Wahai diri...
Renungilah... apa arti keberadaanmu?
Apa nilaimu dihadapan Tuhanmu?
Pernahkah kau berkaca, dengan sebening nurani; tentang nilai diri dan baktimu sebagai hamba?
Siapa engkau yang berani membantah, berani mencela, bahkan mengabaikan ketentuanNya?
Siapa dirimu yang membuatmu merasa lebih, lalu berani menuding orang lain?
Merasa hebatkah?
Kau banyak tahu, tapi seberapa banyak pengetahuan itu kau jadikan amalan?
Kau banyak salah, tapi seberapa sering kau menyesali dan bertobat dari kelalaian?
Kau banyak bicara, tapi seberapa banyak ucapanmu mampu menggugah kesadaran?
Jadi, siapa sesungguhnya dirimu?
Apa kau bagian dari penyampai pesan kebenaran dari perjalanan panjang sebuah dakwah?
atau kau bagian dari pengikut keadaan yang tak punya arah tujuan?
Tersesat dalam keramaian;
Menjadi bagian dari pemuja kenikmatan;
Tercerai-berai dari simpul kokoh kebenaran.
Sampai kapan?
Sementara kematian adalah sebuah kepastian;
Nyata... yang sakitnya sakratul maut, tak mampu terjabarkan oleh kata
Lalu... seberapa banyak ucapanmu mengajak pada kebaikan?
Periksa dirimu.
Siapa sesungguhnya engkau dalam keramaian?
Siapa dirimu dalam kesunyian?
Apa yang kau lakukan saat kepayahan?
Bagaimana pula engkau dalam kegembiraan?
Apakah sama ,apa yang tersembunyi dalam hati dengan yang diikrarkan lisan?
Apakah sama, apa yang engkau niatkan dengan yang kau lakukan?
Pernahkah kau ambil sekian jam dari waktu kehidupanmu, untuk bertanya jujur pada diri sendiri.
Apakah aku layak atas segala nikmat yang Allah beri?
Maka... sisihkan waktumu untuk bertanya pada hati.
Agar diri tak menjadi bagian golongan yang merugi
hanya sanggup meratapi diri "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah".
Maka... beri waktu untuk memeriksa diri sendiri.
Tidak perlu ada yang tahu.
Rahasiakan rahasiamu.
Meskipun begitu... tetap saja, pengetahuan ALLAH meliputi segala sesuatu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar