Alangkah
beratnya menjaga lisan, harus berfikir sebelum bicara. Menyampaikan
di saat yang tepat, diikuti kesabaran untuk menahan diri dari hal-hal
yang menyakitkan ketika kebenaran tidak diterima, ketika kita tidak
disukai di saat memilih jalan yg berbeda, jalan yang disukai Allah. Menjadi terasing, membuang penat dunia dengan mengingat mati sehingga
keinginan menabung amal mengharap ridho Ilahi, menjadi satu-satunya cita-cita penghibur hati, bahwa dunia bukan apa-apa. Sejatinya kita hanya seorang
pengembara yang beristirahat sejenak, melepas lelah dan dahaga
sebelum kembali melanjutkan perjalanan pulang.
"Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihat" "Alhamdulillah 'ala kulli hal" ~Catatan dari Sudut Hati~
Sabtu, 27 September 2014
Duri penebar luka
Jangan
jadi duri penebar luka. Jangan jadikan lisan kita sebagai sumber
dusta, penebar prasangka, atau pembuka rahasia sehingga tiada
siapapun merasa aman dari lisan kita. Berghibah, mencela, menyiksa
hati dengan perihnya kata-kata. Lupakah kita, atau bahkan mengabaikan
fakta bahwa Rasulullah bersabda "tidak dikatakan beriman
seseorang jika saudaranya tidak aman dari kejahatan tangan dan lisannya". Alangkah tingginya makna persaudaraan dalam
islam, kita tidak boleh menusuk dari belakang, menjadikan diri kita
seperti ember bocor yang tak memberi manfaat apa-apa selain hanya
dikenal sebagai "ember". Jika itu saja sudah memuaskan kita
maka tampaklah betapa rendahnya cita-cita kita, alangkah lemahnya
iman kita menerima nikmatnya bisikan-bisikan setan untuk menikmati mentahnya
daging saudara seiman, dan mempermalukan diri kita yang menjadikan
fungsi kemuliaan khalifah dimuka bumi menjadi perusak, jahiliyah di
kehidupan modern yang serba maju.
Selasa, 23 September 2014
31 maret 2014
(recap)
bismillahirrahmanirrahim...
I'm really grateful, full of blessing to Allah.
Tadi baru menghabiskan waktu berbincang dengan ayah tercinta. Like father like daughter, we really have common thing to talk about, lately we have much similar though to plan something. Bicara dengan papa mencipta ketenangan dan penyelesaian masalah dengan logika terbaik. Suka sekali berbagi masalah dengan beliau karena seringkali tercipta solusi-solusi yang netral dan membangun. I know, he is not perfect father and so do I, cos i'm not perfect daughter, after all we try to understand each other.
From this point, we know that Allah create us with opposite gender to complete each other. Saya tahu bicara dengan seseorang yang memiliki pola pemikiran yang sama itu sangat menyenangkan, kita bisa saling mendukung bahkan kita bisa menciptakan sebuah rencana dengan ide-ide yang terbangun dengan kerjasama yang baik. Tapi seringkali dalam hidup seseorang berjodoh dengan orang yang sangat berbeda dengannya, kenapa?
Kembali ke takdir awal, man is for woman begitu juga sebaliknya, dua makhluk yang berbeda dalam segala hal tapi ditakdirkan untuk bersama, kenapa? Untuk saling melengkapi dan mengimbangi sehingga menciptakan kolaborasi terbaik dan kebahagian terbaik. Tapi seringkali kita tak cukup berusaha membuat perbedaan itu menjadi warna dalam keseharian kita. Banyak orang menjadikan perbedaan sebagai kerikil-kerikil atau batu sandungan besar yang membuat kita berhenti melangkah, menyerah kalah.
Kembali mencoba memikirkan, bertemu, bercengkrama dengan seseorang yang memahami kita yang memiliki pemikiran yang sesuai dengan kita dan sekian banyak persamaan membuat detik waktu tak pernah terasa bergulir. Menyenangkan? Tentu. Tapi setelahnya akan membosankan, itu yang sering kita abaikan. Manusia itu makhluk yang cepat bosan. Dan bersama orang yang memiliki 80% persamaan denganmu akan membuatmu tak memiliki tantangan, hidup akan terasa monoton karena dia tahu segala hal, dengan seluas pengertian dengan sepenuh pemahaman. Bahkan mungkin apa yang terlintas dipikiranmu bisa tertebak tanpa sengaja olehnya. Ini pemikiran saja, mencari sebanyak mungkin sisi positif tentang adanya perbedaan.
Dari permulaan penciptaan manusia, kita berbeda. ada Adam dan Hawa
dari perbedaan yang luar biasa itu tersimpan makna yang dalam, tersimpan mutiara ibadah dari perjuangan untuk bersabar dan sebuah pengertian. Tapi jangan cemas oleh keadaan yang memang belum nampak, sesuatu yang ghaib. Karena memahami pasangan hidup itu seperti misteri , menyibak hatimu sendiri penuh dengan telisik tanda tanya yang menyulam pengetahuan secara perlahan.
Perbedaan mengajarkan kita belajar mengkomunikasikan segala hal. Terkadang '' memaksa'' kita untuk bicara meski pada saat hati tidak siap untuk menyampaikan sesuatu. Dari ketidaksiapan mental itu kita ''dipaksa'' lagi untuk belajar strategi berkomunikasi, kapan menyampaikan, kapan menahan dan melepaskan uneg-uneg pada waktu dan kondisi yang memungkinkan.
Perbedaan itu ''memaksa'' kita untuk masuk ke dalam pemikiran orang lain, membuat kita tahu tingkat pemahaman seseorang, bicara sesuai kemampuan yang menerima dan mengetahui cara mengolah kata.
Perbedaan itu membuat hidup penuh warna, meski kadang hitam pekat atau kelabu yang samar bahkan bisa merah yang menyilaukan. ''memaksa'' kita menerima tantangan setiap hari, memahami sepotong hati yang lain.
Perbedaan itu membuat kita dewasa mengendalikan rasa dan mengolah logika, ''memaksa'' kita mencipta kata yang bermakna sehingga mampu mengikat hati yang berbeda.
Perbedaan itu ''memaksa'' kita menerima kebahagian di luar dunia kita, membuat kita merasakan banyak kombinasi rasa yang tak pernah kita rasakan sebelumnya, mengejutkan.
Perbedaan itu ''memaksa'' kita mengajarkan orang lain mengerti keinginan hati kita ''menyeret''nya masuk ke dalam dunia kita dan merasakan kebahagiaan yang berbeda dari kebiasaannya.
Perbedaan itu adalah aku, kamu, mereka, dan kita. Semuanya berbeda tapi seringkali kita tidak memaksa diri untuk menerima ''perbedaan'' itu sendiri. Kita baru sekedar tahu tapi belum membangun kesadaran untuk menerima dengan keluasan hati bahwa kita berbeda.
Perbedaan itu ''memaksa'' kita menghadapi rasa takut menghadapi keasingan di luar diri kita, memahami bahwa kita tak sama.
Perbedaan menyadarkan kita untuk tahu hebatnya Sang Pencipta, yang menjadikan kita begitu berbeda satu sama lain, memberikan ujian dan tantangan, sehingga kita terlatih untuk menjaga keistiqomahan pada jalan kebenaran dan menjadikan perbedaan untuk saling mengenal dan mengikat persaudaraan.
bismillahirrahmanirrahim...
I'm really grateful, full of blessing to Allah.
Tadi baru menghabiskan waktu berbincang dengan ayah tercinta. Like father like daughter, we really have common thing to talk about, lately we have much similar though to plan something. Bicara dengan papa mencipta ketenangan dan penyelesaian masalah dengan logika terbaik. Suka sekali berbagi masalah dengan beliau karena seringkali tercipta solusi-solusi yang netral dan membangun. I know, he is not perfect father and so do I, cos i'm not perfect daughter, after all we try to understand each other.
From this point, we know that Allah create us with opposite gender to complete each other. Saya tahu bicara dengan seseorang yang memiliki pola pemikiran yang sama itu sangat menyenangkan, kita bisa saling mendukung bahkan kita bisa menciptakan sebuah rencana dengan ide-ide yang terbangun dengan kerjasama yang baik. Tapi seringkali dalam hidup seseorang berjodoh dengan orang yang sangat berbeda dengannya, kenapa?
Kembali ke takdir awal, man is for woman begitu juga sebaliknya, dua makhluk yang berbeda dalam segala hal tapi ditakdirkan untuk bersama, kenapa? Untuk saling melengkapi dan mengimbangi sehingga menciptakan kolaborasi terbaik dan kebahagian terbaik. Tapi seringkali kita tak cukup berusaha membuat perbedaan itu menjadi warna dalam keseharian kita. Banyak orang menjadikan perbedaan sebagai kerikil-kerikil atau batu sandungan besar yang membuat kita berhenti melangkah, menyerah kalah.
Kembali mencoba memikirkan, bertemu, bercengkrama dengan seseorang yang memahami kita yang memiliki pemikiran yang sesuai dengan kita dan sekian banyak persamaan membuat detik waktu tak pernah terasa bergulir. Menyenangkan? Tentu. Tapi setelahnya akan membosankan, itu yang sering kita abaikan. Manusia itu makhluk yang cepat bosan. Dan bersama orang yang memiliki 80% persamaan denganmu akan membuatmu tak memiliki tantangan, hidup akan terasa monoton karena dia tahu segala hal, dengan seluas pengertian dengan sepenuh pemahaman. Bahkan mungkin apa yang terlintas dipikiranmu bisa tertebak tanpa sengaja olehnya. Ini pemikiran saja, mencari sebanyak mungkin sisi positif tentang adanya perbedaan.
Dari permulaan penciptaan manusia, kita berbeda. ada Adam dan Hawa
dari perbedaan yang luar biasa itu tersimpan makna yang dalam, tersimpan mutiara ibadah dari perjuangan untuk bersabar dan sebuah pengertian. Tapi jangan cemas oleh keadaan yang memang belum nampak, sesuatu yang ghaib. Karena memahami pasangan hidup itu seperti misteri , menyibak hatimu sendiri penuh dengan telisik tanda tanya yang menyulam pengetahuan secara perlahan.
Perbedaan mengajarkan kita belajar mengkomunikasikan segala hal. Terkadang '' memaksa'' kita untuk bicara meski pada saat hati tidak siap untuk menyampaikan sesuatu. Dari ketidaksiapan mental itu kita ''dipaksa'' lagi untuk belajar strategi berkomunikasi, kapan menyampaikan, kapan menahan dan melepaskan uneg-uneg pada waktu dan kondisi yang memungkinkan.
Perbedaan itu ''memaksa'' kita untuk masuk ke dalam pemikiran orang lain, membuat kita tahu tingkat pemahaman seseorang, bicara sesuai kemampuan yang menerima dan mengetahui cara mengolah kata.
Perbedaan itu membuat hidup penuh warna, meski kadang hitam pekat atau kelabu yang samar bahkan bisa merah yang menyilaukan. ''memaksa'' kita menerima tantangan setiap hari, memahami sepotong hati yang lain.
Perbedaan itu membuat kita dewasa mengendalikan rasa dan mengolah logika, ''memaksa'' kita mencipta kata yang bermakna sehingga mampu mengikat hati yang berbeda.
Perbedaan itu ''memaksa'' kita menerima kebahagian di luar dunia kita, membuat kita merasakan banyak kombinasi rasa yang tak pernah kita rasakan sebelumnya, mengejutkan.
Perbedaan itu ''memaksa'' kita mengajarkan orang lain mengerti keinginan hati kita ''menyeret''nya masuk ke dalam dunia kita dan merasakan kebahagiaan yang berbeda dari kebiasaannya.
Perbedaan itu adalah aku, kamu, mereka, dan kita. Semuanya berbeda tapi seringkali kita tidak memaksa diri untuk menerima ''perbedaan'' itu sendiri. Kita baru sekedar tahu tapi belum membangun kesadaran untuk menerima dengan keluasan hati bahwa kita berbeda.
Perbedaan itu ''memaksa'' kita menghadapi rasa takut menghadapi keasingan di luar diri kita, memahami bahwa kita tak sama.
Perbedaan menyadarkan kita untuk tahu hebatnya Sang Pencipta, yang menjadikan kita begitu berbeda satu sama lain, memberikan ujian dan tantangan, sehingga kita terlatih untuk menjaga keistiqomahan pada jalan kebenaran dan menjadikan perbedaan untuk saling mengenal dan mengikat persaudaraan.
Langganan:
Komentar (Atom)