(recap)
bismillahirrahmanirrahim...
I'm really grateful, full of blessing to Allah.
Tadi baru menghabiskan waktu berbincang dengan ayah tercinta. Like father like daughter, we really have common thing to talk about, lately we have much similar though to plan something. Bicara dengan papa mencipta ketenangan dan penyelesaian masalah dengan logika terbaik. Suka sekali berbagi masalah dengan beliau karena seringkali tercipta solusi-solusi yang netral dan membangun. I know, he is not perfect father and so do I, cos i'm not perfect daughter, after all we try to understand each other.
From this point, we know that Allah create us with opposite gender to complete each other. Saya tahu bicara dengan seseorang yang memiliki pola pemikiran yang sama itu sangat menyenangkan, kita bisa saling mendukung bahkan kita bisa menciptakan sebuah rencana dengan ide-ide yang terbangun dengan kerjasama yang baik. Tapi seringkali dalam hidup seseorang berjodoh dengan orang yang sangat berbeda dengannya, kenapa?
Kembali ke takdir awal, man is for woman begitu juga sebaliknya, dua makhluk yang berbeda dalam segala hal tapi ditakdirkan untuk bersama, kenapa? Untuk saling melengkapi dan mengimbangi sehingga menciptakan kolaborasi terbaik dan kebahagian terbaik. Tapi seringkali kita tak cukup berusaha membuat perbedaan itu menjadi warna dalam keseharian kita. Banyak orang menjadikan perbedaan sebagai kerikil-kerikil atau batu sandungan besar yang membuat kita berhenti melangkah, menyerah kalah.
Kembali mencoba memikirkan, bertemu, bercengkrama dengan seseorang yang memahami kita yang memiliki pemikiran yang sesuai dengan kita dan sekian banyak persamaan membuat detik waktu tak pernah terasa bergulir. Menyenangkan? Tentu. Tapi setelahnya akan membosankan, itu yang sering kita abaikan. Manusia itu makhluk yang cepat bosan. Dan bersama orang yang memiliki 80% persamaan denganmu akan membuatmu tak memiliki tantangan, hidup akan terasa monoton karena dia tahu segala hal, dengan seluas pengertian dengan sepenuh pemahaman. Bahkan mungkin apa yang terlintas dipikiranmu bisa tertebak tanpa sengaja olehnya. Ini pemikiran saja, mencari sebanyak mungkin sisi positif tentang adanya perbedaan.
Dari permulaan penciptaan manusia, kita berbeda. ada Adam dan Hawa
dari perbedaan yang luar biasa itu tersimpan makna yang dalam, tersimpan mutiara ibadah dari perjuangan untuk bersabar dan sebuah pengertian. Tapi jangan cemas oleh keadaan yang memang belum nampak, sesuatu yang ghaib. Karena memahami pasangan hidup itu seperti misteri , menyibak hatimu sendiri penuh dengan telisik tanda tanya yang menyulam pengetahuan secara perlahan.
Perbedaan mengajarkan kita belajar mengkomunikasikan segala hal. Terkadang '' memaksa'' kita untuk bicara meski pada saat hati tidak siap untuk menyampaikan sesuatu. Dari ketidaksiapan mental itu kita ''dipaksa'' lagi untuk belajar strategi berkomunikasi, kapan menyampaikan, kapan menahan dan melepaskan uneg-uneg pada waktu dan kondisi yang memungkinkan.
Perbedaan itu ''memaksa'' kita untuk masuk ke dalam pemikiran orang lain, membuat kita tahu tingkat pemahaman seseorang, bicara sesuai kemampuan yang menerima dan mengetahui cara mengolah kata.
Perbedaan itu membuat hidup penuh warna, meski kadang hitam pekat atau kelabu yang samar bahkan bisa merah yang menyilaukan. ''memaksa'' kita menerima tantangan setiap hari, memahami sepotong hati yang lain.
Perbedaan itu membuat kita dewasa mengendalikan rasa dan mengolah logika, ''memaksa'' kita mencipta kata yang bermakna sehingga mampu mengikat hati yang berbeda.
Perbedaan itu ''memaksa'' kita menerima kebahagian di luar dunia kita, membuat kita merasakan banyak kombinasi rasa yang tak pernah kita rasakan sebelumnya, mengejutkan.
Perbedaan itu ''memaksa'' kita mengajarkan orang lain mengerti keinginan hati kita ''menyeret''nya masuk ke dalam dunia kita dan merasakan kebahagiaan yang berbeda dari kebiasaannya.
Perbedaan itu adalah aku, kamu, mereka, dan kita. Semuanya berbeda tapi seringkali kita tidak memaksa diri untuk menerima ''perbedaan'' itu sendiri. Kita baru sekedar tahu tapi belum membangun kesadaran untuk menerima dengan keluasan hati bahwa kita berbeda.
Perbedaan itu ''memaksa'' kita menghadapi rasa takut menghadapi keasingan di luar diri kita, memahami bahwa kita tak sama.
Perbedaan menyadarkan kita untuk tahu hebatnya Sang Pencipta, yang menjadikan kita begitu berbeda satu sama lain, memberikan ujian dan tantangan, sehingga kita terlatih untuk menjaga keistiqomahan pada jalan kebenaran dan menjadikan perbedaan untuk saling mengenal dan mengikat persaudaraan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar