Selasa, 04 Februari 2014

Soulmate

Ini bukan tentang lebih tua, seumuran atau lebih muda.

Ini tentang yang menyeimbangkan hidup dan yang bisa berjalan beriringan, yang memberi kedamaian disisi dan kasih sayang tiada henti.

Tentang tertawa bersama dan saling mensupport mendoakan satu sama lain, berbicara lepas tak terbatas tanpa berpikir ini pantas atau tidak.

Ketika dunia begitu kejam, dia menjadi tempatmu untuk selalu pulang.

 

Yang bisa membuatmu sangat sabar dan berusaha mengerti meski sulit.

Orang yang menerimamu apa adanya, meskipun kamu cuma seadanya.

Wajah mungkin tak rupawan tapi kebersamaan dengannya itu sesuatu yang kamu yakin harus kamu perjuangkan.

Masa lalunya tidak kamu persoalkan karena tahu itu yang membentuknya sekarang.

Kekurangan masing-masing adalah tugas bersama untuk belajar saling menerima dan memperbaiki agar jadi lebih baik.

Tentang dia yang yang kamu ikhlas seumur hidup menjadi makmum atau imammu.

Membuatmu bangga menjadi ibu atau ayah dari anak-anakmu.

#copas

Senin, 03 Februari 2014

Kapasitas Hati

Ada hati yang bergetar saat ayat Al-Qur'an dibacakan
sebagian hanya tunduk mendengar tanpa rasa
ada yang menggigil takut saat siksa kubur diperbincangkan
sebagian hanya mengimani tanpa makna
apa yang berbeda?
kapasitas hati.
karena hati kita tak sama
setiap kita memiliki kapasitas yang berbeda dalam menerima dan memahami
setiap kita punya batasan dalam menyikapi
asalkan hal itu tidak menjadi alasan membatasi diri
bahwa sampai disinilah kemampuan hati.

Ada yang tertegun dengan kisah nyata perjuangan seorang muslim,
yang lain lebih merasa haru dengan kisah para sahabat nabi.
Ada yang tersadar setelah teman menegur sikap melalui ucapan,
yang lain tersipu malu meski hanya ditegur lewat tatapan.
meskipun kita berbeda dalam tingkat pemahaman
setidaknya kita sama dalam tujuan.
yang dipertanyakan adalah semangat berjuang,
bisakah yang lebih dahulu tahu, menunjukkan tangga-tangga mendaki ke puncak ilmu?
memberi semangat saudara seislamnya menjejak pemahaman ilmu 
berbagi rasa tentang nikmatnya ketinggian iman
menciptakan kebersamaan,
membangun harapan,
dan merayakannya pada pertemuan abadi di tempat yang telah dijanjikanNya
Syurga.

Sesungguhnya kita berbeda dalam segala hal
kecuali dalam Cinta

Jumat, 31 Januari 2014

Berhenti Jadi Wanita Karir -True Story-

Sore itu sembari menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar. Kulihat seseorang yang berpakaian rapi, berjilbab dan tertutup sedang duduk disamping masjid. Kelihatannya ia sedang menunggu seseorang juga. Aku mencoba menegurnya dan duduk disampingnya, mengucapkan salam, sembari berkenalan.
Dan akhirnya pembicaraan sampai pula pada pertanyaan itu.
 “Anti sudah menikah?”.
“Belum ”, jawabku datar.
Kemudian wanita berjubah panjang (Akhwat) itu bertanya lagi “kenapa?”
Pertanyaan yang hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Ingin kujawab karena masih hendak melanjutkan pendidikan, tapi rasanya itu bukan alasan.
“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya.
“Menunggu suami” jawabnya pendek.
Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya
kuberanikan juga untuk bertanya “Mbak kerja di mana?”

Entah keyakinan apa yang membuatku demikian yakin jika mbak ini memang seorang wanita pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah PINTU AWAL kita wanita karir yang bisa membuat kita lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.
Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
Saudariku, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah hanya ingin didatangi oleh laki-laki yang baik-baik dan sholeh saja.
“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari dan es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Kamu tahu kenapa ?
Waktu itu jam 7 malam, suami saya saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Setibanya dirumah, mungkin hanya istirahat yang terlintas dibenak kami wanita karir. Ya, Saya akui saya sungguh capek sekali ukhty. Dan kebetulan saat itu suami juga bilang jika dia masuk angin dan kepalanya pusing.

Celakanya rasa pusing itu juga menyerang saya. Berbeda dengan saya, suami saya hanya minta diambilkan air putih untuk minum, tapi saya malah berkata, “abi, pusing nih, ambil sendirilah !!”.
Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah
bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya (kami memang berkomitmen untuk tidak memiliki khodimah)?

Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci.
Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini?
Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.
Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air putih saja saya membantahnya.
Air mata ini menetes, air mata karena telah melupakan hak-hak suami saya.”
Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.
“Kamu tahu berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700 rb/bulan. Sepersepuluh dari gaji saya sebulan.
Malam itu saya benar-benar merasa sangat durhaka pada suami saya.
Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya dengan ikhlas dari lubuk hatinya.
Setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata “Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho”, begitulah katanya.
Saat itu saya baru merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong dan durhaka pada nafkah yang diberikan suami saya, dan saya yakin hampir tidak ada wanita karir yang selamat dari fitnah ini”
“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu sering begitu susah jika tanpa harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya”
Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara. “Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara- saudara saya justru tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Sesuai dugaan saya, mereka malah membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan yang lain.”
Aku masih terdiam, bisu mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.
“Kak, bukankah kita harus memikirkan masa depan ? Kita kerja juga kan untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini mahal. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah.
Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali mengalir, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.
“Anti tau, saya hanya bisa menangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, Demi Allah bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya sudah DIPANDANG RENDAH olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, saat itu orang tersebut
belum mempunyai pekerjaan ?

Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan ?
Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.
Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Saya berharap dengan begitu saya tak lagi membantah perintah suami saya. Mudah-mudahan saya juga ridho atas besarnya nafkah itu.
Saya bangga dengan pekerjaan suami saya ukhty, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan seperti itu.
Disaat kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tetapi suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.
Suatu saat jika anti mendapatkan suami seperti suami saya, anti tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku.
Dan dia mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkanku. Kulihat dari kejauhan seorang laki-laki dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, wanita itu meninggalkanku.
Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah…. Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling berkesan dalam hidupku. Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..Subhanallah..Walhamdulillah..Wa Laa ilaaha illallah…Allahu Akbar
Semoga pekerjaan, harta dan kekayaan tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.

sumber:  http://kisahmuslim.com/kisah-inspirasi-berhenti-menjadi-wanita-karir-demi-taat-pada-suami/

Jumat, 24 Januari 2014

Nasehat untuk diri

Tubuhmu adalah amanah. Jangan kau kira amanah itu sekedar benda, kekayaan, atau keturunan. Lihatlah ke dalam -ke dirimu sendiri- engkau adalah salah satu amanah itu, apa yang akan kau jawab jika tubuh ini kembali kepada pemiliknya? apa yang sudah kau perbuat dengan tanganmu, kakimu, matamu, mulutmu?

Setiap kita, laki-laki ataupun perempuan memiliki peranan yang berbeda namun hakikatnya sama dihadapanNya, menghamba padaNya. Alangkah baiknya jika setiap laki-laki dan perempuan menuntut ilmu, memahaminya untuk menjalankan peranannya masing-masing dan saling berlombal dalam kebaikan. Jangan saling menjatuhkan tapi saling mendukung untuk menyelesaikan persoalan masing-masing kita, memberi bantuan pada sisi yang kekurangan dalam menjalankan peranan, saling mengoreksi dan memperbaiki, fokus pada kelebihan setiap pribadi.

Sahabat karib/terdekatmu adalah cerminan hatimu karena tak mungkin 2 hati saling menyatu dalam kasih persahabatan jika tak memiliki persamaan, dalam pemikiran dan keinginan. Maka akrabilah orang-orang yang soleh/solehah di antaramu, jadikan mereka sahabat hatimu karena mereka yang akan mendoakanmu, menasihatimu jika kau tersalah, mensholatimu ketika kau meninggal. Berdoa dan berusahalah agar kasih sayang persahabatan di dunia ini berlanjut di akhirat, saling bertetangga di surgaNya. Aamiin..

Ukhuwah islamiyah adalah ikatan yang lebih kuat dari ikatan darah, ketika seorang saudara seislam seperjuangan meninggalkan kita untuk selamanya maka kita merasakan sakitnya seperti ada bagian tubuh kita yang hilang pula. Sedih, seperti sedihnya kehilangan keluarga, saudara atau bahkan anak. Karena kita tahu ikatan ini begitu kokoh, kuat menyimpul hati dalam ketaatan dan cinta Ilahi.

Mentaati perintah Ibu adalah kewajaran dan sangat normal dilakukan seorang anak, kenapa? karena Ibu adalah insan utama yang patut diberi bakti atas segala cinta kasih dan pengorbanannya. 
Maka, mentaati Allah Subhana wa Ta'ala adalah sangat wajar kita lakukan bukan? tak perlu tanya kenapa... kita hamba, segalanya dariNya, Dia yang menciptakan, Dia yang mencukupkan, Dia segala-segalanya, maka sangat lumrah mematuhiNya dengan segenap daya upaya kita tanpa perlu mencela karena kita bukan apa-apa tanpa kehendakNya. 

Jangan menjadikan diri sendiri sebagai lelucon dengan mempertanyakan kuasa Tuhan, jika itu kau lakukan..kau semakin memperlihatkan kebodohan dirimu sendiri, cukup! lihat, pikirkan, pahami sekelilingmu.. atau bahkan dirimu sendiri. Jika kau hebat, kendalikan perasaanmu untuk bahagia satu hari penuh tanpa pernah ada keluhan sedikitpun, bisa? tidak!

Apakah sama orang yang berpengetahuan dengan tidak? tentu berbeda. Kokohkan iman sebelum memerintahkan amalan karena ketika hati seseorang terbuka pada jalan kebenaran maka aturan akan dijalani dengan sendirinya penuh kesadaran, tak ada bantahan, tak ada keluhan, tak perlu paksaan. Yang diinginkan hatinya adalah usaha untuk terus berbuat.

Ketika kau merasa kosong, seperti ada yang hilang, sedih, susah, gelisah. Maka sholat dan berdoalah dengan tulus "Rabb.. tolonglah hamba, jangan biarkan hatiku sesak oleh duka dunia, jangan palingkan hati dari mengingatMu.." menangislah, memohonlah dan yakinlah bahwa Allah akan mengabulkan doamu,  karena ketulusan adalah kepasrahan, ikhlas hanya mengharap ridhoNya sehingga tak ada tabir di hatimu. InsyaAllah..

Jumat, 10 Januari 2014

hmmm.... *thinking

My mind goes blank lately, like a blanket cover my head make me feel really annoying and then everything being difficult. fhuuh.. whatever.. later, everything will be fine I just need to be patient for a moment. My emotion up and down like roller coaster but I'll be fine, it really doesn't matter "myself" *talk to myself :D

Actually, I should really be grateful that I have a job and spend all day to keep my shop for +/- 13 hours/day.

I have my comfortable room to sleep, which is tidy and clean *proud of myself?! :P

I can eat when I hungry, I can get whatever I want if I try and work hard on it (of course!) :D

I have much time to play with my nephew, chatting with my family etc

I have a great life coz everything going smoothly although sometime it's almost "flat" but in general there is nothing I complaint about. just be fine

When I feel tired at night, close the shop, take a bath and then sleep peaceful, how wonderful day I have.

#grateful myself, no matter how boring you are

#english acak kadut, who's care? :D

Sabtu, 04 Januari 2014

Tanpa nama a.k.a NN

Jantungku masih berdetak
lorong waktu masih kutelusuri
mencari wajahmu
sudah berlalu banyak waktu
kadang ingat kadang lupa
datangnya bayangan itu masih kutunggu
pada mimpi-mimpi yang aku ingin terjaga darinya
ada keinginan yang belum jadi nyata
ada takdir yang belum tergenggam
ada harap yang sesekali mengganggu tidur lelap
tapi tetap..tak ada mimpi atau tanda bertemu wajahmu
mencari mu seperti menelusuri hatiku,  aku tidak tahu
luas misteri tentangmu
atau aku yang terlalu bermasalah sehingga tak bisa menyadari kapan kau tiba
kadang rindu kadang lupa.
bercerita tentangmu seperti menganyam waktu
menyambung mimpi dengan mimpi
yang belum juga kutemui
jika hanya untuk menggandeng tangan, meneruskan silsilah nama
siapapun bisa ada di sisi
dan cinta tak perlu ada itupun sudah biasa terjadi
tapi rinduku bukan urusan hati saja
soalku adalah cinta yang kuterima, benarkah sambungan dari cintaNya?
bukan sekedar janji manis di bibir atau rayuan yang merusak hati
aku tak perlu itu.

ku permudah saja,
aku rindu pada wajah cinta 
yang entah dimana.

Kamis, 02 Januari 2014

U should say: "Goodbye Sadness!"

I’m just trying to live my life, but it seems as if sadness always piles itself up around me. It’s in my bed, the toothbrush in my bathroom, and the memory of my cellphone. Over the past few years, I’ve wanted to move on, I’ve wanted to take hold of something I couldn’t reach. What that is, I have no idea. Not knowing where such obsessive thoughts were coming from, I simply drowned myself in my work. Then one day I realized that my heart was withering, and in it there was nothing but pain. And one morning, I realized that my beliefs, that I once held so passionately, had completely disappeared. That was it, I couldn’t take it anymore, so I quit my job. -Takaki T-

Kesedihan adalah bahasa lain dari cinta, kesedihan berpisah ataupun kehilangan. Seperti kisah di film anime 5 cm per second. Kesedihan dari kerinduan yang panjang, berbalut angan-angan yang menumpuk menjadi derita sehingga mematikan segala semangat yang ada. Seharusnya kesedihan itu tak perlu berlangsung lama namun ada masa dimana hati menjadi begitu lemah.

Urusan hati adalah hal yang paling sulit untuk dimengerti, namun saya bisa merasakan seperti apa kesedihan mereka. Cukup tahu saja dan berdoa agar tak perlu mengalami rasa penuh derita seperti itu, jika pun harus mengalami, itulah takdir yang harus dijalani dan di sanalah ujian hati. Tapi kita akan selalu punya pilihan, move on.

Memaklumi bukan berarti membenarkan. Di dunia ini banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip hidup kita namun dari sana kita belajar banyak hal termasuk dari kisah buruk orang lain, bukan untuk menghinakan dan merendahkan (terlebih jika orang itu sudah berubah menjadi baik) tapi mengambil hikmah dan mengukur diri, "jika saya mengalami hal yang sama bagaimana saya meyikapi keadaan yang ada?"
Apapun adanya berjuang adalah langkah pertama, bersabar sembari terus menguatkan hati.