Mengikuti selera manusia itu tidak pernah ada habisnya, seperti menyelami nafsu sendiri;
Tidak akan pernah ada puasnya.
Maka cukuplah mengikuti ketentuan Allah dan Sunnah RasulNya yang menjadi pedoman kita;
Sedangkan yang sudah ditetapkanNya pun masih susah payah kita jalankan.
Jadi apalah untungnya mengikuti selera manusia;ditolak atau diterima tak membawa bencana atau manfaat.
Sedangkan selera manusia mudah berubah;
Mudah goyah apalagi untuk masalah dunia.
Cukup memohon pada Allah dalam segala situasi;
Agar manisnya nikmat iman tetap terasa dalam hati.
Cukup memohon pada Allah dalam segala kondisi;
Agar Allah mengistiqomahkan hati dalam agama yang lurus ini.
NB: semoga Allah menjaga Iman dan diri ini karena Dialah sebaik-baik penjagaan.
agar kita terhindar dari kesesatan pemikiran dan iman, terlindungi dari bid'ah-bid'ah dan jauh dari kemunafikan, kekafiran dan kemusyrikan. Aamiin...
"Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihat" "Alhamdulillah 'ala kulli hal" ~Catatan dari Sudut Hati~
Minggu, 29 September 2013
Sabtu, 28 September 2013
Muhasabah diri (2)
Wahai diri...
Renungilah... apa arti keberadaanmu?
Apa nilaimu dihadapan Tuhanmu?
Pernahkah kau berkaca, dengan sebening nurani; tentang nilai diri dan baktimu sebagai hamba?
Siapa engkau yang berani membantah, berani mencela, bahkan mengabaikan ketentuanNya?
Siapa dirimu yang membuatmu merasa lebih, lalu berani menuding orang lain?
Merasa hebatkah?
Kau banyak tahu, tapi seberapa banyak pengetahuan itu kau jadikan amalan?
Kau banyak salah, tapi seberapa sering kau menyesali dan bertobat dari kelalaian?
Kau banyak bicara, tapi seberapa banyak ucapanmu mampu menggugah kesadaran?
Jadi, siapa sesungguhnya dirimu?
Apa kau bagian dari penyampai pesan kebenaran dari perjalanan panjang sebuah dakwah?
atau kau bagian dari pengikut keadaan yang tak punya arah tujuan?
Tersesat dalam keramaian;
Menjadi bagian dari pemuja kenikmatan;
Tercerai-berai dari simpul kokoh kebenaran.
Sampai kapan?
Sementara kematian adalah sebuah kepastian;
Nyata... yang sakitnya sakratul maut, tak mampu terjabarkan oleh kata
Lalu... seberapa banyak ucapanmu mengajak pada kebaikan?
Periksa dirimu.
Siapa sesungguhnya engkau dalam keramaian?
Siapa dirimu dalam kesunyian?
Apa yang kau lakukan saat kepayahan?
Bagaimana pula engkau dalam kegembiraan?
Apakah sama ,apa yang tersembunyi dalam hati dengan yang diikrarkan lisan?
Apakah sama, apa yang engkau niatkan dengan yang kau lakukan?
Pernahkah kau ambil sekian jam dari waktu kehidupanmu, untuk bertanya jujur pada diri sendiri.
Apakah aku layak atas segala nikmat yang Allah beri?
Maka... sisihkan waktumu untuk bertanya pada hati.
Agar diri tak menjadi bagian golongan yang merugi
hanya sanggup meratapi diri "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah".
Maka... beri waktu untuk memeriksa diri sendiri.
Tidak perlu ada yang tahu.
Rahasiakan rahasiamu.
Meskipun begitu... tetap saja, pengetahuan ALLAH meliputi segala sesuatu.
Renungilah... apa arti keberadaanmu?
Apa nilaimu dihadapan Tuhanmu?
Pernahkah kau berkaca, dengan sebening nurani; tentang nilai diri dan baktimu sebagai hamba?
Siapa engkau yang berani membantah, berani mencela, bahkan mengabaikan ketentuanNya?
Siapa dirimu yang membuatmu merasa lebih, lalu berani menuding orang lain?
Merasa hebatkah?
Kau banyak tahu, tapi seberapa banyak pengetahuan itu kau jadikan amalan?
Kau banyak salah, tapi seberapa sering kau menyesali dan bertobat dari kelalaian?
Kau banyak bicara, tapi seberapa banyak ucapanmu mampu menggugah kesadaran?
Jadi, siapa sesungguhnya dirimu?
Apa kau bagian dari penyampai pesan kebenaran dari perjalanan panjang sebuah dakwah?
atau kau bagian dari pengikut keadaan yang tak punya arah tujuan?
Tersesat dalam keramaian;
Menjadi bagian dari pemuja kenikmatan;
Tercerai-berai dari simpul kokoh kebenaran.
Sampai kapan?
Sementara kematian adalah sebuah kepastian;
Nyata... yang sakitnya sakratul maut, tak mampu terjabarkan oleh kata
Lalu... seberapa banyak ucapanmu mengajak pada kebaikan?
Periksa dirimu.
Siapa sesungguhnya engkau dalam keramaian?
Siapa dirimu dalam kesunyian?
Apa yang kau lakukan saat kepayahan?
Bagaimana pula engkau dalam kegembiraan?
Apakah sama ,apa yang tersembunyi dalam hati dengan yang diikrarkan lisan?
Apakah sama, apa yang engkau niatkan dengan yang kau lakukan?
Pernahkah kau ambil sekian jam dari waktu kehidupanmu, untuk bertanya jujur pada diri sendiri.
Apakah aku layak atas segala nikmat yang Allah beri?
Maka... sisihkan waktumu untuk bertanya pada hati.
Agar diri tak menjadi bagian golongan yang merugi
hanya sanggup meratapi diri "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah".
Maka... beri waktu untuk memeriksa diri sendiri.
Tidak perlu ada yang tahu.
Rahasiakan rahasiamu.
Meskipun begitu... tetap saja, pengetahuan ALLAH meliputi segala sesuatu.
Muhasabah diri
Kenapa sholat belum mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar?
Kenapa kita sulit merasakan ketenangan dari ibadah utama ini?
Kenapa kita masih kembali pada kegusaran hati, keruwetan pikiran dan anggota tubuh yang tak terjaga dari kemaksiatan?
Adakah yang salah dari sholat kita?
Ya..
Mungkin niat kita bukan karena Allah saja..
Mungkin syarat rukun sholat kita masih jauh dari tuntunan Rasulullah.
Mungkin kita masih menjadikan sholat sekedar melepas kewajiban, bukan kebutuhan.
Mungkin hati kita belum tunduk dan berserah diri dalam kepasrahan.
Mungkin pikiran kita masih liar dan jauh dari kekhusyu'an.
Sehingga hati lalai.
Lalu sholat selesai tanpa merasakan apapun,
kebas.
Tak salah jika hati mati rasa.
Jauh dari kesadaran tentang benar dan salah
Jauh dari kenikmatan merasakan tunduknya penghambaan diri.
Jadi, mulailah menilai diri sendiri
Tentang sholat kita, tentang keikhlasan kita
Tentang nilai penghambaan diri kita.
Kenapa kita sulit merasakan ketenangan dari ibadah utama ini?
Kenapa kita masih kembali pada kegusaran hati, keruwetan pikiran dan anggota tubuh yang tak terjaga dari kemaksiatan?
Adakah yang salah dari sholat kita?
Ya..
Mungkin niat kita bukan karena Allah saja..
Mungkin syarat rukun sholat kita masih jauh dari tuntunan Rasulullah.
Mungkin kita masih menjadikan sholat sekedar melepas kewajiban, bukan kebutuhan.
Mungkin hati kita belum tunduk dan berserah diri dalam kepasrahan.
Mungkin pikiran kita masih liar dan jauh dari kekhusyu'an.
Sehingga hati lalai.
Lalu sholat selesai tanpa merasakan apapun,
kebas.
Tak salah jika hati mati rasa.
Jauh dari kesadaran tentang benar dan salah
Jauh dari kenikmatan merasakan tunduknya penghambaan diri.
Jadi, mulailah menilai diri sendiri
Tentang sholat kita, tentang keikhlasan kita
Tentang nilai penghambaan diri kita.
Broken
I'm broken...
Bagaimana kusimpulkan senyum dari hati yang luka?
Kediamanku menjadi palung di dasar hati
Dalam tak tergapai, terpecah pada keadaan yang tak bisa kuuraikan.
Siapa aku?
Kesombongankah yang bicara atas harapku?
atas doa-doa dan inginku?
Seumur hidupku, aku tak pernah membantah atas keputusan penting bagi diriku.
Karena taatku pada nilai diri seorang insan mulia,
aku tak berharap berakhir pada luka
Aku tahu..
Jangan mengabaikannya
Jangan menyakiti hatinya
Jangan bicara atau bersikap yang membuatnya terluka.
Tapi... ternyata pengetahuanku baru seujung "tahu"
Alangkah beratnya mengimbangi bakti saat egoisme merajai hati.
Tapi bagaimana kujelaskan dengan tenang saat airmata sesak untuk ku hindarkan.
Saat itu aku berpaling,
bukan karena benciku, tapi takutku pada kata yang terlontar yang mungkin akan kusesali.
Bagaimana kusimpulkan senyum dari hati yang luka?
Kediamanku menjadi palung di dasar hati
Dalam tak tergapai, terpecah pada keadaan yang tak bisa kuuraikan.
Siapa aku?
Kesombongankah yang bicara atas harapku?
atas doa-doa dan inginku?
Seumur hidupku, aku tak pernah membantah atas keputusan penting bagi diriku.
Karena taatku pada nilai diri seorang insan mulia,
aku tak berharap berakhir pada luka
Aku tahu..
Jangan mengabaikannya
Jangan menyakiti hatinya
Jangan bicara atau bersikap yang membuatnya terluka.
Tapi... ternyata pengetahuanku baru seujung "tahu"
Alangkah beratnya mengimbangi bakti saat egoisme merajai hati.
Tapi bagaimana kujelaskan dengan tenang saat airmata sesak untuk ku hindarkan.
Saat itu aku berpaling,
bukan karena benciku, tapi takutku pada kata yang terlontar yang mungkin akan kusesali.
Sabtu, 14 September 2013
Love, Hope & Courage - Part2
Ketika wanita-wanita itu menjadi berbeda
Mereka tetap mempesona.
Sebab mereka indah dan terjaga,
Menjadikan mereka dikagumi hamba-hamba Allah yang mulia,
Menjadikan mereka dicemburui oleh bidadari.
Sungguh, meski mereka sederhana
Tak terlihat nyata dari pandangan para pecinta dunia
Tetapi misteri mereka tetap mempesona;
Tentang kenapa mereka memilih terasing dari kemodernan dunia
Menjadi tidak trendi, tidak gaul, dan menyembunyikan keindahan mereka dibalik hijab yang rapat terjaga.
Sesungguhnya rasa kagumku tersembunyi pada keteguhan mereka
Untuk kesantunan dan ketaatan
Untuk kesabaran akan keridhoan Allah Subhana wa Ta'ala
Ketika dunia tak lagi menjadi duka mereka.
Calon bidadari surga, sungguh membuat iri diri.
Bukan..bukan karena mereka sempurna dalam segalanya,
Tapi berusaha menyempurnakan ketaatan hanya kepadaNya membuat mereka mulia
Tetap berusaha; meski lelah
Tetap bertahan; meski susah
Terkadang menangis pun menjadi pelepas gundah gulana
Jika kepayahan hanya untuk dunia; alangkah mudahnya menyerah menjadi senjata utama
Tapi setiap tersandung dan jatuh, mereka tahu siapa sejatinya Sang penyembuh luka
Semoga Allah Subhana wa Ta'ala selalu menjaga mereka
dan menjadikan diri ini bagian mereka, dengan usaha dan doa
Lilahita'ala
Aamiin ya Robbal'alamin
Mereka tetap mempesona.
Sebab mereka indah dan terjaga,
Menjadikan mereka dikagumi hamba-hamba Allah yang mulia,
Menjadikan mereka dicemburui oleh bidadari.
Sungguh, meski mereka sederhana
Tak terlihat nyata dari pandangan para pecinta dunia
Tetapi misteri mereka tetap mempesona;
Tentang kenapa mereka memilih terasing dari kemodernan dunia
Menjadi tidak trendi, tidak gaul, dan menyembunyikan keindahan mereka dibalik hijab yang rapat terjaga.
Sesungguhnya rasa kagumku tersembunyi pada keteguhan mereka
Untuk kesantunan dan ketaatan
Untuk kesabaran akan keridhoan Allah Subhana wa Ta'ala
Ketika dunia tak lagi menjadi duka mereka.
Calon bidadari surga, sungguh membuat iri diri.
Bukan..bukan karena mereka sempurna dalam segalanya,
Tapi berusaha menyempurnakan ketaatan hanya kepadaNya membuat mereka mulia
Tetap berusaha; meski lelah
Tetap bertahan; meski susah
Terkadang menangis pun menjadi pelepas gundah gulana
Jika kepayahan hanya untuk dunia; alangkah mudahnya menyerah menjadi senjata utama
Tapi setiap tersandung dan jatuh, mereka tahu siapa sejatinya Sang penyembuh luka
Semoga Allah Subhana wa Ta'ala selalu menjaga mereka
dan menjadikan diri ini bagian mereka, dengan usaha dan doa
Lilahita'ala
Aamiin ya Robbal'alamin
Love, Hope & Courage - Part1
Sejujurnya, saya ingin jatuh cinta pada seorang laki-laki soleh.
yang tahu kedudukan Tuhannya; tahu kewajibannya sebagai hamba.
Tahu hakikatnya sebagai lelaki, pemimpin dan pelindung kaum wanita.
Bertanggung jawab atas kelebihan yang diberikan Allah SWT kepadanya.
Mudah untuk menumbuhkan cinta pada laki-laki soleh itu,
karena cintanya kepada Allah SWT;
maka tak sulit baginya memberi sedikit cinta kepada sesama pencintaNya.
Laki-laki soleh itu berusaha istiqomah menjaga sholatnya; senantiasa tepat waktu.
Berusaha menikmati puasanya; bukan sekedar menahan nafsu.
Belajar ikhlas bersedekah; untuk meringankan hati dari cinta dunia dan berbagi kasih sayang pada sesama.
Benar...Menikah bukan dengan angan-angan
karena panjang angan-angan adalah bisikan syetan
Bisa penyebab kufur jika tak sesuai dengan kenyataan.
Karena itu sertakan banyak kemungkinan..
Lelaki soleh itu, bisa jadi tidak sabaran; tapi terjaga amarahnya dari kata-kata yang menyakitkan
Lelaki soleh itu, bisa jadi tak lihai lidahnya dengan ucapan yang mengagumkan;
tapi hatinya lebih sering menggumamkan kesyukuran.
Lelaki soleh itu mungkin bukan siapa-siapa dalam kedudukan; tapi sederhana dalam kehidupan.
Kebaikan terpancar dari sikapnya, berusaha menjaga lisannya, dan kecintaannya kepada Rasulullah salallahu'alaihi wasalam, terlihat dari ketaatannya melaksanakan sunnah; semampu yang ia bisa.
Laki-laki soleh itu ada dimana-mana... mengutamakan pengakuan Allah atas keimanannya, sabar akan ujianNya
yang tahu kedudukan Tuhannya; tahu kewajibannya sebagai hamba.
Tahu hakikatnya sebagai lelaki, pemimpin dan pelindung kaum wanita.
Bertanggung jawab atas kelebihan yang diberikan Allah SWT kepadanya.
Mudah untuk menumbuhkan cinta pada laki-laki soleh itu,
karena cintanya kepada Allah SWT;
maka tak sulit baginya memberi sedikit cinta kepada sesama pencintaNya.
Laki-laki soleh itu berusaha istiqomah menjaga sholatnya; senantiasa tepat waktu.
Berusaha menikmati puasanya; bukan sekedar menahan nafsu.
Belajar ikhlas bersedekah; untuk meringankan hati dari cinta dunia dan berbagi kasih sayang pada sesama.
Benar...Menikah bukan dengan angan-angan
karena panjang angan-angan adalah bisikan syetan
Bisa penyebab kufur jika tak sesuai dengan kenyataan.
Karena itu sertakan banyak kemungkinan..
Lelaki soleh itu, bisa jadi tidak sabaran; tapi terjaga amarahnya dari kata-kata yang menyakitkan
Lelaki soleh itu, bisa jadi tak lihai lidahnya dengan ucapan yang mengagumkan;
tapi hatinya lebih sering menggumamkan kesyukuran.
Lelaki soleh itu mungkin bukan siapa-siapa dalam kedudukan; tapi sederhana dalam kehidupan.
Kebaikan terpancar dari sikapnya, berusaha menjaga lisannya, dan kecintaannya kepada Rasulullah salallahu'alaihi wasalam, terlihat dari ketaatannya melaksanakan sunnah; semampu yang ia bisa.
Laki-laki soleh itu ada dimana-mana... mengutamakan pengakuan Allah atas keimanannya, sabar akan ujianNya
Langganan:
Komentar (Atom)