Aku ingin mengerti engkau saudariku
Memahami seluk beluk perasaanmu dan apa yang tersembunyi di palung hatimu
Engkau tahu? Aku sedang berusaha meski kaku, meski ragu
Ataupun terselip malu
Tapi aku sungguh ingin memahamimu
Agar kita tak hanya saling pandang dengan senyum kelu
Atau tatapan cinta malu-malu
Agar dapat ku rengkuh bahumu, kupeluk tubuhmu
Dan kita bisa berbagi cerita tentang apa saja
Seperti halnya wanita biasa
Aku tersenyum membayangkannya
Merasa bangga dengan apa yang kuminta
Dan berujung semu dengan apa yang sudah kuupayakan
Ternyata belum apa-apa, belum cukup bermakna untuk membuatmu mengerti
Segala tanda-tanda cinta yang ku kirim
Atau aku harus mendekat padamu?
Mengetuk pintu hatimu, dan memanggil mesra namamu
Tapi mendadak aku malu, ternyata aku masih malu
Kadang aku geram pada diriku
Pasrah pada akhirnya dan ingin engkau saja yang lebih memahamiku
Harapan yang bertabur mimpi yang selalu kusemai dalam setiap doa
Aku ingin mencintaimu semampuku
Ingin kau tahu bahwa saat-saat diamku
Atau rengut masam mukaku, bukan untuk membencimu
Tapi inginku yang tak sampai padamu
Ingin kau menjadi baik dalam pengetahuan agamaku yang baru seujung kuku
Ingin kau lebih menjaga auratmu agar terjaga kehormatanmu
Ingin kau lebih santun dalam sapa mesra pada cinta orang tua
Begitu banyak inginku
Ah..aku jadi malu tapi tak akan pernah berhenti
Untuk menghadirkan banyak mimpi setiap hari
Sebelum pertanyaan itu ku ajukan padamu
Mungkin sebaiknya inginku adalah untukku dulu
Agar cinta berwujud perbuatan tiada henti
Untuk bisa memahamimu sekali lagi
"Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihat" "Alhamdulillah 'ala kulli hal" ~Catatan dari Sudut Hati~
Selasa, 23 Maret 2010
Tentang Sahabat
Sahabat, berhenti sejenak
Mari kita renungi perjalanan kita
Menelusuri jalan-jalan yang pernah kita lalui
Menyesapi setiap ruang dan waktu yang kita isi dengan canda, tawa, ataupun berbagi duka cita
Aku berbahagia pernah menjadi bagian dalam episode kehidupan
Memberikan kenangan yang ceritanya tak kan usang
Sahabat, terkadang kesal dan marah menjadi warna dalam keseharian kita
Bukan berarti menghentikan kepedulianku atas apa yang menjadi inginmu
Hanya saja ingin kita terbentur oleh dinding perbedaan
Dalam pemahaman, keputusan, dan tujuan
Lalu, tiba-tiba kita berhenti bicara
Seolah-olah kita adalah dua orang asing yang bersua tanpa sengaja
Saling mengalihkan pandang atau menyapa ragu-ragu jika tak dapat mengelakkan diri saat bertemu
Jujur aku tak ingin begitu, menjadi orang yang tak berarti apa-apa bagimu
Mengabaikan semua seolah tak terjadi sesuatu
Namun biarkan hening menyapa kita sejenak
Dengan diam bisa memberi kita waktu untuk lebih sabar dan dewasa
Aku tahu maksud baikmu, tapi berilah kepercayaan padaku
Beri kesempatan untuk menunjukkan apa yang baik menurutku
Sungguh...
Jika masih banyak kekurangan dan kesalahan
Maka kau orang pertama yang kan kutanya
Meminta kejujuran dan nasihat perbaikan
Agar aku lega karena ada tempat bersandar
Dan aku berbahagia menyadari dibalik marahmu ada ketulusan dan kasih sayang
Maafkan maksudku, maafkan lisanku
Aku hanya ingin tetap jadi sahabat baikmu
Cinta Ayah Bunda
Waktu kecil, aku selalu minta pakaian baru dan mainan yang sama dengan teman2ku
Jika kau bilang nanti, aku menangis
Jika kau bilang uang tak ada, aku bermuram durja dan tak mau bicara
Dan ketika akhirnya engkau belikan juga, aku bersorak riang gembira sambil berteriak “aku cinta ayah bunda!”
Meski tanpa ku tahu, mainan baruku adalah hasil tumpukan hutang baru
Saat remaja saat engkau minta waktuku untuk membantu pekerjaan rumah yang menumpuk
Kubilang tugas ku banyak
Atau aku ada acara lain
Dan yang paling santun, kudiamkan sampai engkau harus berteriak marah
Aku tak perduli, kubilang kau harusnya memahami
Pikirku saat itu adalah masa mencari jati diri
Maka pikirku lagi, seharusnya engkau lebih mengerti
Tapi waktu engkau bilang, kita butuh pergi berlibur bersama
Dengan senyum mengembang, tatapan suka cita dan anggukan kepala kukatakan “aku cinta ayah bunda”
Tanpa kusadari engkau harus mengambil cuti diantara pekerjaan yang harus diselesaikan nanti
Ketika dewasa saat kau minta aku tinggal di rumah tuk sementara
Karena telah lama tak berjumpa, ada inginmu merajut cinta yang hanya bisa terbaca melalui sms atau telpon cepat singkat
Ingin aku disisimu mendengar ceritamu tentang kenangan2 masa lalu
Tentang kebanggaanmu dan betapa telah dewasa aku
Tapi dengan enggan ku sela anganmu
Aku sibuk..jawabku, aku harus mengejar waku membereskan ini itu
Lain kali saja ya?
Kuabaikan gurat luka di matamu
Meski terbesit rasa bersalah di hati kuyakinkan diri ini bisa kuperbaiki nanti
Lalu waktu beranjak pergi
Jika kelak kurajut mimpi dan memiliki keluarga sendiri
Akankah kusadari waktu yang terlewat bersamamu
Ayah bunda, cinta yang tak pernah padam
Meskipun aku masih datang dengan celoteh pertengkaran
Berharap didengarkan berharap penghiburan
Padahal ayah bunda telah lelah meski tak pernah gundah
Akhirnya dengan malu aku menunduk menunjuk diri
Apakah cukup hanya ucapan “aku cinta Ayah Bunda?”
Langganan:
Komentar (Atom)