I'm broken...
Bagaimana kusimpulkan senyum dari hati yang luka?
Kediamanku menjadi palung di dasar hati
Dalam tak tergapai, terpecah pada keadaan yang tak bisa kuuraikan.
Siapa aku?
Kesombongankah yang bicara atas harapku?
atas doa-doa dan inginku?
Seumur hidupku, aku tak pernah membantah atas keputusan penting bagi diriku.
Karena taatku pada nilai diri seorang insan mulia,
aku tak berharap berakhir pada luka
Aku tahu..
Jangan mengabaikannya
Jangan menyakiti hatinya
Jangan bicara atau bersikap yang membuatnya terluka.
Tapi... ternyata pengetahuanku baru seujung "tahu"
Alangkah beratnya mengimbangi bakti saat egoisme merajai hati.
Tapi bagaimana kujelaskan dengan tenang saat airmata sesak untuk ku hindarkan.
Saat itu aku berpaling,
bukan karena benciku, tapi takutku pada kata yang terlontar yang mungkin akan kusesali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar