Senin, 20 Agustus 2018

Sabar dan Cintaku

Cintaku tulus namun belum kuperjuangkan dengan sepenuh kesabaran. Saat pertama kali anak kedua ku lahir. Perasaan bersalah begitu mengganggu ku. Aku bertekad aku akan lebih memperhatikan si sulung, menjanjikan banyak hal baik yang akan kulakukan bersama nya. Pada awalnya aku merealisasikan semua itu dengan sungguh-sungguh. Namun seiring berjalannya waktu aku terbiasa fokus pada anak kedua dan mulai mengabaikan si sulung. Dia jadi pelampiasan emosiku karena lelah dan terabaikan. Aku sering memarahi nya berharap dia mengerti banyak hal di usia nya yang belum genap 3 tahun. Aku egois. Saat kesalku memuncak, aku hanya memikirkan sedihku sendiri, bagaimana dengan anak anak? Padahal aku memilih menjadi ibu rumah tangga semata karena ingin bisa dekat dan fokus merawat mereka. Maafkan ibu sayang. Banyak sekali kekurangan ku sebagai seorang ibu. 

Setelah menjadi ibu pun aku baru tahu bahwa cinta tidak bisa terbagi tapi berganda berkali lipat. Sebuah singgasana yang memiliki tempat berbeda yang setara. Saat menatap kedua putraku aku merasakan perasaan cinta dan kasih sayang yang meluap kepada mereka, kepada masing-masing pribadi nya.