Jumat, 21 Mei 2010

Tentang Nurani

Limbung langkah tersandung luka
Itu langkahmu, tertatih perlahan-lahan menjauh
Apa yang sudah kau lakukan sehingga duka berhak singgah dihatimu?
Kemarilah, mari kita bicara
Dan tepis kabut perasangka diantara kita
Agar bening mata melihat bersih hati menilai
Jujur, pahit kebenaran itu diungkapkan
Tapi itulah pilihan
Kebenaran yang tak perduli penghormatan dan sanjungan
Atau hinaan sepanjang dia dipilihkan
Disandang dalam hati menjadi keteguhan, sandaran dan pelipur kesedihan
Memang benar telah sunyi jalan kebenaran
Saat orang telah beramai-ramai menjadikan gegap gempita malam atau hiburan
Sebagai pilihan melepas kejenuhan dan kesedihan
Lalu pulang tersandung-sandung dengan beban yang masih sama
Bahkan semakin bertambah beratnya
Itukah pilihan?
Berlari dariku karena kita sudah tak lagi sejalan dengan kebenaran
Kau abaikan aku dan biarkan aku tersuruk di ruang gelap hatimu
Membisu, tak mampu mengucap kebeningan sepatahpun
Karena telah kau bungkam Aku
Dengan minuman keras, pergaulan bebas dan kebahagiaan semu
Lalu setelah puas dosa menyergapmu, telah lelah jiwa ragamu
Kau datang padaku
Berbisik sendu dan malu-malu
Ingin kembali ke pangkuan nurani, mereguk ketenangan hati dari muara cinta-Nya yang tak bertepi
Kenapa begitu?
Hidup bukanlah permainan bongkar pasang yang selalu bisa kau sesuaikan dengan keinginan
Tak perduli kebenaran, hukum, atau segalanya
Manusia telah buta mata hati
Tak akan perduli nuraninya mati, tersia-sia
Maka menyesallah dan berduka sampai segalanya kembali berguna

Selasa, 23 Maret 2010

Memahamimu

Aku ingin mengerti engkau saudariku
Memahami seluk beluk perasaanmu dan apa yang tersembunyi di palung hatimu
Engkau tahu? Aku sedang berusaha meski kaku, meski ragu
Ataupun terselip malu
Tapi aku sungguh ingin memahamimu
Agar kita tak hanya saling pandang dengan senyum kelu
Atau tatapan cinta malu-malu
Agar dapat ku rengkuh bahumu, kupeluk tubuhmu
Dan kita bisa berbagi cerita tentang apa saja
Seperti halnya wanita biasa
Aku tersenyum membayangkannya
Merasa bangga dengan apa yang kuminta
Dan berujung semu dengan apa yang sudah kuupayakan
Ternyata belum apa-apa, belum cukup bermakna untuk membuatmu mengerti
Segala tanda-tanda cinta yang ku kirim
Atau aku harus mendekat padamu?
Mengetuk pintu hatimu, dan memanggil mesra namamu
Tapi mendadak aku malu, ternyata aku masih malu
Kadang aku geram pada diriku
Pasrah pada akhirnya dan ingin engkau saja yang lebih memahamiku
Harapan yang bertabur mimpi yang selalu kusemai dalam setiap doa
Aku ingin mencintaimu semampuku
Ingin kau tahu bahwa saat-saat diamku
Atau rengut masam mukaku, bukan untuk membencimu
Tapi inginku yang tak sampai padamu
Ingin kau menjadi baik dalam pengetahuan agamaku yang baru seujung kuku
Ingin kau lebih menjaga auratmu agar terjaga kehormatanmu
Ingin kau lebih santun dalam sapa mesra pada cinta orang tua
Begitu banyak inginku
Ah..aku jadi malu tapi tak akan pernah berhenti
Untuk menghadirkan banyak mimpi setiap hari
Sebelum pertanyaan itu ku ajukan padamu
Mungkin sebaiknya inginku adalah untukku dulu
Agar cinta berwujud perbuatan tiada henti
Untuk bisa memahamimu sekali lagi

Tentang Sahabat


Sahabat, berhenti sejenak
Mari kita renungi perjalanan kita
Menelusuri jalan-jalan yang pernah kita lalui
Menyesapi setiap ruang dan waktu yang kita isi dengan canda, tawa, ataupun berbagi duka cita
Aku berbahagia pernah menjadi bagian dalam episode kehidupan
Memberikan kenangan yang ceritanya tak kan usang
Sahabat, terkadang kesal dan marah menjadi warna dalam keseharian kita
Bukan berarti menghentikan kepedulianku atas apa yang menjadi inginmu
Hanya saja ingin kita terbentur oleh dinding perbedaan
Dalam pemahaman, keputusan, dan tujuan
Lalu, tiba-tiba kita berhenti bicara
Seolah-olah kita adalah dua orang asing yang bersua tanpa sengaja
Saling mengalihkan pandang atau menyapa ragu-ragu jika tak dapat mengelakkan diri saat bertemu
Jujur aku tak ingin begitu, menjadi orang yang tak berarti apa-apa bagimu
Mengabaikan semua seolah tak terjadi sesuatu
Namun biarkan hening menyapa kita sejenak
Dengan diam bisa memberi kita waktu untuk lebih sabar dan dewasa
Aku tahu maksud baikmu, tapi berilah kepercayaan padaku
Beri kesempatan untuk menunjukkan apa yang baik menurutku
Sungguh...
Jika masih banyak kekurangan dan kesalahan
Maka kau orang pertama yang kan kutanya
Meminta kejujuran dan nasihat perbaikan
Agar aku lega karena ada tempat bersandar
Dan aku berbahagia menyadari dibalik marahmu ada ketulusan dan kasih sayang
Maafkan maksudku, maafkan lisanku
Aku hanya ingin tetap jadi sahabat baikmu

Cinta Ayah Bunda

Waktu kecil, aku selalu minta pakaian baru dan mainan yang sama dengan teman2ku
Jika kau bilang nanti, aku menangis
Jika kau bilang uang tak ada, aku bermuram durja dan tak mau bicara
Dan ketika akhirnya engkau belikan juga, aku bersorak riang gembira sambil berteriak “aku cinta ayah bunda!”
Meski tanpa ku tahu, mainan baruku adalah hasil tumpukan hutang baru
Saat remaja saat engkau minta waktuku untuk membantu pekerjaan rumah yang menumpuk
Kubilang tugas ku banyak
Atau aku ada acara lain
Dan yang paling santun, kudiamkan sampai engkau harus berteriak marah
Aku tak perduli, kubilang kau harusnya memahami
Pikirku saat itu adalah masa mencari jati diri
Maka pikirku lagi, seharusnya engkau lebih mengerti
Tapi waktu engkau bilang, kita butuh pergi berlibur bersama
Dengan senyum mengembang, tatapan suka cita dan anggukan kepala kukatakan “aku cinta ayah bunda”
Tanpa kusadari engkau harus mengambil cuti diantara pekerjaan yang harus diselesaikan nanti
Ketika dewasa saat kau minta aku tinggal di rumah tuk sementara
Karena telah lama tak berjumpa, ada inginmu merajut cinta yang hanya bisa terbaca melalui sms atau telpon cepat singkat
Ingin aku disisimu mendengar ceritamu tentang kenangan2 masa lalu
Tentang kebanggaanmu dan betapa telah dewasa aku
Tapi dengan enggan ku sela anganmu
Aku sibuk..jawabku, aku harus mengejar waku membereskan ini itu
Lain kali saja ya?
Kuabaikan gurat luka di matamu
Meski terbesit rasa bersalah di hati kuyakinkan diri ini bisa kuperbaiki nanti
Lalu waktu beranjak pergi
Jika kelak kurajut mimpi dan memiliki keluarga sendiri
Akankah kusadari waktu yang terlewat bersamamu
Ayah bunda, cinta yang tak pernah padam
Meskipun aku masih datang dengan celoteh pertengkaran
Berharap didengarkan berharap penghiburan
Padahal ayah bunda telah lelah meski tak pernah gundah
Akhirnya dengan malu aku menunduk menunjuk diri
Apakah cukup hanya ucapan “aku cinta Ayah Bunda?”

Sabtu, 20 Februari 2010

Pemahaman Baru

Menapak jejak-jejak waktu membuatku berhenti pada satu pertanyaan dalam diriku. Mau kemanakah ku bawa hidupku? Mengenal banyak orang dan belajar memahami, kupikir bisa membangun jalan yang lebih baik ke depannya. Namun terkadang aku kecewa pada pernyataan yang tetap muncul dari orang2 maupun dari diri sendiri. Aku belum sekuat itu, aku belum punya kendali yang cukup atas diriku sendiri dan pada akhirnya aku hanya menuntut terlalu banyak atau bahkan kehilangan banyak kesempatan itu sendiri. Imajinasi tak selamanya membantu menemukan diri dan mewujudkan rasa. terkadang aku kecewa pada diriku, pada orang2 dan pada kesempatan yang tidak bisa kuambil dengan cepat. Terlebih dari semua itu terkadang timbul sebuah pertanyaan, apa sebenarnya yang diharapkan orang lain dariku? Aku kecewa pada orang2 atas rendahnya penilaian mereka atasku, barangkali begitu. Entah apa acuannya. Kenapa setiap orang harus sibuk memikirkan masalah orang lain, apa ada jenis kepuasaan tertentu dari semua itu?
Penghormatan, menghargai, mencintai, kesopanan, keramahan, dan segala hal tersebut membentuk manusia menjadi benar2 manusiawi yang sungguh dirindukan oleh semua orang. Kadang ada keinginan mengabaikan apa yang orang2 inginkan, tapi untuk mengenal se2orang kita perlu bersinggungan dengan orang tersebut. Ada pertengkarangan, ketidakcocokan, bahkan tingginya harga diri untuk mengakui kebenaran menjadi masalah berartinya sebuah hubungan. Kadang perlu juga penegasan bahwa "Hidupku adalah milikku", aku tidak ingin ada seorangpun yang mengatur kehidupanku sehingga semua harus berjalan “sebagaimana seharusnya” menurut mereka. Padahal setiap tanggung jawab dan resiko yang akan dihadapi harus ditanggung sendiri. Pada ti2k tertentu dalam setiap kehidupan se2orang, mereka bisa merasa bosan/jenuh, tapi pada prinsip tertentu dengan tingkat keangkuhan yang tinggi be2rapa orang enggan untuk mengakuinya, dengan beranggapan mereka punya kendali besar dalam hidupnya, atau sebenarnya mereka punya kepercayaan diri yang tinggi? who knows....

Kamis, 18 Februari 2010

Hujan sore hari

Gerimis halus turun, suasana yang menyenangkan, terasa nyaman. Cuma manusia yang sibuk sendiri menghindari hujan, mungkin mengeluhkan keadaan atau bahkan menyalahkan. Tapi bagiku ini suasana yang indah, jejak2 kesejukan yang tertinggal di dedaunan, menyegarkan rumput dan melembabkan jalan2 yang berdebu. Hembusan angin lembut menggoyang pepohonan seakan mengajaknya menari menciptakan keindahan tersendiri. Bagiku ini termasuk nuansa romantis yang indah, du2k diam sambil memandang keadaan di sekitar, sekedar membaca buku atau menyesap pemandangan, menyegarkan perasaan. Atau coba rasakan melihat langit cerah di malam hari, saat bintang2 dan bulan dengan cahaya keemasaannya memberikan lukisan langit yang paling indah. Rasi bintang terbentuk, menjadi peta perjalanan bagi orang2 nun jauh di suatu tempat. Segala disekeli2ngmu terasa indah jika kau bisa melihat dari sudut yang berbeda. Kebahagiaan itu tidak selalu dengan sesuatu yang megah dan mewah, tapi dari hal2 yang sederhana dan bermakna akan memberikan nilai bahagia yang lebih mendalam. Pernah mendaki gunung? Dari atas sana kau bisa melihat seluruh alam terbentang, terlihat sangat kecil dan rapuh, tertu2p awan tebal yang menaunginya membuatmu seolah berada di tempat tertinggi, melihat seluruh kepadatan dari sudut yang tertinggi membuat segalanya menjadi sederhana, sederhana yang indah dan membahagiakan.

Cerita masa lalu

Apa yang Ku rasa saat ini mungkin dapat terangkum dlm ungkapan sederhana berikut ini:) "Jalan itu Sulit, Kadang Terasa Berat dan Mendaki, Aq Cuma Ingin Kembali dan Mengingat Semua yang Indah, tapi Aq Tak Punya Banyak Waktu Kalau Hanya untuk Bermain-main dengan Waktu, karena Aq Sendiri Sudah Menjadi Sisa2 yg Sia2, Lalu Harus Bagaimana? Waktu Bertanya tapi Kebohongan yang Berbicara, Hatiku Buta atau Mata yang Tak Lagi Bercahaya? Sepertinya Kebalik Ya? Hati yang Tak Lagi Bercahaya Sehingga Membutakan Mata, Tadi Banyak Hal yg Indah Terlihat, Hanya Saja Aq Tidak Punya Kesanggupan Menahan Hati Menjaga Diri, Lalu Sepi Menyapa dan Nafsu yang Bekerja, Banyak Dosa yang Sudah Terbuat, Sepi itu Indah, Terkadang Menjadi Terasing adalah Kebahagiaan, namun Aq Terlalu Takut Menghadapinya, lalu Dimana Sunyi yang Dulu Ingin ku lepaskan Diri Darinya? Sekarang Rindu Menyapa tapi Sepertinya Sudah Tak Bermakna, Aq Lupa pd Dunia yg Dulu Ingin ku Tinggalkan, Dulu Aq Pernah Merasa Terasing dan Menyingkirkan Indah yang Mungkin Tercipta, Aq Tak Pernah Puas Barangkali itu Saja Jawabannya, Lupa, Luka, dan Dusta, Sepertinya Dengan itu Banyak ku Lalui Waktu, Lalu Aq Harus Bagamana? Saat Itu Ada Sesuatu yang Menyapa Diam Saja, Ada Ragu Bertanya, Benarkah Rasa ini Pantas Singgah, atw Sudah Waktunya? Lama Waktu ku Paksa Hati Berkata, Berdialog Dalam Banyak Rasa, Ternyata Ini Bkn Cinta, Hanya Keterburuan Emosi untuk Memaknainya, Barangkali...."