Senin, 11 Oktober 2010

Story part-2

Aku ingin menjadi apa adanya di depanmu, tersenyum dengan hati yang tulus tanpa memaki di dalam hati, memberitahukan apa yg benar dan menerima kemarahan tanpa menjadi marah. Saat engkau tersenyum aku ingin membalasnya lebih baik, saat kau marah aku akan berusaha memahami apa inti kemarahanmu tanpa harus merasa tersakiti.
Kesadaran ini kenapa baru datang sekarang? Apa aku terlambat beberapa tahun? Aku merayakan kebahagiaan saat kau merasakannya, aku ingin menangkap inti masalahmu saat kau kesal pada sesuatu-tanpa aku perlu larut dalam kekesalan. Aku ingin mencintaimu dengan tulus tanpa takut tersakiti, karena meskipun cinta itu menyakitiku, aku tidak akan pernah menyesal telah melatih hatiku untuk baik pada diri sendiri-memberikan kebaikan dengan tulus- karena ini tidak tentang siapa yang dicintai tapi bagaimana mencintai, sehingga kelak aku tidak perlu membencimu, bukankah tidak suka bukan berarti harus menyakiti? Aku ingin mengingatmu dengan kenangan yang baik, menjadikan kenangan sebagai harta karun yang tak akan hilang.
Semua ini tentang bagaimana memahami (untuk orang2 tersayang, semoga selalu dekat dihati)

Minggu, 05 September 2010

Ulang Tahun

Ulang tahun
Apakah sekedar perayaan tiup lilin, nyanyian happy b'day, dan acara potong kue?
Atau jalan2 menghabiskan waktu bersama teman, menikmati acara kumpul dan makan2?
Sehingga, jadikan perayaan ini perbaikan gizi dan senang2
Ulang tahun tahun ini
Apakah sekedar mengulang tahun2 sebelumnya dan menghitung pertambahan usia
Dengan tumpukan kado2 doa yang tak akan berarti apa2 jika tak ada usaha
Atau senyum sumringah, sinar mata bahagia, lalu semua berlalu begitu saja
Tahun-tahun yang sama
Atau ada yang berbeda?
Tak bisa diucapkan selamat berbahagia
Karena tak ada yang tahu apa yang tersembunyi
Selamat ulang tahun
Selamat bagimu yang menjemputnya dengan perbaikan diri
Selamat bagimu yang bersedia merenungi lintasan waktu yang berlalu, usia yang bertambah, dan impian yang akan diraih
Selamat bagimu yang menetapkan Allah sebagai satu-satunya sandaran tempat segala harapan, doa, dan usaha tercurahkan
Maka, selamat menjemput kebahagiaan dengan cinta-Nya!

Jumat, 09 Juli 2010

Sunyi

Mendadak sunyi menyergap hati Lalu kesadaran muncul saat kenyataan menyingkap kebenaran
Ada hati yang terbasuh noda kebencian
Ingin kubantu hapus secepat ia datang
Tapi nafsu membakarnya dengan prasangka
Yang tersisa, hanya hati yg porak-poranda oleh badai duka
Bagaimana kutenangkan sementara hatiku pun sama muramnya?
Akhirnya aku hanya berdiri diantara sunyi dan badai yg mereda
Berusaha memaknai segalanya sebagai pelajaran
Meski sunyi masih menyapa, tetap sama...

Jumat, 21 Mei 2010

Tentang Nurani

Limbung langkah tersandung luka
Itu langkahmu, tertatih perlahan-lahan menjauh
Apa yang sudah kau lakukan sehingga duka berhak singgah dihatimu?
Kemarilah, mari kita bicara
Dan tepis kabut perasangka diantara kita
Agar bening mata melihat bersih hati menilai
Jujur, pahit kebenaran itu diungkapkan
Tapi itulah pilihan
Kebenaran yang tak perduli penghormatan dan sanjungan
Atau hinaan sepanjang dia dipilihkan
Disandang dalam hati menjadi keteguhan, sandaran dan pelipur kesedihan
Memang benar telah sunyi jalan kebenaran
Saat orang telah beramai-ramai menjadikan gegap gempita malam atau hiburan
Sebagai pilihan melepas kejenuhan dan kesedihan
Lalu pulang tersandung-sandung dengan beban yang masih sama
Bahkan semakin bertambah beratnya
Itukah pilihan?
Berlari dariku karena kita sudah tak lagi sejalan dengan kebenaran
Kau abaikan aku dan biarkan aku tersuruk di ruang gelap hatimu
Membisu, tak mampu mengucap kebeningan sepatahpun
Karena telah kau bungkam Aku
Dengan minuman keras, pergaulan bebas dan kebahagiaan semu
Lalu setelah puas dosa menyergapmu, telah lelah jiwa ragamu
Kau datang padaku
Berbisik sendu dan malu-malu
Ingin kembali ke pangkuan nurani, mereguk ketenangan hati dari muara cinta-Nya yang tak bertepi
Kenapa begitu?
Hidup bukanlah permainan bongkar pasang yang selalu bisa kau sesuaikan dengan keinginan
Tak perduli kebenaran, hukum, atau segalanya
Manusia telah buta mata hati
Tak akan perduli nuraninya mati, tersia-sia
Maka menyesallah dan berduka sampai segalanya kembali berguna

Selasa, 23 Maret 2010

Memahamimu

Aku ingin mengerti engkau saudariku
Memahami seluk beluk perasaanmu dan apa yang tersembunyi di palung hatimu
Engkau tahu? Aku sedang berusaha meski kaku, meski ragu
Ataupun terselip malu
Tapi aku sungguh ingin memahamimu
Agar kita tak hanya saling pandang dengan senyum kelu
Atau tatapan cinta malu-malu
Agar dapat ku rengkuh bahumu, kupeluk tubuhmu
Dan kita bisa berbagi cerita tentang apa saja
Seperti halnya wanita biasa
Aku tersenyum membayangkannya
Merasa bangga dengan apa yang kuminta
Dan berujung semu dengan apa yang sudah kuupayakan
Ternyata belum apa-apa, belum cukup bermakna untuk membuatmu mengerti
Segala tanda-tanda cinta yang ku kirim
Atau aku harus mendekat padamu?
Mengetuk pintu hatimu, dan memanggil mesra namamu
Tapi mendadak aku malu, ternyata aku masih malu
Kadang aku geram pada diriku
Pasrah pada akhirnya dan ingin engkau saja yang lebih memahamiku
Harapan yang bertabur mimpi yang selalu kusemai dalam setiap doa
Aku ingin mencintaimu semampuku
Ingin kau tahu bahwa saat-saat diamku
Atau rengut masam mukaku, bukan untuk membencimu
Tapi inginku yang tak sampai padamu
Ingin kau menjadi baik dalam pengetahuan agamaku yang baru seujung kuku
Ingin kau lebih menjaga auratmu agar terjaga kehormatanmu
Ingin kau lebih santun dalam sapa mesra pada cinta orang tua
Begitu banyak inginku
Ah..aku jadi malu tapi tak akan pernah berhenti
Untuk menghadirkan banyak mimpi setiap hari
Sebelum pertanyaan itu ku ajukan padamu
Mungkin sebaiknya inginku adalah untukku dulu
Agar cinta berwujud perbuatan tiada henti
Untuk bisa memahamimu sekali lagi

Tentang Sahabat


Sahabat, berhenti sejenak
Mari kita renungi perjalanan kita
Menelusuri jalan-jalan yang pernah kita lalui
Menyesapi setiap ruang dan waktu yang kita isi dengan canda, tawa, ataupun berbagi duka cita
Aku berbahagia pernah menjadi bagian dalam episode kehidupan
Memberikan kenangan yang ceritanya tak kan usang
Sahabat, terkadang kesal dan marah menjadi warna dalam keseharian kita
Bukan berarti menghentikan kepedulianku atas apa yang menjadi inginmu
Hanya saja ingin kita terbentur oleh dinding perbedaan
Dalam pemahaman, keputusan, dan tujuan
Lalu, tiba-tiba kita berhenti bicara
Seolah-olah kita adalah dua orang asing yang bersua tanpa sengaja
Saling mengalihkan pandang atau menyapa ragu-ragu jika tak dapat mengelakkan diri saat bertemu
Jujur aku tak ingin begitu, menjadi orang yang tak berarti apa-apa bagimu
Mengabaikan semua seolah tak terjadi sesuatu
Namun biarkan hening menyapa kita sejenak
Dengan diam bisa memberi kita waktu untuk lebih sabar dan dewasa
Aku tahu maksud baikmu, tapi berilah kepercayaan padaku
Beri kesempatan untuk menunjukkan apa yang baik menurutku
Sungguh...
Jika masih banyak kekurangan dan kesalahan
Maka kau orang pertama yang kan kutanya
Meminta kejujuran dan nasihat perbaikan
Agar aku lega karena ada tempat bersandar
Dan aku berbahagia menyadari dibalik marahmu ada ketulusan dan kasih sayang
Maafkan maksudku, maafkan lisanku
Aku hanya ingin tetap jadi sahabat baikmu

Cinta Ayah Bunda

Waktu kecil, aku selalu minta pakaian baru dan mainan yang sama dengan teman2ku
Jika kau bilang nanti, aku menangis
Jika kau bilang uang tak ada, aku bermuram durja dan tak mau bicara
Dan ketika akhirnya engkau belikan juga, aku bersorak riang gembira sambil berteriak “aku cinta ayah bunda!”
Meski tanpa ku tahu, mainan baruku adalah hasil tumpukan hutang baru
Saat remaja saat engkau minta waktuku untuk membantu pekerjaan rumah yang menumpuk
Kubilang tugas ku banyak
Atau aku ada acara lain
Dan yang paling santun, kudiamkan sampai engkau harus berteriak marah
Aku tak perduli, kubilang kau harusnya memahami
Pikirku saat itu adalah masa mencari jati diri
Maka pikirku lagi, seharusnya engkau lebih mengerti
Tapi waktu engkau bilang, kita butuh pergi berlibur bersama
Dengan senyum mengembang, tatapan suka cita dan anggukan kepala kukatakan “aku cinta ayah bunda”
Tanpa kusadari engkau harus mengambil cuti diantara pekerjaan yang harus diselesaikan nanti
Ketika dewasa saat kau minta aku tinggal di rumah tuk sementara
Karena telah lama tak berjumpa, ada inginmu merajut cinta yang hanya bisa terbaca melalui sms atau telpon cepat singkat
Ingin aku disisimu mendengar ceritamu tentang kenangan2 masa lalu
Tentang kebanggaanmu dan betapa telah dewasa aku
Tapi dengan enggan ku sela anganmu
Aku sibuk..jawabku, aku harus mengejar waku membereskan ini itu
Lain kali saja ya?
Kuabaikan gurat luka di matamu
Meski terbesit rasa bersalah di hati kuyakinkan diri ini bisa kuperbaiki nanti
Lalu waktu beranjak pergi
Jika kelak kurajut mimpi dan memiliki keluarga sendiri
Akankah kusadari waktu yang terlewat bersamamu
Ayah bunda, cinta yang tak pernah padam
Meskipun aku masih datang dengan celoteh pertengkaran
Berharap didengarkan berharap penghiburan
Padahal ayah bunda telah lelah meski tak pernah gundah
Akhirnya dengan malu aku menunduk menunjuk diri
Apakah cukup hanya ucapan “aku cinta Ayah Bunda?”