak yang pintar sepintar nama yang diberikannya dari nama seorang teman beliau di masa sekolah, seorang yang pintar, anggun, rendah hati, dan penuh percaya diri (haha....3 poin terakhir adalah karangan saya, semoga menjadi nyata ^_^) pada kenyataannya saya dalam proses belajar menjadi pintar, berakhir sampai batas waktu yang tidak diketahui.
Nama, sebuah keunikan label bagi setiap diri. Saya pernah menonton acara berita kriminalitas yang memiriskan arti nama menjadi tak berarti. Dalam laporan kriminal tersebut diceritakan seorang pria bernama Rahmatullah mencuri dan membunuh, mengejutkan. Bukan kasusnya yang menjadi perbincangan, tapi nama orang tersebut yang membuat orang-orang menggelengkan kepala dan berfikir "nama kok nggak sesuai sama kepribadiannya ya?" lagi-lagi salah nama, padahal label itu diharapkan dapat menciptakan isi yang sesuai sehingga maknanya pas dengan harapan pada akhirnya setiap pribadi dapat menjadi menjadi sebaik-baik insan, karena nama adalah doa.
Kamis, 26 Januari 2012
Do you know?
Aku tahu... bicara denganmu adalah sesuatu yang mengalir, ringan, apa adanya dan terasa nyaman...
Sayang kamu temanku, kalau kamu artis mungkin aku akan jadi fansmu...
tapi setelah difikir-fikir mendalam..
Aku tak mau jadi pemuja
karena aku tak akan bisa memuja tanpa kecewa
karena aku manusia biasa.
Jadi biarkan pemujaan ini hanya pada Tuhan kita saja, Allah yang Maha Segalanya
Aku tahu...menjadi sahabatmu adalah berkah yang selalu ku syukuri
Tanpa perlu berhitung untung rugi
tentang berapa banyak bahagia atau kecewa yang membalut persahabatan kita
tapi, seberapa kuat kita menjadi diri sendiri dan bisa berbagi dengan ketulusan hati
lalu bisa saling mengingatkan kesalahan tanpa membenci
Aku tahu.... dan berharap kamu tahu
Aku ingin tetap jadi sahabat baikmu
meski waktu dan keadaan merubah sebagian dari diri kita
tak ada yang berubah dari persahabatan kita
Kamis, 19 Januari 2012
I have Dreams...
Saya berusaha mensyukuri keberadaan diri dan apa yang saya miliki setiap hari, berusaha menjadi ramah, dan merasa malu atas kesalahan-kesalahan sehingga berupaya melakukan perbaikan. Saya juga berusaha menikmati setiap aktivitas yang dijalani meski kadang rasa bosan datang menyergap, hal yang lumrah. Menjalani hidup saya dengan fikiran-fikiran yang penuh dengan cerita. Impian..
Banyak hal yang menarik setiap kita bicara tentang mimpi, tentang gradasi warnanya, tentang abstrak bentuknya tapi semua bisa menjadi nyata ketika kita sungguh-sungguh menginginkannya.
Saya suka memimpikan banyak hal-hal yang sulit dalam hidup saya, keinginan yang belum tercapai atau yang akan lakukan. Begitu banyak dan akan terlalu panjang jika diceritakan.
Sedikit pencerahan di suatu pagi, disela kegiatan rutin menyapu rumah, tiba-tiba terbetik pertanyaan, apa yang bisa membuat orang berbahagia dengan cara yang mudah? lalu saya menjawab sendiri; membagi kesibukan fikiran antara sapu dan jawaban :). hmm..jawabannya adalah: "sederhana", ya menjadi diri yang sederhana dalam keinginan, jawaban yang sederhana sesederhana kita mendapatkannya jika kita mau berusaha. Ternyata itu resep bahagia yang sudah tersimpan dari awalnya, saya tersenyum. betul juga pemikiran ini, tak ada beban ketika kita merasa cukup dengan segala yang terbaik yang sudah kita usahakan.
Mengukur diri, menimbang keadaan dan mengaplikasikan dalam tindakan adalah cara awal untuk menjalani mimpi sebagai pribadi yang bahagia.
Kadangkala mimpi di luar perhitungan matematis meski tidak jauh dari analisis resiko, tapi bisa menjadi nyata. karena ada yang berperan di dalamnya yaitu keberadaan Tuhan yang memberi kekuatan saat Allah bilang "kun fayakun" jadi, maka terjadilah. Nothing is impossible. Saat istilah asing mengatakan bahwa faktor x berperan dalam sebuah keberhasilan, maka faktor x kita adalah Allah SWT, yang membalik rasio kegagalan menjadi keberhasilan dengan campur tangan kekuasaanNya yang maha tinggi.
Sebuah impian dan mimpi-mimpi yang lain akan terus berlanjut setiap hari, karena dengan mimpi maka hidup terasa berarti dan dengan mimpi kita bisa berbagi, akankah mimpi kita sama kali ini??
to be continue.....
Ikhlas itu.....
Saya suka hujan, saya suka melihat bintang, saya suka merasakan cerahnya mentari, saya suka apapun yang baik bagi saya. Tapi di atas segalanya saya suka menjadi orang baik dan bisa memberi kebaikan.
Saya tidak sempurna; saya mensyukurinya, saya tidak selalu bahagia tapi saya menikmatinya, saya suka merasa bosan; membuat saya memahami kelemahan saya, saya mengetahui kekurangan saya; mengajarkan saya menguranginya, saya menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak saya sukai; karena saya tahu batasan saya untuk bertahan.
Saya tidak sempurna; saya mensyukurinya, saya tidak selalu bahagia tapi saya menikmatinya, saya suka merasa bosan; membuat saya memahami kelemahan saya, saya mengetahui kekurangan saya; mengajarkan saya menguranginya, saya menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak saya sukai; karena saya tahu batasan saya untuk bertahan.
Saya belajar banyak hal setiap hari dari diri saya sendiri. Meskipun semakin banyak saya tahu semakin banyak yang belum saya ketahui. Ini semua tentang diri saya dan mungkin rasa semua orang juga seperti itu, banyak hal yang mereka miliki tanpa mereka ketahui apa saja itu. Jadi, ketika saya menyadari banyak hal tentang ini semakin memperkuat keyakinan dalam diri saya, betapa Allah telah begitu sempurna atas segala penciptaannya. Saya tidak menunjuk siapapun dengan paksaan untuk menjadi sadar, tapi berusalah melihat diri sendiri meskipun hanya sedikit dengan begitu akan ada banyak hikmah yang bisa kita ambil dan pelajari.
Sedikit cerita di malam hari, sedikit renungan yang bisa dibagi dalam tulisan tak seberapa ini, tapi setiap kali saya membacanya, saya ingin mengingat bagaimana nuansa perasaan saat menulisnya, bahagia dan syukur. Bahagia itu ternyata sederhana: cukup bersyukur dan ikhlas dalam menerima dan memberi. Selalu, setiap orang akan berkata "ikhlas itu cuma mudah untuk diucapkan" kalau begitu saya juga akan bilang: "memang mudah..tapi akan jauh lebih mudah kalau langsung dipraktekkan" sedikit demi sedikit, sepanjang waktu, sehingga ikhlas bisa menjadi keseharian kita dan menjadi watak kita. Kita sering mengartikan ikhlas hanya untuk menerima sesuatu hal yang besar saja. Tapi bagaimana mungkin? bukankah pohon tak bisa tumbuh besar tanpa proses waktu dan perawatan, kita membibit ikhlas di dalam hati. merawatnya dengan konsistensi, menyiramnya dengan harapan, memupuknya dengan keyakinan bahwa ada yang Maha Menjaganya tumbuh besar bahkan tanpa kita sadari. Seringkali kita hanya ingat bagaimana memulainya; setiap kebaikan; tapi kita dibuat terlena oleh proses waktu dimana Allah berperan begitu besar membuat keinginan kita menjadi kenyataan.
Langganan:
Postingan (Atom)


