Jumat, 21 Mei 2010

Tentang Nurani

Limbung langkah tersandung luka
Itu langkahmu, tertatih perlahan-lahan menjauh
Apa yang sudah kau lakukan sehingga duka berhak singgah dihatimu?
Kemarilah, mari kita bicara
Dan tepis kabut perasangka diantara kita
Agar bening mata melihat bersih hati menilai
Jujur, pahit kebenaran itu diungkapkan
Tapi itulah pilihan
Kebenaran yang tak perduli penghormatan dan sanjungan
Atau hinaan sepanjang dia dipilihkan
Disandang dalam hati menjadi keteguhan, sandaran dan pelipur kesedihan
Memang benar telah sunyi jalan kebenaran
Saat orang telah beramai-ramai menjadikan gegap gempita malam atau hiburan
Sebagai pilihan melepas kejenuhan dan kesedihan
Lalu pulang tersandung-sandung dengan beban yang masih sama
Bahkan semakin bertambah beratnya
Itukah pilihan?
Berlari dariku karena kita sudah tak lagi sejalan dengan kebenaran
Kau abaikan aku dan biarkan aku tersuruk di ruang gelap hatimu
Membisu, tak mampu mengucap kebeningan sepatahpun
Karena telah kau bungkam Aku
Dengan minuman keras, pergaulan bebas dan kebahagiaan semu
Lalu setelah puas dosa menyergapmu, telah lelah jiwa ragamu
Kau datang padaku
Berbisik sendu dan malu-malu
Ingin kembali ke pangkuan nurani, mereguk ketenangan hati dari muara cinta-Nya yang tak bertepi
Kenapa begitu?
Hidup bukanlah permainan bongkar pasang yang selalu bisa kau sesuaikan dengan keinginan
Tak perduli kebenaran, hukum, atau segalanya
Manusia telah buta mata hati
Tak akan perduli nuraninya mati, tersia-sia
Maka menyesallah dan berduka sampai segalanya kembali berguna