Copas dari Kiki Barkiah
Untukmu para ibu yang dirumah
Mengapa engkau masih galau dan gundah
Atas pilihan yang dianjurkan oleh syariah
Agar engkau tetap berada di rumah
Mengapa pula engkau harus iri dan cemburu
Atas selisih puluhan lembar ratusan ribu
Sedang kau memiliki begitu banyak waktu
Merawat mereka langsung dengan tanganmu
Serta menurunkan berjuta ilmu
Mengapa perasaanmu masih terasa berat
Atas perintah Allah untuk selalu taat
Pada suamimu yang meminta dengan sangat
Agar engkau dapat fokus merawat
Padahal dengannya surga menjadi begitu dekat
Andai kau tau bahwa peluang surgamu tidak jauh
Cukup bekerja ikhlas dan tanpa banyak mengeluh
Mendidik generasi yang berjiwa tangguh
Memberi nutrisi pada jiwa dan tubuh
Insya Allah kepuasan hatimu diisi Allah secara penuh
Memang betul kau berharap sebuah eksistensi
Merasa melakukan pekerjaan yang tak bergengsi
Seputar masak, sapu pel dan menyuci
Aaaah.... Itu karena kau tak menyadari
Anyunan sapumu berpahala seri
Dengan suami yang mencari rezeki
Yang berkemeja rapi dan berdasi
Aaaah..... Itu karena kau belum mengenal
Bahwa pilihanmu dibalas Allah dalam banyak hal
Pada sisi sisi lain yang tak mampu kau hafal
Kecuali kelak pekerjaan ini engkau tinggal
Aku mengerti kadang engkau resah
Dengan sekian lembar ijazah
Yang kau raih dengan susah payah
Aaaa...... Andai kau mengerti
Ilmumu begitu sangat berarti
Dalam mendidik generasi
Yang berkualitas dan bervisi
Aku tau kadang kau rindu seperti mereka
Yang setiap hari pergi berkendara
Keluar rumah untuj bekerja
Dan mengukir sejuta karya
Aaaaa...... itu karena kau tidak tau
Sebagian dari mereka merasa rindu
Mendapat kemewahan seperti dirimu
Yang selalu siap membuka pintu
Seperti engkau menyambut suamimu
Alhamdulillah wa syukurillah
Ketika suamimu hanya memintamu dirumah
Berarti ia siap bekerja keras mencari nafkah
Menyokong semua tanpa berkeluh kesah
Berada dirumah tak berarti tanpa arti
Semoga Allah memberikanmu jalan pengganti
Dalam meraih impian yang kau cari
Dari susut ternyaman di rumahmu sendiri
Maaf... Lukisan hati ini tak bermaksud membandingkan
Terhadap mereka yang berjasa mengambil peran
Keluar rumah dengan berjuta alasan perjuangan
Tulisan ini dibuat untuk menghibur hati
Para ibu yang merasa kehilangan eksistensi
Bahkan terkadang berkecil hati
Merasa diri begitu tak berarti
Untukmu para ibu yang dirumah
Mari ikhlaskan hatimu dan berpasrah
Agar peluang surga yang ada dirumah
Tak terhapus dengan keluh kesah
"Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihat" "Alhamdulillah 'ala kulli hal" ~Catatan dari Sudut Hati~
Kamis, 24 Juli 2014
Rabu, 23 Juli 2014
Karena Engkau Adalah Ayah
Copas dari Kiki Barkiah
Karena engkau adalah ayah
Tanggung jawab di pundakmu begitu luar biasa
Maka tidaklah cukup jika engkau menebusnya
Sekedar lelah mencari harta
Engkau tentukan masa depan keluarga
Jauh sebelum titik awal berumah tangga
Di tanah mana menyemai benih yang kau punya
Agar kelak memetik hasil berkualitas istimewa
Karena engkau adalah ayah
Pilihanmu bukanlah perkara sederhana
Maka tidaklah cukup jika engkau menebusnya
Sekedar untuk puaskan nafsu semata
Engkau tentukan visi keluarga
Ke arah mana perahu akan mengembara
Dalam Al-quran tertulis firman-Nya
Bahwa tugasmu sebagai nahkoda
Menjaga diri dan keluarga dari panasnya api neraka
Karena engkau adalah ayah
Kebijakanmu adalah arah kemudi yang utama
Maka tidaklah cukup jika engkau menebusnya
Sekedar mengalir begitu saja tanpa cita-cita
Engkau jadikan urusan agama
Sebagai perkara utama keluarga
Karena apapun yang diraih di dunia
Hanyalah bekal kehidupan sesungguhnya
Karena engkau adalah ayah
Kualitas agamamu adalah teladan keluarga
Maka tidaklah cukup jika engkau menebusnya
Sekedar shalat 5 waktu saja
Doamu adalah senjata utama
Bahkan tertuang saat kau memilihkan nama
Bagi putra dan putrimu tercinta
Bahkan syariat pun berkata itulah hak anak atas ayahnya
Karena engkau adalah ayah
Nama yang kau pilih adalah doa
Maka tidaklah cukup jika engkau memilihnya
Sekedar terdengar indah saja
Engkau berikan anakmu pendidikan
Engkau ajarkan anakmu kebaikan
Engkau jaga anakmu dalam adab-adab islam
Engkau perintahkan anakmu melaksanakan kewajiban
Engkau hidupkan sunah rasul menjadi kebiasaan
Karena engkau tau mereka sebaik-baik simpanan
Dan ilmu darimu adalah sebaik-baik warisan
Karena engkau adalah ayah
Peranmu begitu besar dalam pengasuhan
Maka tidaklah cukup jika engkau menebusnya
Sekedar kelayakan memberi makan dan pakaian
Engkau tebus mereka yang tergadaikan
Dengan akikah setelah kelahiran
Engkau tunaikan kewajiban mengkhitan
Sebagaimana islam memberi tuntutan
Dan kelak mereka engkau antarkan
Menuju gerbang pernikahan
Kepada siapa yang engkau percaya
Melanjutkan estafet kepemimpinan
Karena engkau adalah ayah
Sepadat apapun tuntutan pekerjaan
Tunaikanlah seluruh kewajiban
Agar dirimu selamat di hari pertanggungjawaban
Karena engkau adalah ayah
Tanggung jawab di pundakmu begitu luar biasa
Maka tidaklah cukup jika engkau menebusnya
Sekedar lelah mencari harta
Engkau tentukan masa depan keluarga
Jauh sebelum titik awal berumah tangga
Di tanah mana menyemai benih yang kau punya
Agar kelak memetik hasil berkualitas istimewa
Karena engkau adalah ayah
Pilihanmu bukanlah perkara sederhana
Maka tidaklah cukup jika engkau menebusnya
Sekedar untuk puaskan nafsu semata
Engkau tentukan visi keluarga
Ke arah mana perahu akan mengembara
Dalam Al-quran tertulis firman-Nya
Bahwa tugasmu sebagai nahkoda
Menjaga diri dan keluarga dari panasnya api neraka
Karena engkau adalah ayah
Kebijakanmu adalah arah kemudi yang utama
Maka tidaklah cukup jika engkau menebusnya
Sekedar mengalir begitu saja tanpa cita-cita
Engkau jadikan urusan agama
Sebagai perkara utama keluarga
Karena apapun yang diraih di dunia
Hanyalah bekal kehidupan sesungguhnya
Karena engkau adalah ayah
Kualitas agamamu adalah teladan keluarga
Maka tidaklah cukup jika engkau menebusnya
Sekedar shalat 5 waktu saja
Doamu adalah senjata utama
Bahkan tertuang saat kau memilihkan nama
Bagi putra dan putrimu tercinta
Bahkan syariat pun berkata itulah hak anak atas ayahnya
Karena engkau adalah ayah
Nama yang kau pilih adalah doa
Maka tidaklah cukup jika engkau memilihnya
Sekedar terdengar indah saja
Engkau berikan anakmu pendidikan
Engkau ajarkan anakmu kebaikan
Engkau jaga anakmu dalam adab-adab islam
Engkau perintahkan anakmu melaksanakan kewajiban
Engkau hidupkan sunah rasul menjadi kebiasaan
Karena engkau tau mereka sebaik-baik simpanan
Dan ilmu darimu adalah sebaik-baik warisan
Karena engkau adalah ayah
Peranmu begitu besar dalam pengasuhan
Maka tidaklah cukup jika engkau menebusnya
Sekedar kelayakan memberi makan dan pakaian
Engkau tebus mereka yang tergadaikan
Dengan akikah setelah kelahiran
Engkau tunaikan kewajiban mengkhitan
Sebagaimana islam memberi tuntutan
Dan kelak mereka engkau antarkan
Menuju gerbang pernikahan
Kepada siapa yang engkau percaya
Melanjutkan estafet kepemimpinan
Karena engkau adalah ayah
Sepadat apapun tuntutan pekerjaan
Tunaikanlah seluruh kewajiban
Agar dirimu selamat di hari pertanggungjawaban
Selasa, 08 Juli 2014
Idealis Penyelaras
Tipe Idealis Penyelaras dikenali dari kepribadiannya yang kompleks dan memiliki begitu banyak pemikiran dan perasaan. Mereka orang-orang yang pada dasarnya bersifat hangat dan penuh pengertian. Tipe Idealis Penyelaras berharap banyak pada diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka memiliki pemahaman yang kuat tentang sifat-sifat manusia dan seringnya menilai karakter dengan sangat baik. Namun mereka lebih sering menyimpan perasaan dan hanya mencurahkan pemikiran serta perasaan mereka kepada sedikit orang yang mereka percaya. Mereka sangat terluka jika ditolak atau dikritik. Tipe Idealis Penyelaras menganggap konflik sebagai situasi yang tidak menyenangkan dan lebih menyukai hubungan harmonis. Namun demikian, jika pencapaian sebuah target tertentu sangat penting bagi mereka, mereka dapat dengan berani mengerahkan seluruh tekad mereka hingga cenderung keras kepala.
Tipe Idealis Penyelaras memiliki fantasi yang hidup, intuisi yang nyaris seperti mampu membaca masa depan, dan seringkali sangat kreatif. Begitu berkutat dengan sebuah proyek, mereka melakukan segala daya upaya untuk mencapai tujuan-tujuan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka sering membuktikan diri sebagai pemecah masalah ulung. Mereka suka mendalami hingga ke akar permasalahan dan memiliki sifat ingin tahu alamiah serta haus akan pengetahuan. Pada saat bersamaan, mereka berorientasi praktis, terorganisir dengan baik, dan siap menangani situasi-situasi rumit dengan cara terstruktur dan pertimbangan matang. Ketika mereka berkonsentrasi pada sesuatu, mereka melakukannya dengan seratus persen – mereka sering begitu terbenam dalam sebuah pekerjaan sehingga melupakan hal lain di sekitar mereka. Itulah rahasia kesuksesan profesional mereka yang seringkali gilang gemilang.
Sebagai pasangan, tipe Idealis Penyelaras setia dan dapat diandalkan; hubungan permanen sangat penting bagi mereka. Mereka jarang jatuh cinta hingga mabuk kepayang dan juga tidak menyukai hubungan-hubungan asmara singkat. Kadang-kadang mereka sulit menunjukkan rasa sayang mereka dengan jelas sekalipun perasaan mereka dalam dan tulus. Dalam hal lingkaran pertemanan, semboyan mereka adalah: sedikit berarti lebih banyak! Sejauh menyangkut kenalan baru, mereka hanya dapat didekati hingga jarak tertentu; mereka lebih suka mencurahkan tenaga ke dalam pertemanan akrab yang jumlahnya sedikit. Tuntutan mereka kepada teman dan pasangan mereka sangat tinggi. Karena mereka tidak menyukai konflik, mereka akan diam sejenak sebelum menyuarakan masalah-masalah yang tidak memuaskan dan, ketika melakukannya, mereka berusaha sangat keras untuk tidak menyakiti siapa pun karenanya.
Senin, 07 Juli 2014
Surat untukmu yang sedang patah hati
Assalamualaikum warahmatullah
wabarakatuh
Teruntuk sahabat hatiku yang terluka
karena cinta agar kembali dalam kebahagiaan dan ketenangan jiwa.
Untukmu ada selaksa kata yang mungkin
bisa membalut luka
Hai! Bagaimana perasaanmu hari ini?
pagi ini? Lebih baikkah?
Mampukah mengalahkan cerahnya mentari
yang sinarnya bisa menghangatkan hati?
Sebenarnya aku ingin menghiburmu tapi
takut kata-kataku malah melukai perasaanmu dan menambah bebanmu. Aku
hanya ingin menguatkanmu agar tak terhanyut oleh badai cinta dan
imanmu mampu berdiri kokoh, mengakar dalam jiwa. Aamiin
Sahabat,
aku ingin mengatakan “bersemangatlah!”.
Jika kau tidak bisa mengendalikan perasaanmu menjadi lebih baik maka
kendalikanlah lingkunganmu.
Sahabat,
aku tahu hatimu terasa sangat sakit
tapi aku tidak ingin kau menyerah dan terkalahkan namun katakan pada
hatimu “biarkanlah aku mati sekali tapi untuk hidup yang lebih baik
setelahnya”. Mungkin sakit kali ini akan menjatuhkanmu, tapi
percayalah bahwa suatu saat nanti kau akan lebih tegar berdiri karena
luka kemarin hanyalah laksana duri kecil yang menghadang langkahmu.
Sahabat,
Lihatlah dengan senyuman bahwa ini
hanyalah ujian kesabaran dari Allah kepadamu karena begitu besar
cintaNya sehingga Dia menegurmu. Tahukah kau, sungguh indah dan
luasnya kasih sayang Allah, terkadang ditegurnya kita dengan
kelembutan namun saat semua itu tak terasakan oleh hati kita sehingga
ditegurnya kita dengan keras, tapi ingatlah satu hal, jangan
berprasangka buruk padaNya -sekali-kali jangan- karena Dia Maha Tahu,
mungkin dengan kerasnya teguran dapat meraba hati kita yang telah
pula keras karena banyaknya dosa.
Sahabat,
Berbaik sangkalah pada Allah karena
cintaNya maka Dia meluruskan hatimu agar kembali ke jalanNya, kembali
kepada cintaNya. Tahukah engkau bahwa orang-orang yang sabar dalam
menghadapi ujian dan cobaanNya maka akan berguguranlah dosanya
laksana gugurnya dedaunan dari pohon.
Sahabat, seperti apakah cinta itu?
Menurutku cinta bisa menciptakan banyak
makna, 1001 alasan untuk mendefinisikannya dan 1001 alasan pula untuk
memahaminya karena cinta adalah anugerah terindah yang diberikan
Allah bagi jiwa-jiwa yang peka dan berbeda dalam menyikapinya. Cinta
mempunyai 1001 tempat untuk diletakkan, cinta kepada Allah, cinta
kepada orang tua, cinta kepada teman, cinta kepada saudara, cinta
kepada kekasih hatimu, dan cinta-cinta kepada selain itu.
Sahabat, bolehkah kupesankan sesuatu?
Harapanku, tetapkanlah cinta mu yang
tertinggi hanya padaNya. Karena Dia lah Sang Pencipta Cinta, Dia lah
cinta hakiki karena cintaNya adalah cinta di atas cinta. Karena cinta
sejati selalu memberi... memberi... dan memberi sampai kau merasa
paling membutuhkan cintaNya bertahta di hatimu sebagai cinta yang
tertinggi.
Sahabat,
Carilah ridhoNya terlebih dahulu maka
kelak engkau akan dipertemukan dengannya.
Trust me, it's work! :D (no adv)
Minggu, 06 Juli 2014
Breaking
Dear xxx
sorry if u think I'm being annoying, sorry if I create misunderstanding, sorry for all my stupid act. for all this time I just concern about myself and ignore everything around me, I don't mean for being arrogant, this is the way I am. I'm hundred times late to be perfect but I tried my best here. so sorry for everything, I don't want to make enemy and too slow for make a friend, I just person who really like peace life -alone but I'm not lonely- know nothing but I like to learning, it's sounds like I need compliment, huh? :P
sorry, I really want repeat it more
couple times again.
sorry if u think I'm being annoying, sorry if I create misunderstanding, sorry for all my stupid act. for all this time I just concern about myself and ignore everything around me, I don't mean for being arrogant, this is the way I am. I'm hundred times late to be perfect but I tried my best here. so sorry for everything, I don't want to make enemy and too slow for make a friend, I just person who really like peace life -alone but I'm not lonely- know nothing but I like to learning, it's sounds like I need compliment, huh? :P
sorry, I really want repeat it more
couple times again.
Sabtu, 05 Juli 2014
Surat Terakhir Kayana - Part 2
Aku
tak percaya dengan apa yang ku dengar, jantungku berdegup kencang
dengan sedikit gentar ku tatap Kay, dia pun tak kalah terkejutnya
melihatku berdiri mematung di hadapannya.
"apa maksudnya ini?!" aku berharap nada yang keluar dari suaraku adalah kemarahan, meski kenyataannya terdengar parau tercekat ditenggorokan.
"bukan apa-apa" kay melengos menghindari tatapanku, dan beranjak bersama beberapa temannya.
"tunggu dulu, kau harus jelaskan.." ku tarik lengan bajunya saat dia berlalu dari hadapanku. "kau...aku nggak nyangka, teman yang kuanggap paling baik bisa berbuat kayak gini, kau..."
aku kehilangan kata-kata. Keterkejutan, sakit hati dan kemarahan bercampur jadi satu. Bel berbunyi nyaring mengejutkan kami. Ku tatap mata Kay tajam, dia balas menatapku meski aku tak bisa membaca apa arti tatapannya
"merasa bersalahkah dia?" perlahan kulepaskan tanganku dari bajunya, memilih berlalu dengan rasa sakit hati.
"seharusnya aku memukulnya tadi, sekali-kali dia perlu diberi pelajaran" hatiku berbisik jahat, aku hanya tidak merasakan apa-apa kecuali kepala yang tiba-tiba terasa kosong dan perasaan kebas. sampai pada kesadaran bahwa aku dikhianati sahabatku.
Sejak saat itu hubungan kami menjadi aneh, aku dan Kay seperti dua orang asing, canggung dan kikuk. hal itu sangat terasa bagiku yang terbiasa dengannya. Entah bagaimana dengan Kay karena kelihatannya dia tidak masalah sama sekali. Dia malah asyik bermain-main dengan teman yang lain dan menganggapku seperti angin lalu. Aku menganggap dia tidak punya itikad baik untuk memperbaiki bahkan memberi penjelasan padaku. Hal ini berlangsung beberapa waktu dan aku memaksa diri untuk membiasakan diri, setidaknya aku tidak perlu merasa terganggu dengan kedatangannya yang tiba-tiba dan kesenangannya menyontek tugas-tugasku.
Positifnya: hidupku akan kembali tenang tanpa gangguan, aku berusaha menghibur diri.
Sebulan dua bulan, aku mulai terbiasa menjalani hari-hariku tanpa Kay dengan segala "program acaranya". Aku semakin sibuk dengan aktivitas harian membantu ibu dan jam kerjaku semakin tinggi karena selepas sekolah tak ada lagi aktivitas lain -yang biasanya terpangkas dengan kehadiran Kay- dan tugas sekolah yang biasa. Sekarang aku tak perduli sama sekali tentang Kay. Aku bahkan tak perlu menganggapnya ada. Tingkah kami terlalu kekanak-kanakan memang, tapi biarlah "toh bukan aku yg salah" kujadikan pemikiran ini sebagai pembelaan diri.
Sampai hari itu, saat keluar kelas kulihat Kay berdiri menunggu dan tersenyum canggung padaku,
"hei.." sapaannya pelan nyaris tak terdengar. aku hanya menatapnya datar, tak sampai 5 detik tiba-tiba dia memanggil seseorang dengan lambaian tangannya dan berlalu dari hadapanku. Aku berdiri bingung.
"anak ini mau main-main denganku" aku pulang dengan perasaan kesal.
"Shin.." sejenak kegiatanku mengambil getah yang sudah membeku terhenti. melihat ibu berlari panik ke arahku, dengan terengah-engah berhenti tepat didepanku.
"pulang...cepat pulang! kayana kecelakaan!"
ibu menarik bajuku, aku tersentak kaget dan berlari kencang pulang. Kay...
Aku tidak ingat sudah berapa lama aku berdiri di sini. Berdiri di depan Kay tanpa sanggup mengatakan apa-apa, hanya memandang barisan namanya dan merasakan harum taburan bunga yang tertinggal, terasa aneh. Dadaku sesak tapi tak ada air mata yang mampu keluar. Keheningan menyelimuti sekelilingku, orang-orang sudah pergi dari tadi; ayah, ibu, saudara, keluarga, teman-temannya. Lalu, "aku siapa? masihkah aku temanmu?" seperti ada suara bergema di kepalaku. Aku menunduk, merasakan angin sore sejuk tapi tak sedikitpun menentramkan hatiku. Kay pergi tanpa sempat meninggalkan pesan apapun padaku, tak ada ucapan maaf, sekedar senyum atau sedikit tanda kalau kami pernah mengenal satu sama lain.
Aku masuk kamar dengan tubuh dan hati yang terasa amat lelah, menyandarkan punggungku di pintu dan menyapu pandangan ke sekeliling kamar yang sangat sederhana ini. Di sana, di atas meja kayuku kulihat selembar kertas terlipat tak rapi. Di atasnya tertulis namaku dengan huruf kapital, tulisan tangan Kay.
"Shin..sahabatku yang baik,
Seumur hidup aku tak pernah menulis surat kecuali surat pura-pura sakit (hehehe) dan menggelikan menulis surat seperti ini untukmu, apa boleh buat, aku terpaksa :P.
Shin, maafkan aku soal itu. Kau benar, aku yang salah. Kau tahu kan, terlalu memalukan kalau aku harus minta maaf langsung padamu, ini soal harga diri, teman. waktu itu saat teman-teman mengejekmu sangat kampungan seharusnya aku membelamu tapi aku malah menambahkannya dengan mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. itu g benar tapi aku terlalu pengecut untuk membantah, maaf ya.
Shin, sekarang pasti kau marah besar dan mungkin kau mau memukulku, tak apa aku terima. jadi temanmu selama 2 tahun ini aku sungguh bersyukur, serius!
Shin, sekarang aku mulai berfikir untuk kuliah dan mulai bermimpi untuk menjadi fotografer, sepertinya aku punya bakat, menurutmu benar g? hehe...
Shin, serius... aku minta maaf. Kalau nanti kau sudah ikhlas memaafkanku beritahu aku ya, pake sms (artinya kau harus beli hp dulu hehe..) sorry bercanda.
oiya, kau pernah tanya kenapa aku mau jadi temanmu kan? alasan sebenarnya banyak, akan ku sebut satu persatu:
1. kau anak baik (silahkan ge-er) artinya kau tak suka macam-macam dan aneh-aneh karena aku sudah cukup aneh jadi aku harus cari teman yang normal.
2. kau patuh pada ibumu, itu buatku sadar untuk sedikit lebih baik sama ibuku, kasihan ibuku ceramah terus tiap hari :D
3. kau rela tugas-tugasmu dicontek, meski jawabannya banyak yang salah hahaha..
4. kau rajin ==> supaya aku ketularan
5. kau rajin sholat ==> supaya aku juga cepat tobat
6. kau .... apa lagi ya? kalau ku tulis semua kau bisa ge er setengah mati hehehe..
sudahlah ini saja beberapa alasanku, kelak aku tambah lagi ceritanya.
Shin, serius.. maaf ya"
(diakhiri dengan gambar acungan jari telunjuk dan jari tengah)
Aku terdiam lama. Melorot terduduk bersandar dibawah jendela, pandanganku terasa kabur melihat surat Kay ditanganku. Tidak tahu bagaimana menalar perasaanku sekarang. Di dalam sini -hatiku seperti disiram air es- mungkin sudah terendam.
Aku tak pernah merasa sesedih ini sebelumnya dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis.
"apa maksudnya ini?!" aku berharap nada yang keluar dari suaraku adalah kemarahan, meski kenyataannya terdengar parau tercekat ditenggorokan.
"bukan apa-apa" kay melengos menghindari tatapanku, dan beranjak bersama beberapa temannya.
"tunggu dulu, kau harus jelaskan.." ku tarik lengan bajunya saat dia berlalu dari hadapanku. "kau...aku nggak nyangka, teman yang kuanggap paling baik bisa berbuat kayak gini, kau..."
aku kehilangan kata-kata. Keterkejutan, sakit hati dan kemarahan bercampur jadi satu. Bel berbunyi nyaring mengejutkan kami. Ku tatap mata Kay tajam, dia balas menatapku meski aku tak bisa membaca apa arti tatapannya
"merasa bersalahkah dia?" perlahan kulepaskan tanganku dari bajunya, memilih berlalu dengan rasa sakit hati.
"seharusnya aku memukulnya tadi, sekali-kali dia perlu diberi pelajaran" hatiku berbisik jahat, aku hanya tidak merasakan apa-apa kecuali kepala yang tiba-tiba terasa kosong dan perasaan kebas. sampai pada kesadaran bahwa aku dikhianati sahabatku.
Sejak saat itu hubungan kami menjadi aneh, aku dan Kay seperti dua orang asing, canggung dan kikuk. hal itu sangat terasa bagiku yang terbiasa dengannya. Entah bagaimana dengan Kay karena kelihatannya dia tidak masalah sama sekali. Dia malah asyik bermain-main dengan teman yang lain dan menganggapku seperti angin lalu. Aku menganggap dia tidak punya itikad baik untuk memperbaiki bahkan memberi penjelasan padaku. Hal ini berlangsung beberapa waktu dan aku memaksa diri untuk membiasakan diri, setidaknya aku tidak perlu merasa terganggu dengan kedatangannya yang tiba-tiba dan kesenangannya menyontek tugas-tugasku.
Positifnya: hidupku akan kembali tenang tanpa gangguan, aku berusaha menghibur diri.
Sebulan dua bulan, aku mulai terbiasa menjalani hari-hariku tanpa Kay dengan segala "program acaranya". Aku semakin sibuk dengan aktivitas harian membantu ibu dan jam kerjaku semakin tinggi karena selepas sekolah tak ada lagi aktivitas lain -yang biasanya terpangkas dengan kehadiran Kay- dan tugas sekolah yang biasa. Sekarang aku tak perduli sama sekali tentang Kay. Aku bahkan tak perlu menganggapnya ada. Tingkah kami terlalu kekanak-kanakan memang, tapi biarlah "toh bukan aku yg salah" kujadikan pemikiran ini sebagai pembelaan diri.
Sampai hari itu, saat keluar kelas kulihat Kay berdiri menunggu dan tersenyum canggung padaku,
"hei.." sapaannya pelan nyaris tak terdengar. aku hanya menatapnya datar, tak sampai 5 detik tiba-tiba dia memanggil seseorang dengan lambaian tangannya dan berlalu dari hadapanku. Aku berdiri bingung.
"anak ini mau main-main denganku" aku pulang dengan perasaan kesal.
"Shin.." sejenak kegiatanku mengambil getah yang sudah membeku terhenti. melihat ibu berlari panik ke arahku, dengan terengah-engah berhenti tepat didepanku.
"pulang...cepat pulang! kayana kecelakaan!"
ibu menarik bajuku, aku tersentak kaget dan berlari kencang pulang. Kay...
Aku tidak ingat sudah berapa lama aku berdiri di sini. Berdiri di depan Kay tanpa sanggup mengatakan apa-apa, hanya memandang barisan namanya dan merasakan harum taburan bunga yang tertinggal, terasa aneh. Dadaku sesak tapi tak ada air mata yang mampu keluar. Keheningan menyelimuti sekelilingku, orang-orang sudah pergi dari tadi; ayah, ibu, saudara, keluarga, teman-temannya. Lalu, "aku siapa? masihkah aku temanmu?" seperti ada suara bergema di kepalaku. Aku menunduk, merasakan angin sore sejuk tapi tak sedikitpun menentramkan hatiku. Kay pergi tanpa sempat meninggalkan pesan apapun padaku, tak ada ucapan maaf, sekedar senyum atau sedikit tanda kalau kami pernah mengenal satu sama lain.
Aku masuk kamar dengan tubuh dan hati yang terasa amat lelah, menyandarkan punggungku di pintu dan menyapu pandangan ke sekeliling kamar yang sangat sederhana ini. Di sana, di atas meja kayuku kulihat selembar kertas terlipat tak rapi. Di atasnya tertulis namaku dengan huruf kapital, tulisan tangan Kay.
"Shin..sahabatku yang baik,
Seumur hidup aku tak pernah menulis surat kecuali surat pura-pura sakit (hehehe) dan menggelikan menulis surat seperti ini untukmu, apa boleh buat, aku terpaksa :P.
Shin, maafkan aku soal itu. Kau benar, aku yang salah. Kau tahu kan, terlalu memalukan kalau aku harus minta maaf langsung padamu, ini soal harga diri, teman. waktu itu saat teman-teman mengejekmu sangat kampungan seharusnya aku membelamu tapi aku malah menambahkannya dengan mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. itu g benar tapi aku terlalu pengecut untuk membantah, maaf ya.
Shin, sekarang pasti kau marah besar dan mungkin kau mau memukulku, tak apa aku terima. jadi temanmu selama 2 tahun ini aku sungguh bersyukur, serius!
Shin, sekarang aku mulai berfikir untuk kuliah dan mulai bermimpi untuk menjadi fotografer, sepertinya aku punya bakat, menurutmu benar g? hehe...
Shin, serius... aku minta maaf. Kalau nanti kau sudah ikhlas memaafkanku beritahu aku ya, pake sms (artinya kau harus beli hp dulu hehe..) sorry bercanda.
oiya, kau pernah tanya kenapa aku mau jadi temanmu kan? alasan sebenarnya banyak, akan ku sebut satu persatu:
1. kau anak baik (silahkan ge-er) artinya kau tak suka macam-macam dan aneh-aneh karena aku sudah cukup aneh jadi aku harus cari teman yang normal.
2. kau patuh pada ibumu, itu buatku sadar untuk sedikit lebih baik sama ibuku, kasihan ibuku ceramah terus tiap hari :D
3. kau rela tugas-tugasmu dicontek, meski jawabannya banyak yang salah hahaha..
4. kau rajin ==> supaya aku ketularan
5. kau rajin sholat ==> supaya aku juga cepat tobat
6. kau .... apa lagi ya? kalau ku tulis semua kau bisa ge er setengah mati hehehe..
sudahlah ini saja beberapa alasanku, kelak aku tambah lagi ceritanya.
Shin, serius.. maaf ya"
(diakhiri dengan gambar acungan jari telunjuk dan jari tengah)
Aku terdiam lama. Melorot terduduk bersandar dibawah jendela, pandanganku terasa kabur melihat surat Kay ditanganku. Tidak tahu bagaimana menalar perasaanku sekarang. Di dalam sini -hatiku seperti disiram air es- mungkin sudah terendam.
Aku tak pernah merasa sesedih ini sebelumnya dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis.
Jumat, 04 Juli 2014
Tentang Ibu
Ibuku perempuan
sederhana yang apa adanya. Penampilannya biasa saja, bahkan cenderung
tak suka bergaya. Kebiasaan yang kuhapal adalah dia suka menyapa jika
bertemu orang-orang yang dikenalnya dengan senyum lebar disertai
gurauan. Tubuhnya yang gemuk membuatku nyaman tidur sambil memeluknya
meski tak sampai setengah jam kulepas, sesak napas :P.
Kami suka
bermanja padanya, meski sudah dewasa kadang-kadang masih suka tidur
dipangkuannya meski ibu tetap membiarkan diiringi keluhan bahwa kami
terlalu berat untuk perlakukan seperti anak-anak, keluhan yang tentu
tak digubris, dan semakin menyenangkan bermanja sambil mendengar
omelannya yang tak sungguh-sungguh itu. Dia lebih suka menyibukkan
dirinya dengan bekerja keras, sejak lajang ibuku sudah merantau jauh
dari tanah kelahirannya. Budaya minang yang membiasakan laki-laki
merantau dipakai pula oleh ibuku, beliau lahir dari salah satu kota
di sumatra barat yang mayoritas profesi mereka adalah berdagang dan
berjualan makanan. Ibu yang sudah yatim sejak kecil terdidik dengan
baik oleh nenek, perempuan yang sama hebatnya; mampu membiayai
anaknya, paling rendah tamatan sekolah tinggi. Ibuku saat bangga pada
nenek, meski berulang-ulang menceritakan kisah yang sama airmatanya
kerap berlinang bila mengenang nenek. Merasakan beberapa penyesalan
tak terucapkan karena pernah membuat nenek terluka oleh tindakan
nakal kanak-kanaknya. Beliau tetap mengenang kata-kata terakhir nenek
saat anak-anaknya memohon maaf jika hati nenek tersakiti “Ambo
(saya) tak pernah berkecil hati sama anak-anak, tak ada anak Ambo
yang salah” sedih sungguh mengenang itu membuat ibu merasa
rindunya tak terbilang pada nenek, meski telah bertahun-tahun sejak
sepeninggalnya.
Ibuku sayang adalah
pekerja keras sejak muda, ibu sering bilang “mama ini tidak pintar,
tapi rajin” kata-kata yang diikuti dengan senyum lebar, bersyukur
untuk kelebihannya dan membuatku juga tersenyum bangga padanya. Ibuku
sayang, berapa banyak waktu sudah terkorbankan dan jangan ditanya
lagi perjuangannya, lebih dari cukup... jika sekali waktu dia kecewa
pada kami dia seringkali mengungkapkannya dalam doa-doa berharap
anaknya terlindung dari murka Allah dan diberi kelapangan hati untuk
memaafkan. Satu keahlian lainnya, beliau pandai benar berhitung,
beritahukan padanya modal barang maka dengan cepat dia bisa
memberikan pedoman harga jual dengan sekian persen
keuntungan-benar-benar pedagang sejati- :p. Yah...begitulah ibuku,
memang tak sempurna tapi dia berusaha mempersiapkan rencana-rencana
kehidupan yang terbaik bagi kami bahkan untuk modal hidup sekalipun.
Ibu seringkali memberi nasehat yang sama “jadi perempuan itu harus
bijaksana” aku tahu maksudnya, mampukan diri untuk mengambil jalan
yang menenangkan semua orang karena menyenangkan semua orang mungkin
hal yang mustahil jadi bijaksanalah dalam menentukan langkah. Aku
berusaha memahaminya, jelas tidak mudah membagi perhatian pada kami
bertiga, anak-anaknya. Ibu sosok yang
gampang iba pada orang lain, sehingga ada yang berkata ibuku mudah
dimanfaatkan orang karena gampangnya dia memberi bantuan jika
dilihat/ didengarnya cerita-cerita menyedihkan tentang kehidupan
orang lain. Dengan hewan pun begitu, kami bahkan pernah memiliki 7
ekor kucing dirumah..setiap yang datang layak mendapat makan dan
perlindungan, sehingga sempat kubuat gurauan dengan kakak laki-lakiku
“kita buat saja tulisan: semua kucing terlantar dipelihara di toko
Simpang Tiga” :p merepotkan sebenarnya karena tak semua anggota
keluarga suka tapi ibu bilang “sayangilah makhluk Allah, dibunuhpun
mereka tak akan melawan..apa iya kita setega itu?”
Darinya aku belajar
kelembutan hati dan ketulusan memberi, belajar menerima dengan
kesabaran dan berjuang dengan ketegaran. Ibu bilang dia tidak tahu
keahliannya apa tapi dia bisa mengerjakan apa saja, yang penting mau
belajar. Pernyataan yang benar adanya. Ibuku bisa berdagang,
berkebun, menjahit, menyulam, memasak -meski ini bukan bidang yang
menarik perhatiannya- berdasarkan semua itu bisa kusimpulkan bahwa
ibuku serba bisa, mungkin itulah keahliannya. Setelah dua kakakku
berkeluarga pun ibu masih turut andil “mempertanyakan” kehidupan
mereka, bertanya dalam artian yang sesungguhnya, cukupkah kebutuhan
sehari-hari, belajarlah menabung, hematlah dalam berbelanja tapi
jangan sampai jadi orang pelit, belajarlah berbagi pada saudara.
Semuanya..aku tahu ibu ingin semuanya baik-baik saja. Dan semua
perhatian itu adalah bentuk cinta yang tak terkira.
Langganan:
Komentar (Atom)