Kupikir aku akan segera bosan, secepatnya...lalu beralih kembali pada kebenaran yang seharusnya. Biasanya, sesuatu yang dilakukan terus menerus akan terasa membosankan. Tapi kenapa keburukan tidak membuat kita menjadi bosan? semakin dilakukan semakin menyenangkan, membuatku merasa menjadi diri sendiri dan apa adanya.
Padahal semua itu hanya sebuah kebohongan besar yang diciptakan diri sendiri, sebuah pengakuan hati yang tertutupi nafsu sehingga diri bebas bicara apa saja. Pada akhirnya membiarkan diri menentukan sebuah ketidakbenaran bahwa "beginilah aku adanya" mengaburkan makna fitrah bahwa seharusnya kita terus berbenah, mengabaikan suara hati yang terus berbisik "jangan teruskan, ini salah, seharusnya kau tak begini..." menafikkan suara hati ini setiap hari.
Siapa yang paling merasa bahwa waktunya habis sia-sia? diri sendiri...
Siapa yang paling terluka atas pilihan-pilihan yang salah dalam hidup kita? diri sendiri..
Siapa yang paling menderita atas penyesalan dosa-dosa? diri sendiri...
Selalu,
semua berbicara tentang manusia dan apa yang diperbuatnya. Dunia tidak
pernah lelah dan berubah menjadi kejam pada manusia kecuali manusia itu sendiri yang membuat kerusakan sehingga menyakiti dirinya sendiri.
Luka yang kita ciptakan, pemikiran-pemikiran yang menyesakkan dada menjadikan hati kita menanggung penderitaan yang menyuburkan rasa kecewa, memberikan izin bagi diri untuk disakitiPadahal, yang diperlukan adalah semangat untuk bangkit, berbenah memperbaiki diri sembari terus meluruskan niat. Beribadah bukan karena apapun dan siapapun, tapi karena Allah saja. Memurnikan niat perbaikan hanya kepada Yang Maha Baik. Bukan karena sekeping cinta manusia, bukan hanya karena pujian dan penghargaan, dan bukan hanya untuk menjadi pengikut tanpa kesadaran dan pemahaman, tapi karena cinta.
Cinta yang membuat kita merasa lebih baik, tetap bersemangat meski susah, tetap bisa tersenyum meski lelah dan tetap istiqomah meski dengan iman yang kadarnya terus berubah.
Bukankah dunia diciptakan sebagai tiket terusan ke Surga?
