Sabtu, 27 September 2014

Duri penebar luka

Jangan jadi duri penebar luka. Jangan jadikan lisan kita sebagai sumber dusta, penebar prasangka, atau pembuka rahasia sehingga tiada siapapun merasa aman dari lisan kita. Berghibah, mencela, menyiksa hati dengan perihnya kata-kata. Lupakah kita, atau bahkan mengabaikan fakta bahwa Rasulullah bersabda "tidak dikatakan beriman seseorang jika saudaranya tidak aman dari kejahatan tangan dan lisannya". Alangkah tingginya makna persaudaraan dalam islam, kita tidak boleh menusuk dari belakang, menjadikan diri kita seperti ember bocor yang tak memberi manfaat apa-apa selain hanya dikenal sebagai "ember". Jika itu saja sudah memuaskan kita maka tampaklah betapa rendahnya cita-cita kita, alangkah lemahnya iman kita menerima nikmatnya bisikan-bisikan setan untuk menikmati mentahnya daging saudara seiman, dan mempermalukan diri kita yang menjadikan fungsi kemuliaan khalifah dimuka bumi menjadi perusak, jahiliyah di kehidupan modern yang serba maju. 
 
Alangkah beratnya menjaga lisan, harus berfikir sebelum bicara. Menyampaikan di saat yang tepat, diikuti kesabaran untuk menahan diri dari hal-hal yang menyakitkan ketika kebenaran tidak diterima, ketika kita tidak disukai di saat memilih jalan yg berbeda, jalan yang disukai Allah. Menjadi terasing, membuang penat dunia dengan mengingat mati sehingga keinginan menabung amal mengharap ridho Ilahi, menjadi satu-satunya cita-cita penghibur hati, bahwa dunia bukan apa-apa. Sejatinya kita hanya seorang pengembara yang beristirahat sejenak, melepas lelah dan dahaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar